PW IPNU Jatim buat Ngaji Riset

IPNU Jatim Cetak 37 Periset

Ngaji Riset PW IPNU Jatim bersama dua periset Universitas Brawijaya Malang di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Minggu (4/9). Pelatihan diikuti 37 anggota IPNU dari 25 kabupaten /kota se-Jatim dan beberapa perguruan tinggi. (Antara Jatim/Edy M Yakub)

Kami berharap periset yang lahir dari pelatihan kali ini akan mendorong NU dapat menghadapi problem sosial dengan data, bukan sekadar wacana. Wacana tanpa data itu hoax

Surabaya – PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur mencetak 37 periset melalui “Ngaji Riset: Pelatihan Metodologi Penelitian Sosial” yang bekerja sama dengan FISIP Universitas Brawijaya Malang di Surabaya, Minggu.

“Pada Maret lalu, kami sudah meluncurkan Student Research Center (SRC) untuk meneguhkan kembali kiprah akademik IPNU sebagai organisasi dengan segmen pelajar, santri, dan mahasiswa,” kata Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami.

Untuk menguatkan peran SRC itu, pihaknya bekerja sama dengan UB mengadakan pelatihan metodologi riset sosial bertajuk “Ngaji Riset” yang diikuti 37 peserta dari 25 PC IPNU se-Jatim serta perwakilan komisariat perguruan tinggi (PKPT).

“Mereka dibimbing dua periset FISIP UB yakni Taufik Akbar dan Faqih Alfian. Kami berharap periset yang lahir dari pelatihan kali ini akan mendorong NU dapat menghadapi problem sosial dengan data, bukan sekadar wacana. Wacana tanpa data itu hoax,” katanya.

Menurut dia, periset dari pelatihan yang pertama kali diadakan SRC IPNU Jatim bersama UB itu akan dihimpun dalam tim periset IPNU di tingkat koordinator daerah (korda) atau karesidenan.

“Kalau sukses akan dikembangkan ke kabupaten/kota,” kata Haikal yang juga seorang peneliti di bidang otonomi daerah itu.

Dalam kesempatan itu, periset UB Taufik Akbar menilai pelatihan metodologi penelitian sosial merupakan langkah maju kader-kader NU yang selama ini hanya main klaim menjadi kader yang berbasis data yang valid.

“Validitas data itu penting, karena Majalah PASTI IPNU Jatim sudah pernah melakukan survei terkait penggunaan ‘smartphone’ di kalangan pelajar dari SD hingga SMA, namun validitas data-nya masih perlu dikritisi,” katanya.

Dalam survei itu, sampel datanya yang dipakai SRC IPNU terlalu sedikit, padahal validitas data itu bisa menggunakan data hingga sampel mencapai 80 persen dari sasaran riset.

“Selain validitas sampel, hal yang juga penting adalah mencari ‘funding’ (penyandang dana) yang mau ‘membeli’ riset itu, sehingga biaya riset tidak sulit lagi, karena riset memang membutuhkan dana tidak sedikit,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *