LAKUT PW IPNU Jawa Timur di Madiun Jadi Alarm Kebangkitan Kader Pelajar NU di Era Disrupsi

Madiun, IPNU Jatim

Semangat kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama kembali digaungkan dalam Opening Ceremony Latihan Kader Utama (LAKUT) PW IPNU Jawa Timur di Korda Madiun yang digelar di NU Center Kabupaten Madiun, Kamis (29/05/2026). Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam menyiapkan kader pelajar NU yang tangguh menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama di era disrupsi.

Sebanyak 21 peserta dari Ponorogo, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Pacitan, Ngawi, Magetan, hingga Pasuruan mengikuti kaderisasi tertinggi tingkat pelajar tersebut. LAKUT berlangsung selama lima hari, mulai 28 Mei hingga 1 Juni 2026.

Pembukaan kegiatan dihadiri Sekretaris PWNU Jawa Timur Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Faqih, Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Madiun, Ketua PW IPNU Jawa Timur Muhammad Rafli Rifki Rendra, Wakil Bupati Kabupaten Madiun dr. Purnomo Hadi, Ketua Majelis Alumni IPNU Madiun, PC Muslimat NU Kabupaten Madiun, serta Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Madiun. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Madiun.

Ketua PW IPNU Jawa Timur, Muhammad Rafli Rifki Rendra, menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan investasi jangka panjang dalam menjaga denyut perjuangan Nahdlatul Ulama di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Menurutnya, pelaksanaan LAKUT di Korda Madiun menjadi bagian dari target besar PW IPNU Jawa Timur untuk menghadirkan Latihan Kader Utama di seluruh cabang se-Jawa Timur.

IPNU IPPNU Sumenep dan Polres Satukan Langkah Cegah Kenakalan Remaja

«“LAKUT ini bukan hanya forum pelatihan, tetapi ruang menyiapkan kader yang siap memimpin dan menjawab tantangan zaman. Target kami, seluruh cabang di Jawa Timur dapat melaksanakan LAKUT sebagai penguatan kaderisasi strategis IPNU,” ujarnya.»

Sementara itu, Sekretaris PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Faqih, menilai Nahdlatul Ulama saat ini tengah memasuki abad kedua dengan tantangan besar yang hanya dapat dijawab melalui kualitas generasi muda NU.

Dalam sambutannya, ia menggambarkan perjalanan organisasi melalui konsep life curve, di mana fase kebangkitan NU berada di tangan anak muda.

«“NU sekarang sedang memasuki abad kedua yang memiliki potensi naik melalui anak-anak muda. Di tengah era disrupsi ini, banyak hal tertinggal jika generasi mudanya tidak siap,” tegasnya.»

Ia juga memaparkan data survei LSI terkait peningkatan warga yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama. Pada tahun 2005, jumlahnya berada di angka 27,5 persen dan meningkat menjadi 56,9 persen pada tahun 2023.

Resmi Berdiri, PK IPNU IPPNU MTs Islamiyah Temayang Siap Cetak Generasi NU Masa Depan

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa NU sedang bergerak dari sesuatu yang bersifat “intensibel” menuju “tensibel”, yakni dari sekadar identitas kultural menuju kekuatan nyata yang dirasakan masyarakat.

«“Tugas kita hari ini adalah membariskan NU,” katanya.»

Prof. Faqih menilai bahwa pada tahun 2045, kekuatan warga NU tersebut akan menjadi perhatian besar karena NU memiliki basis kepemudaan yang sangat masif di Indonesia. Ia juga menyoroti mulai menurunnya kedekatan generasi Z terhadap NU sehingga IPNU dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan organisasi melalui kaderisasi pelajar berbasis Aswaja.

«“IPNU berada di titik paling strategis karena mengurus pelajar. Gen Z hari ini membutuhkan bukti konkret, membutuhkan ruang aktualisasi, bukan hanya slogan,” ungkapnya.»

Menurutnya, kaderisasi masa kini tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan formal, tetapi juga harus mampu membangun kekuatan fisik, intelektual, dan spiritual secara seimbang agar lahir kader yang siap menghadapi masa depan.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Resmi Luncurkan Program Strategis, Perkuat Gerakan Pelajar yang Berdaya

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Kabupaten Madiun, dr. Purnomo Hadi, menyebut kaderisasi IPNU memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda unggul di tengah bonus demografi Indonesia.

Ia menekankan pentingnya penguasaan softskill dan hardskill bagi pelajar NU agar mampu bersaing tanpa kehilangan karakter kebangsaan dan keagamaan.

«“IPNU ini luar biasa karena mendidik mulai dari akar, yakni pelajar. Organisasi seperti ini menjadi tempat pengasahan kemampuan interpersonal, kepemimpinan, dan karakter generasi muda,” ujarnya.»

Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan pendidikan formal, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kecakapan sosial yang diasah melalui organisasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip “sembodo” dalam perjuangan, yakni kemampuan, kebijakan, dan kekuatan ekonomi harus berjalan bersama agar kader mampu bertahan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

«“Pemerintah Kabupaten Madiun akan selalu mendukung kegiatan yang membawa manfaat dan membangun kualitas generasi muda,” pungkasnya.»

Melalui kegiatan LAKUT ini, PW IPNU Jawa Timur berharap lahir kader-kader pelajar NU yang tidak hanya kuat secara ideologi Aswaja, tetapi juga siap menjadi motor penggerak perubahan sosial, pendidikan, dan peradaban di tengah tantangan era modern.