Santri Rencanakan Masa Depan

Sebagai seorang santri perlu kiranya merencanakan masa depan. Perencanaan itu untuk investasi 10-30 tahun yang akan datang. Ajakan itu disampaikan M. Imam Aziz saat memberikan orasi budaya pada penutupan Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) ke-10 di Pesantren Balekambang Jepara, belum lama ini.

Menurut Ketua PBNU perencanaan itu untuk pengembangan pesantren pada masa yang akan datang. Hal itu dikemukakan pria kelahiran Pati 1962 mengingat pesantren sejak dulu merupakan penggerak utama berbagai bidang semisal budaya, politik, ekonomi dan teknologi.

Peraih penghargaan sebagai tokoh multikultural dari Islamic Fair of Indonesia (IFI) tahun 2011 itu menyatakan Islam Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) yang dirumuskan oleh para ulama merupakan investasi yang sudah dirumuskan berabad-abad silam.

Warisan arsitektur kota masa silam terangnya juga tidak sembarangan. Di Aceh misalnya, arsitektur kota adalah penggabungan masjid, kerajaan dan pasar. Begitu juga dengan sistem pendidikan.

Ia melanjutkan sebelum Indonesia merdeka, pada masa penjajahan Belanda sistem pendidikan pesantren sudah dirancang. “Tentunya rintisan itu sudah dirancang para kiai berabad-abad silam tujuannya untuk diterapkan hingga saat ini,” tegasnya.

Berkenaan dengan liburan sastra pendiri LKiS Yogyakarta mengungkapkan sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Sastrawan merupakan penjaga kehidupan yang penuh kreativitas. “Sehingga anda semua adalah penggerak kebudayaan pada 10 tahun yang akan datang,”

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.