BAHAGIA, BUKAN SEBATAS KEPUASAN NAFSU BELAKA

Oleh: AF Raziqi

Kesehatan bukanlah ketiadaan dari penyakit,

melainkan kebahagiaan di dalam diri kita.

Amanda Gore

Ungkapan di atas cukup menggelitik nalar kita untuk berfikir lebih jauh tentang kebahagiaan, yang bisa kita dikenal dengan happiness. Secara logika, ketika kita sakit, maka tentu kita tidak sehat. Memang benar. Namun, tidak selamanya ketiadaan penyakit dalam tubuh kita bisa dikatakan sehat yang benar-benar sehat. Kebahagiaan, merupakan hal yang cukup primer dalam hidup. Bahkan, lebih primer daripada kesehatan. Kesehatan gampang saja untuk dibeli dengan uang, sedangkan kebahagiaan belum tentu demikian.

Manusia sangatlah berbeda dengan fenomena hidup makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Ia sangat dinamis, interpretabel, dan sekaligus menyimpan sejuta rahasia. Ada bahagia dan sengsara atau merana, suka dan duka, tangis dan tawa, tegar dan resah, dan seterusnya. Semua fenomena itu tidak ditemukan di dalam kehidupan lain, selain manusia (kita). Dan hal tersebut sangat sesuai dengan teori bahwa Tuhan telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna (al-insan al-kamil). Dan termasuk dalam konteks di atas adalah kebahagiaan yang sangat sulit untuk diprediksikan kedatangannya. Tanpa ada kebahagiaaan dalam hidup, manusia akan semakin merasa terpuruk dan tenggelam dengan masalah-masalah duniawi, yang kerap kali datang tak diundang, dan hal itu merupakan sesuatu yang pasti dialami bagi mereka – dan kita – yang masih menyandang predikat manusia.

Roni Ismail dalam bukunya Inner Happiness Building (Yogyakarta: Cupid Media Group, tt), berpendapat, bahwa kebahagiaan akan lebih berarti bila digunakan dengan pikiran-pikiran yang bahagia. Dalam menumbuhkan kebahagiaan tak segampang kita membalikkan telapak tangan. Menumbuhkan kebahagiaan, meminjam istilah Dalai Lama (2001:32), ibarat merawat kesehatan tubuh atau fisik. Kita memerlukan aneka macam kandungan makanan dan minuman, tidak hanya satu atau dua maca.

Maka, seperti memilih makanan dan minuman tersebut, dalam meraih kebahagiaan hidup, kita memerlukan beragam pendekatan dan metode untuk menyadari, menumbuhkan dan memelihara potensi kebahagiaan internal (inner happiness) yang sudah Tuhan ciptakan dalam diri kita masing-masing. Dan ibarat memerangi virus atau penyakit fisik, dalam merawat kebahagiaan ini, kita juga perlu melawan sikap mental negatif atau energi penarik negatif internal yang menghalangi kebahagiaan. Maka, kita harus berusaha mencari kebahagiaan tersebut dari dalam diri kita terlebih dahulu.

Kebahagiaan hidup, tidak bisa hanya kita ukur dengan kakayaan; berapa mobil yang kita punya; berapa jumlah tanah yang kita miliki dan sebarapa lebar tanah itu; berapa jumlah uang yang telah kita kumpulkan dan kita simpan; dengan tawa dan senyum; dan lain seterusnya. Namun, kebahagiaan hidup kita bisa ukurkan dengan ketenangan pikiran kita dalam menjalani hidup; sikap kita ketika didatangkan masalah; dan begitu seterusnya.

Howard Cutler (2001:46) menceritakan seorang temannya yang mengalami keuntungan sangat besar, jauh diluar impian dan harapannyaselama ini sebagai seorang perawat. Delapan belas bulan sebelumya, ia telah berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang perawat untuk bergabung dengan dua orang temaya yang baru mendirikan sebuah perusahaan kecil dalam perawatan kesehatan. Perusahaan tempat ia bekerja mendapatkan sukses yang sangat melambung, mengambil alih kepemilikannya dengan pembelian super besar dan luar biasa tingginya, dengan harga luar biasa besar. Sebagai perawat yang ikut bekerja dalam menyukseskan perusahaan tersebut, ia menikmati limpahan uang hasil dari penjualan tersebut. Hal itu memungkinkannya untuk pensiun dalam usia 23 tahun, usia yang masih sangat produktif.

Ketika Cutler bertemu dengannya dan bertanya padanya, “apakah Anda menikmati masa pensiun ini dengan uang yang melimpah?”. Ternyata jawabannya sangat aneh untuk didengar, “Entahlah” jawabnya. “memang enak bisa bepergian dan menerjakan apa yang saya inginkan. Akan tetapi, aneh sekali, sesudah girah yang melonjak selama beberapa saat setelah mendapatkan uang melimpah itu, segala sesuatunya seperti kembali pada keadaan semula. Maksud saya, memang ada beberapa hal yang berubah, saya sudah membeli rumah mewah yang baru, dan banyak lagi. Akan tetapi, secara keseluruhan saya tidak merasa lebih bahagia dari dulu (sewaktu memiliki pekerjaan)” terangnya.

Dari contoh di atas, kita dapat tarik kesimpulan, bahwa orang sukses dan kaya itu belum tentu bahagia, dibandingkan orang yang tiap harinya harus bekerja dan berjuang jiwa-raga untuk mendapatkan rejeki demi keberlangsungan hidupnya. Dan perlu di perhatikan, bahwa kebahagiaan itu tidak akan datang dan melekat pada diri manusia secara permanen (selamanya). Dan kita juga harus mensyukuri anugerah Tuhan yang telah menciptakan kebahagiaan dalam diri kita. Kita juga wajib percaya kepada teori yang biasa kita dengar: setiap kesusahan pasti ada kesenangan (kebahagiaan), begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, dalam mencapai kebahagiaan dalam hidup, butuh yang namanya proses dan usaha. Maka, mari hidup bahagia! Be Happy! Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.