Situbondo, IPNU Jatim
Nobar dan Diskusi Publik III film dokumenter Pesta Babi berlangsung hangat dan penuh antusias di Warmindo, Sukorejo, Situbondo, Selasa malam (19/05/2026). Kegiatan yang digelar kolaborasi bersama PC IPNU-IPPNU Situbondo dan Berjuta Pena tersebut menjadi ruang refleksi kritis bagi para pelajar dan pemuda terkait demokrasi, kebebasan bersuara, hingga isu kerusakan ekologis di Papua.
Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang mengangkat persoalan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan dampaknya terhadap masyarakat adat serta lingkungan di Papua. Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi publik bersama dua narasumber, yakni CEO NarasiNews.id, Izzul Muttaqin, dan Founder Sapere Aude, Izzul Qurnain. Diskusi dipandu oleh Ahmad Basori selaku Redaktur Berjuta Pena.
Dalam pembukaannya, Ahmad Basori sebagai moderator menegaskan bahwa film dokumenter tidak selalu hadir untuk memberi jawaban, tetapi sering kali menjadi ruang untuk melihat realitas dari sudut pandang yang jarang diperhatikan publik.
“Forum ini jangan hanya menjadi ruang untuk saling mengalahkan pendapat, tetapi menjadi ruang untuk mendengar, memahami, dan berdialog secara manusiawi,” ujarnya saat membuka sesi diskusi.
Dalam pemaparannya, Izzul Muttaqin menyoroti pentingnya menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di tengah maraknya intimidasi terhadap pemutaran film dokumenter di sejumlah daerah.
“Kalau kita masih takut bersuara, takut berdiskusi, lalu bagaimana kita mau memperjuangkan bangsa dan negara? Demokrasi itu harus memberi ruang kepada rakyat untuk berpikir dan menyampaikan pendapat,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi suasana diskusi di Situbondo yang dinilai terbuka dan tidak represif terhadap ruang-ruang dialog kritis.
Selain itu, Izzul Muttaqin menilai film Pesta Babi memiliki kekuatan secara naratif karena mampu membuka kesadaran publik terhadap kondisi masyarakat Papua. Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya keberimbangan dalam karya jurnalistik dan dokumenter.
“Film ini bagus secara naratif, tetapi akan lebih kuat jika juga menghadirkan perspektif pemerintah agar masyarakat bisa melihat persoalan secara lebih utuh,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber kedua, Izzul Qurnain, mengajak peserta diskusi melihat persoalan dalam film dari sudut pandang yang lebih substansial, khususnya mengenai paradoks antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan ekologi.
Menurutnya, hampir seluruh negara maju memiliki sejarah panjang eksploitasi sumber daya alam demi mencapai kemajuan ekonomi. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah menemukan titik keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
“Kita harus mulai memikirkan bagaimana kemajuan ekonomi tidak selalu dibayar dengan kerusakan ekologis. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjadi negara maju, tetapi bagaimana tetap menjaga kemanusiaan dan lingkungan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya energi alternatif seperti bioetanol sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, meski tetap harus mempertimbangkan dampak ekologis yang muncul.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta yang didominasi kader IPNU-IPPNU, PMII, dan komunitas literasi di Situbondo. Suasana santai namun kritis menjadikan forum tersebut hidup hingga akhir acara.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap ruang-ruang diskusi publik semacam ini dapat terus dihidupkan sebagai media pendidikan demokrasi, penguatan literasi kritis, dan pembentukan kesadaran sosial di kalangan pelajar dan generasi muda.

