Kenalkan Ajaran Islam Sejak Dini, IPNU-IPPNU Unisma Adakan Pondok Ramadhan di Sekolah Dasar

ipnujatim.or.id, Malang- Momentum bulan suci ramadhan membawa keasyikan sendiri untuk murid-murid SDN Dinoyo 01 Malang, 50 peserta didik kelas 3, 4 dan 5 mengikuti pondok romadhon yang diadakan PKPT (Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi) IPNU IPPNU Universitas Islam Malang. Kepala Sekolah, guru-guru dan anggota IPNU IPPNU juga turut hadir di Masjid Ainul Yaqin (01/06/2018). Semua peserta dibina supaya menjadi anak yang sholih-sholihah selama dua hari melalui pondok romadhon, mengenal lebih dekat dengan bulan yang penuh berkah.

Acara tersebutl dimulai dengan sambutan dari Rekan Fatkhul Rozak selaku ketua pelaksana yang menyampaikan tentang niat dan tujuan diselenggarakannya kegiatan. “Kami harap kegiatan pondok romadhon ini akan rutin diadakan setiap tahun untuk membina dan berbagai wawasan tentang agama agar adik-adik sekalian mempunyai akhlak yang baik” ujar mahasiswa Fakultas Agama Islam itu.

Sementara itu Rekan Ilham Julio, Ketua PKPT IPNU Unisma mengungkapkan kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi pengurus dalam mengabdikan diri untuk NKRI. “Ini merupakan awal dari perjuangan kami bersama untuk menjaga dan berkontribusi bagi agama dan negara, kedepan kami akan terus berusaha untuk melakukan ekspansi kerjasama dengan lembaga dan institusi sekitar kampus hijau” ungkapnya dengan penuh semangat.

Santri PP Miftahul Ulum Dau, Malang itu juga menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh panitia, guru-guru dan kepala sekolah yang turut membantu demi kesuksesan acara pondok romadhon ini.

Acara dibuka oleh kepala sekolah SDN Dinoyo 01 dengan mengapresiasi atas kegiatan ini, “semoga kedepan kerjasama antara Unisma dan SDN Diniyo 01 tidak hanya berhenti sampai disini, jika di IPNU IPPNU Unisma ada program pelatihan qiroah misalnya, kami akan siap untuk turut serta mendelegasikan siswa kami untuk mengikuti latihan itu” tutur Drs. H. Totok Wargo Santoso, M.M

Acara yang bertemakan “Ramadhan, Kenalan Yuk…” itu dipandu oleh Rekan Rizki dan Rekanita Dewi, dimulai dengan menjelaskan tentang alasan berpuasa, 10 Amalan yang dilakukan pada bulan ramadhan, bernyanyi lagu-lagu islami sampai bermain games berlangsung dengan penuh antusias dari peserta.

Bulan ramadhan adalah waktunya untuk kita panen mencari pahala dan keberkahan dari Allah SAW. Jadi, kita harus rajin melakukan amal-amal yang baik seperti sholat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, beri’tikaf di masjid, memperbanyak dzikir, membayar zakat dan mencari keutamaan malam Lailatul Qadar dengan sungguh-sungguh” kata rekanita dewi Mahasiswa Jurusan PGMI dan Santri PP Nurul Ummah itu. Rekan Rizki menambahkan dengan memberikan motivasi untuk berbuat baik dan memberikan pertanyaan-pertanyaan saat kuis.

Pembagian hadiah dan doa merupakan akhir dari acara tersebut, Adin merupakan peserta terbaik diantara peserta lain karena keaktifan dan kepintarannya dalam menjawab pertanyaan dari kuis yang diberikan oleh pemateri. (Mr Peb)

Rakerancab PAC IPNU-IPPNU Sugio, Sisipkan Sikap Kebangsaan dan Anti Radikalisme

ipnujatim.or.id, Babat– Beberapa hari berselang dari pelantikan (29/04/2018), Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongam melaksanakan Rapat Kerja Anak Cabang (RAKERANCAB) Season 1 (15-16/05). Kegiatan yang mengusung tema “Iki Sugio REK, Gak Gedabrus Tok. Teori Ojo Keri, Praktek Kudu Akas. Nek Wes Niat, Sepiro Abote, BUDHAL !!!”, ini diselenggarakan di kantor PCNU Kabupaten Tuban.

Ketua PAC IPNU Sugio, Amin Zamzah  menyampaikan dalam sambutanya bahwa PAC Sugio harus menitikberatkan pada pengkaderan yang ada di setiap Pimpinan Ranting (PR), Pimpinan Komisariat (PK) bahkan Pimpinan Anak Ranting (PAR). Hal ini menurutnya untuk memastikan di setiap desa telah terbentuk kepengurusan IPNU-IPPNU. “caranya, tak lain kita harus melakukan roadshow Ramadhan” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa kaderisasi di Sugio harus mampu membentengi pelajar-pelajar agar tidak terpapar ideology radikal. Karena, menurut Amin, peristiwa pengeboman di Polrestabes Surabaya baru-baru ini telah melibatkan anak kecil.

Jadi, anak NU harus di siapkan sejak kecil agar tidak terdoktrin oleh ajaran-ajaran radikalisme dan terorisme” terany Amin.

Amin Zamzah juga berpesan pada akhir sambutannya, bahwa IPNU-IPPNU harus merebut kembali hal yang sudah dijiplak oleh tetangga (OKP lain) yaitu KABAR (Kajian Bareng) dimana KABAR adalah program unggulan PAC.IPNU-IPPNU SUGIO yang hari ini ditiru dan dilaksanakan oleh pihak yang lain. “Tugas hari ini adalah rebut kembali program tersebut”, Pungkasnya.

Adapun Emy Natun Na’imah selaku Ketua PC IPPNU Babat menyampaikan beberapa hal dalam sambutan pengarahannya mewakili pengurus cabang. Ia berpesan Pertama, PAC. IPNU-IPPNU Sugio harus mengaktifkan PR, PAR dan PK. Sebab dengan aktifnya itu akan memperkuat PAC, dan PAC akan memperkuat PC. Sehingga pengkaderan akan terus berlanjut dan bersinergi dari bawah ke atas. Kedua, ia menganggap bahwa PAC. IPNU-IPPNU SUGIO telah menginspirasi Organisasi lain yang meniru program KABAR menjadi KABARMU. Ketiga, ia menegaskan bahwasannya PC. IPNU-IPPNU BABAT sesuai dengan SK, ada 12 wilayah kerja cabang Babat termasuk Sugio.

Kita harus menjadi Kader yang cerdas berorganisasi dan cerdas Administrasi, mengikuti aturan itu penting karena yang tidak mengikuti peraturan dalam negara saja dikatakan sebagai pemberontak, yang saat ini sedang terjadi peledakan bom di Surabaya, di Provinsi kita. Maka kita sebagai Kader NU harus katakan #kamitidaktakut terhadap bentuk teror apapun”, terangnya.

Ia juga mengingatkan bahwa lagu Syubbanul Wathon diciptakan pada tahun 1934, di dalam lagu tersebut terdapat lirik “Indonesia Negriku, Engkau Panji Martabatku, Siapa Datang Mengancammu kan Binasa Di Bawah Dulimu”, sebagai wujud kedahsyatan Nahdlatul Ulama.

Rapat Kerja Anak Cabang Season 1 (RAKERANCAB 1) kali ini ada 2 materi yaitu Capacity Building, yang disampaikan langsung oleh Rekan Khotibul Umam selaku Tim Kaderisasi dan materi Management Program yang disampaikan oleh Rekan Desta Ricsa selaku Wakil Sekretaris PC IPNU Babat. Tidak hanya kegiatan formal, Rakerancab 1 ini akan ditutup dengan ziarah ke makam Sunan Bonang dan rekreasi ke pantai BOM Tuban, harapannya agar tidak terkesan kaku dan membosankan. (Heri Irawan)

Silatnas Komisariat Perguruan Tinggi IPNU-IPPNU digelar di Kota Apel

ipnujatim.or.id, Malang- Silaturahmi Nasional Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PKPT IPNU – IPPNU) Se-Nusantara dibuka langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU rekanita Puti Hasni (11/05/2018). Forum Nasional yang diadakan di Hall Ibnu Sina  Universitas Islam Malang ini, juga dihadiri oleh Eka Wahyudi selaku Direktur LKPT PP IPNU.

Dalam sambutannya, Puti,  sangat mengapresiasi event ini. Menurutnya, PKPT IPNU-IPPNU mempunyai tantangan yang sangat berat sebagai jangkar ideologi NU di ranah kampus. Selain harus membangun sinergitas dengan organisasi lain, PKPT IPNU-IPPNU juga harus bisa melakukan lobi-lobi terhadap civitas akademika untuk mendukung berdirinya komisariat di kampus masing-masing.

Sebagai kunci dalam sambutan, ia menegaskan beberapa hal. Pertama, mencetak kader unggulan melalui jenjang kaderisasi formal maupun non formal. Kedua, pemetaan kader guna menyalurkan potensi dalam mendistribusikannya. Ketiga, membuka selebar-lebarnya akses guna gencarnya membangun jaringan komisariat kampus-kampus, terlebih kampus negeri. Keempat, menyiapkan modul lebih update dan sesuai dengan konteks zaman. Kelima, tabulasi kekuatan IPNU-IPPNU. Keenam, meningkatkan intensitas menyapa kader baik secara langsung maupun tidak langsung. Terakhir penguatan pemahaman kader terhadap nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.

Selain itu, Eka selaku perwakilan PP IPNU menyampaikan dalam forum diskusi bahwa IPNU-IPPNU mempunyai kitab suci yang harus diikuti. “PDPRT dan POA merupakan dua sumber hukum, bagai kitab suci yang harus diikuti sebagai haluan berorganisasi, kalau melakukan dan membuat kebijakan tanpa merujuk pada dua instrumen regulasi ini, maka apa yang kita putuskan masuk dalam kategori bid’ah organisasi” terangnya

Ia juga menambahkan bahwa dalam rangka pengembangan IPNU-IPPNU di kampus, PKPT harus memperhatikan tiga hal yang utama. Yaitu Penguatan Kelembagaan, pengambangan skill organisasi dan peningkatan kapasitas keilmuan dan ideologi.

dari sinilah, komisariat kampus bisa berimprovisasi dengan baik untuk meningkatkan SDM kader-kadernya di perguruan tingi” imbuhnya

Dengan mengangkat tema “Rekontruksi Formulasi Materi Kaderisasi untuk Menyongsong PKPT IPNU-IPPNU Go Internasional” acara ini dihadiri oleh kader PKPT IPNU l-IPPNU Se-Indonesia. Hingga acara ini dibuka, telah hadir 53 PKPT IPNU-IPPNU dari berbagai kampus. Mulai dari wilayah Jambi, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Nusa Tenggara Barat. (Febi/Pers)

Babat Siap Terjunkan Kader Dampingi Masa Orientasi Pelajar

ipnujatim.or.id, Babat- Menyambut Tahun Ajaran Baru 2018-2019, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama’ (IPNU) – Ikatan Pelajar Putri Nahdlotul Ulama’ (IPPNU)  Babat Kabupaten Lamongan gelar Latihan Kader Istruktur yang diikuti 12 Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU – IPPNU  dan delegasi dari PC IPNU Kabupaten Jombang. Kegiatan Latihan Kader Instruktur bertujuan untuk melatih kader – kader IPNU-IPPNU agar siap menjadi instruktur dalam menyongsong Masa Orientasi Pelajar (MOP) Berbasisi Karakter di Tahun Ajaran 2018-2019.

Dalam Opening Ceremony Latihan Kader Instruktur PC. IPNU – IPPNU Babat  yang dilaksanakan di Aula Kantor MWC NU Sambeng, dihadiri oleh perwakilan  PC NU Babat, PC. LP. Ma’arif NU Babat, Ketua dan Syuriyah MWC NU Sambeng, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (PW. IPPNU) Jawa Timur, juga turut hadir Pembina dan Ketua PAC. IPNU-IPPNU se-Cabang Babat. Latihan Kader Instruktur dinyatakan dimulai bersamaan dengan di  Louncingnya Modul MOP PC. IPNU – IPPNU Babat.

Ketua PC. IPPNU Babat Rekanita Emy Natun Na’imah dalam sambutannya Jumat (11/5), Menyampaikan ucapan terimkasih kepada pengurus dan kepanitiaan terkhusus Tim Kaderisasi yang diharapkan sukses dalam pelaksanaan kegiatan yang disingkat LKI 18+ tersebut. Beliau juga menegaskan bahwa PC. IPNU-IPPNU Babat konsiten dan fokus kaderisasi di Wilayah Kerja yang sah sesuai Surat Pengesahan dari Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar nahdlotul Ulama’ – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ bukan fokus menghadapi polemik organisasi dari luar yang masih banyak diperbincangkan banyak kalangan.

Hasil dari kegiatan LKI 2018 yang sukses digelar 3 hari mulai Jumat 11 Mei sampai dengan 13 Mei 2018 adalah kata “PUAS”. Kepuasan peserta Latihan Kader Instruktur 2018 tidak lain karena usaha maksimal Tim Kaderisasi dan materi – materi dari narasumber  sangat luar biasa diantaranya materi Ice Breaker for Future oleh bapak Zuhdi Ahmadi, S.Kom (Trainner Q+Solution), materi Public Speaking dari PW. IPPNU  (Rekanita Kholida Ulfi Mubaroka) dan Materi Penguatan Ideologi dari Instruktur Wilayah NU Jawa Timur. Pada hari terakhir peserta mengikuti Fun Game yang disiapkan oleh Tim Kaderisasi PC. IPNU-IPPNU Babat. (Wi2n)

Ansos Camp: Cara IPNU-IPPNU UIN Sunan Ampel Hadapi Revolusi Industri 4.0

ipnujatim.or.id, Gresik- Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU UIN Sunan Apel Surabaya berupaya mewujudkan cita-cita pendiri bangsa, yaitu dengan menderdaskan kehidupan. Salah satunya yaitu dengan cara memberikan kontribusi pemikiran kritis dalam bentuk kegiatan Analisis Sosial (Ansos) di penduduk sekitar Bumi Perkemahan Semen Indonesia Gresik (05/05/18). Kegiatan diselenggarakan sebagai tindak lanjut para peserta Latihan Kader Muda (Lakmud) yang dihelat beberapa waktu lalu. Tak kurang dari enam puluh yang mengikuti kegiatan yang bertajuk Ansos Camp ini, dengan mengusung tema “Dinamisasi Tradisi dalam Hegemoni Revolusi Industri 4.0” diharapkan mahasiswa NU lebih pekah terhadap realitas sosial yang tengah dihadapi oleh masyarakat.

