Dialektika Sunni Di Indonesia

Sejarah NU.DAT_snapshot_02.44_[2010.12.07_17.19.18]Oleh:

W Eka Wahyudi*

Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah atau yang dalam khazanah Barat disebut Sunni atau Sunnism adalah salah satu bagian dari polarisasi pemikiran Islam yang ada di Nusantara. Ia merupakan paham keagamaan, aliran pemikiran dan bahkan pada salah satu fase sejarah tertentu menjadi sebuah firqah. Kehadirannya merupakan respons atas dinamika pemikiran dan gerakan keagamaan yang diwarnai berbagai kecenderungan ekstremitas di kalangan umat Islam. Karena itu, terminologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah mengandung gagasan awal berupa konsistensi untuk menjaga otentisitas dan validitas ajaran sesuai yang dibawa oleh Nabi. Keyakinan seperti ini akhirnya memunculkan pula klaim kebenaran (truth claim) yang menyempurnakan bangunan Sunnism sebagai sebuah firqah baru dalam wacana keagamaan umat Islam.

Sepanjang sejarah, Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah  (selanjutnya juga disebut: Aliran Sunni) didukung oleh mayoritas umat Islam. Ia diakui sebagai ideologi berbagai kelompok –baik besar maupun kecil– di berbagai penjuru dunia Islam. Dewasa ini sedikitnya ada 53 negara yang mayoritas umat Islamnya berpaham Sunni, termasuk Indonesia.

Perlu ditambahkan, bahwa setiap periodisasi sejarah menampilkan Sunnism  dengan dinamikanya yang khas. Setiap kawasan dalam dunia Islam juga memiliki keunikan-keunikan khusus dalam implementasi Sunnism. Bahkan, setiap kelompok umat menampilkan karakter keberagamaannya berbeda-beda antara satu dengan yang lain, walaupun mereka tetap mengidentifikasi diri –atau diidentifikasi– sebagai kelompok Sunni. Dengan kata lain, masing-masing komunitas Sunni  memiliki karakter-karakter khusus dalam mengapresiasi dan mengaktualisasikan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.

Demikian halnya di Indonesia, mayoritas umat Islam di negeri ini adalah Sunni. Sebagian dari mereka secara tegas mengidentifikasi diri atau kelompoknya sebagai bagian dari  Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Akan tetapi, sebagian lainnya walaupun tidak secara eksplisit menyatakan sebagai pengikut paham  Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah,  mereka tetap keberatan  bila diidentifikasi sebagai kelompok Non-Sunni.

Kelompok pertama diwakili oleh kalangan pesantren atau yang dalam kajian sosiologis sering disebut kelompok Islam Tradisionalis. Kelompok ini antara lain dipresentasikan oleh NU  (Nahdlatul Ulama), PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Jam’iyah al-Washliyah, dan lain-lain. Sedangkan yang ke dua dipresentasikan oleh kelompok pendukung gerakan pembaruan Islam, atau yang dalam kajian sosiologis sering disebut Islam modernis. Kelompok ini mengkonsolidasikan kegiatan  mereka melalui  organisasi-organisasi  Jam`iyat al-Khayr, al-Irsyad, Muhammadiyah,  Persis (Persatuan Islam), dan lain-lain.

Representasi kalangan Islam Tradisionalis di Indonesia antara lain bisa dilihat dari eksistensi Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi sosial-keagamaan yang  didirikan pada tahun 1926 oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disebut Hasyim Asy’ari). Sejak awal organisasi ini secara manifest menegaskan diri sebagai pendukung paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Ekspresi Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah oleh NU menampilkan coraknya yang khas, berbeda dengan ekspresi paham ini di negara Muslim lainnya, bahkan dengan komunitas lainnya di Indonesia.

Di pihak modernis, Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah juga diakui –baik secara implisit maupun eksplisit— sebagai paham keagamaan yang dianut. Muhammadiyah, misalnya, secara implisit mengaku berideologi Sunni. Hal ini dapat diketahui dari salah satu keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menyatakan bahwa keputusan-keputusan tentang iman merupakan aqidah Ahl al-Haqq wa al-Sunnah. Sedangkan Ahl al-Haqq wa al-Sunnah  adalah sebutan lain dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Sementara itu, Persatuan Islam (Persis) menyatakan lebih berhak disebut Sunni karena alasan tidak bermadhhab, dan oleh karenanya kelompok seperti NU –yang bermadhhab–  tidak layak disebut Sunni.

Walaupun sama-sama mengaku sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah, kedua kelompok ini memiliki perbedaan-perbedaan yang signifikan dalam mengartikulasikan pemahaman keagamaannya. Bahkan, kedua kelompok ini tidak jarang terlibat pertentangan dalam soal visi keagamaan, konsep kebudayaan-kemasyarakatan, maupun politik.

* Wakil Sekretaris II PW IPNU Jatim, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *