KHIDMAT : Pelajar NU Ngunut menyanyikan mars IPNU IPPNU pada acara Forum Silaturrahmi (Doc: PAC IPNU IPPNU Ngunut 2017)

Suatu haluan dapat melahirkan keuntungan (advantage) dan kerugian (disadvantages) dalam suatu lingkup ruang dan waktu tertentu. Oleh karena itu, praktis individu tidak dapat condong hanya kepada satu haluan tertentu. Misalnya dalam merekonstruksi bangunan ilmiah, liberasi seorang ilmuwan sangat dibutuhkan demi mendapatkan fakta ilmiah yang komprehensif dan objektif. Praktikan dalam laboratorium berposisi sebagai pemegang kontrol terhadap variabel-variabel yang ada, bukan sebaliknya. Adapun dalam urusan akidah Islamiyah, sikap fundamentalisme perlu diterapkan oleh seorang muslim sebagai reaksi atas aksi yang berpotensi mendegradasi keimanan mereka. Muslimin tidak diperbolehkan menukar kehambaan mereka kepada Allah SWT dengan hal lain. Metodologi berpikir secara proporsional tersebut membawa generasi muda NU pada posisi yang strategis dalam tataran peradaban Islam. Melalui banom-banom NU, generasi muda nahdliyin dapat bergerak secara terarah sesuai asas dan dasar-dasar Jam’iyyah NU, sehingga setiap keputusan yang dilahirkan dari tingkat struktural-kelembagaan NU tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Titik kulminasi dari cara berpikir proporsional adalah penentuan parameter proporsionalitasnya. Pembacaan terhadap keadaan faktual pada masyarakat sangat membantu menentukan parameter tersebut. Generasi muda NU—terutama yang duduk di kepengurusan struktural-kelembagaan dan badan otonom NU—juga dituntut memiliki tingkat intelektualitas yang memadai untuk membaca setiap gejala pada target kebijakan dan menentukan bentuk keputusan yang akurat.

Berangkat dari konsistensi NU pada dalil-dalil yang bersubstansi pada ummatan wasathan, sehingga kadar liberalisme dan fundamentalisme dalam berpikir harus ditentukan sebelum langkah sistematis terkait program direalisasikan. Hal ini berkaitan dengan adanya dua otoritas agama yang berbeda dari dua golongan besar di dalam masyarakat kita. Di kalangan tradisional, otoritas tersebut terdapat pada kitab kuning (turats), kiai dan NU. Sedangkan di kalangan fundamentalis, otoritas Islam mereka letak kan pada dalil subordinasi nash atas akal, serta cita-cita ‘balad as-syari’at’ atau hakimiyat.

Target operasi organisasi, dalam hal ini masyarakat, memiliki banyak sekali problematika baik sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi bahkan kebudayaan. Namun, di sisi lain masyarakat juga menawarkan ‘fenomena potensial’ yang dapat dimodifikasi menjadi solusi atas problematika yang sudah lama ada. Pada ranah inilah kehadiran kader muda NU lebih mudah dirasakan oleh masyarakat. Dialektika pemikiran pemuda NU harus tetap berjalan dengan baik. Ini adalah ikhtiar pembangunan NU sebagai bagian dari peradaban Islam, meskipun kegiatan yang bersifat tradisional (lailatul ijtima’, selapanan, forum silaturrahim dll) tetap harus dibudayakan sebagai aset komunikasi antara organisasi sebagai penggerak menuju perubahan yang berorientasi kepada maslahat lil ummat dan komunitas sebagai target operasinya.

Penulis: Nashrul Hanif Al Hakim
PR IPNU Samir | Mahasiswa Jurusan Farmasi, MIPA – UII Yogyakarta.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.