Pada kegiatan ini, pelajar NU UINSA mengkaji terkait kolektivitas masyarakat pada aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik, serta tradisi yang saat ini tengah dihadapkan pada fakta gempuran industrialisasi yang begitu massif. “realitas revolusi industri ini, di sisi lain berpotensi membuka lapangan kerja baru, namun pada sisi yang lain juga berdampak pada hilangnya jenis pekerjaan tertentu secara besar-besaran.” kata Deni sebagai narasumber Ansos Camp. Untuk itu, ia menambahkan bahwa dalam relasi sosial yag sangat bergantung dengan gadget, pola interaksi sosial terjadi pergeseran. Yang jauh terasa dekat, namun yang berada di sekitar  justru malah terasa jauh.

pada tataran tertentu, ini bisa berdampak kurang baik terhadap kohesi sosial masyarakat dalam menghadapi revolusi Industri” imbuhnya

Selanjutnya, Harun Rosyid sebagai pemantik diskusi menyatakan bahwa mahasiswa harus senantiasa mengamati kondisi masyarakat. Karena, kontribusi pemikiran yang kritis, diharapkan dapat berguna secara real untuk membantu problematika yang turus berdenyut di tengah kehidupan masyarakat.

Namun, sadar atau tidak mahasiswa terkadang memposisikan diriranya sebagai kasta elit di tengah masyarakat” ujar Harun Rosyid

Menerutnya, sikap seperti itu justru tak mempunyai nilai apa-apa di tengah masyarakat. Bahkan, hal itu justru akan membangun image mahasiswa yang cenderung jauh dari masyarakat.

Ruri, selaku ketua IPNU UIN Sunan  Ampel menyatakan bahwa kegiatan ini digelar agar mahasiswa semakin sadar dan sekaligus membangun pemahaman bahwa kebijakan pemerintah kepada masyarakat, harus dijembatani melalui andil mahasiswa sebagai intermediate maker. Karena, menurut mahasiswa kelahiran Bojonegoro ini, dewasa ini mahasiwa kian terasing dengan menyibukkan diri dengan tugas kuliah, dan kegiatan-kegiatan elitis lain yang semakin memperlebar jurang pemisah antara kaum terdidik dengan kaum masyarakat kelas menengah ke bawah. (Lembaga Pers PKPT UINSA).

Lakmud IPNU-IPPNU UIN Sunan Ampel, Usung Tema Kader NU Progresif

ipnujatim.or.id, Sidoarjo- Kaderisasi merupakan garda terdepan IPNU yang harus dilakukan secara masif. Kegiatan ini penting dalam rangka mengkaji serta menguatkan ideologi, menanamkan wawasan kebangsaan, dan menganalis pola gerakan sosial di tengah masyarakat. Merasakan pentingnya hal ini, maka  PKPT IPNU-IPPNU UIN Sunan Ampel Surabaya, menyelenggarakan  Latihan Kader Muda (LAKMUD) di Yayasan Sabilur Rosyad Sidoarjo.

Acara yang digelar pada tanggal 13-15 April 2018 ini mengusung tema “Aswaja Progresif”. Najib selaku steering committe (SC) menyatakan bahwa nilai Aswaja yang bukan cenderung bersifat konservatif namun sebuah paradigma ideologi yang mampu menjadi kader yang memiliki daya kritis terhadap sebuah perubahan ke arah kemajuan.

“untuk itulah kader progresif kami pilih sebagai trade mark LAKMUD tahun ini” ujarnya dalam releas yang dikirim ke ipnujatim.or.id

Peserta yang mengikuti kegiatan ini tak kurang dari 90 mahasiswa yang terdiri dari  mahasiswa UINSA sendiri, kemudian UNISLA Lamongan dan PAC Krembangan Surabaya.

Ruri selaku ketua PKPT IPNU UIN Sunan Ampel memberikan katerangannya, bahwa dilihat dari peserta yang membeludak ini, diharapkan mampu menjadi motor penggerak tradisi NU, benteng NKRI, memiliki sikap yang loyal terhadap organisasi dan peka terhadap kondisi sosial,

“Dan yang paling penting bagi kami, memiliki kualitas akademik dan spiritual yang mapan” imbuh alumni LAKUT PP IPNU Korda Pantura ini.

Selain itu, Kartika selaku Ketua IPPNU UINSA menambahkan bahwa komposisi materi yang disuguhkan tentu berbeda dengan kaderisasi sebelumnya, dengan adanya tambahan Geopolitik Kampus dan Analisis Sosial, semoga kader Lakmud ini mampu meneruskan perjuangan ulama NU yang mempunyai jasa besar dalam mempertahankan amaliah Islam ala ahlusunnah wal jamaah serta mampu mengisi kemerdekan bangsa Indonesia dengan hal-hal yang positif. (ek)

Sosialisasi IPNU-IPPNU Award Warnai Penyelenggaraan Rapimcab IPNU-IPPNU Kab. Bojonegoro

ipnujatim.or.id, Bojonegoro- bertempat di Aula Lantai 2 Kantor NU Bojonegoro, Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Bojonegoro menggelar Rapat Pimpinan Cabang (RAPIMCAB) ke -4 pada Ahad, (8/4).
Kegiatan ini, diselenggarakan dalam rangka menyambut Konferensi Cabang (Konfercab) yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Muhammad Nur Abidin dan  Umi Ma’rifah selaku ketua IPNU-IPPNU Kab. Bojonegoro menyatakan bahwa kegiatan Rapimcab digelar guna mempersiapkan sekaligus mensosialisasikan hal-hal penting yang harus dilakukan untuk menata organisasi lebih baik.
Dalam sambutannya, Bidin -sapaan akrab Ketua IPNU- meminta kepada para angota dan pengurus IPNU untuk bekerjasama dan berpartisipasi dalam rangka mensukseskan agenda akbar IPNU Bojonegoro ke depan, yakni Konfercab.
mari kita tata dan perbaiki hal-hal yang harus diperbaiki, agar IPNU di Bojonegoro dari tahun ke tahun lebih baik lagi” terangnya saat sambutan.
Sementara itu, Rifah -sapaan akrab ketua IPPNU-  menyampaikan  apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh yang hadir dalam forum Rapimcab. Ia menegaskan bahwa  forum ini diselenggarakan dalam rangka menyamakan persepsi antar ketua-ketua PAC, ranting dan Komisariat demi kesuksesan Konfercab IPNU XIV dan IPPNU XV mendatang.
Untuk diketahui, kegiatan ini diikuti oleh ketua dan sekretaris PAC, Ranting dan PKPT IPNU IPPNU Se-Kabupaten Bojonegoro. Acara ini juga dirangkai dengan Penyampaian Data Potensial PC. IPNU IPPNU Bojonegoro yakni terkait Surat Pengesahan (SP) PAC/PKPT/PR/PK yang aktif maupun SP yang sudah berakhir masa jabatannya oleh Sekretaris PC IPNU IPPNU Bojonegoro agar segera di tindaklanjuti.
Selain itu juga kegiatan ini dirangkai dengan sosialisasi program Pra-Konfercab yaitu “IPNU IPPNU Award”. Even ini, menurut Bidin bertujuan untuk mengevaluasi, mengkompetesikan sekaligus mengapresiasiproses pengelolaan dan pengembangan organisasi pada bidang administrasi, organisasi dan kaderisasi di daerah-daerah yang masuk dalam garis koordinasi dengan PC IPNU-IPPNU Kab. Bojonegoro.
dalam acara ini, sekaligus kami bagikan jadwal visitasi oleh tim Asesor yang akan di mulai tgl 15 April 2018 hingga 25 April 2018 mendatang“, imbuh bidin dalam releasnya kepada ipnujatim.or.id. (ek)

PAC IPNU-IPPNU Babat Bekali Pelajar Training Motivasi Hadapi Ujian Nasional

ipnujatim.or.id, Babat – Lagi dan lagi, tidak adanya rasa bosan PAC (Pimpinan Anak Cabang) IPNU IPPNU Babat menggelar Puncak Harlah IPNU ke 64, IPPNU ke 63 dan Ikhtiar Sukses Ujian Nasional. Sabtu, 31 Maret 2018 berada di aula PC LP. Ma’arif NU Babat, 200 Kader dari berbagai tingkatan SMP/Mts, SMA/MA/SMK dari Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU se Anak Cabang Babat . Kagiatan tersebut bertujuan agar Pelajar di Kecamatan Babat khususnya kader IPNU IPPNU se Kecamatan Babat yang akan menghadapi Ujian Nasional supaya bisa melaksanakan Ujian Nasional dengan lancar. Acara diisi dengan Amaliyah Nahdliyin seperti Tahlil dan Istighosah yang dipimpin oleh Agus Khotib Afandi, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurus Siroj Tritunggal Babat. Hadir pula ketua PC LP Ma’arif NU Babat, H. Sufa’at, PC IPNU IPPNU Babat dan juga ketua PAC LP Ma’arif NU Babat, bapak H. Rosadi, S.Ag.

Ketua PAC LP Ma’arif NU Babat menegaskan dalam sambutannya bahwa Ikut organisasi ipnu ippnu itu tidak ada ruginya, tapi kita tidak boleh melalaikan tugas kita sebagai pelajar yakni belajar dulu di bangku sekolah. Bahwa seorang pelajar yang sekolah sambil mengikuti organisasi itu biasannya mempunyai kelebihan yang tidak di miliki pelajar yang lain. karena banyak ilmu, pengalaman, dan wawasan yang akan kita dapat di dalam organisasi. dan beliau juga mengutip satu maqolah “Antum Subhanul yaum rijalul ghod” bahwa para pemuda pemudi saat ini adalah generasi pemimpin di masa datang.

Kader IPNU IPPNU se Kecamatan Babat ini adalah kader yang berkualitas, yang pernah dimiliki oleh PC IPNU IPPNU Babat. Dan juga kader IPNU IPPNU Babat ini diharapkan menjadi percontohan kader se Cabang Babat.” ujar Habib Jaelani, selaku ketua PC IPNU Babat.

Ketua PAC IPNU Babat (Rekan Aan) dalam siaran pers menjelaskan bahwa dengan diadakan peringatan harlah IPNU-IPPNU dan Ikhtiar sukses Ujian Nasional, agar pelajar NU yang ada di kecamatan babat lebih semangat dalam berjuang di organisasi ipnu ippnu dan untuk para pelajar NU yang saat ini duduk di bangku kelas 3 yang nantinya akan menghadapi Ujian Nasional agar nantinya lulus 100% dan mendapatkan nilai yang bagus sesuai dengan apa yang di harapkan.

Dan keunggulan dalam kegiatan Ikhtiar sukses ujian nasional kali ini bukan hanya antusias dari peserta yang mengikuti, tapi kami juga mendatangkan Trainer Nasional yang notabennya adalah murni dari kader IPNU, yang di umur 26 tahun sudah menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang Doktor.  Dia adalah Dr. Mufarrihul Hazin, S.PdI, M.Pd. (Pengurus PW IPNU Jatim & PP IPNU).

Aan menambahkan, bahwa dengan  mendatangkan trainer tersebut harapan kami yakni bisa memotivasi para pelajar untuk selalu yakin dan mantap dalam menghadapi Ujian Nasional, dan untuk tetap bersemangat dalam berorganisasi dan tidak mengesampingkan dunia pendidikan.

Kader IPNU IPPNU di wilayah kecamatan Babat harus bisa meneruskan estafet perjuangan para ulama dan kiyai terdahulu yang mampu membawah nama organisasi Nahdlatul Ulama’ menjadi organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia. Bukan hanya itu saja, kader ipnu ippnu harus mampu menghadapi tantangan zaman dan kemajuan di zaman milenial ini. jadi kader IPNU-IPPNU harus mampu berdaya saing dan mampu membawa organisasi IPNU-IPPNU tambah jaya” terangnya dalam sambutan opening ceremony. (ek)

Diklatama PAC IPNU-IPPNU Babat usung Tema Kemanusiaan dan Kepedulian Sosial

ipnujatim.or.id, Babat- Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Babat Masa Khidmat 2017-2019 menggelar Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) yang di ikuti oleh kader-kader pilihan dari Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU se kecamatan Babat, kegiatan tersebut di lakukan di pantai mangrove jenu kota Tuban, Jum’at-Ahad (16-18 Maret 2018).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rois Suriyah PC. NU Tuban, Ketua PAC. GP ANSOR BABAT, SATKORYON BANSER BABAT, dan Rekan/Rekanita dan Komandan-Komandan PC. IPNU IPPNU BABAT, PC. IPNU IPPNU TUBAN, PAC. IPNU IPPNU BLULUK, PAC. IPNU IPPNU BLULUK, PAC. IPNU IPPNU SUGIO, PAC. IPNU IPPNU SUKODADI, PAC. IPNU IPPNU PUCUK, PAC. IPNU IPPNU SEKARAN, PAC. IPNU IPPNU MADURAN.

Kegiatan ini diikuti oleh 49 orang peserta yang berasal dari kader-kader pilihan dari Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU Se kecamatan Babat, dan 2 Peserta dari PAC. IPNU IPPNU SUGIO. Mereka mendapatkan berbagai materi diantaranya tentang ASWAJA dan Ke-NU-an (Wakil Rois Suriyah PC NU Tuban),Ke-IPNU-IPPNU-an (PC IPNU BABAT), CBP dan KPP (DKC L-CBP BABAT), Ke-Indonesia-an dan PBB (Satkoryon BANSER Babat), Kepanduan (Kwarcab Kab. Lamongan), KePalang Merahan (PMI Kab. Lamongan), pelatihan dasar bela diri (PC PAGAR NUSA Babat), SAR dan pecinta alam (Pembina dan Alumni PAC. IPNU IPPNU BABAT.

Ketua PC IPNU BABAT Habib Jaelani yang bertindak sebagai pembina upacara dalam pembukaan mengatakan DIKLATAMA merupakan salah satu pintu pengkaderan IPNU-IPPNU selain Makesta (Masa Kesetiaan Anggota).

Saya berharap kegiatan ini nantinya dapat menelurkan kader-kader yang punya kredibilitas dan loyalitas tinggi terhadap organisasi, dan mampu menjadi kader-kader militant yang nantinya akan menggantikan estafet kepemimpinan dari Rekan Aan dan Rekanita Kiki selaku Ketua PAC. IPNU IPPNU BABAT” ujarnya dalam sambutan.

Fatekul Khoiri selaku Komandan DKAC L-CBP L-KPP BABAT, menegaskan bahwa Diklatama ini bertujuan untuk mencetak calon komandan-komandan CBP dan KPP di Kecamatan Babat serta membangun kesadaran para pelajar serta membentuk watak dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Aan Andri Ardiyansah selaku Ketua PAC. IPNU Babat menaruh harapan yang sangat besar kepada peserta DIKLATAMA tersebut agar nantinya dapat menjadi kader penerus generasi PAC. IPNU IPPNU BABAT dan DKAC L-CBP L-KPP BABAT di Priode yang selanjutya. Maka dengan itu Rekan Aan dalam kegiatan Diklatama tersebut mengusung tema ”Menguatkan Ideologi, Menjaga keutuhan NKRI, Peduli Sosial, Serta meningkatkan skill kader Nahdlatul Ulama”.

Diklatama ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepanduan, kedisiplinan, kemanusiaan, pengabdian alam dan lingkungan hidup serta menciptakan generasi IPNU-IPPNU militan serta mampu mengemban amanah Nahdlatul Ulama’ yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” imbuhnya. (Pers Babat)

Apel Pelajar NU, Tutup Sembilan Rangkaian Harlah IPNU-IPPNU Bojonegoro

Ipnujatim.or.id. Bojonegoro- Apel Pelajar NU yang diadakan di halaman kantor PCNU Bojonegoro menjadi penanda ditutupnya rangkaian harlah IPNU-IPPNU Bojonegoro. Kegiatan yang diadakan pada hari minggu (4/3) ini, dihadiri oleh kader-kader dari berbagai tingkatan, baik ranting, komisariat sekolah dan perguruan tinggi, anak cabang dan pengurus cabang sendiri. Terhitung, tak kurang dari 300 pelajar yang memeriahkan perhelatan ini.

Muhammad Nur Abidin, ketua IPNU Bojonegoro menerangkan bahwa acara ini merupakan pamungkas dari Sembilan acara yang telah diselenggarakan sebelumnya. Mulai dari Make up and hijab Contest, Futsal Championship, Lomba Da’i, Lomba MTQ, seminar Nasional Kesehatan, Tahtimul Qur’an, Ziarah Muasis, Gerakan 63-64 Bendera, dan yang terakhir apel pelajar NU Bojonegoro.

apel ini adalah agenda puncak dari rangkaian acara yang telah IPNU-IPPNU Bojonegoro selenggrakan sebelumnya” pungkasnya

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan ghiroh berorganisasi bagi Pelajar NU di lingkungan Kabupaten Bojonegoro, agar terus berjuang dan giat melaksanakan kegiatan.

Acara ini semakin lengkap karena dihadiri oleh beberapa banom NU, yaitu jajaran pengurus Muslimat dan ketua Fatayat NU Bojonegoro. Acara ini, di tutup dengan refleksi harlah yg di laksanakan di lantai dua gedung NU dengan suasana penuh kekeluargaan dan keharmonisan untuk menjaga jalinan emosional dan kekeluargaan organisasi. (abid)

 

IPNU-IPPNU Tulungagung Rayakan Harlah dengan Temu Alumni

ipnujatim.or.id, Tulungagung- Tidak seperti biasanya, di akhir pekan, tepatnya Sabtu (3/3) kantor PCNU Tulungagung terlihat lebih semarak. Hal ini dikarenakan tengah diadakannya peringatan Hari lahir (Harlah) IPNU 64 dan IPPNU 63 yang dikemas dengan  Sarasehan sekaligus temu alumni di Aula PCNU Tulungagung. Acara ini, semakin meriah karena tak hanya dihadiri oleh alumni Pimpinan Cabang lintas generasi, namun juga perwakilan pengurus PAC IPNU IPPNU se-Kabupaten Tulungagung.

Dengan mengangkat tema “Pelajar Santri Membangun Negeri Mengawal NKRI” acara ini diselenggarakan dalam rangka menjembatani kader antar periode agar tetap terjalin hubungan dan komunikasi yang baik. Harris selaku Ketua IPNU Tulungagung menegaskan bawha kegiatan ini adalah wadah silaturrahmi dan bertukar pengalaman.

mudah-mudahan dengan acara ini, kami (pengurus saat ini, red) mampu bercermin dan meneladani pengurus terdahulu untuk lebih memaksimalkan program kerja” imbuhnya

Dalam sarasehan tersebut, banyak hal yang diperoleh, salah satunya adalah suntikan motivasi dari Sigit, salah satu alumni. Ia mengatakan bahwa kiprah kader IPNU IPPNU dalam membangun negeri harus diawali dengan membangun kepribadian kader.

Motto Belajar Berjuang dan Bertaqwa harus di pegang teguh dan harus dipahami secara tuntas” tegasnya.

Senada dengan hal itu, H. Zaenal Abidin yang juga seorang alumni IPNU Tulungagung berpesan, bahwa untuk bisa membangun negeri dan mengawal NKRI, kaderisasi mutlak harus dijalankan. Ia menambahkan bahwa seorang kader harus mengikuti kaderisasi secara sistematis.

Di akhir acara dilakukan potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan doa agar terjaganya eksistensi serta ghiroh berorganisasi. “Mari kita berdoa bersama semoga IPNU-IPPNU Tulungagung semakin maju dan berkembang“. Pungkas doa dari KH Rahadian Abd Rosyid selaku Alumni Pimpinan Cabang IPNU. (iqbal)

Rakercab IPNU-IPPNU Babat, Hasilkan Program Unggulan

ipnujatim.or.id, Babat– Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Babat masa khidmat 2017-2019 mengadakan Rapat Kerja Cabang I. Rapat Kerja Cabang (RAKERCAB) ini, adalah agenda wajib yang dilakukan oleh Pimpinan Cabang setiap satu tahun sekali. Rakercab yang digelar di MWC NU Sambeng ini diikuti oleh seluruh pengurus cabang dan anak cabang se-PC IPNU-IPPNU Babat,hari sabtu-ahad (17-18/2).

Melalui Rakercab IPNU dan IPPNU Babat, berhasil menggagas program kerja unggulan disamping program wajib. “Rakercab ini bertujuan untuk menentukan arah tujuan program organisasi satu tahun kedepan,” terang Ketua PC IPPNU, Emy dalam sambutannya.

Selain itu, Habib selaku ketua PC IPNU Babat menguraikan bahwa agenda ini diselenggarakan guna meningkatkan kualitas sekaligus loyalitas kader untuk masa pengabidian dua tahun ke depan.

Acara ini diselenggarakan juga dalam rangka mewujudkan Gold Generation di Babat pada 3-5 tahun yang akan datang” imbuhnya dengan sangat optimis saat pembukaan.

Adapun Program unggulan yang berhasil dicetuskan dalam rapat kerja tersebut antara lain Pembentukan Pimpinan Komisariat Pondok Pesantren (PKPP), Rumah Konseling Pelajar, Ngaji Organisasi, Madrasah Desain serta Jambore Pelajar Hijau. Sementara untuk program wajibnya adalah berupa pelatihan berjenjang dalam hal kaderisasi.

Dari 34 program kerja yang telah dikonsep baik oleh Pimpinan Cabang ini, diharapkan bisa terealisasi dengan sempurna, guna kemajuan Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU di wilayah kerja Cabang Babat”, ujar Habib saat dimintai keterangan.

Rakercab yang mengusung tema “Meneguhkan Peran dan Kontribusi Strategis Pelajar NU; Kini dan Nanti” ini, semakin menarik karena dilanjutkan dengan Out bound di Water Tubing Pacet, Mojokerto. Kegiatan selingan ini, menurut Emy bertujuan untuk memupuk kekompakan dan sinergitas pengurus PC dan PAC.

 

Kontes Hijab Meriahkan Harlah IPNU-IPPNU Bojonegoro

ipnujatim.or.id, Bojonegoro- Dalam rangka menyongsong harlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ke-64 dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama ke-63, diadakan Make up & Hijab Contest di Pendopo Kecamatan Kalitidu minggu, (18/2).

Acara yang dikemas menarik dan unik ini, semakin meriah karena turut dihadiri oleh Jajaran Muspika Kecamatan Kalitidu. Ajang kecantikan ini, diikuti oleh 46 peserta yang terdiri dari unsur Pimpinan Anak Cabang dan pengurus Komisariat Perguruan Tinggi IPPNU se-Kabupaten Bojonegoro. Menariknya lagi, lomba ini juga di buka untuk umum. Sehingga siapapun boleh ikut, tak sebatas hanya pelajar NU.

Selaku ketua panitia, Irfan menyampaikan kepada peserta bahwa kegiatan ini bisa di ambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari sebagai semangat bahwa di masyarakat pelajar NU harus terlihat menarik dan cantik.

Selain itu, Rifa, ketua IPPNU Bojonegoro menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sebagai ajang untuk menang atau kalah, namun sisi positif dari acara ini adalah memberikan ruang aktifitas positif bagi pelajar di kabupaten bojonegoro. Ia juga menambahkan bahwa acara ini juga dalam rangka menyemarakkan hari lahir IPNU dan IPPNU.

selain agar terlihat kekinian, masyarakat juga akan tertarik jika melihat kader putrid NU terlihat bersih menawan sekaligus cantik-cantik” imbuhnya

Adapun hadiah yang diperebutkan dalam acara ini, selain trophy untuk juara 1,2,dan 3, juga ada uang pendidikan serta hadiah menarik untuk juara favorit. Tidak hanya itu, seluruh peserta juga mendapat paket bedak dari sponsor martha tilaar sebagai oleh-oleh.(Abidin)

 

IPNU-IPPNU Ngunut Sambut Harlah dengan Talkshow Pelajar

ipnujatim.or,id, Tulungagung– Menyongsong Hari Lahir Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke 64 dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ke 63, minggu (18/2) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU kecamatan Ngunut adakan Talk Show. Acara ini diikuti oleh seluruh pelajar se Kecamatan Ngunut. Dengan mengusung tema “Jadi Pelajar kok Mutungan”, kegiatan ini diselenggarakan di gedung Balai DIklat Tulungagung.

Acara ini semakin meriah karena dihadiri oleh ratusan pelajar yang mewakili seluruh pengurus ranting dan komisariat. Iqbal Hamdan Habibi selaku sekretaris IPNU Ngunut mengatakan bahwa, tema ini sengaja diangkat karena akhir-akhir ini kinerja organisasi menjadi terkendala hanya karena kader yang tidak mau diajak kerjasama karena ngambek atau marah tanpa sebab yang jelas (jawa: mutung, red).

dengan diadakannya talkshow ini, diharapkan pelajar di kecamatan ngunut, khususnya kader IPNU-IPPNU, mampu meningkatkan motivasinya dalam mengabdikan dirinya di organisasi dan masyarakat” terangnya saat dimintai keterangan.

Sebagai narasumber talkshow, didatangkan dari pengurus wilayah IPNU Jawa Timur, yakni Winarto Eka Wahyudi. Dalam keterangannya saat memberikan materi, eka –sapaan akrabnya- menyatakan bahwa seorang disebut kader, harus memiliki karakter yang kuat dan unggul, namun tetap santun dalam sikap dan sopan dalam berucap. Wakil ketua IPNU Jatim ini juga menambahkan bahwa kader juga harus memiliki antusias dalam berorganisasi serta mempunyai daya saing yang tinggi.

kader IPNU IPPNU itu haruslah pintar dan cerdas, “Haram hukumnya kader IPNU IPPNU itu tidak cerdas” tegasnya saat talkshow

Dipenghujung acara, dalam rangka memeriahkan harlah, diadakan potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Agung Tri Yudha Nugroho selaku ketua IPNU kecamatan Ngunut menyatakan bahwa tumpeng merupakan simbol terimakasih dan bentuknya yang menggunung merupakan harapan yang tinggi agar ke depan IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang lebih baik lagi.

Semoga kegiatan ini menambah ghiroh kita dalam melaksanakan kredo pengabdian IPNU-IPPNU, yaitu Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa” harapnya. (iqbal)

Seminar dan Pertunjukan Seni Hiasi Pelantikan PKPT IPNU-IPPNU Unira Malang

ipnujatim.or.id, Malang- Ada yang menarik saat Pelantikan PKPT IPNU-IPPNU Universitas Islam Raden Rahmat Malang pagi tadi, selasa (30/01). Karena di sela-sela acara tersebut, disenandungkan sebuah gubahan lagu yang berjudul IPNU Untuk Bangsa yang diciptakan sendiri oleh anggota IPNU Kecamatan Pujon. Sontak acara yang resmi tersebut menjaid lebih meriah dan menghhibur. Selain penampilan musik, juga dipertunjukkan kelincahan pencak silat yang dilakukan oleh kader IPPNU kampus yang masih berusia empat tahun tersebut.

Acara pelantikan tersebut, dihadiri langsung oleh Rektor Hasan Abadi, Pembantu Rektor Yusuf Azwar Annas, sekaligus Pembina PKPT IPNU-IPPNU semisal Ridwan, Agus Salim dan lain-lain. kegiatan yang juga diisi dengan seminar ini, didatangi juga oleh Winarto Eka Wahyudi selaku pengurus wilayah IPNU Jawa Timur yang juga didapuk sebagai narasumber tunggal seminar.

Dalam keterangannya saat seminar, Eka menyatakan bahwa IPNU-IPPNU harus Mempunyai Semangat Literasi, “Zaman now sangat banyak informasi tidak bertanggung jawab (hoax, red) beredar di media online, maka dari itu kita sebagai kader NU harus mampu berperang dalam literasi digital yang kian marak.” Ujar Eka yang juga seorang dosen muda tersebut.

Dalam pelantikan yang di gelar bersamaan dengan seminar tentang kader NU zaman now di Aula KH. Moch Said Unira Malang ini, Eka sangat berharap kepada kader-kader NU di Unira untuk setia kepada IPNU dan IPPNU. “Temukan ‘passion’ kalian disini!” tegasnya.

Ia berpesan pada peserta seminar untuk terus memperkuat ideologi, mengasah kemampuan literasi, meneguhkan militansi serta tanggap pada isu-isu kekinian. “Kuncinya Cuma satu, harus inovatif. Kalau tidak, siap-siap ditinggalkan oleh kalangan pelajar dan pemuda saat ini!” pesannya mengakhiri acara. (Dena)

DKAC CBP-KPP Babat Sambut Diklatama dengan Jelajah Medan

Ada saja ulah dari PAC IPNU IPPNU Babat. Demi membuat organisasi menarik, DKAC CBP-KPP Babat mengadakan jelajah medan sebagai tolak ukur loyalitas calon peserta pra-diklatama. Kegiatan ini, selain untuk mempersiapkan para calon peserta pelatihan kepanduan yang ada di dalam IPNU-IPPNU, juga dalam rangka menyambut momen harlah NU ke 92. Sehingga, tak heran animo dan antusias para kader sangat tinggi dlaam kegiatan ini. Tercatat sebanyak 44 Kader Dewan Koordinasi Anak Cabang Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Babat mengikuti acara ini. Sejauh 6 km jarak yang ditempuh oleh para peserta, Dimulai dari Balai Desa Bulumargi menuju Dusun Awar-Awar dan perjalanan berakhir di Balai Desa Bulumargi pula, Minggu (28/01).

Calon Peserta Diklatama ini adalah kader militan yang nantinya akan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan Nahdlatul Ulama’ di masa datang”, Aan Andri Ardiyansah selaku Ketua PAC IPNU Babat pada sambutan pembukaan acara. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini di lain sisi juga untuk wadah pelajar NU yang mendidik dan melatih di bidang kedisiplinan, keamanan, kecintaalaman, dan peduli kemanusiaan.

Kegiatan Pra Diklatama ini, di hadiri oleh jajaran dari DKC CBP KPP Babat yang juga turut mendidik dan mendampingi calon peserta diklatama, agar nantinya ketika sudah menjadi komandan CBP KPP mereka semua sudah sikap, tanggap dan selalu siap ketika di butuhkan di lembaga maupun di barisan terdepan nahdlatul ulama.

Dan syukur Alhamdulillah, peserta pra diklatama ini tingkat antusiasme nya sangat tinggi. Melihat dari perjalanan dari awal hingga akhir, semangat mereka tidak berkurang. Saya harapkan untuk seluruh peserta, antusias nya bukan hanya di pra diklatama saja, melainkan juga saat diklatama yang insyaallah dilaksanakan bulan Februari mendatang.” Ujar Komandan Izzarotul Anifah yang disampaikan kepada tim redaksi. (ek)

 

Respon Pesta Demokrasi, IPNU-IPPNU Bojonegoro selenggarakan Rapimcab dan Sosialisasi Pemilu

ipnujatim.or.id, Bojonegoro- Memasuki tahun politik 2018, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) turut merespon melalui semangat edukatif. Dengan merangkul semua jajaran dibawahnya, yakni Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT), IPNU-IPPNU Bojonegoro menyelenggarakan Rapat Pimpinan Cabang III yang diselingi dengan sosialisasi pemilihan umum dengan segmentasi pemilih pemula di Aula PCNU Bojonegoro pada hari sabtu (26/01). Acara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang secara administratif telah tercata secara saht sebagai seorang pemilih.

Abidin, selaku Ketua PC IPNU Bojonegoro  menyampaikan bahwa momentum Rapimcab III ini sengaja dirangkai dengan Soasialisasi pemilih pemula dengan harapan para pelajar, santri, mahasiswa dapat menjadi pemilih yang cerdas, tanpa ada paksaan dan intervensi dari pihak manapun. “Kami ingin, para kader-kader IPNU-IPPNU punya pandangan yang mandiri dan cerdas dalam melihat sekaligus menyikapi momentum pemilihan umum ini” terangnya.

Acara ini, terselenggara atas kerjasama dengan KPU dan PANWASLU Bojonegoro. Dalam keterangannya saat sosialisasi, KPU menyampaikan bahwa pemilu  merupakan pilar utama dalam demokrasi. Untuk itu, baik IPNU dan IPPNU, harus ikut andil dalam menyukseskan pesta demokrasi. Senada dengan itu, Panwaslu menyatakan bahwa IPNU-IPPNU dapat mengambil peran dalam membantu melakukan pengawasan secara parsipatip agar pesta demokrasi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, jujur dan adil.

Turut hadir dan memberikan apresiasi pada saat itu, yakni M. Misbahul Munir selaku Majlis Alumni IPNU Bojonegoro. Misbah menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat tepat karena bersamaan dengan tahun politik di lokal kabupaten Bojonegoro. “ Perlu ada pembekalan bagi pelajar sebagai pemilih pemula untuk menjadi pemilih yang cerdas” ungkap mantan ketua IPNU periode 2012-2014 tersebut.

Adapun agenda utamanya, yaitu Rapimcab diselenggarakan untuk memperkuat tali silaturrahim antara ketua PAC dan PKPT IPNU IPPNU se Kabupaten  Bojonegoro.  Dalam acara ini setiap anak cabang dan komisariat melaporkan progress report-nya masing-masing. Selain itu juga mempersiapkan utk peringatan Harlah ipnu 64 dan ippnu 63 yang jatuh pada bulan depan. (Ek)

Kampung Pelajar NU: Cara IPNU-IPPNU Babat Tingkatkan Kreativitas Kader

lintasjatim.com – Babat, Ada-ada saja yang dilakukan agar organisasi diminati dan menjadi daya tarik  bagi generasi muda, terutama kalangan pelajar. Sebagaimana  dilakukan oleh Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) Babat, Lamongan. Para pengurusnya, menutup akhir tahun dengan mengadakan kegiatan yang diberi tajuk Kampoeng Pelajar Nahdlatul Ulama’  (KPNU). Kegiatan ini diselenggarakan setiap setahun sekali, dan tahun ini merupakan tahun keempat. Acara yang dikemas dengan kemah pelajar ini diikuti oleh anggota IPNU-IPPNU se-Anak Cabang Babat.

Dilaksanakan selama tiga hari (23-25/12) di Lapangan Desa Moropelang, kegatan ini terbilang sangat meriah karena diikuti oleh seluruh Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat se-Anak Cabang Babat dengan jumlah peserta kurang lebih 400 santri dan pelajar.

Dengan mengusung tema Wujudkan Kebersamaan Pelajar NU Babat Dengan Semangat Kreativitas dan Sportivitas, acara tahunan ini diisi dengan beragam kegiatan yang dikemas dengan kompetisi. Abid Aziz selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa kegiatan ini terdiri dari bermacam-macam perlombaan seperti Futsal, Voli, Mars IPNU IPPNU dan Syubbanul Wathon, Cerdas Cermat, Sholawat Al-Banjari dan Memasak. “Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memilih kader terbaik menjadi Duta Pelajar NU Babat,” imbuhnya saat ditemui  di sela-sela acara.

Adapun untuk penjurian, PAC IPNU IPPNU Babat sengaja mendatangkan juri di luar wilayah Babat agar terhindar dari pemihakan dan ketidak netralan. “Juri untuk tahun ini kami ambil dari para ahli dibidangnya masing-masing, baik dari Gresik, Bojonegoro dan beberapa dari Babat” terang Aan selaku Ketua PAC IPNU Babat.

Pada kesempatan tersebut Aan juga menambahkan bahwa dengan adanya kegiatan Kampoeng Pelajar Nahdlatul Ulama’ ini, diharapkan para kader di kawasan Babat lebih kreatif, inovatif, dan semakin mudah mengembangkan potensinya diberbagai bidang, baik bidang seni maupun olahraga, dengan tujuan agar bisa menjadi kader yang mempunyai kualitas bagus dalam berkhidmat untuk Nahdlatul Ulama.

Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Darmuji selaku Ketua Satpol PP kecamatan Babat yang mewakili Camat Babat dan dihadiri Pengurus PC IPNU IPPNU Babat, Kepala Desa Moropelang, dan segenap tamu undangan.

Dengan adanya kegiatan ini, semoga dari para kader IPNU IPPNU Babat dapat menjadi kader yang Kreatif dan Sportif dan dalam waktu 5-10 tahun mendatang saya berharap kader IPNU IPPNU Babat mengharumkan nama Babat bukan hanya dikanca Kabupaten ataupun Provinsi, melainkan dikanca Nasional Bahkan Internasional.” Ujar Darmuji saat pembukaan Acara. (Aan)

Wow, inilah capaian IPNU-IPPNU Babat

Babat, Tepat pada hari Ahad (17/12) Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Babat menggelar Pelantikan pengurus baru masa khidmat 2017-2019. Acara yang digelar di Universitas Darul Ulum Lamongan tersebut semakin meriah karena dihadiri oleh banyak tokoh masyarakat, ratusan pelajar serta mahasiswa.

Kegiatan tersebut Nampak lebih menarik karena dilakukan juga penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara PC Lembaga Pendidikan  Ma’arif NU Babat dengan PC IPNU-IPPNU Babat untuk mengembangankan organisasi keterpelajaran ini di tingkatan sekolah-madrasah yang berada dalam naungan LP Ma’arif. Penandatanganan ini, disaksikan langsung oleh ketua umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid, Imam Fadlli Waketum PP IPNU, PCNU Babat, MWC NU Se-Cabang Babat, Kepala Sekolah dan Madrasah, PAC, PR, PK IPNU I IPPNU se-Cabang Babat, dll. MoU ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang telah dicanangkan oleh kepengurusan sebelumnya.

Untuk diketahui, bahwa PC IPNU-IPPNU babat ini merupakan Pimpinan Cabang yang terbilang masih balita. Karena baru beridiri pada tahun 2015 lalu. Namun, umur kepengurusan yang masih belia tersebut tak menjadi kendala untuk mengukir presasi organisasi yang memukau. Bahkan dari beberapa aspek, IPNU-IPPNU Babat menunjukkan capaiannya yang tak bisa dilakukan oleh Pimpinan Cabang yang telah berdiri bertahun-tahun.

Adapun capaian yang berhasil di torehkan IPNU-IPPNU babat sejak 2015 lalu sebagai realisasi MoU dengan LP Ma’arif tersebut, adalah;

  1. Memasang Bedge IPNU di seragam siswa dan bedge IPPNU di seragam siswi
  2. Mengubah istilah MOS (Masa Orientasi Siswa) menjadi MOP (Masa Orientasi Pelajar)
  3. Melibatkan Pimpinan IPNU IPPNU tingkatan di atasnya dalam pengawalan kegiatan MOP
  4. Mengadakan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) sebagai jenjang kaderisasi formal IPNU IPPNU di lembaga setiap setahun sekali

Ketua Umum: IPNU-IPPNU Babat harus Menjadi Kader yang Kritis dan Inovatif

Babat- Hari Ahad (17/12) menjadi hari yang spesial bagi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Babat. Pasalnya, hari itu merupakan moment dimana pengurus baru masa khidmat 2017-2019 itu resmi dilantik. Dengan dilantik langsung oleh Ketua Umum IPNU, Asep Irfan Mujahid, PC IPNU-IPPNU Babat bertekat mengokohkan komitmen organisasinya secara resmi. “Setelah ini, kami akan menggarap PAC, PR dan PK yang selama ini vakum”, tegas Habib selaku ketua IPNU dalam sambutannya. Pria lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya itu mengungkapkan bahwa, eksistensi Pimpinan Cabang tak bisa kokoh dan baik tanpa ditopang dan bersinergi dengan Pimpinan Anak Cabang, Ranting dan Komisariat.

Acara yang diselenggarakan di Universitas Darul Ulum Lamongan tersebut, semakin meriah karena dihadiri oleh tokoh-tokoh setempat. Terlihat dalam pantauan lintasjatim.com, kegiatan tersebut Nampak wakil ketua Umum IPNU, Imam Fadlli, Rektor UNISDA Dr. H. M. Arif Hasbullah, M.Hum, Fathur Rozi Camat Sukodadi dan ratusan pelajar yang hadir dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Asep dalam sambutannya mengingatkan bahwa ikhtiar yang harus dilakukan oleh kader IPNU-IPPNU saat ini adalah mempertahankan prestasi-prestasi organisasi yang sudah diukir pengurus domisioner, segaligus menggali inovasi baru, melahirkan berbagai pendekatan program dengan pembacaan yang utuh terhadap tantangan kekinian serta selalu responsif dalam menghadapi tantangan yang yang ada. “Dengan cara itulah, kader-kader IPNU-IPPNU akan memiliki sikap kritis dan inovatif” imbuhnya saat memberikan sambutan

Pada kesempatan tersebut, Ketua PC. LP, MA’ARIF NU Babat, Syufaat, juga memberikan pesan bahwa IPNU dan IPPNU adalah kader NU yang harus didukung dan tidak boleh dihalang-halangi. “di masa mendatang NU bisa bagus, NU bisa jaya, kalau kader-kader IPNU-IPPNU saat ini memiliki loyalitas dan militansi berorganisasi yang bagus” terangnya dengan begitu anstusias.

Dalam kesempatan tersebut, ketua Ketua Tanfidhiyah PC NU Babat yang juga turut hadir berpesan kepada para pengurus baru, bahwa karya dan pengabdiannya ditunggu oleh maysrakat. “NU didirikan tujuannya tak lain adalah khodimmul ummah (melayani umat, red)” terangnya dengan penuh khidmat.(Win)

Merespon Perkembangan Gerakan Islam, IPNU-IPPNU Unisma adakan Makesta

Gerakan dan pemahaman radikal saat ini mulai meluas di kalangan masyarakat. salah satunya adalah pemahaman politik Islam yang mengusung konsep khilafah, yang lazim mendiskreditkan dan menghina lambang Negara dan pemerintahan. Merasakan realitas demikian, maka Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU Universitas Islam Malang mengadakan kegiatan kaderisasi guna melatih, mendidik, membina, membimbing dan merangkul mahasiswa-mahasiswa agar tak terjebak pada pemahaman yang tak sesuai dengan kondisi sosio kultural bangsa Indonesia.

