IPNU menggugah semangat Nasionalisme melalui “Politik”

kaebangsaanLamongan- Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL) II yang di selenggarakan PW IPNU Jatim dimeriahkan dengan berbagai macam agenda kegiatan. Salah satunya adalah seminar kebangsaan dengan menggandeng Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, Jum’at (25/10/13).

Perhelatan yang jamak dilakukan dikalangan perguruan tinggi ini sengaja diadakan oleh IPNU Jawa Timur dalam rangka turut serta meramaikan rangkaian Rakerwil sekaligus sebagai upaya untuk menyemai bibit-bibit nasionalisme kepada para kader IPNU se-jawa Timur yang menghadiri acara tersebut.

Dalam sambutannya, perwakilan dari Bakesbangpol, Budi mengatakan bahwa IPNU Jatim merupakan partner Kesbang yang setia. Ia juga menyontohkan bagaimana kondisi diluar Jatim yang kantor pemerintahannya dijadikan sebagai sasaran amuk masa karena mendukung salah satu calon yang kalah/ tidak terima.

Hubungan ini sangat penting mengingat para pemuda merupakan unsur terpenting dalam menjaga stabilitas perpolitikan dan kebangsaan”. Jelasnya.

Selain dari Bangkesbangpol Jatim, seminar yang bertemakan “Implementasi Nasionalisme melalui Pendidikan Politik” ini juga dihadiri oleh para praktisi politik lainnya, seperti halnya Muslih Hasyim, sekretaris KNPI Jawa Timur.

Dalam pemaparannya, pria kelahiran Lamongan itu menguak kembali sejarah bagaimana pemuda mampu menyulut semangat nasionalisme yang pada puncaknya melahirkan proklamasi kemerdekaan.

semua peristiwa dalam rangka membangkitkan semangat cinta tanah air sampai pada lahirnya Negara ini dilakukan oleh pemuda” terangnya dengan penuh semangat dan lantang.

Pria yang juga mantan wakil ketua PAC IPNU Karangbinangun, Lamongan ini juga sangat mewanti-wanti agar kader NU jangan kesusu menjadi anggota DPR, kecuali telah mempunyai tiga syarat, yaitu mental yang kuat, finansial yang memadai dan tidak gampang jatuh.

jangan mentang-mentang mantan akfifis, lalu nganggur akhirnya mencalonkan diri jadi anggota legislatif, itu namanya bukan pengabdian tapi mencari pekerjaan menjadi anggota dewan”. Jelasnya.

Sementara itu, Direktur Center For election and Political Party (CEPP) Brawijaya University, Mar’atul Makhmudah. mengajak para kader IPNU untuk turut andil dalam memperbaiki kondisi perpolitikan di Indonesia. Wanita yang pernah menjadi anggota DPR di usia 22 tahun ini juga mengkritik istilah pemilih pemula, ia lebih sreg menggunakan istilah pemilih muda.

tidak tepat jika dikatakan kader-kader IPNU ini sebagai pemilih pemula, ini berarti disamakan dengan orang yang sudah menikah walaupun usianya dibawah 17 tahun dan anggota TNI/ POLRI yang usianya 45 tahun, saya lebih setuju menggunakan istilah pemilih muda” terangnya ketika memberikan materi seminar kebangsaan di Aula PP Maslakul Huda. (eka/mun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *