IPNU Jatim: 79,5% Pelajar Tolak Full Day School

Surabaya – Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk menerapkan sekolah lima hari dan 8 jam sehari atau Full Day School (FDS) menuai pro-kontra. Tak terkecuali kalangan pelajar. Hasil survei terbaru, sebanyak 79,5 % pelajar menyatakan tidak setuju.

Hal itu berdasarkan hasil survei terbaru oleh Student Research Center (SRC) Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur. Survei dilakukan via whatsapp yang disebar di seluruh grup pelajar di Jawa Timur mulai SMP/SMA sederajat. Dengan cara menulis nama, sekolah, kabupaten/kota lalu jawaban dikirim melalui nomer whatsapp yang tercantum hingga pukul 23.59 WIB per tanggal 19 Juni 2017.

“Alhamdulillah para pelajar merespon begitu cepat dan antusias. Dalam waktu sehari semalam kita menyebar poling melalui grup whatsapp pelajar, sebanyak 420 responde mengirikan jawabannya,” kata Direktur SRC Jatim, Ahmad Ainun Najib, saat ditemui di kantor PW IPNU Jatim, Rabu malam, 21 Juni 2017.

Dari 420 responden, 79.05% menjawab tidak setuju dengan sistem penerapan full day school. Sedangkan 20.95% setuju. Alasan penolakan full day school oleh pelajar adalah menguras tenaga dan pikiran sebanyak 38.25%. Tidak bisa membantu orang tua 16.87% dan bikin capek dan bosen dalam kelas sebanyak 15.06%.

Selebihnya para pelajar menjawab tidak bisa belajar ilmu agama di madrasah diniyah, tidak bisa berorganisasi dan keterbatasan waktu untuk bersosial masyarakat. “Poling ini kami lakukan untuk menyerap aspirasi dari kalangan pelajar. Kami berharap riset ini bisa menjadi data bagi pemangku kebijakan, bahwa pelajar tidak setuju dengan penerapan sistem full day school,” terang remaja yang juga pengurus IPNU Jatim ini.

Sekitar 85 pelajar berasumsi dengan adanya full day school, bisa meningkatkan pendidikan di Indonesia. “Pelajar Indonesia harus terus belajar dan tidak terlalu banyak bermain, dengan full day school waktu bermain mereka secara otomatis berkurang,” kata Fera Febriana pelajar SMKN 1 Banyuwangi ini.

“Poling melalui akun media sosial akan terus dilakukan. Ke depan akan kami lakukan poling melalui twitter, facebook dan instagram, karena akun media sosial tersebut sudah akrab di kalangan pelajar,” pungkas Ainun Najib.

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.