MASA DEPAN PENDIDIKAN KARAKTER

Rangga Sa’adillah S.A.P.

Di tengah carut-marut degradasi moral generasi muda bangsa, berbagai pakar berusaha mencari solusi agar moral generasi muda bangsa ini tetap lurus pada khittahnya. Para pakar masih mengganggap efektif alternatif untuk membenahi moral bangsa ini melalui jalur pendidikan. Karena sebenarnya pendidikan merupakan suatu bimbingan yang membentuk manusia agar menjadi insan yang kamil sadar akan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai akhlak (baca Marimba: 1962). Maka salah satu upaya untuk membenahi moral generasi muda bangsa adalah melalui pembenahan atau bahkan restrukturalisasi pendidikan.

Sebenarnya upaya restrukturalisasi pendidikan tidak perlu dilakukan seradikal itu, karena sejak tahun 2010 lalu Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan pembenahan moral melalui pendidikan karakter. Tidak lain yang dinamakan pendidikan karakter adalah sebuah tata sistem pendidikan yang berusaha mengisi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual peserta didik. Masalahanya pendidikan karakter bukan serta-merta menjadi alat yang menciptakan anak didik agar memiliki komponen yang kompleks tersebut secara instant. Bagimanapun juga pendidikan karakter merupakan usaha menanamkan nilai-nilai luhur pada peserta didik yang membutuhkan proses dan waktu bahkan juga membutuhkan lingkungan yang mendukung.

Sebagai salah satu alternatif lingkungan yang mendukung pensuksesan pendidikan karakter adalah pesantren. Pesantren dulunya dikenal sebagai institusi pendidikan yang tradisional dan kolot akan perubahan agaknya pendapat tersebut perlu dikoreksi. Karena sebenarnya pesantren merupakan pendidikan masa depan di Indonesia. Di pesantren peserta didik selain diasah intelektualnya, juga diasah emosional dan spiritual. Inilah letak keunggulan pesantren.

Kepala Badan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Prof. Dr. Khairil Anwar Notodiputro berpendapat pesantren merupakan tambang emas dan contoh pengembang model pendidikan karakter di Indonesia.Baginya pendidikan karakter mengembangkan komponen nilai-nilai keagamaan dan religiusitas, nilai pengembang individu, nilai sosial, dan nilai dalam berkewarganegaraan kental tertanam pada pendidikan pesantren.

Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama pesantren begitu kental akan nilai-nilai religiusitas. Karena memang misi utama pesantren adalah membentuk peserta didiknya agar menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah dan Rasulnya. Berbagai macam ilmu agama Islam diajarkan didalamnya. Namun dari berbagai macam pesantren yang ada terkadang memiliki spesialisasi ilmu Islam tersendiri misalkan ada pesantren yang konsen dibidang ilmu tauhid, tasawwuf, fikih, atau gramatika arab.

Nilai pengembang individu dalam pesantren diperkuat dengan lingkungan pembelajar yang mendukung. Semangat mempelajari ilmu pengetahuan tertanam dalam pribadi peserta didik. Disamping itu pesantren mengajarkan budaya kemandirian. Setiap santri diharuskan mampu mengurusi dirinya sendiri dan tidak mudah menyerah bila mendapat pekerjaan yang sulit.

Nilai pengembang sosial yang kental dalam tubuh pesantren adalah persaudaraan dan persahabatan antar peserta didik. Pesantren yang besar seringkali menerima peserta didik bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar (dalam kecamatan) terkadang juga menerima peserta didik dari berbagai tempat, provinsi bahkan dari berbagai negara. Santri-santri (peserta didik) diharuskan mengenal satu sama lain dan dapat hidup bergotong-royong. Rasa persaudaraan didalamnya juga begitu kental.

Nilai yang terkandung didalamnya yang terakhir adalah berkewarganegaraan. Pesantren sebagai warisan pendidkan asli dari Indonesia sudah ada jauh sebelum Indonesia dilahirkan. Bahkan sempat menjadi sentral gerakan kemerdekaan Indonesia. Didalamnya santri-santri diajarkan agar setia terhadap negaranya cinta anak tanah airnya. Sampai sekarang pesantren juga masih mewarisi karakter luhur tersebut, hampir mendarah daging dalam pendidikan pesantren semboyan cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Disinilah letak keunggulan pesantren dibanding dengan institusi pendidikan lain pada umumnya mampu mengawal peserta didiknya menjadi generasi yang mempunyai sikap hubbul wahtan (cinta tanah air).

Semua penanaman nilai karakter yang ada di Pesantren diintegerasikan dalam kurikulum, uniknya nilai-nilai luhur karakter tersebut tercermin dalam tindakan yang aplikatif dan nyata. Bila Zubaedi mengatakan pendidikan karakter tidak perlu disistematisasikan menjadi mata pelajaran tertentu namun diintegrasikan dalam tiap-tiap mata pelajaran, jauh sebelum pendapat tersebut pesantren sudah mengawalinya.

Keefektifan penerapan nilai-nilai luhur karakter tersebut dipengaruhi oleh dua hal. Pertama seorang pendidik yang dapat membimbing peserta didiknya, dialah seorang Kiai. Seperti dalam berbagai teori kesuksesan pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh model seorang pendidik yang dapat membimbing peserta didik agar mempunyai pribadi yang luhur. Dalam pesantren model pendidik karakter tersebut adalah seorang Kiai atau ustadz. Kedua, kesuksesan pendidikan karakter dipengaruhi oleh faktor eksogen atau faktor dari luar yakni lingkungan, maka lingkungan yang ada dalam tubuh pesantren menjadi tempat peserta didik belajar dan mengaplikasikan pendidikan karakter secara esensial.

Demikianlah peran penting pesantren dalam mengawal pendidikan karakter di negara ini. Bagaimanapun juga pesantren merupakan warisan pendidikan asli di Indonesia dan masa depan model pendidikan karakter dinegeri ini. Bentuk pesantren yang kita kenal saat ini tidak terlepas dari usaha-usaha KH. Wahid Hasyim mantan Menteri Agama pertama yang mampu mengubah wajah lama pesantren hingga kini konsep-konsep tersebut dikembangkan.[]

*Lembaga Pers dan Jurnalistik PW IPNU Jatim.

One thought on “MASA DEPAN PENDIDIKAN KARAKTER”

  1. sekarang orang mulai sadar pendidikan karakter itu penting. para pakar lebih suka bicara soal motivasi daripada kurikulum. tapi sayangnya, di tempat saya pengkaderan cuma bilangnya melatih mental, melatih mental, melatih mental. jadinya, kader-kader tergolongkan menjadi dua kelompok. “pemberani” yang suka ngeyel atau “penurut” yang penakut dan pengecut.

    kalau sudah begini, bagaimana, pak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *