IPNU IPPNU Banyuwangi Resmi Di Lantik

IPNUJATIM.OR.ID- Dua bulan seusai pelaksanaan Konferensi Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Banyuwangi di PP Darunnajah kemarin (26-27/12/2015), kepengurusan IPNU IPPNU yang baru resmi dilantik pada Sabtu pagi (27/2). Bertempat di auditorium KHR. As’ad Syamsul Arifin IAI Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi, Moh. Yahya Muzakki, ketua PC IPNU, dan Halimah, ketua PC IPPNU beserta kepengurusan IPNU IPPNU masa khidmat 2015-2017 dilantik langsung oleh pengurus PW IPNU dan IPPNU Jawa Timur.

Sekitar jam 09.00 WIB, 45 pengurus cabang IPNU mendapat kesempatan terlebih dahulu untuk melaksanakan pelantikan. Setelah Ainun Nadjib, pengurus PW IPNU memanggil semua pengurus cabang, Haikal Atiq Zamzami, ketua IPNU Jawa Timur, naik keatas penggung untuk melantik. Kemudian, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus cabang IPPNU.

Sambutan: KH. masykur Ali memberikan sambutan
Sambutan: KH. masykur Ali memberikan sambutan

Dalam sambutannya, Yahya Muzakki memaparkan gagasan kedepan untuk membawa IPNU dalam menghadapi beragam problematika kepelajaran dan kepemudaan. Isu-isu kekinian seputar radikalisme di kalangan pelajar, LGBT, MEA dan lain sebagainya tak luput dari sorotannya. “Ke depan, IPNU Banyuwangi akan turut serta menyiapkan generasi pelajar yang mampu menghadapi persaingan global serta bertahan menghadapi beragam problematikan tersebut,” paparnya.

hal senada juga dipaparakan oleh Halimah. Alumnus Univesitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi itu, menjelaskan tentang pentingnya penguatan peran perempuan sedini mungkin. “Perempuan sebagai bagian penting dalam pondasi keluarga hingga bangsa, perlu menyiapkan diri sedini mungkin dalam pembelajaran. Seperti di IPPNU,” ujarnya.

Acara yang dihelat bersamaan dengan pembukaan Silaturrahmi Nasional PKPT IPNU IPPNU Se-Nusantara itu, dihadiri sejumlah tokoh dan ratusan kader IPNU IPPNU se-Banyuwangi serta beberapa perwakilan dari pengurus cabang IPNU se-Tapal Kuda. Diantara tokoh yang hadir dalam pelantikan tersebut adalah KH> Muafiq Amir, wakil rois syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Masykur Ali, ketua PCNU Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, Rektor IAI Ibrahimy, Kholilurrahman, Kepala Dinas Pendidikan, Sulihtiyono, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Wawan Yadmadi, Khusnan Abadi, Presedium Majelis Alumni IPNU, Hj. Ma’mulah Harun, Ketua PC Muslimat dan anggota DPRD Jatim, serta beberapa tokoh yang notabane-nya adalah alumni IPNU.

Anas dan Istri berpose bersama pengurus PC IPPNU Banyuwangi
Anas dan Istri berpose bersama pengurus PC IPPNU Banyuwangi

Dalam kesempatan tersebut, Anas yang didaulat memberikan sambutan mengungkapkan pentingnya IPNU sebagai investasi SDM yang dimiliki oleh NU dan Bangsa. “IPNU sebagai organisasi pelajar merupakan hal strategis untuk investasi Nahdlatul Ulama dalam konteks kepentingan bangsa,” paparnya. “Oleh karena itu, IPNU ini perlu diperhatikan. Memang, IPNU tidak bisa dikalkulasi secara politik, tetapi disinilah para pemimpin bangsa masa depan bangsa dipersiapkan,” lanjutnya. (Ayung)

Rakerwil, IPNU Jatim Kuatkan Sinergitas dan Integritas Organisasi

Malang, IPNUJATIM.OR.ID
Sejak dilantik pada November 2015 lalu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur terus memacu kinerjanya. Sabtu (31/1), PW IPNU Jatim menggelar rapat kerja wilayah (rakerwil) yang fokus mengoptimalkan aspek sinergitas dan integritas organisasi.

Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan, sinergitas dan integritas merupakan dua nilai penting yang menjadi modal utama untuk menggerakkan roda organisasi. Pengurus dari tingkat pimpinan wilayah hingga pimpinan anak cabang (PAC) harus sinkron, terutama dalam menerjemahkan visi dan misi organisasi menjadi sebuah program kerja yang bermanfaat.

“Sebagai organisasi terdepan kaderisasi di tubuh NU, IPNU berkomitmen untuk memfasilitasi sekaligus menjadi wadah bagi pengembangan potensi individu kader. Selain itu, tidak hanya unggul di satu bidang, namun juga dapat mengabdikan diri di berbagai lini,” tuturnya usai Pembukaan Rakerwil IPNU Jatim di Aula Pondok Pesantren Teknologi Ma’arif Singosari, Malang, Jawa Timur.

Lebih lanjut ia menjelaskan, merujuk pada visi dan misi organisasi IPNU, tugas utama IPNU adalah mampu menjadi organisasi pembelajar. Artinya, IPNU harus mampu menjadi pusat pembelajaran bagi segmen garapnya, yaitu santri, pelajar dan mahasiswa dalam mengembangkan segenap potensinya.

Haikal tidak menampik bahwa kondisi objektif IPNU dewasa ini memang belum sepenuhnya optimal. Hal ini ditandai dengan belum sinergisnya gerak organisasi yang masih cenderung linear, maka kreativitas dan inovasi menjadi hal yang wajib dilakukan dalam mengarungi masa bakti dua tahun ke depan.

“Bila dibiarkan berlarut hal ini akan berdampak pada stagnasi gerakan. Di sisi lain, modal gerakan IPNU masih sangatlah memadai,” terang Haikal yang juga aktif sebagai peneliti di The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).

Rakerwil yang mengangkat tema “Meningkatkan Sinergitas Menuju Tata Kelola Organisasi Berintegritas”, sambung Haikal, harus menjadi momentum seluruh jajaran pengurus untuk memeras pikiran guna menjawab problem tersebut. Salah satu langkah awal adalah membingkai ulang pola pikir. Hal ini dinilai penting untuk menakar formulasi gerakan yang tepat sehingga dapat terbangun sebuah ritme gerakan yang strategis dan terukur.

Menurutnya, tugas IPNU ke depan tidak ringan. Problem radikalisasi dan narkoba adalah dua isu utama yang membutuhkan peran serta IPNU untuk membentengi generasi muda. Apalagi dewasa ini  kedua masalah tersebut telah banyak menyasar pelajar, santri dan mahasiswa. Maka gerakan yang sinergis, inovatif, dan mampu cepat berdaptasi dengan perubahan adalah hal yang tak bisa ditawar.

Ia menegaskan gerakan IPNU harus senapas dengan kegigihan komitmen dan loyalitas pada lingkup gerakan moral yang berlandas pada Islam Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah. Sehingga terbentuknya kader pelajar, santri, dan mahasiswa yang memeiliki keteguhan prinsip dan moral, beraklaqul karimah, serta memiliki ketajaman nalar dan kesadaran sekaligus tanggung jawab yang tinggi akan tugas membentuk tatanan mayarakat madani bukan lagi sekedar mimipi.

Rakerwil dibuka tokoh NU Prof KH Muhammad Tolhah Hasan yang juga Menteri Agama era Presiden Abdurahman Wahid. (Lukman Hakim El Baqeer/Mahbib)

IPNU-Disdik-BNNP Jatim Siapkan Benteng Hadapi Radikalisme-Narkoba

ipnujatim.or.id-Surabaya – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menyiapkan “benteng” dari radikalisme dan narkoba untuk santri dan pelajar melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim.

“Ke depan ada tiga tantangan pelajar dan santri yakni radikalisme, narkoba, dan pasar bebas melalui masyarakat ekonomi Asean (MEA),” kata Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami di sela pelantikan PW IPNU periode 2015-2018 di Gedung PWNU Jatim, Surabaya, Minggu.

Dalam pelantikan yang dirangkai dengan Deklarasi Pelajar Anti-Radikalisme dan Anti-Narkoba yang dihadiri Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah, Kepala Disdik Jatim Dr Syaiful Rahman, Sekretaris BNNP Jatim Sukirno, dan Ketua DPRD Jatim Abdul Halim Iskandar, ia menjelaskan narkoba dan radikalisme sudah memasuki pesantren.

“Narkoba dan radikalisme sudah masuk ke pesantren, karena ada orang luar yang memasukkan santri baru ke pesantren dengan membawa narkoba atau radikalisme itu, karena itu kami ingin membentengi santri dan pelajar dari radikalisme dan narkoba itu,” katanya.

Menurut dia, santri dan pelajar merupakan kader potensial untuk masa depan, karena itu IPNU ingin mengembalikan pelajar dan santri ke “khittah” sebagai generasi berperadaban dan berkualitas melalui serangkaian kegiatan bersama Disdik dan BNNP Jatim.

“Karena itu, kami akan masuk ke sekolah dari SMP hingga universitas dan juga masuk ke pesantren untuk mengenalkan mereka pada organisasi serta bahaya radikalisme dan narkoba,” katanya.

Terkait upaya membentengi santri dan pelajar dari pasar bebas (MEA) yang merugikan generasi muda, Haikal menyatakan pihaknya akan mengembangkan pelatihan kewirausahaan yang mendorong lahirnya inovasi dan kreasi.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah meminta kader-kader IPNU untuk memasyarakatkan “spirit keagamaan” untuk meningkatkan kualitas dan moralitas, seperti Peristiwa 10 November 1945 yang disemangati Resolusi Jihad.

“Gelorakan spirit keagamaan untuk menggelorakan no radikalisme, no liberalisme, no narkoba, sehingga ada nasionalisme dan heroisme untuk membangun bangsa dan negara,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua DPRD Jatim H Abdul Halim Iskandar menegaskan bahwa pelajar harus menjauhi politik praktis, kecuali politik kebangsaan, karena mereka belum masanya berpolitik praktis.

“Karena itu, DPRD siap mendukung kerja sama IPNU Jatim dengan Dinas Pendidikan Jatim dan BNN Jatim,” kata kakak kandung Ketua Umum DPP PKB H Muhaimin Iskandar itu.

Sementata itu, Kepala Disdik Jatim Dr Syaiful Rahman mengharapkan IPNU untuk aktif memberikan pemahaman keagamaan yang tidak radikal kepada pelajar dan santri di sekolah dan pesantren.

“Upaya membendung sekolah dan pesantren dari radikalisme dan narkoba itu perlu kerja sama dengan semua pihak, baik orang tua, guru, komite sekolah, maupun pihak luar seperti IPNU,” katanya. (*)
Editor: Slamet Hadi Purnomo

[fu-upload-form class=”your-class” title=”Upload your media” form_layout=”post”]
title => Add this [fu-upload-form] shortcode, and this will be the Headline that will be displayed before the form. Example: [fu-upload-form class=”your-class” title=”Upload your media”]

IPNU Jatim: Ada Penjajahan Ekonomi dan Moralitas di Balik Hari Valentine

IPNUJATIM.OR.ID-Dalam seminggu terakhir ini, ulasan tentang valentine’s day atau hari kasih sayang tercatat mewarnai hampir semua lini media. Beragam perspektif yang melandasi kajian hingga kecaman pun silih berganti.

