IPNU Jatim
Bangku perkuliahan bukan hanya menjadi tempat pembelajaran akademik yang bersifat konkret, tetapi juga ruang bagi proses pendidikan yang lebih abstrak. Dunia kampus merupakan jalan untuk menemukan kebenaran ilmu pengetahuan melalui pemikiran kritis dan progresif. Tidak dapat dimungkiri bahwa hidup di kampus maupun di masyarakat menuntut setiap individu untuk siap berorganisasi. Organisasi seperti IPNU, IPPNU, PMII, maupun yang lainnya adalah sarana pembentukan diri agar siap menghadapi tantangan kehidupan masyarakat yang lebih kompleks.
Ketika saya masuk dunia perkuliahan, saya sering mendengar opini bahwa mahasiswa PMII lebih aktif dan kritis. Sebagai kader IPNU, saya penasaran apakah hal tersebut hanya opini atau benar adanya. Tentu, perbedaan itu lahir dari perspektif masing-masing individu, pengalaman, dan literasi yang dimiliki. Namun, saya juga mengakui bahwa kader IPNU-IPPNU sering kali dinilai kalah aktif dibandingkan kader PMII.
Melihat ke belakang, sejarah berdirinya PMII sebagai organisasi mahasiswa yang memisahkan diri dari NU tidaklah tanpa sebab. Para aktivis mahasiswa kala itu ingin keluar dari stagnasi organisasi serta dinamika politik yang mewarnai NU. Meski menyatakan diri berdiri sendiri, kultur NU tetap melekat kuat. Tidak heran jika kita sering melihat kader PMII turun ke jalan menyuarakan aspirasi rakyat hingga dijuluki “parlemen jalanan”. Sementara itu, kader IPNU-IPPNU jarang terlihat melakukan hal serupa.
Namun, hal itu bukan berarti menjadi kelemahan kader IPNU-IPPNU. Yang sering tampak adalah kecenderungan kader IPNU-IPPNU untuk mengecilkan suara dalam forum debat maupun persidangan akademik. Muncullah pertanyaan: mengapa ada anggapan bahwa kader IPNU-IPPNU tidak aktif? Apakah mereka takut beropini secara radikal? Di sini penting membedakan antara radikalisme beragama dan radikalisme berpikir. Pemikiran radikal perlu memiliki dasar yang kuat agar tetap terarah.
Sebagai kader IPNU yang baru mengikuti pengkaderan LAKMUD PAC IPNU-IPPNU Gumukmas, saya ingin mengubah anggapan tersebut. Mengutip Rocky Gerung, “cara untuk berpikir kritis dan sistematis adalah dengan menghilangkan ruang ketakutan dalam beropini.”
Dalam ranah kampus, IPNU-IPPNU memang kurang mendominasi, terlebih di perguruan tinggi yang belum berada dalam cakupan budaya NU. Sementara PMII memiliki branding serta ekspansi yang lebih luas. Jika dahulu PMII identik dengan kampus Islam, kini mereka tumbuh di kampus-kampus umum seperti UI, UGM, Brawijaya, dan lainnya.
Dari berbagai proses pengkaderan seperti Makesta, Lakmud, hingga forum kajian, saya melihat bahwa kader IPNU-IPPNU lebih sedikit yang aktif berpendapat. Pengalaman saya yang masih terbatas membuat saya menyadari bahwa kekritisan kader PMII dalam forum persidangan memang lebih terasa.
Kader IPNU-IPPNU harus sadar akan perubahan atmosfer budaya di lingkungan kita. Kita harus menjadi apa yang diamanatkan kepada pelajar dan mahasiswa: agent of change. Pelajar harus membawa inovasi dan perubahan, terutama di era baru ketika informasi berkembang cepat dan mudah dipalsukan. Cara melawan tantangan masa depan adalah dengan kesadaran diri dan keberanian memperjuangkan kebenaran, tanpa menjustifikasi bahwa era Gen Z adalah era buruk. Dunia berputar dalam siklusnya, dan tugas kita adalah bertahan sembari berusaha menjadi lebih baik.
Hal ini sejalan dengan visi dan misi IPNU-IPPNU, yaitu:
Visi:
Terbentuknya kader pelajar Nahdlatul Ulama yang berakhlakul karimah, berilmu, dan berwawasan kebangsaan.
Misi:
- Membangun kader NU yang berkualitas, berakhlakul karimah, dan bersikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
- Mengembangkan wacana dan kualitas sumber daya kader menuju terciptanya kesetaraan gender.
- Membentuk kader yang dinamis, kreatif, dan inovatif.
Dalam organisasi IPNU-IPPNU, kita dituntut peka dan kritis agar mengenali jati diri: siapa kita di masyarakat dan di mana posisi kita. Kader tidak boleh mudah kagetan atau gumunan. Kita harus memiliki manhajul fikr (cara berpikir) yang selaras dengan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dalam bingkai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.
Pelajar NU juga harus memiliki karakter dasar sebagaimana rumusan Mabadi’ Khoiru Ummah:
- Ash-Shidqu: kejujuran, kesungguhan, dan keterbukaan.
- Al-Amanah wal Wafā bil ‘Ahdi: dapat dipercaya, amanah, dan tepat janji.
- Al-‘Adalah: objektif, proporsional, dan taat asas.
- At-Ta’āwun: tolong-menolong dalam kebajikan dan gotong royong.
- Al-Istiqāmah: keteguhan dan kedisiplinan memperjuangkan jalan yang diamanatkan Allah.
Selanjutnya, merujuk pada Trilogi IPNU-IPPNU (Belajar, Berjuang, Bertakwa):
1) Belajar
Belajar adalah sikap dasar manusia. Belajar bukan sekadar aktivitas, tetapi proses berpikir terhadap apa yang telah dialami hingga melahirkan ilmu. Dunia dibatasi waktu, tetapi ilmu adalah ruh peradaban. Karena itu, kader harus memperluas cakrawala pemikiran.
2) Berjuang
Setelah memahami prinsip belajar, kita membutuhkan jiwa perjuangan. Di era globalisasi, berpikir kritis adalah kunci. Cara paling efektif untuk berpikir kritis adalah memahami sebab akibat. Perjuangan paling berat bukanlah menjadi DPR atau mengubah undang-undang, tetapi mengendalikan diri sendiri.
3) Bertakwa
Perjuangan tanpa takwa akan menghasilkan tindakan yang radikal dan tidak terarah. Takwa adalah rasa takut terhadap syariat Allah yang menjaga manusia dari sifat hati yang berubah-ubah. Banyak orang pintar terjerumus karena tidak memiliki pengikat nafsu, dan takwa adalah pengikat itu.
Kader IPNU-IPPNU harus menyadari siapa dirinya dan hendak menjadi apa di masa depan. Dengan kesadaran itu, kita dapat menjadi kader kritis dan progresif yang mampu menunjukkan eksistensi dalam kehidupan perkuliahan maupun masyarakat.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Dengan segala keterbatasan pengalaman, saya memohon maaf atas kekurangan. Semoga apa yang saya tulis memberi manfaat bagi seluruh kader IPNU-IPPNU. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Daftar Rujukan:
- NU Online, “Beberapa Persoalan Ketika PMII Ditarik ke NU”, https://nu.or.id/opini/beberapa-persoalan-ketika-pmii-ditarik-ke-nu-nooh3
- Maudy Ayunda, kanal YouTube
- Modul LAKMUD PAC Gumukmas, H-49, H-53, H-50–51
Penulis : M khoirun nasikhin