Dengan diikuti oleh kurnag lebih 200 kader, kegiatan yang bertajuk Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) ini dilaksanakan selama dua hari (4-5/11) di Kecamatan Tlekung Kota Batu, Malang. Kegiatan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah kaderisasi IPNU-IPPNU UNISMA. “semoga kenyataan ini menjadi bukti bahwa kader-kader NU di kampus mulai sadar tentang pentingnya menjaga ruh islam dalam bingkai NKRI. Terang Febi, Ketua IPNU Unisma.

Kegiatan yang megusung tema “Membangun Jiwa Muslim Nusantara Secara Kaffah Berdasarkan Aswaja An-Nahdliyyah” ini, dikemas dengan serangkaian acara disuguhkan dengan konsep yang sangat menarik dan menyenangkan. Salah satunya, sebagai salah satu wadah untuk menampung bakat para kader, panitia menyediakan pentas seni dimana para kader bisa mengeksplor bakat seni tiap individu dan kelompok. Terlebih lagi, materi-materi yang disampaikan tidak hanya sebatas pengetahuan dasar tentang Nahdlatul Ulama. Isu geopolitik kampus juga dipaparkan secara terperinci oleh pemateri, sehingga peserta juga mendapatkan pengetahuan tentang pola gerakan yang pas dilakukan di perguruan tinggi. Tidak hanya itu, drama monolog mengenai jasa para pahlawan dan para ulama’ terdahulu berhasil membuat para kader tersedu mengingat betapa mirisnya perjuangan para penegak islam dan penyelamat indonesia tersebut.

Adapun materi-materi yang disampaikan dalam acara tersebut, terbagi dalam tiga kategori, yakni materi ideologi yang meliputi keaswajaan, ke-NU-an, dan ke-IPPNU-IPPNU-an. Kategori kedua adalah materi tentang skill organisasi, yang meliputi materi salah satunya adalah keorganisasian, sedangkan kategori ketiga adalah materi tentang pematangan wawasan keilmuan, yaitu misalnya materi tentang geopolitik kampus.

dengan kategori materi ini, kami harapkan peserta mampu ditinggatkan SDM-nya sebagai estafet penerus perjuangan ulama di masa mendatang” imbuh febi dalam releasnya. (Zaim)

Adakan Makesta, UIN Sunan Ampel Usung Isu Islam Moderat

ipnujatim.or.id, Mojokerto- Dalam kontruksi kemasyarakatan tidak menutup kemungkinan adanya solidaritas organik yang mempunyai tujuan tertentu dan niscaya mengagendakan perekrutan anggota baru. Menyadari akan hal itu, maka Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU UIN Sunan Ampel Surabaya,  menggelar MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) di Villa Pondok Jowo Kondang, Pacet Mojokerto (28/0). Proses kaderisasi ini, menjadi persyaratan menjadi anggota baru, “kalian semua sangat beruntung, belum tentu yang lain punya kesempatan waktu untuk mengikuti kegiatan ini” kata Shofi Ketua PC IPNU Mojokerto, waktu memberikan sambutan saat pembukaan acara.

Kegiatan ini, diikuti 207 mahasiswa yang terdiri dari semester satu dan tiga. Dengan mengusung tema “Pelajar Wasathiyah; Moderasi Fikrah, Firqah, Ghirah di Era Milenial” sengaja mengirimkan pesan melalui kegiatan ini, bahwa IPNU-IPPNU juga mampu memberikan konstribusi konkrit dalam mengawal generasi muda di perguruan tinggi. Ruri selaku Ketua PKPT IPNU UINS dalam sambutannya menyatakan bahwa di zaman digital,  perlu membangun pemikiran yang moderat dalam menanggapi berbagai problematika yang semakin kompleks. “Pemikiran dan sikap kita menghadapi masalah sosial harus senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai moderat” imbuhnya.

Selama tiga hari, para peserta pelatihan ini akan diberikan materi tentang ideologi keagamaan dan kebangsaan, wawasan keorganisasian dan pengembangan mental melalui inagurasi, jelajah malam dan pembaiatan. Semua ini , menurut panitia sebagaimana releas yang dikirmakn kepada redaksi, didesain dnegan harapan agar ke depan, peserta mampu melanjutkan estafet organisasi lebih baik. (Pers PKPT UINSA)

Rekor; IPNU Jatim Cetak Instruktur Tiga Zona dalam Waktu enam Bulan

IPNU Jatim- Surabaya,Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama Jawa Timur telah berhasil mencetak rekor di bidang kaderisasi. Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya program kerja Latihan Instruktur  (LATIN) di tiga zona seluruh Jawa Timur yang dituntaskan selama enam bulan. Program ini, merupakan amanat Rapat Kerja Wilayah IPNU Jatim yang diplenokan di awal kepengurusan.

Winarto Eka Wahyudi, selaku Wakil Ketua IPNU Jatim bidang kaderisasi mengungkapkan rasa syukurnya saat memberikan sambutan penutupan Latin Zona ketiga. “ Alhamdulillah, LATIN tiga zona telah selesai kami tuntaskan hanya dalam waktu enam bulan. Capaian ini, diseluruh Indonesia, saya yakin hanya dilakukan oleh IPNU Jatim. Maka dari itu, zona penutup ini kami selenggarakan di Barat bukan tanpa alasan, hal itu karena mempunyai filosofi agar kaderisasi IPNU di seluruh Nusantara berkiblat di Jawa Timur.” Terangnya yang disambut tepuk tangan meriah dari para peserta pelatihan.

Program pelatihan instruktur menurut kandidat doktor Universitas Islam Malang ini, diselenggarakan guna menyiapkan Sumber Daya Instruktur di daerah-daerah. Kedepan, Ia optimis IPNU tidak kekurangan SDM pelatih dalam waktu beberapa tahun ke depan. Eka, sapaan akrabnya, juga mengucapkan apresiasi sekaligus rasa syukur karena memiliki tim kaderisasi yang solid. Ia mengibaratkan bahwa tim kaderisasinya sudah mencapai tidak hanya satu pemikiran, tapi juga telah menyatu dalam satu darah pengabdian. Untuk itu, ia menyatakan rasa syukurnya, “spesial terimakasih saya ucapkan pada tim saya, rekan Farih, Najib, Lukman, Joko dan Khosyiin, yang telah memberikan andil besar dalam suksesi program kerja ini, tanpa mereka, program ini tak mungkin bisa berhasil” ungkapnya.

Untuk di ketahui, Zona pertama LATIN, diikuti oleh Korda Tapalkuda dan Mapasraya. Adapun Tapalkuda terdiri dari Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kraksaan, Lumajang, Kencong, Bondowoso, Situbondo, Jember dan Banyuwangi. Sedangkan Korda Mapasraya meliputi Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Bangil, Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang. LATIN pada zona ini, berhasil dilaksanakan pada tanggal 21-24 April 2017 di PP Darul Arifin Jember.

Adapun pada LATIN zona 2, dilaksanakan pada tanggal 11-14 Juli di SMK Wahid Hasyim, Babat yang diikuti oleh Korda Metropolis (Surabaya, Jombang, Sidoarjo, Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto), kemudian Korda Madura (Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan), tak ketinggalan Korda Pantura sendiri yang menjadi tuan rumah, yakni Gresik, Tuban, Lamongan, Babat dan Bojonegoro.

Sedangkan di Zona 3, yang merupakan Zona terakhir berhasil diselenggarakan beberapa waktu lalu di Pondok Pesantren Moyoketen Tulungagung, tepatnya pada tanggal 21-24 September. Untuk zona pungkasan ini, diikuti oleh dua korda, yakni Korda Madiun (Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, Kota Madiun dan Kabupaten Madiun), serta Korda Kediri yang meliputi Trenggalek, Tulungagung, Kabbupaten Blitar, Kota Blitar, Kota Kediri, Nganjuk dan Kabupaten Kediri.

Tuban : Kemas Halal bi Halal dengan Temu Alumni

IPNU Jatim, Tuban– Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar halal bihalal dan temu alumni lintas generasi di Aula Kantor PCNU Tuban, Ahad (02/07/2017) pagi.

Temu alumni yang merupakan agenda rutin yang diadakan setiap bulan syawal tersebut sebagai wadah berkumpulnya para alumni PC. IPNU-IPPNU Tuban agar semakin erat tali silaturrahim antar alumni lintas generasi, pada temu alumni tahun ini dihadiri sekitar 70 alumni yang menjabat antara tahun 1980-an hingga masa khidmat terakhir di tahun 2016.

Hadir pula 10 alumni ketua PC IPNU dan PC IPPNU, ketua tertua adalah Drs Ali Imron dan ketua termuda adalah A. Nur Falahudin Ubaidillah, S.H, yang menjabat tahun 2014 hingga 2016, dan hadir pula Ketua DPRD Tuban H. M. Miyadi yang juga pernah menjabat sekretaris PC IPNU Tuban selama 2 periode.

Ketua PC. IPNU Tuban Sutrisno mengatakan, kegiatan ini bertujuan memperkuat tali silaturrahim alumni PC IPNU-IPPNU Tuban dan memperjelas pembentukan Presidium Majlis Alumni. “Dengan kegiatan ini, maka tradisi silaturrahim antar alumni dan pengurus dapat selalu terjalin untuk menyambungkan dan berbagi pengalaman antar generasi dengan tujuan utamanya adalah untuk kemajuan IPNU-IPPNU Tuban sendiri” ujarnya.

Di tempat yang sama ketua PC. IPPNU Tuban Hikmatuz Zakiyyah juga menyampaikan temu alumni ini menjadi agenda wajib yang harus dilaksanakan setiap bulan syawal, dan ini merupakan kedua kalinya yang diselenggarakan. “Temu alumni ini semoga bisa kita istiqomahkan sampai ke generasi-generasi selanjutnya” ujarnya.

Dalam dialog antar alumni dan pengurus disepakati bersama untuk melakukan pendataan para alumni melalui para alumni ketua untuk mendata kepengurusan pada masanya, dan diharapkan pada temu alumni selanjutnya akan dihadiri lebih banyak lagi para alumni sehingga para pengurus yang masih aktif bisa mendapatkan motivasi dari para alumni, support baik berupa materiel maupun non materiel. (ayu)

Kader Singgahan Gelar Doa Hadapi Ujian

Tuban, IPNU Jatim – bermodal nekat dan keikhlasan, Pimpinan Aanak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Singgahan menggelar kegiatan yang bertajuk Doa Bersama Sukses Ujian Nasional 2017. Acara ini dihelat seiring dengan akan dilaksanakannya UN pada tahun ini ditingkat SMA/MA dan SMP/MTs. Acara ini dilaksanakan pada hari jumat (07/04)  pukul 15.00  di Masjid Jami’ Mulyo Agung Singgahan.

PAC yang  baru berdiri sekitar enam bulan yang lalu ini, tergolong sangat aktif. Hal ini dibuktikan dengan program kerjanya yang menggelegar, bahkan dalam waktu relatif singkat mampu mendirikan kepengurusan di tingkat ranting dengan jumlah yang fantastis, yakni delapan PR IPNU-IPNNU dalam waktu enam bulan sejak didirikan. Sungguh sebuah capaian yang pretisius. PAC ini, dinahkodai oleh Rekan Ali Syafi sebagai ketua IPNU dan rekanita Nafisatul Ilhamibik sebagai ketua IPPNU. Capaian Singgahan ini, juga tak lepas dari support penuh dari para sesepuh NU setempat dan banom-banom NU yang lain.

Maka tak ubahnya benih yang baru tanam PAC. IPNU IPPNU Kecamatan Singgahan mengadakan Istighosah dan Doa Bersama Sukses UN sebagai tunas prestasi yang membanggakan. Kegiatan inididikuti oleh para siswa SMA/MA dan SMP/MTs sekecamatan, peserta yang diwakili 20 siswa siswi kelas IX SMP/MTs dan kelas XII SMA/MA per lembaga berkumpul di Masjid Jami Mulyo Agung. Tercatat sebanyak  440 siswa-siswi melaksanakan Doa Bersama Sukses UN ini dengan khusuk yang doa dipimpin langsung oleh kiyai Masmuh selaku syuriah NU singgahan.

Di acara tersebut juga di hadiri oleh Camat Singgahan, UPTD Pendidikan, dan kepala sekolah SMA/MA dan SMP/MTs se kecamatan singgahan, PAC. GP Ansor, PAC. Muslimat NU dan PAC. Fatayat NU Kecamatan Singgahan serta dari PC. IPNU-IPPNU Tuban. (Ali)

Paradoks Ujian Nasional: Upaya Menimbang Kembali Urgensi

Oleh:

W Eka Wahyudi

Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi PP IPNU

Sejak dicanangkan pada tahun 2001, Ujian Nasional (UN) banyak menuai polemik di masyarakat. Ada yang setuju, namun ramai  juga yang tak mau. UN bagai dua sisi koin yang bersifat paradoksal, ada yang menerima, tapi jamak juga yang tabah dan ogah. Mulai kemunculannya hingga saat ini, eksistensinya tak pernah luput dari sepi dari ironi. Mulai dari anggaran pelaksanaan yang mencapai 500 M per tahun, kualitas guru yang jauh dari kata ideal, pengawalan soal ujian oleh pihak kepolisian bahkan TNI, sampai pada kondisi kejiwaan siswa yang sering tertekan karena UN dijadikan penentu kelulusan.

Melihat realitas ini, pada bulan November lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy membuat langkah maju, dengan mengusulkan perlunya moratorium ujian nasional. Moratorium ini tentu dilandasi dengan pertimbang-pertimbangan rasional-kontekstual: Pertama, adanya dispariitas mutu pendidikan di berbagai daerah. Realitas ini terbukti karena baru 30% sekolah yang telah mencapai standar nasional pendidikan (SNP), hal ini berarti terdapat 70% sekolah di Indonesia yang belum memenuhi SNP. Kedua, terkait dengan pelimpahan kewenangan pengelolaan pendidikan dasar di Kabupaten/Kota, serta SMA/SMK ke Pemerintah Provinsi.   Ketiga adalah besarnya dana yang diperlukan untuk penyelenggaraan UN di setiap tahun.

Moratorium yang diwacanakan oleh Mendikbud tersebut bersifat opsional, yakni; penghapusan UN dari sistem pendidikan secara total, penghentian sementara UN mulai 2017, atau tetap menjalankan UN dengan teknis pelaksanaan diserahkan kepada daerah. Khusus untuk pilihan ketiga, UN untuk tingkat SMA sederajat diusulkan ditangani oleh pemerintah provinsi, sedangkan tingkat SD dan SMP sederajat ditangani pemerintah kabupaten/kota. Ketiga opsi ini, menurutnya masih perlu dirapatkan secara terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

Sayangnya, keinginan Menteri ini tidak seirama dengan “kemauan” pihak istana. Seakan ada “kesepakatan”, baik Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Kabinet dan beberapa jajarannya  meminta agar Kemendikbud mengkaji ulang moratorium tersebut. Hal ini disebabkan karena UN masih dianggap pemerintah sebagai media yang paling efektif guna menentukan tolak ukur hasil pembelajaran siswa. Bahkan, sebagaimana yang dilansir tempo.co, Wapres Yusuf Kalla menegaskan bahwa keberadaan ujian nasional sangat diperlukan karena bertujuan meningkatkan mutu pendidikan. Menurutnya, dengan adanya UN pemerintah bisa melakukan evaluasi terhadap pendidikan yang sudah berjalan.

Sebenarnya, argumentasi bahwa UN merupakan penentu standar kualitas pendidikan kurang tepat. Secara eksistensial, UN hanyalah salah satu dari delapan standar yang diperlukan dalam evaluasi pendidikan. Delapan standar pendidikan nasional, yang mengacu pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), meliputi standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan terakhir standar kompetensi lulusan dan standar penilaian pendidikan.

Idealnya, kalau mau adil pemerintah seharusnya memenuhi terlebih dahulu ketujuh standar pendidikan nasional sebelum mengimpelementasikan standar penilaian (assessment) secara nasional, dan itupun dilakukan hanya sebagai pemetaan mutu pendidikan diberbagai daerah guna dilakukan pendampingan, pembinaan dan bantuan bagi daerah-daerah yang mutu pendidikan perlu ditingkatkan. Adapun yang sudah memenuhi delapan prasyarat mutu pendidikan, pemerintah harus berupaya untuk mempertahankannya.

Akhirnya, ujian nasional harus diletakkan secara proporsional dan manusiawi sebagai alat ukur prestasi peserta didik dan sekaligus alat pemetaan tentang problema penyelenggaraan pendidikan di berbagai daerah, bukan sebagai tolak ukur satu-satunya penentu kelulusan siswa. Hal ini untuk menghindari pelaksanaan UN yang -diakui atau tidak- lebih banyak menebar persoalan-persoalan baru yang justru kontraproduktif bagi kemajuan pendidikan.

 

IPNU-IPPNU Tuban Selenggarakan “Petilasan” di Ponpes Sunan Bejagung

Tuban, IPNU JATIM- PC IPNU-IPPNU Tuban baru saja menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Tinggi Pelajar dan Santri atau yang populer disebut Petilasan. Kegiatan dalam rangka memperingati Harlah IPNU ke-63 dan IPPNU ke-62 ini dilaksanakan di Pondok pesantren Sunan Bejagung, kecamatan Semanding, kabupaten Tuban. Acara yang dihelat selama 2 hari, Senin siang hingga Selasa sore 27-28 Maret 2017, ini diikuti oleh 40 peserta yang merupakan kader terbaik IPNU-IPPNU perwakilan dari pimpinan anak cabang masing-masing.

Pelatihan bertema “Pelajar Bumi Wali Berkarakter Islami, Bersinergi Membangun NKRI” ini merupakan kegiatan yang harus diikuti oleh calon duta pelajar yang akan berkompetisi dalam Jambore Pelajar dan Santri di kecamatan Rengel April nanti. “Petilasan merupakan salah satu tahap pengkaderan nonformal di PC IPNU-IPPNU kabupaten Tuban. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menggali potensi dan bakat para kader nahdliyin untuk berperan sebagai duta pelajar IPNU-IPPNU, karena tindak lanjut dari pelatihan ini nanti ada lomba duta pelajar dan pelajar cerdas,” kata ketua IPNU Tuban, Sutrisno.

Selain itu juga untuk membentengi para kader dari aliran radikal yang kini makin berani muncul secara terang-terangan di kabupaten Tuban. PC IPNU-IPPNU Tuban dengan tegas menolak adanya gerakan radikal yang berbahaya bagi keutuhan NKRI,” imbuhnya.

Berbagai materi yang disampaikan dalam pelatihan adalah Ke-NU-an, Ke-Aswajaan, Ke-IPNU-IPPNUan, Kebangsaan, Fashion, Etika dan Kepribadian serta Public Speaking. Peserta sangat antusias dalam menerima seluruh materi, terlihat dari keaktifan para peserta ketika berdiskusi. Keberanian berbicara di depan umum diasah dengan adanya presentasi dari perwakilan peserta untuk mereview materi yang telah diterima.

“Keterampilan public speaking itu bisa dikembangkan dengan cara praktek dan latihan. Yang menghalangi kita untuk berlatih adalah rasa gugup akibat berbagai rasa takut yang kita ciptakan sendiri, yang memenuhi pikiran sehingga kita susah untuk maju dan berkembang,” ungkap Mariyatul Qibtiyah, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut. Sutrisno berharap bahwa kegiatan Petilasan ini bisa bermanfaat dan tetap istiqomah dilaksanakan tiap tahunnya. “Ini Petilasan yang kedua. Saya berharap kegiatan ini akan selalu ada di setiap rangkaian Harlah di tahun-tahun mendatang,” tutupnya. (Ria)

“IPNU” ala Kiai Wahid Hasyim

Janggal rasanya membaca judul di atas. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) yang baru didirikan pada 24 Februari 1954 oleh Tolchah Mansoer dan kawan-kawan disandingkan dengan Kiai Wahid Hasyim. Dimana, Kiai Wahid sendiri telah berpulang keharibaan Sang Pencipta hampir setahun sebelum IPNU berdiri. Tepatnya 19 April 1953.

Meski secara kronologis antara IPNU dan Kiai Wahid tak sezaman, akan tetapi – secara subtansial – keduanya menemukan titik temunya. IPNU yang menjadi wadah organisasi dan pergerakan kaum terpelajar yang tidak hanya dimonopoli anak sekolahan, tapi juga mengakomodir kaum santri, telah jauh diteladankan oleh putra pertama Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari tersebut.

Pada 1934, Kiai Wahid baru saja pulang dari Mekkah. Ia menuntaskan pengembaraannya menuntut ilmu di tempat Islam pertama kali diturunkan tersebut. Sebagai anak muda (20 tahun) dan memiliki basis keilmuwan yang luas, membuat semangatnya meletup-letup untuk melakukan perubahan di tengah kungkungan kolonialisme.

Di tengah gemuruh semangat dan gerak zaman, Abdul Wahid muda melakukan serangkaian upaya untuk berkontribusi mengubah nasib bangsa. Selain mendirikan Madrasah Nidzamiyah, Wahid pun mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IKPI) pada tahun 1936. Tidak hanya pelajar madrasah dan sekolah yang tertarik untuk ikut, tapi para santri pun turut bergabung dalam organisasi kepelajaran tersebut.

Dalam waktu yang tak lampau lama, IKPI telah beranggotakan 300 orang lebih. IKPI, demikian keinginan Kiai Wahid, menjadi wadah kaum muda Islam untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapannya serta kemampuan organisatorisnya. Dimana, kala itu, amat langka sekali, organisasi kepelajaran yang berbasis Islam. Terlebih bagi kalangan Islam Pesantren.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Kiai Wahid bersama IKPI merintis bibliotek alias taman baca. Untuk ukuran saat itu, bibliotek yang didirikan IKPI ini luar biasa. Tidak kurang ada 500 buku yang menjadi koleksi taman baca tersebut. Tidak sebatas bacaan keagamaan, namun berbagai referensi lainnya juga disediakan. Literaturnya pun terdiri dari beragam bahasa, dari Melayu, Jawa, Madura dan Sunda. Ada juga yang berbahasa Arab, Belanda dan juga Inggris.

Saban hari, banyak anggota IKPI yang berebut membaca koleksi bibliotek tersebut. Mereka seolah ingin menjadi yang pertama dalam membaca literatur yang tersedia.

Visi Kiai Wahid dalam memperkuat basis pengetahuan para pelajar Islam ini dengan memperluas akses bacaan tidak hanya berhenti di bibliotek. Mereka juga dibiasakan berlangganan dengan berbagai surat kabar dan majalah. Mulai dari harian Matahari, Suara Umum, Sin Tit Po, dan Pejuang. Ada pula yang mingguan seperti halnya Pedoman Masyarakat, Panji Islam, Panji Pustaka, Pustaka Timur, Adil dan Pesat. Selain itu ada yang tengah bulanan macam Berita NU, Dunia Pengalaman, Lukisan Pujangga, Cendrawasih, Islam Bergerak, Pujangga Baharu, Al-Fatah, Kemudi, Seruan Pemuda dan banyak lagi lainnya.

Dari berbagai surat kabar yang menjadi langganan IKPI, menandakan keterbukaan Kiai Wahid dalam menerima pemikiran. Ia tak ingin para pelajar Islam (Pesantren / NU) hanya memiliki pengetahuan terbatas dan terkungkung dalam fanatisme buta. Perbandingan pemikiran yang dikenalkan melalui beragam bacaan yang lintas ideologi itu, menunjukkan visi Kiai Wahid, bahwa anak muda terpelajar harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Tak hanya pengetahuan sepihak yang pada akhirnya berbuntut pada fanatisme dan radikalisme.

Selain itu, upaya Kiai Wahid membawa IKPI dalam khazanah literasi yang warna-warni itu, tersirat keinginan untuk mensejajarkan pesantren dengan institusi pendidikan sekuler yang diinisiasi Belanda kala itu. Biasanya, hanya kalangan pelajar alumni HIS, MULO dan sejenisnya saja yang berlangganan surat kabar yang berbahasa Asing, tapi dengan IKPI, kalangan madrasah dan pesantren pun melakukan hal yang sama.

Tentu saja, gagasan Kiai Wahid dengan IKPI-nya tersebut tergolong progresif di masanya. Dari sinilah kelak banyak alumnus Pesantren Tebuireng yang mungkin saja alumni IKPI, kelak menjadi tokoh-tokoh di daerahnya masing-masing yang berkontribusi besar bagi NU maupun Indonesia.

Dari upaya Kiai Wahid Hasyim dengan IKPI-nya tersebut, benar-benar memberikan teladan bagi kita, pelajar-pelajar muda NU yang tergabung di IPNU (dan juga IPPNU). setidaknya ada dua hal penting yang patut kita renungkan.

Pertama, progresifitas. Anak muda selalu identik dengan semangat, inovasi dan keberanian untuk mencoba. Dengan karakteristik yang demikian, tak jarang melahirkan aksi-aksi progresif yang dirintis oleh anak muda. Banyak pesantren kala itu yang menutup diri dari perkembangan zaman dan informasi non-keagamaan, tapi hal itu didobrak oleh Kiai Wahid dengan Madrasah Nidzamiyah dan IKPI-nya. Bukankah hal ini bentuk dari progresifitas yang penting untuk diteladani? Mendobrak kebekuan zaman!

Kedua, berpikiran terbuka. Semangat membaca yang ditularkan oleh Kiai Wahid di IKPI tersebut sebenarnya adalah ejawantah dari keterbukaan pemikirannya. Ia tak ingin pelajar yang tergabung dalam IKPI tersandera dalam dogma. Terpenjara dalam tafsir tunggal dan monopoli pengetahuan. Oleh Kiai Wahid, cakrawala pemikiran benar-benar dibuka seluas-luasnya. Dengan demikian, mereka bisa memilih sekaligus menunjukkan yang benar itu benar, yang salah itu salah.

Hal tersebut, seperti diakui sendiri oleh Kiai Wahid dalam artikel “Mengapa Saya Memilih NU?”. Sebagai putra pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Wahid tidak ingin terjebak dalam ber-NU yang sekedar kultural, apalagi hanya karena keturunan. Tapi, ia ingin ber-NU secara rasional, mantap dan meyakinkan. Dari pencariannya selama empat tahun, Kiai Wahid akhirnya memilih NU. Dan, ia menjadi NU yang kaffah. Hal ini tak lain efek dari keterbukaan pemikiran yang menjadi prinsipnya.

So, tak ada kata lain bagi kita yang mengaku mengidolakan Kiai Wahid, selain dengan mantap mengucapkan “tabiq”, seperti halnya kita memekik “Belajar, Berjuang, Bertaqwa!”

Penulis: Ayung Notonegoro, Pengurus PW IPNU Jawa Timur. Bermukim di Banyuwangi dapat ditemui di akun Facebooknya (Ayunk Notonegoro) dan Twiternya (@Ayung_N).

Peringati Harlah, PK. IPNU-IPPNU MA Tarbiyatul Islam gelar Gebyar Sholawat

Tuban, IPNU Jatim– Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan  Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama menyelenggarakan Gebyar Sholawat yang bertempat di halaman MA Tarbiyatul Islam Soko pada hari Jum’at (24/3).

Kegiatan  berlangsung dengan sangat  meriah, hal ini nampak dari pengunjung yang mengahadiri acara tersebut sebanyak 1500, yang tidak hanya berasal dari kalangan Pelajar dan santri saja, melainkan dari komunitas Syekher Mania dan masyarakat umum. Siti Umariyah, selaku ketua PK. IPPNU MA Tarbiyatul Islam Soko mengungkapkan kegiatan ini merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan PK. IPNU-IPPNU MA Tarbiyatuul Islam. Ia berharap acara serupa dapat dilaksanakan rutin diselenggarakan setiap 1 tahun sekali.

Rencana diselenggarakan  setahun sekali sebagai wujud penanaman sikap cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui alunan Sholawat” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak akan bisa sesukses ini, tanpa dukungan dan kerjasama semua pihak. “Semoga kegiatan yang penuh barokah ini bisa meneruskan tradisi nahdiyin dan bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MA Tarbiyatul Islam Soko, merupakan salah satu PK terbaik di kabupaten Tuban. Hal ini terlihat dari kepengurusannya yang mlai dirintis mlai tahun 2008 hingga sekarang, banyak  melahirkan kader-kader baru yang militan dan loyal sebagai estafet kepengurusan PAC Soko maupun di PC Tuban.

Dalam kesempatan tersbeut, Wakil Kepala bidang Kesiswaan MA Tarbiyatul Islam, Hery Puji Santoso , menyampaikan bahwa pihaknya  akan selalu memberikan support terhadap kegiatan semacam ini dan segala bentuk kegiatan kesiswaan yang dapat memperkuat karakter keislaman pelajar di Soko, dan khususnya pelajar di MA Tarbiyatul Islam Soko. “PK. IPNU-IPPNU yang notabenenya sebagai Banom NU sangat memberikan pengaruh positif untuk siswa-siswi di Madrasah” terangnya di dalam sambutan pembukaan acara.

Acara ini di akhiri dengan penampilan M. Ridwan Ashfi vokalis Al muqtashidah dari POndok Pesantren  Langitan yang diiringi grup Sholawat Laa Tahzan dari Kec. Semanding Tuban selama 2 jam. (Obi)

Perkuat Militansi, IPNU Sumenep adakan Kaderisasi

Sumenep,- IPNU Jatim– Spirit kaderisasi merupakan denyut kehidupan Ikatan pelajar nahdlatul Ulama (IPNU). Tanpa adanya proses pengkaderan, IPNU bisa dikategorikan sebagai organisasi tanpa gairah hidup. Menyadari hal itu, Pimpinan Anank Cabang IPNU Kec. Gapura, menyelenggarakan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) sebagai gerbang kaderisasi awal di MA Nas’atul Muata’allimin, Rabu (22/3).

Melalui moment ini, ketua MWC NU Gapura mengingatkan bahwa pPara anggota IPNU harus bergerak, dan menjadi penggerak. Menurutnya, IPNU adalah pelopor bangsa, mengingat organisasi ini sebagai basis kaderisasi Nahdlatul Ulama paling awal. Maka dari itu, pengkaderan  harus selalu dilakukan dan tidak boleh berhenti. Sehingga para peserta MAKESTA diharapkan menjadi kader penerus perjuangan para Ulama.

Jangan pernah bermain-bermain dengan IPNU, jika kalian berkhianat kepada IPNU, sama halnya kalian berkhianat kepada Nahdlatul Ulama. Dan siapapun yang berani mengganggu Nahdlatul Ulama, kata K.H. Khalil Bangkalan, Ya Qahhar, ya qahhar, ya qahhar. Ya jabbar, ya jabbar, ya jabbar,” pesannya.

Sementara itu, Abu Zairi selaku pengurus PC IPNU Kab. Sumenep dalam sambutannya mengungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula toleransinya. Ia berharap, moment kaderisasi yang juga dijadikan sebagai media meningkatkan kapasitas keilmuan ini, diharapkan mampu membentuk watak kader yang semakin toleran ditengah krisis kedamaian yang kini semakin menghantui Negara Republik Indonesia.(Fik/ab)

Banyuwanggi Siapkan Aplikasi Penyedia Layanan Baca

Banyuwangi, – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan Sistem Aplikasi Layanan Pesan Antar (Silapar) Buku untuk meningkatkan pelayanan publik dalam penyediaan bacaan.

“Membangun budaya membaca menjadi tantangan buat kita. Tapi tetap harus dicoba. Makanya, kami ingin memberi kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses buku-buku di perpustakaan, khususnya untuk peminjaman lewat layanan ini,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat.

“Sangat memudahkan, saya bahkan sudah mencoba pesan buku lewat aplikasi ini dan sudah diantarkan ke rumah,” tambah dia.

Layanan peminjaman buku daring Silapar Buku, Anas menjelaskan, tidak akan menghilangkan interaksi langsung antara masyarakat dan perpustakaan karena peminjam masih harus mengembalikan buku ke perpustakaan.

“Kami tidak ingin dengan aplikasi ini seseorang tidak lagi pergi ke perpustakaan, aplikasi ini justru untuk mendorong orang-orang mau mengunjungi perpustakaan,” katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan Abdul Kadir mengatakan warga yang ingin memanfaatkan layanan Silapar Buku harus mengunduh aplikasi itu melalui Google Playstore dan mendaftar secara daring.

“Setelah itu, untuk aktivasi silakan datang ke perpustakaan daerah sekaligus untuk konfirmasi dan melakukan photo session guna mendapatkan kartu anggota. Durasinya tidak lama dan bisa ditunggu,” kata Kadir.

Kadir menjelaskan pengguna layanan tetap harus datang ke perpustakaan supaya pengelola perpustakaan tahu pasti keaslian identitas peminjam sebelum aktivasi aplikasi.

“Pada intinya, teknologi hanya pendukung. Tapi kami tidak melupakan sistem konvensional perpustakaan itu sendiri. Jadi tak hanya trend jumlah anggota perpustakaan yang mengalami kenaikan, tetapi juga pengunjung,” ujar Kadir.

Ia mengatakan layanan pesan-antar buku sementara baru menjangkau kawasan Kota Banyuwangi. Pemesanan bisa dilakukan kapan saja, tapi pengiriman buku dilakukan selama jam kerja.

Buku yang dipesan pukul 07.00-11.00 WIB akan diantar di atas jam 11.00 WIB dan buku yang dipesan jam 11.00 ke atas akan diantar keesokan harinya.

“Ada petugas khusus yang mengantarkan buku-buku tersebut ke rumah si pemesan dengan mengendarai kendaraan operasional berupa sepeda motor,” ujar Kadir.

Source: antaranews.com

Gus Sholah: Pesantren Pembentuk Patriotisme Indonesia

Jombang – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah) menilai pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus pembentuk patriotisme dan peran ulama sangat penting dalam sejarah Nusantara, yang kemudian menjadi Indonesia.

“Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara akan hancur berantakan,” katanya saat meresmikan didirikannya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) di Pesantren Tebuireng, Sabtu.

Ia mengungkapkan bahwa rasa kebangsaan mulai tumbuh di kalangan dari luar, dalam Kongres Pemuda II pada 1928. Namun, nasionalisme itu kurang memberi tempat memadahi terkait ke-Islaman.

Ia juga mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah, misalnya dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson tidak ada tempat bagi Islam.

Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Ia mengakui, saat itu pandangan kalangan luar terhadap pesantren mendapat kritikan, namun tanpa peran kiai dan pesantren, Indonesia saat itu bisa hancur.

Terkait tantangan ke masa depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan secara baik.

“Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan, tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain,” ujar lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

YP3I didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas organisasi masyarakat, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim.

Yayasan tersebut dibentuk untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah, yaitu sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Dalam yayasan tersebut, Gus Sholah ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I, sedangkan Ketua Umum YP3I dijabat Marzuki Alie

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga terdapat pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan juga hadir dalam acara itu, yakni Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf, Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono.

Source : antaranews.com

Jejak IPNU Pada Kepemimpinan Bupati Anas

Siapa yang tak mengenal Abdullah Azwar Anas? Bupati Banyuwangi ini mampu melejit sebagai salah seorang pemimpin daerah yang berprestasi. Banyuwangi yang dulu dikenal sebagai daerah klenik dan santet itu, dalam waktu relatif singkat dirubah sedemikian rupa menjadi salah satu daerah jujukan wisata. Berbagai penghargaan dari tingkat nasional hingga internasional berhasil diraihnya. Awal tahun ini sebuah penghargaan bertaraf internasional dari badan pariwisata dibawah PBB ( The United Nation World Tourism Organization / UNWTO) diraih Banyuwangi sebagai juara satu dalam “Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan”.

Keberhasilan Bupati Azwar Anas membawa Banyuwangi melesat demikian pesat, tentu saja bukan hal yang mudah. Untuk bisa menjadi pemimpin yang berhasil, ada proses panjang yang harus dilaluinya. Salah satu bagian penting itu adalah aktif berproses di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Bagaimana cerita, kesan dan pesannya? Berikut reportase Ayung Notonegoro* yang berkesempatan mengikuti keseharian Ketua Umum PP IPNU masa khidmat tahun 2000 – 2003 dalam 7 bulan terakhir.

***

“Saya masih teringat saat masih diajak sama Mas Hilmi (Hilmi Muhammadiyah, mantan Ketua Umum IPNU, sekarang menjadi salah satu Irjen di Kemenag) muter-muter naik vespa ngantar proposal ke departemen-departemen,” kenang Bupati Anas saat pertemuan Presidium Nasional Majelis Alumni IPNU di Banyuwangi beberapa waktu lalu (28/7/2016). “Dari muter-muter itulah saya mengenal banyak orang dan menjalin berbagai relasi,” lanjutnya.

Kenangan tersebut hanya satu bagian dari sejuta kenangan yang disadari atau tidak membentuk sikap dan cara Bupati Anas dalam memimpin Banyuwangi dalam meraih berbagai prestasi. Banyak kenangan “pahit” lainnya semasa aktif di IPNU, tapi itu menjadi bekal penting kelak.

Seperti halnya cerita yang bersangkutan dengan keterbatasan finansial. Suatu kisah epik bagi sebagian aktivis yang merantau di daerah orang. Kisah yang penuh haru, namun mengajarkan arti perjuangan, kemandirian dan, tentunya, kreatifitas.

Pernah suatu ketika Bupati Anas didapuk menggantikan Pak Zainut Tauhid, Ketua Umum IPNU 1992-1998 sekarang menjadi wakil ketua MPR RI, untuk mengisi suatu acara disebuah tempat yang cukup jauh. “Sangu (bekal) saya ngepres. Cuma Rp. 10.000, cukup untuk bayar bis sekali jalan, dengan harapan seusai acara dapat amplop,” ceritanya.

Namun sial, seusai acara, panitia tak memberinya honorium sama sekali. Tak ayal, ia pun terlunta-lunta saat akan pulang. “Sejak saat itu, saya tidak berani lagi sangu ngepres,” ujar kader yang menjadi anggota MPR (1997-1999) termuda dalam usia 24 tahun itu sembari terkekeh.

Cerita lainnya, saat-saat berkunjung ke daerah. Memenuhi undangan kegiatan IPNU, baik di wilayah maupun di cabang. “Saya paling senang kalau ke Sumedang,” ungkap mantan anggota DPR RI 2004-2009. “Pasti pulangnya dibawain oleh-oleh tahu yang banyak,” imbuhnya.

Bekal tahu yang berbesek-besek (kotak dari anyaman bambu) itu, rencananya mau dimakan bersama di basecamp IPNU di Jakarta sana. Namun, karena tak banyak uang yang bisa dibuat njajan selama di perjalanan, satu per satu tahu itu ia santap. “Nyampek Jakarta sudah habis,” ungkap lulusan Universitas Indonesia itu seraya terbahak.

Pernah suatu ketika, saat berbicara dikala pelantikan PC IPNU IPPNU Banyuwangi, Februari silam, ia juga bercerita saat-saat berkunjung ke daerah dalam rangka kegiatan IPNU. Tak jarang ia meminjam uang kepada “mantan pacar” yang kini jadi Ketua TP PKK Kab. Banyuwangi Ipuk Festiandani. “Dulu, saya sering pinjam uang ke istri saya, buat ongkos saat menghadiri kegiatan (IPNU),” ujarnya sembari disambut senyum simpul Bu Dani Azwar Anas, panggilan akrab Bu Ipuk Festiandani.

Berbagai keterbatasan selama berproses di IPNU itu, menjadi bekal penting saat ia menjabat sebagai bupati. Berbagai permasalahan yang Banyuwangi idap saat pertama kali menjabat, tak menjadikannya putus asa. Tapi justru menjadi cambuk semangat untuk menyelesaikannya. Seiring waktu, semangat itu semakin menunjukkan buahnya. Diantaranya adalah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 20,09 persen (2010) menjadi 9,29 persen (2014).

Dinamika selama memimpin IPNU, turut serta mengantarkan Bupati Anas menjadi seperti saat ini. “Karena dulu (saat jadi Ketua Umum IPNU) terbiasa memimpin sidang dengan gebrak-gebrak meja, jadi tidak kaget saat memimpin birokrasi,” papar anak pertama dari sepuluh bersaudara itu. “Maka, tidak cukup hnaya dengan sekolah atau kuliah saja. Harus pula disertai dengan berorganisasi,” pesannya saat berbicara didepan puluhan mahasiswa penerima Program Banyuwangi Cerdas (11/7/2016)

Dalam berorganisasi itu, lanjut Bupati Anas, seorang kader tidak boleh terlepas dari semangat belajar. “Organisasi itu tempat belajar. Belajar tentang banyak hal yang tidak didapat di bangku sekolah. Maka, jika berorgisasi tidak belajar, maka percuma,” ingatnya.

Perkembangan teknologi informasi, pesan Bupati Anas, harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kader IPNU. Dengan sarana itu diharapkan bisa mempermudah konsulidasi pengurus dan kaderisasi secara luas. “Misalnya dengan membuat materi-materi kaderisasi dengan youtube yang bisa diakses dari mana saja,” contohnya.

Selain itu, Bupati Anas juga berpesan, kepada semua kader IPNU dimanapun berada untuk tetap optimis dan percaya diri menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. “Kuncinya menghadapi kesulitan itu adalah nikmati dan selalu optimis. Dan tentunya, tidak ketinggalan berdoa. Karena tanpa doa, hanya benang kusut permasalahan yang akan dihadapi,” pungkasnya.

*) Ayung Notonegoro, Pengurus PW IPNU Jawa Timur asal Banyuwangi. Tulisan ini diolah dari catatan pribadi saat menyimak sambutan-sambutan Bupati Abdullah Azwar Anas dalam berbagai kesempatan selama bulan Februari – Oktober 2016. Ayung bisa ditemui di Fb: Ayunk Notonegoro & @Ayung_N (twitter).