Bagi mereka yang pro valentine’s day berargumen sah-sah saja, karena hal itu dinilai hanya penanda momen, seperti halnya hari Ibu, hari HIV/AIDS dan peringatan lainnya. Sebaliknya, bagi yang kontra beranggapan momen tersebut tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan sebuah perayaan.

Haikal Atiq Zamzami, Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur mengungkapkan, dalam kurun 2-3 hari menjelang valentine’s day, terjadi lonjakan pembelian alat kontrasepsi yang signifikan. Mirisnya, momen ini mayoritas dirayarakan oleh generasi muda, termasuk remaja, pelajar dan mahasiswa.

“Dalam kurun 2-3 hari jelang valentine, di beberapa daerah di tanah air terjadi lonjakan pembelian alat kotrasepsi oleh segmen remaja-mahasiswa. Hal ini menjadi indikasi ancaman serius terhadap degradasi moral generasi muda,” jelas Haikal, sapaan akrabnya, Ahad (14/1/2016).

Selain alat kontrasepsi, lonjakan juga terjadi terhadap tingkat pembelian cokelat. Cokelat sejak lama diidentikkan sebagai salah satu simbol penanda V-Day. Menurut Haikal, ada fakta menarik di balik Cokelat dan V-Day ini. Pada kisaran 2004, sebuah situs berita Amerika mengangkat berita utama, “the dark side of valentine day between chocolate industry and child slavery”.

“Pada intinya, di balik melonjaknya permintaan cokelat saat V-Day, ada cerita tragis perbudakan anak-anak di Afrika Barat, di Pantai Gading. Karena 42 persen pasokan kokoa sebagai bahan baku cokelat dunia berasal dari sana. Ironisnya terdapat hampir 300.000 anak-anak yang dipekerjakan dengan kondisi dan upah yang jauh dari standar,” ungkapnya.

Secuil kisah ini menguatkan indikasi bahwa hari valentine juga merupakan salah satu agenda penjajahan ekonomi gaya baru, dengan target menciptakan generasi konsumeris, yang berujung pada pola perbudakan oleh pemilik modal besar terhadap masyarakat ekonomi lemah.

Pihaknya menilai valentine day adalah sebagai alarm ancaman terhadap kemerosotan moral generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, Haikal menyatakan perlu adanya wadah pembelajaran di luar kelas yang mampu memfasilitasi proses pemahaman sejak dini, tentang tugas besar generasi muda di tengah ancaman dan tantangan perkembangan zaman.

“Jangan sampai momentum valentine’s day ini sekadar menjadi alarm tahunan yang terus berulang. Alih-alih sebagai alarm penggugah kesadaran untuk bergerak, justru akan menjadi semacam indikator kemerosotan moral tahunan. Semoga pada 14 februari akan datang dan dalam rentan waktu sebelumnya kita semua sadar dan bergerak bersama membentengi dan memperkokoh kesiapan dan ketahanan Generasi muda penerus bangsa,” harapnya. (Suta Maji/Mahbib)

Pengurus PW IPNU Jawa timur resmi Dilantik

IPNUJATIM.OR.ID – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur Masa Khidmat 2015-2018 Hari ini telah resmi dilantik oleh Pimpinan Pusat IPNU, Minggu (29/11/2015).

Serangkaian acara dilaksanakan dalam momentum tersebut diantaranya Pelantikan dan Rapimwil serta Orasi Ilmiah itu diikuti ratusan kader IPNU dari tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC), Pimpinan Cabang (PC), puluhan simpatisan dan tamu undangan.

Tampak hadir sejumlah tokoh di Jawa Timur antara lain KH. Mutawakkil Alallah Ketua Tanfidzyah PWNU Jatim, Prof. Dr. Achmad Muzakki Sekretaris PWNU Jatim, Khairul Anam Harisah Ketua Umum PP IPNU, H. Abdul Halim Iskandar, M.Pd Ketua DPRD Provinsi Jatim, Dr. Syaiful Rachman, MM, M.Pd Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, dan Brigjen Pol Sukirman Kepala BNN Provinsi Jawa Timur.

Armada siap tempur dalam perahu IPNU Jatim sebanyak 80 anggota dari 44 Pimpinan Cabang di Jawa Timur telah melaksanakan Ikrar pengurus. Pembacaan Surat Pengesahan (SP) PW IPNU Jatim tersebut dibacakan langsung oleh Khairul Anam Harisah selaku Ketua Pimpinan Pusat IPNU. Prosesi pelantikan berjalan dengan khidmat dan dilanjutkan serah terima jabatan dari Ketua IPNU masa khidmat 2012-2015, Imam Fadlli kepada Ketua IPNU masa khidmat 2015-2018, Haikal Atiq Zamzami.

Dalam sambutan perdananya pasca dilantik Nahkoda PW IPNU Jatim, Haikal sapaan akrabnya mengatakan, ada tiga poin besar yang menjadi fokus IPNU Jawa Timur ke depan. Pertama, konsolidasi organisasi masif dan struktural dari tingkat desa hingga wilayah. Kedua, peningkatan intelektual dan moral pelajar di Jawa Timur. Ketiga, membangkitkan kemandirian ekonomi di kalangan pelajar dalam ajang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Pelajar Jawa Timur harus mampu mengambil peran dalam MEA, kapasitas intelektual dan kemandirian ekonomi harus dimulai dari pelajar agar lebih siap dan mampu bersaing dengan negara lain,” tegasnya dalam sambutan.

Lain halnya dengan Khairul Anam, sebagai Ketua Umum Ia berpesan agar pelajar Jawa Timur diperkuat secara organisasi dan intelektual, karena Jawa Timur adalah salah satu tolok ukur IPNU se-Indonesia. Apa yang dilakukan IPNU Jawa Timur diharapkan mampu memberikan contoh dan inspirasi bagi pelajar di Indonesia.

Pada orasi ilmiyah yang mengangkat Tema “Menyongsong Pelajar Jawa Timur yang Berperadaban” berharap bahwa Pelajar Jawa Timur akan memberikan sumbangsih dari aspek ideology sebagaimana pancasila, aspek tradisi sebagaimana Indonesia, serta aspek budaya sebagaimana keberagamannya, sehinggah Jawa Timur kedepan akan mampu mencetak pelajar yang cerdas intelektual, emosional dan spiritual guna menghadapi perkembangan zaman. (Stj/Choy)

Sumber Berita: www.ipnusidoarjo.or.id


http://ipnusidoarjo.or.id/berita-resmi-dilantik-haikal-nahkoda-baru-ipnu-jawa-timur.html#ixzz41keCbOvR

UU Pembinaan Kesiswaan Perlu Direvisi

Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari LSM, PKBM, Kepala Sekolah, Dewan Pendidikan, Pakar serta Pemerhati pendidikan di Jawa Timur mengikuti workshop Pendidikan Alternatif yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Propinsi Jawa Timur di Hotel Tretes Raya View, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (13/11/12).

Satu di antara sekian peserta tersebut adalah Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur yang diwakili oleh Moh. Amin, Wakil Bendahara PW. IPNU Jawa Timur masa khidmat 2012 – 2015. Dalam workshop tersebut, PW. IPNU Jawa Timur merekomendasikan agar pemerintah mengkaji ulang Undang-Undang nomor 38 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan.

“Dalam UU No. 38 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan ini masih terdapat intervensi terhadap Organisasi Siswa karena hanya mengakomodir Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) tanpa melibatkan OSES (Organisasi Siswa Extra Sekolah), padahal OSES juga penting sebagai bentuk pendampingan terhadap OSIS itu sendiri” terang Amin.

Adapun workshop ini bertemakan “Alternatif Model Pendidikan berbasis Kebutuhan dan Minat Siswa di Provinsi Jawa Timur”.

 

Kontributor : Moh. Amin

Redaktur : Munawar