Jejak Persahabatan di Jalur Pantura dan Panggung Muktamar NU

Jombang, IPNU Jatim

Perjalanan sejauh 130 kilometer dari Probolinggo menuju Jombang yang ditempuh dalam waktu tiga jam lima belas menit bukan sekadar jarak fisik bagi Bambang Sutedjo. Di usianya yang telah menginjak 61 tahun, perjalanan dengan sepeda motor itu adalah wujud syukur atas kesehatan sekaligus gerbang menuju memori masa lalu yang telah terajut selama puluhan tahun.

Tujuan utamanya satu: menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Namun, di balik hajatan besar organisasi Islam tersebut, terselip sebuah agenda emosional yang jauh lebih personal—pertemuan kedua kalinya dengan sahabat karib semasa kuliah di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini memegang kendali kepemimpinan di tanah Papua.

Kisah persahabatan ini bermula dari bilik-bilik kos sederhana di Kupang antara tahun 1985 hingga 1989. Bambang dan sahabatnya itu hidup sebagai pemuda perantauan dengan latar belakang orang biasa, tanpa embel-embel darah biru atau privilese istimewa. Yang membedakan sang sahabat dari kebanyakan orang bukanlah modal sosial, melainkan etos dan semangat hidup yang menyala-nyala.

Sejak kanak-kanak, kebiasaan membaca Surah Yasin dan Al-Waqi’ah setiap malam Jumat telah mendarah daging, membentuk karakter tangguh yang membawa sang kawan menembus batas-batas geografis penugasan sejak 1990 hingga akhirnya menapaki kursi kekuasaan.

Kini, takdir mempertemukan kembali keduanya dalam dimensi peran yang berbeda. Sang sahabat hadir di Jombang bukan lagi sekadar pengurus biasa, melainkan figur dengan rangkap jabatan: Wakil Bupati Kabupaten Sorong sekaligus Rais Syuriyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sorong, Papua.

Konser Amal dan Pelantikan PC IPNU-IPPNU Ngawi, Teguhkan Komitmen Toto, Tatag, Tutug

Meski jabatannya telah melambung tinggi, tabiat aslinya tak bergeser sedikit pun. Hal itu teruji nyata di sebuah restoran di Jember pada 2025, menjelang pelantikannya. Di hadapan 15 rekan seperjuangan asal Kupang, Bambang dengan sengaja melontarkan candaan tajam untuk menguji mental sang pejabat baru.

“Jo, awakmu iki wakil bupati temenan opo ludrukan?” celetuk Bambang di tengah meja makan, menguji apakah kekuasaan telah mengubah tabiat karibnya.

Suasana meja makan seketika tegang. Wajah rekan-rekan yang hadir justru memerah padam karena khawatir sang wakil bupati tersinggung dengan nada bicara blak-blakan itu. Namun, di luar dugaan, ekspresi wajah sang sahabat tetap datar tanpa rona amarah. Ia malah tersenyum sumringah dan membalas dengan logat akrab masa muda, “Koen iku, Mbang, pancet ae ket mbiyen.”

Bagi Bambang, reaksi itu menegaskan bahwa sahabat lamanya tetaplah manusia bumi yang sama seperti saat mereka berbagi kamar kos puluhan tahun silam—rendah hati, tahan uji, dan tidak silau oleh atribut duniawi.

Kini, di bawah langit Jombang pada Jumat Pahing, 28 Agustus 2026, di tengah riuh rendah Muktamar NU, dua sahabat lintas wilayah ini kembali duduk bersama. Sebagai Sekretaris Asosiasi Nahdlatul Ulama Teritorial (ASNUTER) PCNU Kabupaten Probolinggo periode 2026–2031, Bambang memaknai reuni ini lebih dari sekadar temu kangen.

XLSMART Buka 1.202 Peluang Kerja, PW IPNU Jawa Timur Jajaki Kolaborasi Pemberdayaan Kader

Ada doa yang dipanjatkan bersama secangkir kopi hangat: semoga forum tertinggi warga Nahdliyin ini melahirkan keputusan-keputusan maslahat bagi jam’iyah, jama’ah, dan keutuhan bangsa Indonesia.

Penulis : Agus Budi Cahyono