Belajar dari Asa KH Tolchah Mansur: Catatan Harlah ke-63 IPNU

DSC01181Oleh  Imam Fadlli
“Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”
Itulah sepenggal pidato KH Tholhah Mansur dalam Muktamar IV IPNU di Yogyakarta tahun 1961. Dari kalimat pendek tersebut, sangatlah jelas bahwa Pendiri IPNU mempunyai cita-cita sejak awal bahwa kelahiran IPNU pada tanggal 24 Februari 1954 atau bertepatan dengan tangal 20 Jumadil Akhir 1373 H adalah untuk membentuk dan mencetak pelajar dan santri Nahdlatul Ulama yang berilmu yang tidak berlagak elitis dan eksklusif. Berilmu dalam konteks pidato di atas, mempunyai makna yang kompleks, definisi berilmu disini penulis artikan sebagai kapasitas seorang kader yang harus mempunyai ilmu pengetahuan sekaligus kecerdasan.
Apa maksud dari pengetahuan dan kecerdasan yang penulis maksud adalah, seorang kader IPNU, adalah agen yang harus mempunyai modalitas wawasan (baca: pengetahuan) yang implementatif, ready to use. Sehingga, kecerdasan disini merupakan upaya untuk mempraktekkan segala wawasan yang dimilikianya. Karena, melalui dua modalitas inilah kader-kader IPNU akan menjadi aset transformasi sosial bagi masyarakat yang lebih luas.
Cita-cita ini, tentu dilandasi dengan asas ideologis yang bersumber dari teks al-Quran, sebagaimana yang teruraikan melalui pesan surah al-Mujadalah: 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) beberapa derajat. Landasan normatif ayat suci inilah yang menjadi pedoman pengembangan pengetahuan sekaligus kecerdasan agar selalu “kehausan” dalam meraup air-air ilmu pengetahun bagi para kader IPNU.
Namun, orientasi keilmuan ini tentu saja bukan dalam rangka mencapai ketinggian derajat semata, karena Kiai Tolchah dalam pidatonya tersebut melakukan taqyid al-makna, yang menegaskan keilmuan tersebut harus dilandasi sikap yang dekat dengan masyarakat. artinya, kader IPNU harus mempunyai karakter, yaitu sikap yang siap sedia kapanpun masyarakat memanggil. Sehingga, sangat absurd jika ada seorang kader IPNU yang tidak dekat dengan masyarakat, merasa terasing dari denyut kehidupan warganya. Dari fenomena ini, maka harus ada yang dibenahi dari internal individual atau pola kaderisasi yang kurang tepat. Karena, sikap elitis inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Kiai Tolchah selaku founding fathers IPNU.
Cita dan asa Kiai Tolchah diatas, selanjutnya disimbolisasikan melalui logo IPNU yang sangat sarat makna. Gambar bulu angsa misalnya, dalam logo tersebut dimaknai sebagai spirit keilmuan yang harus tetap dilakukan oleh para kader, kemudian karakter yang istiqomah, berkomitmen dan selalu tuntas dalam setiap kinerja disimbolkan dengan logo IPNU yang berbentuk bulat.
Kemudian, bintang yang merupakan benda luar angkasa meniscayakan sebuah ketinggian harapan yang harus selalau tergenggam agar kader-kader tidak hanya hidup tanpa adanya cita-cita yang tinggi. Dari sekelumit kode-kode inilah, sebenarnya karakter keilmuan IPNU termanifestasikan dengan baik. Hal ituharus dipahami dan disadari oleh semua elemen pengurus, anggota, dan seluruh kader.
Sebuah kredo yang terkenal di IPNU: belajar, berjuang dan bertaqwa juga menjadi semacam world view yang mendarah daging, untuk terus melakukan kerja-kerja intelektual, sosial dan spiritual secara sekaligus. Selaras dengan makna nahdlah dalam nomenklatur Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan agama dan peradaban secara bersama-sama (nahdlah ad-diniyah wal madaniyah ma’an). Melihat kesinambungan gagasan konseptual serta falsafahnya, maka sangat masuk akal jika pembangunan dan keberlangsungan NahdlatulUlama sebagai garda pembentukan peradaban masyarakat Indonesia, berada dipundak kader-kader IPNU.
Untuk itulah, pembangunan kader-kader IPNU sama halnya dengan membangun NU di masa depan, dan memperhatikan NU sama dengan turut andil dalam membangun generasi bangsa Indonesia yang berkualitas di era yang akan datang. Selamat Harlah IPNU ke-63. Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.
Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2015-2018.

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

DSC01195

Oleh:

W Eka Wahyudi*

Tahun 1950-an merupakan era pembentukan kelompok  intelegensia di kalangan Islam tradisionalis. Fenomena ini merupakan imbas dari kelompok reformis-modernis yang telah menjadi bagian dari elit-politik penguasa pada saat itu. Salah satu indikasinya adalah dilegitimasinya Pelajar Islam Indonesia atau PII dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai organisasi satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa muslim pasca keputusan Kongres al-Islam pada tahun 1949 (Yudi Latif, 2013: 391 ). Hal tersebut pada gilirannya menggeser peranan kalangan tradisionalis dari dinamikan organisasi nasional.

Realitas ini kemudian menimbulkan gejolak bagi para mahasiswa yang mempunyai kultur Islam tradisionalis pondok pesantren. Karena, para pemuda dari kalangan pesantren sulit mendapatkan tempat dan cenderung tidak diakomodir aspirasinya di dalam organisasi. Disinyalir, hal ini juga merupakan dampak dari mencuatnya friksi yang terjadi antara NU dan Masyumi pada tahun 1950-1960 an. “perseteruan” ini belakangan mengkooptasi kalangan pelajar dan mahasiswanya.

Sehingga, para mahasiswa yang berlatar belakang dari kalangan Islam tradisional sering mengkonsolidir potensinya di kos-kosan daerah Bumijo, Yogjakarta (kawasan sebelah barat perempatan Tugu) guna merumuskan dengan matang gerakan kaum muda NU pada selanjutnya. Desakan akan kebutuhan terhadap wadah pembinaan pelajar NU inipun, disambut dengan momentum diselenggarakannnya Konferensi LP. Ma’arif di Semarang pada bulan Februari 1954. Sehingga, gagasan progresif kaum muda NU tersebut dijadikan sebagai salah satu agenda pembahasan dalam pelaksanaan konferensi.  Secara ringkas, akhirnya pada Konferensi LP Ma’arif kala itu, berhasil mengesahkan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang saat itu bertepatan pada 24 Februari 1954 atau 20 Jumadil Akhir 1373 H. Walhasil, tanggal inilah yang dinobatkan sebagai hari lahirnya organisasi pelajar NU.

Pada tanggal itulah merupakan periode kelahiran kelompok intelegensia kalangan islam tradisionalis yang pada masa depan mampu memberikan khazanah pada dinamika keorganisasian di Indonesia. Gebrakan lahirnya para cendikia di kalangan NU ini menyusul semakin pesatnya para mahasiswa yang mempunyai latar belakang Islam tradisional masuk ke sejumlah universitas pada tahun 1950-an. Di antaranya: Tolchah Mansoer (UGM), Ismail Makky dan Munsif Nachrowi (IAIN Yogjakarta), Mahbub Djunaidi (UI) dan beberapa kelompok kaum muda terdidik lainnya seperti Mustahal Ahmad, Sofyan Kholil dan Abdul Ghani Farida.

Peningkatan jumlah mahasiswa tradisionalis ini, terutama juga disebabkan pasca pendirian perguruan tinggi agama Islam. Misalnya, di luar IAIN pada saat itu, berhasil didirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Solo pada tahun 1958, walaupun hanya satu fakultas, yakni syariah.

Selanjutnya, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui Muktamar LP Ma’arif, tepatnya dua bulan kemudian pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954,  IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa konferensi ini disebut segi lima? Karena pada saat itu dihadiri oleh kalangan assabiqunal awwalun IPNU yang terdiri dari lima daerah yakni; Jombang, Yogjakarta, Solo, Semarang dan Kediri.

Konferensi ini kemudian menghasilkan kesepakan yang menandai kerja kelompok intelegensia Islam tradisionalis, yang antara lain; 1) menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi, 2) tujuan organisasi yakni turut andil dalam mengemban risalah islamiyah, 3) mendorong kualitas pendidikan agar lebih baik dan merata, serta 4) mengkonsolidir kalangan pelajar.

Munculnya, kelompok cendikia “jenis baru” ini pada gilirannya menandakan perkembangan perspektif oleh kaum muda tradisionalis terhadap isu-isu rasionalisme, teknologi, pendidikan modern dan kondisi sosial . Sehingga pada kurun waktu tersebut NU telah memiliki lapisan intelegensianya tersendiri.

Namun, corak intelegensia yang dimiliki oleh kaum muda ini berbeda dengan Muhammadiyah. Jika kalangan Muhamadiyah cenderung terilhami oleh gerakan pembaharu Muhammd Abduh yang modernis, namun kalangan muda NU tetap mempertahankan sikap konservatifnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi. Sehingga, jenis tipologi intelegensia kaum muda NU yang dalam hal ini direpresentasikan oleh IPNU lebih cocok jika dikategorikan sebagai “konservatif-modernis”. Yaitu tipe pemikiran yang sudah terbuka dengan pandangan-pandangan modern, namun tetap memelihara sekaligus menjaga kearifan dan keluhuran tradisi. Sebuah karakter pemikiran yang relevan diterapkan di Indonesia.

Selamat Harlah IPNU ke 63, salam belajar, berjuang dan bertaqwa.

*Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi Pimpinan Pusat IPNU

Kebangkitan Pelajar NU: Dari Refleksi Menuju Proyeksi

Oleh:
W Eka Wahyudi*

Tjita2 daripada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ialah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite dalam masyarakat. Tidak. Kita menginginkan masyarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masyarakat.

Itulah petikan pidato KH Tolchah Mansoer dalam Muktamar IPNU IV di Yogjakarta pada tanggal 11 Februari 1961. Dalam sambutannya tersebut, Kiai Tolchah menegaskan bahwa poin yang paling penting dari berdirinya IPNU adalah berorientasi pada dua arus utama; intelektualitas dan responsibilitas. Pada tulisan ini, penulis akan sedikit mengupas tentang cita dan asa founding fathers organisasi pelajar di tubuh NU ini.

Pertama, alasan intelektulitas merupakan kegelisahan para tokoh NU pada tahun 1950-an, yang merasakan sangat sulitnya menemukan orang NU yang mempunyai kadar intelektual matang. Realita ini pernah dikeluhkan KH Wahid Hasyim pada tahun 1953 yang menyatakan bahwa mencari seorang akademisi di dalam NU, ibarat mencari tukang es pada jam 1 malam. Itulah mengapa, pada bulan februari 1954, Konferensi Besar PB Ma’arif menyusun draf khusus yang membahas persoalan masa depan pelajar NU dalam salah satu agenda persidangannya. Inilah yang juga menjadi “pembuka jalan” para pendiri IPNU yang mempunyai inisiatif kuat untuk membentuk organisasi khusus bagi pelajar NU, yang pada puncaknya lahirlah IPNU pada 24 Februari 1954 di Semarang di tengah perhelatan besar Konbes PB LP Ma’arif.

Kedua, alasan responsiblitas merupakan harapan luhur Kiai Tolchah agar para kader-kader IPNU, dalam hal ini kalangan mudanya, apabila telah sukses menjadi akademisi dan sarjanawan, tidak lantas menjadikannya sebagai kasta elit yang hidup terasing ditengah masyarakat. Sehingga, indikasi keberhasilan kader IPNU, jika merujuk pada cita-cita Kiai Tolchah adalah mampu hidup membaur dan melebur dengan segala denyut kehidupan masyarakat, ikut aktif dalam memberikan konstribusi guna memecahkan masalah bersama yang tengah dihadapi oleh masyarakat sekitar.

Dua aras utama inilah, jika diimplementasikan IPNU melalui program-program konkrit yang terukur, terkontrol dan terevaluasi dengan benar, akan melanggengkan posisi IPNU sebagai organisasi pembelajar (learning organization) yang pada akhirnya membentuk tatanan masyarakt pembelajar (learning society).

Harlah: Momentum Refleksi menuju Proyeksi

IPNU, sebagai organisasi yang tidak kedap terhadap gempuran gelombang peradaban yang terus berkembang, tentu memiliki tantangan yang berbeda dari waktu ke waktu. Kelestarian IPNU yang telah sukses menginjakkan kaki sejarahnya selama setengah abad lebih ini, memberikan kita kabar gembira bahwa IPNU mampu eksis di tengah belukar tantangan dan hambatan.

Momentum hari lahir IPNU yang ke 62 tahun ini, menyeret kita untuk merefleksikan diri agar IPNU sebagai garda depan kaderisasi NU tetap konsisten memberikan andilnya dalam pembangunan sumberdaya pelajar yang lebih produktif. Tantangan-tantangan yang seolah telah siap merobohkan eksistensi IPNU, layaknya harus dijawab dengan program kerja yang lebih produktif.

Semakin menjalarnya nilai-nilai radilisme, mengakarnya sifat-sifat materialistic dan hedonis di kalangan pelajar, kian pudarnya moral generasi muda, serta semakin ketatnya daya saing di segala lini kehidupan memberikan sinyalemen bahwa IPNU jika ingin tetap lestari dan tidak tenggelam di telan zaman, harus mampu menyiapkan kader-kadrnya dengan pola kaderisasi yang lebih substansial.

Pendalaman ideologi, revitalisasi identitas dan jati diri bangsa, serta pelatihan-pelatihan untuk mengasah skill individu harus dijadikan sebagai prioritas dan agenda wajib guna membuktikan bahwa IPNU tetap menjadi organisasi yang kecintaannya kepada Ulama, dibuktikan dengan kadar intelektualitas yang tinggi, ideologi yang mumpuni, kuatnya jati diri dan skill yang memadai.

Harapannya, dalam rangka harlah IPNU ke 62 ini, tetap menjaga konsistensinya dalam mengawal pelajar agar kuat dalam memegang ideologi, tanggap terhadap kondisi sosial serta mempunyai kecakapan hidup yang lebih baik. