Jejak IPNU Pada Kepemimpinan Bupati Anas

Siapa yang tak mengenal Abdullah Azwar Anas? Bupati Banyuwangi ini mampu melejit sebagai salah seorang pemimpin daerah yang berprestasi. Banyuwangi yang dulu dikenal sebagai daerah klenik dan santet itu, dalam waktu relatif singkat dirubah sedemikian rupa menjadi salah satu daerah jujukan wisata. Berbagai penghargaan dari tingkat nasional hingga internasional berhasil diraihnya. Awal tahun ini sebuah penghargaan bertaraf internasional dari badan pariwisata dibawah PBB ( The United Nation World Tourism Organization / UNWTO) diraih Banyuwangi sebagai juara satu dalam “Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan”.

Keberhasilan Bupati Azwar Anas membawa Banyuwangi melesat demikian pesat, tentu saja bukan hal yang mudah. Untuk bisa menjadi pemimpin yang berhasil, ada proses panjang yang harus dilaluinya. Salah satu bagian penting itu adalah aktif berproses di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Bagaimana cerita, kesan dan pesannya? Berikut reportase Ayung Notonegoro* yang berkesempatan mengikuti keseharian Ketua Umum PP IPNU masa khidmat tahun 2000 – 2003 dalam 7 bulan terakhir.

***

“Saya masih teringat saat masih diajak sama Mas Hilmi (Hilmi Muhammadiyah, mantan Ketua Umum IPNU, sekarang menjadi salah satu Irjen di Kemenag) muter-muter naik vespa ngantar proposal ke departemen-departemen,” kenang Bupati Anas saat pertemuan Presidium Nasional Majelis Alumni IPNU di Banyuwangi beberapa waktu lalu (28/7/2016). “Dari muter-muter itulah saya mengenal banyak orang dan menjalin berbagai relasi,” lanjutnya.

Kenangan tersebut hanya satu bagian dari sejuta kenangan yang disadari atau tidak membentuk sikap dan cara Bupati Anas dalam memimpin Banyuwangi dalam meraih berbagai prestasi. Banyak kenangan “pahit” lainnya semasa aktif di IPNU, tapi itu menjadi bekal penting kelak.

Seperti halnya cerita yang bersangkutan dengan keterbatasan finansial. Suatu kisah epik bagi sebagian aktivis yang merantau di daerah orang. Kisah yang penuh haru, namun mengajarkan arti perjuangan, kemandirian dan, tentunya, kreatifitas.

Pernah suatu ketika Bupati Anas didapuk menggantikan Pak Zainut Tauhid, Ketua Umum IPNU 1992-1998 sekarang menjadi wakil ketua MPR RI, untuk mengisi suatu acara disebuah tempat yang cukup jauh. “Sangu (bekal) saya ngepres. Cuma Rp. 10.000, cukup untuk bayar bis sekali jalan, dengan harapan seusai acara dapat amplop,” ceritanya.

Namun sial, seusai acara, panitia tak memberinya honorium sama sekali. Tak ayal, ia pun terlunta-lunta saat akan pulang. “Sejak saat itu, saya tidak berani lagi sangu ngepres,” ujar kader yang menjadi anggota MPR (1997-1999) termuda dalam usia 24 tahun itu sembari terkekeh.

Cerita lainnya, saat-saat berkunjung ke daerah. Memenuhi undangan kegiatan IPNU, baik di wilayah maupun di cabang. “Saya paling senang kalau ke Sumedang,” ungkap mantan anggota DPR RI 2004-2009. “Pasti pulangnya dibawain oleh-oleh tahu yang banyak,” imbuhnya.

Bekal tahu yang berbesek-besek (kotak dari anyaman bambu) itu, rencananya mau dimakan bersama di basecamp IPNU di Jakarta sana. Namun, karena tak banyak uang yang bisa dibuat njajan selama di perjalanan, satu per satu tahu itu ia santap. “Nyampek Jakarta sudah habis,” ungkap lulusan Universitas Indonesia itu seraya terbahak.

Pernah suatu ketika, saat berbicara dikala pelantikan PC IPNU IPPNU Banyuwangi, Februari silam, ia juga bercerita saat-saat berkunjung ke daerah dalam rangka kegiatan IPNU. Tak jarang ia meminjam uang kepada “mantan pacar” yang kini jadi Ketua TP PKK Kab. Banyuwangi Ipuk Festiandani. “Dulu, saya sering pinjam uang ke istri saya, buat ongkos saat menghadiri kegiatan (IPNU),” ujarnya sembari disambut senyum simpul Bu Dani Azwar Anas, panggilan akrab Bu Ipuk Festiandani.

Berbagai keterbatasan selama berproses di IPNU itu, menjadi bekal penting saat ia menjabat sebagai bupati. Berbagai permasalahan yang Banyuwangi idap saat pertama kali menjabat, tak menjadikannya putus asa. Tapi justru menjadi cambuk semangat untuk menyelesaikannya. Seiring waktu, semangat itu semakin menunjukkan buahnya. Diantaranya adalah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 20,09 persen (2010) menjadi 9,29 persen (2014).

Dinamika selama memimpin IPNU, turut serta mengantarkan Bupati Anas menjadi seperti saat ini. “Karena dulu (saat jadi Ketua Umum IPNU) terbiasa memimpin sidang dengan gebrak-gebrak meja, jadi tidak kaget saat memimpin birokrasi,” papar anak pertama dari sepuluh bersaudara itu. “Maka, tidak cukup hnaya dengan sekolah atau kuliah saja. Harus pula disertai dengan berorganisasi,” pesannya saat berbicara didepan puluhan mahasiswa penerima Program Banyuwangi Cerdas (11/7/2016)

Dalam berorganisasi itu, lanjut Bupati Anas, seorang kader tidak boleh terlepas dari semangat belajar. “Organisasi itu tempat belajar. Belajar tentang banyak hal yang tidak didapat di bangku sekolah. Maka, jika berorgisasi tidak belajar, maka percuma,” ingatnya.

Perkembangan teknologi informasi, pesan Bupati Anas, harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kader IPNU. Dengan sarana itu diharapkan bisa mempermudah konsulidasi pengurus dan kaderisasi secara luas. “Misalnya dengan membuat materi-materi kaderisasi dengan youtube yang bisa diakses dari mana saja,” contohnya.

Selain itu, Bupati Anas juga berpesan, kepada semua kader IPNU dimanapun berada untuk tetap optimis dan percaya diri menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. “Kuncinya menghadapi kesulitan itu adalah nikmati dan selalu optimis. Dan tentunya, tidak ketinggalan berdoa. Karena tanpa doa, hanya benang kusut permasalahan yang akan dihadapi,” pungkasnya.

*) Ayung Notonegoro, Pengurus PW IPNU Jawa Timur asal Banyuwangi. Tulisan ini diolah dari catatan pribadi saat menyimak sambutan-sambutan Bupati Abdullah Azwar Anas dalam berbagai kesempatan selama bulan Februari – Oktober 2016. Ayung bisa ditemui di Fb: Ayunk Notonegoro & @Ayung_N (twitter).

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.