Di kalangan mahasiswa, masih sering terdengar anggapan bahwa aktif berorganisasi menjadi penyebab seseorang terlambat lulus. Organisasi dianggap menyita waktu, mengganggu konsentrasi belajar, bahkan membuat prestasi akademik menurun. Pandangan tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru, sebab semua bergantung pada cara seseorang mengelola amanah dan waktu. Namun, pengalaman yang saya jalani justru menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Bagi saya, organisasi bukan penghambat kuliah. Sebaliknya, organisasi menjadi ruang belajar yang melengkapi pendidikan di bangku perkuliahan sekaligus membuka banyak kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Saya berasal dari Mojokerto dan memilih merantau ke Kota Kediri untuk menempuh pendidikan di Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, UIN Syekh Wasil Kediri. Sebagai mahasiswa rantau, saya datang tanpa banyak relasi. Lingkungan baru, budaya baru, dan kehidupan kampus yang sama sekali berbeda menjadi tantangan yang harus saya hadapi.
Dalam proses beradaptasi itulah saya memutuskan bergabung dan aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Keputusan tersebut menjadi salah satu pilihan terbaik selama menjalani masa kuliah.
Di organisasi, saya menemukan banyak pelajaran yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas. Saya belajar memimpin, menyusun gagasan, berdiskusi, menyelesaikan persoalan, membangun komunikasi, hingga bekerja sama dengan banyak orang yang memiliki latar belakang dan cara berpikir yang beragam. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang membentuk kedewasaan berpikir sekaligus mengasah kemampuan untuk menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.
Kepercayaan sebagai Ketua Pimpinan Komisariat IPNU UIN Syekh Wasil Kediri periode 2025–2026, kemudian sebagai Direktur Badan Student Crisis Center (BSCC) PC IPNU Kota Kediri periode 2025–2027, menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga. Setiap amanah menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan untuk terus bertumbuh.
Tidak sedikit yang bertanya kepada saya, apakah organisasi tidak mengganggu kuliah?
Jawaban saya sederhana. Organisasi justru mengajarkan arti penting manajemen waktu.
Ada kalanya jadwal kuliah, tugas akademik, dan agenda organisasi datang secara bersamaan. Saya pernah berpindah dari ruang kuliah menuju forum rapat, kemudian kembali menyelesaikan tugas hingga larut malam. Situasi seperti itu memang melelahkan, tetapi di sanalah saya belajar menentukan prioritas, menjaga komitmen, dan bertanggung jawab terhadap setiap amanah yang telah dipercayakan.
Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan studi sarjana tepat waktu tanpa harus meninggalkan tanggung jawab organisasi. Pengalaman tersebut semakin meyakinkan saya bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh sedikit atau banyaknya aktivitas, melainkan oleh kemampuan mengelola waktu, menjaga disiplin, dan menunaikan amanah secara seimbang.
Hal lain yang paling saya syukuri adalah luasnya kesempatan yang terbuka melalui organisasi. Sebagai mahasiswa rantau, saya memperoleh keluarga baru, dipertemukan dengan para guru, senior, sahabat, dan banyak orang baik yang terus membimbing serta memberikan ruang untuk berkembang. Kota Kediri bukan hanya menjadi tempat saya memperoleh gelar sarjana, tetapi juga menjadi tempat saya bertumbuh sebagai pribadi.
Puncak rasa syukur itu saya rasakan ketika dipercaya menjadi salah satu penerima beasiswa studi pascasarjana dari Yayasan Bismillah Djoyo Mulyo melalui Majelis Alumni PC IPNU-IPPNU Kota Kediri. Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan berkhidmah di organisasi akan mengantarkan saya memperoleh kesempatan tersebut.
Bagi saya, beasiswa itu bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Beasiswa adalah bentuk kepercayaan yang harus dijaga dengan terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan tetap memberikan manfaat bagi organisasi serta masyarakat. Penghargaan terbesar dari sebuah proses kaderisasi bukan semata-mata jabatan yang pernah diemban, melainkan kepercayaan yang diberikan untuk terus melanjutkan perjuangan.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa organisasi bukan hanya tempat menjalankan program kerja. Organisasi adalah ruang kaderisasi yang membentuk karakter, memperluas jejaring, melatih kepemimpinan, sekaligus menghadirkan peluang-peluang yang sering kali datang tanpa diduga.
Karena itu, saya ingin mengajak para pelajar dan mahasiswa, khususnya kader IPNU dan IPPNU, agar tidak ragu aktif berorganisasi. Jangan takut kuliah akan terbengkalai. Selama mampu mengatur waktu, memahami skala prioritas, dan menjaga komitmen, kuliah dan organisasi dapat berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan.
Di era yang semakin kompetitif, indeks prestasi memang penting. Namun, dunia juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kepekaan sosial, dan kemampuan menyelesaikan persoalan. Nilai-nilai tersebut justru banyak ditempa melalui pengalaman berorganisasi.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki jalan sukses yang berbeda. Bagi saya, salah satu jalan itu adalah melalui organisasi. Dari sanalah saya belajar tentang tanggung jawab, kepemimpinan, pengabdian, dan arti penting membangun jejaring. Dari sanalah pula saya memperoleh kesempatan untuk terus melanjutkan pendidikan.
Saya percaya, keberhasilan tidak hanya lahir dari ruang kuliah, tetapi juga dari ruang-ruang pengabdian. Sebab, dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ilmu yang membawa keberkahan adalah ilmu yang tumbuh bersama khidmah. Ketika seseorang bersedia mengabdi dengan ikhlas, sering kali Allah SWT membukakan jalan-jalan kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Oleh: Abdul Hakim Halimi Alvenda PC IPNU Kediri
Editor : Mokh Faisol

