IPNU Jatim
Pimpinan Komisariat (PK) di Perguruan Tinggi adalah satu-satunya tingkatan IPNU yang berisi segmentasi homogen: mahasiswa. Di ruang ini, kader-kader muda berkumpul bukan sekadar untuk mengenakan jas almamater organisasi, melainkan untuk mendewasakan pikiran dan membangun nalar kritis sesuai mandat sejarahnya. Dalam Guide Book PK di Perguruan Tinggi se-Jawa Timur, dua catatan reflektif dari Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I. (Mas Eka) dan Ketua PW IPNU, M. Rafli Rifki Reza (Rekan Rafli), menjadi pengingat penting bahwa kaderisasi membutuhkan jeda untuk menepi, merenung, dan membuka kembali lembar-lembar nilai dasar organisasi.
Mas Eka mengungkapkan bahwa semangat khidmat Prof. Dr. KH. Moh. Tolchah Mansoer belum sepenuhnya membumi pada diri kader IPNU hari ini. IPNU yang idealnya hadir sebagai gerakan berbasis ide dan nalar kritis, justru masih terseret arus kegiatan seremonial yang hanya ramai di permukaan. Akibatnya, gerakan kehilangan esensinya—menyusut menjadi kerumunan anak muda beratribut tanpa jangkauan pemikiran yang jelas. Padahal, Mbah Tolchah sudah sejak lama menitipkan pesan dalam pidatonya di Muktamar IV IPNU di Yogyakarta: IPNU hadir untuk membentuk manusia berilmu. Sebuah petuah yang semestinya menjadi energi moral, bukan hanya slogan penggugah suasana forum.
Menguatkan pesan itu, Rekan Rafli dalam catatan reflektifnya menggarisbawahi bahwa seorang kader harus menjadi narator. Bukan sekadar pencerita, tetapi penjaga nalar, penjaga nilai, dan penjaga arah gerakan. Dawuh Mbah Tolchah dalam pengantar AD/ART 1957 menggarisbawahi hal yang sama: IPNU tidak lahir hanya untuk mengumpulkan teman dari berbagai lembaga pendidikan. Ada dasar ideologis yang membuat organisasi ini tumbuh, dan dasar itu membutuhkan ideologiese dranger—para pembawa ideologi yang menjalankan amanahnya dalam kondisi apa pun.
Menjadi narator berarti menjadi penjaga ideologi—baik di internal maupun eksternal. Di internal, seorang kader bertanggung jawab mentransmisikan nilai khidmat, menjaga atmosfer intelektual, dan memastikan ruh organisasi tetap bergerak secara transformatif. Di eksternal, kader adalah duta nilai, pembawa wajah Islam yang ramah, moderat, dan berkeadaban sebagaimana diajarkan ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Kader yang menjadi narator tidak hanya menjaga konten pesan, tetapi menjaga arah perjalanan organisasi.
Namun menjadi narator juga menuntut kesiapan batin dan nalar. Kader harus terbebas dari kesilauan terhadap intelektualisme semu—yang memuja penampilan tetapi miskin pemikiran. Salah satu pendiri IPPNU, Nyai Hj. Dra. Umroh Mahfudzoh, pernah mengingatkan bahwa intelektualisme tidak boleh membuat seorang kader lupa pada dasar-dasar agama. Ia menegaskan bahwa kader adalah saksi, ukuran, dan kriterium bagi publik. Maka standar itu tidak akan pernah benar jika para pengembannya ikut hanyut oleh arus yang mereka sendiri harus ukur.
Peringatan itu relevan bagi seluruh kader IPNU dan IPPNU. Bagaimana mungkin mereka dapat menjadi narator jika enggan membaca? Bagaimana dapat menjaga ideologi jika menjauh dari ruang diskusi? Dan bagaimana mampu meneruskan perjuangan para ulama jika tidak memahami substansi perjuangan itu sendiri?
Karena itu, tulisan ini mengajak setiap kader PK—dan seluruh kader pelajar NU—untuk kembali menepi. Mengambil ruang sunyi untuk membuka kembali khazanah nilai, menghidupkan tradisi membaca, merawat nalar kritis, dan memurnikan tujuan berkhidmat. Sebab menjadi kader bukan sekadar soal administrasi, jabatan struktural, atau kesibukan program kerja. Menjadi kader berarti menjadi narator: yang menjaga makna, yang mengawal arah, dan yang memastikan perjuangan tidak kehilangan ruhnya.
Tabik!
Penulis : LKPT PW IPNU Jatim
Sumber Tulisan:
- Cakrawangsa, Caswiyono Rusydie, dkk. KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU Yang Terlupakan. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009.
- Guide Book PK di Perguruan Tinggi Se-Jawa Timur. Surabaya: LKPT PW IPNU Jawa Timur, 2025.
- Pengantar AD/ART Ikatan Peladjar Nahdlatul ‘Ulama’, “Dua Tahun Berlalu.” Jogjakarta: PP IPNU, 1957.
- Muchammad Romahurmuziy, Nurwidya Heru Cahyono, Safira Machrusah. Sejarah Perjalanan IPPNU 1955–2000. Jakarta: PP IPPNU, 2000.

