Oleh: AF Raziqi

 edisi-4-18

Langit masih mendung. Tapi tak setetes pun gerimis yang jatuh. Burung-burung juga masih bersliweran di bawah gumpalan mendung. Mungkin mereka memanggil-manggil hujan. Aku tak tahu nama-nama jenis burung itu. Tampaknya mereka bahagia. Tak punya beban seperti manusia. Yang mereka tahu mungkin hanya makan, terbang mencari nafkah untuk keluarga mereka, tidur, dan bernyanyi. Dalam kamus hidup mereka tak ada urusan utang-piutang, politik, perceraian, sakit hati, demo, dan lain sebagainya. Tak seperti manusia. Kadang sepintas aku berpikir lebih enak jadi burung saja. Sedih dan bahagia, ssusah dan gampang, semua sama saja. Tapi, sejatinya aku harus bersyukur diciptakan Tuhan sebagai manusia. Kautahu kenapa, Kawan? Karena dengan begitu aku dapat mengenal Tuhan.

Adakah yang lebih agung dan sakral dibanding mengenal Zat yang mencipatakan alam semesta? Zat yang menciptakan burung-burung itu? Tidak! Lebih dari itu, aku dapat merasakan kehadiran-Nya; merasakan sentuhan rahmat dan kasih sayang- Nya yang tak berhingga; dan, merasakan kerinduan untuk bersisian di hadirat-Nya?

Sudah lima kali maghrib berturut-turut aku shalat di masjid kesepian ini. Dan, sore ini, ketika langit mendung ini, adalah kali keenam aku di sini. Tak ada yang berbeda. Masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Sepi. Termasuk kemarin, tak ada shalat Jumat dilaksanakan di rumah Allah ini. Penasaranku semakin menjadi. Masjid ini benar-benar penuh misteri.

Seperti biasa, begitu sampai, aku langsung duduk di teras masjid, menatapi langit yang kelabu sambil meratapi masjid besar yang kesepian ini. Tampak beberapa orang keluar naik motor dari rumah-rumah yang tadi kulalui. Kelihatannya, umur mereka tak jauh beda denganku. Ah, anak muda zaman sekarang, batinku!

Kali ini aku berencana menanyakan perihal orang-orang di sekitar masjid ini kepada muadzin tua yang biasa kujumpai sejak lima hari lalu.

Kulihat ia tengah menuju kemari. Mengenakan baju koko warna putih dengan motif ukiran bunga-bunga pada bagian depan dan sarung kotak- kotak hijau tua. Kopiahnya tetap yang kemarin, hitam layu. Dinyalakannya mesin pengeras, lalu ia raih mikrofon, dan adzan. Lagu yang khas. Tak berirama, namu bertenaga. Demikian nikmat didengar. Mungkin karena dia adzan benar-benar dari hati nurani. Tidak seperti kebanyakan muadzin yang sekadar memuntahkan suara dengan irama yang diukir sebegitu rupa, tapi terdengar hambar, dangkal, tak bertenaga.

Muadzin tua itu lalu keluar dari ruang pengeras suara. Tersenyum padaku, aku pun tersenyum padanya.

“Maaf, Pak, imam masjid di sini siapa, ya?” tanyaku mencegat langkahnya yang hendak turun dari masjid.
“Kamu orang baru di sini, ya?”
“Iya, begitulah!” kusertai senyum.
“Kita ngobrol di situ saja.”

Kami menuju salah satu pilar, lalu duduk berhadapan.

“Em.., kamu tinggal di mana?” dia membuka kembali pembicaraan.
“Saya tinggal di dekat sini, pak. Ngontrak,” jawabku.
“Ow, kuliah?”
“Iya.., di UNSI, Pak”

Di langit senja mulai memburam.

“Orang-orang di sekitar sini sudah tak mau lagi ke masjid sini, Nak. Mereka lebih disibukkan pekerjaan. Masjid bukan lagi tempat baku untuk shalat. Kata mereka, shalat bisa dikerjakan di mana saja. Bumu dihamparkan sebagai masjid, kata mereka,”ia mulai ceritanya.

Sesekali ditatapnya rumah- rumah berdinding keramik yang berderet di sisi masjid. Aku mulai paham. Inilah kota. “Bahkan, banyak penduduk asli sini yang sudah tak lagi peduli dengan agama asal mereka, Islam. Dulu, di sini mayoritas penduduk beragama Islam. Masjid ini tidak pernah sepi. Selalu ramai, baik untuk shalat berjamaah maupun untuk selamatan. Bahkan, tak sedikit yang hadir mengikuti khataman al-Qur’an setiap setengah bulan sekali.” Kami bertatapan.

