Mencintai adalah hak segala kader oleh sebab itu keraguan, ketidaksempurnaan, dan ketidakpastian rasa pasti dihapuskan. Hal-hal mengenai komitmen bersama, kesungguhan rasa dan kemurnian ikatan cinta akan dilaksanakan dengan seksama dan dalam tempo selama-lamanya. Begitulah kiranya bila sejoli telah menuliskan naskah proklamasi atas kemerdekaan cinta dalam dirinya.

Bicara masalah cinta nampaknya memang sesuatu hal yang sangat indah bagi siapa saja yang merasakannya. Tapi bangga berproses menjadi rekan IPNU dan cinta rekanita IPPNU, cinta bukan melulu tentang hubungan sejoli akhi dan ukhti yang memiliki rasa yang sama semata. Lebih dari itu ada cinta yang lebih besar yaitu cinta kepada organisasi, cinta pada NKRI dan para ulama’ pendiri dan pelestari organisasi ini.

Pertama, cinta pada NKRI sudah terbukti jauh sejak sebelum IPNU IPPNU itu sendiri didirikan. Salah satu penyangga utama kaderisasi NU, putra putri NU tidak ketinggalan ikut serta berjuang melawan penjajah. Kedua, cinta kepada Pendiri NU membangun generasi cinta tanah air yang kuat dan pada akhirnya meskipun masih pelajar mereka ikut berjuang dan berperang melawan pergolakan penjajah Jepang dan Belanda. Pada intinya NU adalah Indonesia dan Indonesia adalah NU. Hal ini merupakan aset dan andil yang luar biasa dalam upaya merebut kemerdekaan pada saat itu.

Hadratus Syekh K.H Hasyim Asy’ari pernah berkata dalam petuahnya yaitu “Siapa yang mengurus NU aku anggap santriku dan siapa yang menjadi santriku aku doakan khusnul khotimah beserta anak cucunya”. Petuah ini memang sudah sering kita dengar dikalangan warga nahdliyyin, tapi lebih dari itu yang harus perlu kita ketahui bersama, ini membuktikan bahwa betapa cintanya ulama kita kepada kita semua dan sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mencintai para pewaris Nabi ini dengan terus mengamalkan apa yang telah beliau – beliau ajarkan yang nantinya dengan perantara ulama inilah akan mengantarkan kita cinta kepada Allah dan Rosululloh.

Ketiga, cinta kepada Organisasi. Melihat lebih dekat arti cinta, cinta pada organisasi akan menimbulkan dedikasi yang sangat tinggi untuk bisa memberikan yang terbaik. Loyalitas adalah kuncinya. Sebagian diantara kita mengira organisasi bukanlah hal yang penting, karena  ketika kuliah atau sekolah tujuannya belajar bukan untuk berorganisasi. Ungkapan ini memang tidak 100% salah akan tetapi berorganisasi adalah salah satu cara melihat dunia menjadi lebih indah dan proses belajar bermasyarakat. Organisasi adalah tempat yang cocok untuk belajar beradapatasi dan mencari relasi. Tentunya, berproses di IPNU IPPNU adalah jalan yang tepat.

 Semua yang ahli awalnya juga pemula. Jadi amat disayangkan bilamana anak muda meninggalkan masa indah berproses ini hanya karena mindset tidak bisa apa-apa untuk kemajuan organisasi. Dan  tidak punya jiwa sosial sebagai bekal di organisasi. Pada dasarnya jika belum bisa menjadi pemimpin yang bijaksana setidaknya bisa menjadi pengikut yang setia. Seiring berjalannya waktu akan mendapatkan pembelajaran terbaik dalam berorganisasi di IPNU IPPNU. So, cintai organisasu dengan memberikan yang terbaik dengan berdedikasi dan mencurahkan segala energy.

Keempat, cinta kepada manusia, cinta ini terkadang hadir tanpa diundang. Cinta yang hadir saat proses Belajar, Berjuang, Bertaqwa. Niat berjuang gausah peritungan, Niat ngabdi gausah pingin dipuji. Begitu indah bukan ketika bersama-sama menuju suatu kesempurnaan hidup dengan mengamalkan 3 trilogi dalam kader IPNU IPPNU. Belajar sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, berjuang dengan menggerakkan potensi di organisasi, serta bertakwa kepada Allah Sang Maha Cinta. Yang pada akhirnya bukan tidak mungkin lagi mendapat bonus di organisasi atau penulis lebih mudah menyebutnya Ada cinta di Organisasi.

Tresno jalaran soko kulino, istilah Jawa ini diartikan sebagai cinta tumbuh karena terbiasa. Hal ini terjadi karena setiap harinya mereka bertemu, bertatap muka, saling bahu – membahu mengerjakan suatu hal demi terciptanya tujuan bersama. Dan tentu pula tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini sudah banyak rekan dan rekanita ketika keseharian bertemu dalam organisasi lalu muncul benih benih cinta. Tak sedikit pula dari akhirnya menjadi pasangan suami istri berkat mengikuti organisasi IPNU IPPNU. Masing masing manusia dimuka bumi ini itu diciptakan saling berpasang-pasangan, tidak ada kata jomblo. Tinggal bagaimana kesiapan dalam menerima indahnya cinta yang disusun lewat skenario-Nya. Tugas manusia sekarang hanyalah memperbaiki lebih baik dan lebih baik untuk bertemu dengannya dan yakinlah rencana Tuhan akan selalu istimewa.

Oleh: Riza Mustofa, Penerima Beasiswa Sarjana Muamalat Universitas Negeri Malang dan PKPT IPNU IPPNU Malang

Editor: Faqih Muhammad

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.