Situbondo, IPNU Jatim
Berjuta Pena, Media PC IPNU IPPNU Situbondo menggelar Opening Ceremony Berjuta Pena Literacy Festival (BPLF) 2026 yang dirangkai dengan puncak peringatan Harlah ke-5 Berjuta Pena di Pendopo Rakyat Situbondo, Sabtu (11/7/2026). Mengusung tema “New Era of Literacy: Beyond Reading and Writing”, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat budaya literasi sekaligus ruang kolaborasi bagi pelajar, mahasiswa, kader IPNU-IPPNU, dan pegiat literasi di Kabupaten Situbondo.
Kegiatan dihadiri Ketua PC IPNU Situbondo Harizah Fatahillah, Ketua PC IPPNU Situbondo Ummi Hanik, jajaran pembina dan pengurus Berjuta Pena, pengurus PC, PAC, dan PK IPNU-IPPNU se-Kabupaten Situbondo, serta berbagai komunitas literasi. Bupati dan Wakil Bupati Situbondo yang sebelumnya dijadwalkan hadir berhalangan mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Ketua PC IPNU Situbondo, Rekan Harizah Fatahillah, mengapresiasi seluruh panitia, pengurus, alumni, donatur, sponsor, dan komunitas mitra yang telah mendukung perjalanan Berjuta Pena hingga memasuki usia kelima.
Ia menilai hari lahir organisasi harus menjadi momentum evaluasi sekaligus membangun semangat baru dalam menjalankan program-program literasi ke depan.
“Hal-hal yang sudah terjadi dan berlalu biarlah menjadi pelajaran bagi kita. Tidak ada usaha yang sia-sia dan tidak ada langkah yang tidak memiliki nilai,” ujarnya.
Harizah juga menegaskan dukungan PC IPNU Situbondo terhadap langkah Berjuta Pena dalam menjaga dan mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pelajar dan generasi muda.
Sementara itu, Direktur Utama Berjuta Pena, Moh Zahid, menegaskan bahwa BPLF 2026 bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bentuk kepedulian terhadap penguatan budaya literasi.
“Literasi adalah tentang bagaimana kita berpikir kritis, berani berpendapat, mampu berkolaborasi, dan menciptakan karya yang memberikan manfaat bagi banyak orang,” ungkap Zahid.
Ia mengajak generasi muda menjadikan literasi sebagai ruang untuk menghadirkan gagasan, karya, dan aksi nyata sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Usai Opening Ceremony, kegiatan dilanjutkan dengan Bedah Buku dan Diskusi Publik yang dipandu Robi Hilman. Forum tersebut menghadirkan empat penulis, yakni Imam Nawawi, Moh. Farhan, Ahmad Royhan Firdaus, dan Izzul Qarnain, yang membagikan pengalaman kepenulisan sekaligus pandangan mereka mengenai perkembangan literasi di era digital.
Mengawali diskusi, Moh. Farhan menceritakan proses lahirnya buku Hai Situbondo. Menurutnya, buku tersebut berangkat dari ilustrasi-ilustrasi kehidupan masyarakat yang dipublikasikan melalui media sosial Hai Situbondo, kemudian dikembangkan menjadi kumpulan tulisan yang merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat Situbondo.
Ia menjelaskan bahwa berbagai cerita dalam buku tersebut lahir dari realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, ia mengajak generasi muda menjadikan literasi sebagai sarana merekam kehidupan sekaligus menghadirkan perspektif baru di tengah derasnya arus informasi.
Pada sesi berikutnya, Imam Nawawi mengapresiasi semangat generasi muda Nahdlatul Ulama yang terus bergerak di bidang literasi. Menurutnya, budaya membaca dan menulis harus terus ditanamkan sebagai fondasi dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
“Literasi itu virus yang harus ditularkan,” tegas Imam Nawawi.
Ia juga mengingatkan bahwa membaca dan menggali pengetahuan merupakan bagian penting dalam proses belajar. Karena itu, generasi muda perlu membiasakan diri membaca berbagai referensi dan menulis sebagai sarana menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Sementara itu, Ahmad Royhan Firdaus menjelaskan bahwa buku Intisari Ayat-Ayat Ekonomi disusun sebagai bahan pembelajaran yang menghubungkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan persoalan ekonomi masyarakat.
“Yang mendasari adalah persoalan pola pikir kita sebagai orang Indonesia,” jelas Royhan.
Menurutnya, masyarakat masih cenderung lebih memberi perhatian pada aktivitas keagamaan dibanding persoalan ekonomi. Karena itu, generasi muda perlu membangun karakter yang mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Adapun Izzul Qarnain mengangkat tantangan literasi di era digital. Ia menyoroti pola interaksi transaksional di media sosial yang dapat memengaruhi cara berpikir apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang baik. Karena itu, ia mengajak generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan (producer of knowledge) melalui karya dan gagasan yang bermanfaat.
Melalui BPLF 2026, Berjuta Pena berharap semangat literasi terus tumbuh di kalangan kader IPNU-IPPNU dan generasi muda. Literasi tidak lagi dipahami sebatas membaca dan menulis, tetapi menjadi jalan membangun karakter, memperluas wawasan, serta melahirkan karya yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan peradaban.
Kontributor: Muhammad Robet Asraria Soma

