Probolinggo, IPNU Jatim
Perjalanan hidup dan pendidikan seseorang sering kali menjadi cermin ketekunan, integritas, dan semangat pengabdian. Hal itulah yang tergambar dalam perjalanan Dr. Babussalam, M.Pd., tokoh muda Nahdlatul Ulama asal Desa Gunungtugel, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya dengan prestasi membanggakan.
Dr. Babussalam resmi menyelesaikan Program Doktor (S-3) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember pada 2026. Ia berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu relatif singkat, yakni 2 tahun 10 bulan, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,88 dan predikat cumlaude. Selain itu, ia juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Dalam disertasinya yang berjudul “Kepemimpinan Kharismatik Kiai dalam Mewujudkan Kemandirian Pondok Pesantren”, ia menyoroti peran strategis kiai dan pesantren dalam membangun fondasi kemandirian lembaga berbasis nilai-nilai keumatan.
Keberhasilan akademik dan predikat wisudawan terbaik yang diraih Dr. Babussalam bukanlah hasil proses instan. Ia mengawali perjalanan organisasinya dari bawah melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selama kurang lebih sembilan tahun.
Pada 2009, ia memulai proses kaderisasi di PK MA Darul Mukhlasin. Perjalanan organisasinya berlanjut sebagai pengurus PAC IPNU Tegalsiwalan pada 2010–2011, Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo pada 2011–2013, Sekretaris PC IPNU Kabupaten Probolinggo pada 2014–2016, hingga menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo pada 2016–2018.
Pengabdiannya di jam’iyyah Nahdlatul Ulama terus berlanjut hingga ia dipercaya menjabat sebagai Ketua PC LAZISNU Kabupaten Probolinggo. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo.
Bagi Dr. Babussalam, IPNU merupakan kawah candradimuka yang membentuk karakter, kedisiplinan, serta keterampilan sosialnya hingga mampu meraih prestasi akademik tertinggi.
“Di IPNU, kami terbiasa dengan diskusi terarah, public speaking, dan mentalitas berjuang. Meskipun saya berangkat dari keluarga ekonomi menengah ke bawah dan harus kuliah secara mandiri sambil bekerja tanpa kenal lelah, semangat untuk berpendidikan tidak pernah luntur. Keaktifan berorganisasi inilah yang menjadi modal dasar dan kunci utama hingga bisa menjadi lulusan terbaik,” ungkapnya.
Menjelaskan perbedaan peran saat masih menjadi kader pelajar dan setelah menyandang gelar doktor, Dr. Babussalam menyoroti pergeseran sudut pandang dalam berjuang.
“Kalau di IPNU, perjuangannya adalah semangat tanpa batas. Namun, setelah meraih gelar doktor, perjuangan harus dilakukan dengan jauh lebih ikhlas—semata-mata hanya mencari rida dan kasih sayang Allah Swt.,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Dr. Babussalam menyampaikan pesan kepada para pelajar, mahasiswa, dan kader muda NU dalam menempuh pendidikan tinggi.
“Kejarlah ilmu melalui pendidikan tinggi. Meskipun kualitas diri kita merasa belum cukup menjadi ahlul ilmi, hal itu harus diimbangi dengan integritas diri yang kuat. Jangan mengandalkan nasab atau lobi-lobi politik untuk menduduki jabatan tinggi, tetapi tunjukkanlah lewat prestasi nyata dan rida Ilahi,” tegasnya.
Kisah dan rekam jejak Dr. Babussalam, M.Pd., diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dan kader NU di berbagai daerah untuk terus menempuh pendidikan, menjaga integritas, serta mengabdikan diri kepada masyarakat.
Penulis : Agus Budi Cahyono (Jurnalis PW IPNU Jatim)