Kulihat di matanya ada semangat untuk menumpahkan segala hal tentang masyarakat daerah ini. Juga tentang masjid yang kesepian ini. Aku mengangguk-angguk saja.
“Aku tidak mengerti kenapa mereka jadi begini. Hati mereka sudah membatu. Tak hanya satu dua kali aku mencoba mengingatkan mereka. Berbagai cara juga sudah kucoba lakukan untuk mengembalikan mereka ke jalan Allah. Tapi hasilnya nihil. Sia-sia!” Kali ini mudzin itu menatap langit yang mulai gelap. Seakan meratapi situasi yang tengah terjadi. “Sudah terlalu sering aku mengundang ulama untuk memberi pencerahan kepada mereka. Tapi nyatanya, mereka hanya datang untuk
menyerbu makan gratis. Hanya lima sampai sepuluh orang yang benar- benar serius mengikuti pengajian. Selebihnya hanya menunggu ceramah usai, lalu berebut makan.” Kutatap mata sang muadzin. Ada rona kekesalan dan keputusasaan. “Sejak itulah aku jera mengadakan acara-acara seperti itu. Tak ada gunanya.”

Kalimat terakhirnya ditekan sedemikian kuat. Aku hanya mengangguk- angguk. Muadzin tua itu tersenyum menatapku.

###

Itu lima tahun yang lalu.

Sore ini aku kembali duduk di teras masjid ini. Masih seperti dulu; kutatap langit yang kelabu menjelang Maghrib.

Tapi, pemandangan di masjid sungguh sudah berbeda. Beberapa jemaah tampak datang lebih awal. Lima menit sebelum adzan dikumandangkan. Mereka mengenakan pakaian serba putih: jubah putih dan peci putih. Atau bercelana; sebagian berpeci, sebagian tidak. Raut wajah mereka terlihat asing bagiku: berjenggot tebal. Kutebarkan pandangan pada sosok-sosok yang terus berdatangan. Kalau tak salah hitung sudah lima belas orang yang masuk ke dalam masjid, menunggu adzan Maghrib yang tinggal beberapa detik lagi. Tapi, sosok yang kucari tak kutemukan di antara mereka. Kemana gerangan muadzin tua itu? Apakah sudah meninggal? Kucari ia di tempat mesin pengeras suara. Juga tidak ada. Adzan pun lalu berkumandang. Suaranya bukan lagi suara muadzin tua. Juga bukan lagu polos dan lugu seperti dulu.
Muadzin kali ini bersuara emas. Terdengar lebih merdu dan lantang. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang kutahu, itu hanya dimiliki muadzin tua itu. Yaitu, vibrasi kekhusyukan yang tulus dan sakral. Begitu adzan usai, tak kudengar kumandang zikir atau pujian-pujian.

Ritual menuju shalat Maghrib berjalan cepat. Tanpa nuansa, tanpa sensasi. Seolan berjalan secara otomatis. Dingin dan tak peduli. Orang- orang bergegas menuju shaf awal. Merapat hingga penuh. Lalu diikuti shaf kedua yang hanya berisi lima orang. Terlihat tertib dan rapi. Tak ada jemaah yang bersarung, selain aku. Semua berjubah putih atau bercelana panjang. Ada yang berkopiah putih, ada yang tak berkopiah. Tak ada yang berkopiah hitam, kecuali aku. Aku terjepit di tengah-tengah mereka; di tengahtengah suasana yang dingin dan tak peduli. Usai shalat tak ada wiridan bersama. Masing-masing melantunkan zikir dan doa sendiri-sendiri. Lirih, nyaris tak tertangkap telinga. Aku benar-benar merasa asing berada di tengah-tengah mereka.

“Apakah jemaah shalat ini penduduk sini, Pak?” aku bertanya kepada lelaki paruh baya begitu kulihat ia hendak beranjak. Dia menatapku.
“Sebagian besar pendatang. Yang pakai jubah itu semua pendatang.”
“Terus yang bercelana itu?”
“Ada musafir. Ada juga penduduk sini, empat atau lima orang.”
“Bapak sendiri?”
“Oh, saya dari desa di kota sebelah. Tapi dulu, waktu masih kuliah dan bekerja di kota ini, saya biasa shalat Maghrib di sini sepulang kerja dari kota.”

Aku duduk di teras. Maghrib beranjak makin jauh. Langit tampak gelap kemerahan, seolah terbakar mega-mega yang bergelantungan. Kutatap rumah-rumah di sekitar masjid yang makin rapat. Aku merasa semakin terasing, baik dengan rumah- rumah itu maupun dengan masjid yang dulu kesepian dan kini sudah hidup ini.

Mestinya aku bangga masjid ini terlihat semarak. Tapi, seperti banyak hal yang terasa hilang. Bukan hanya muadzin tua itu. Tapi, juga tradisi dan nilai lokal. Ada nuansa dan sensai yang seolah berlalu. Ada keping-keping budaya yang terasa tercerabut dari bumi leluhur ini. Bumi yang dari masa lalu dapat kucium keluhuran yang sama dengan yang mengalir dalam darahku. Entah kenapa, pada senja yang semakin temaram ini semua itu begitu kurindu. Ya, begitu kurindu!

Ketapang Sampang, 2012

* Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Khidmah MWC. NU Pragaan Sumenep

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.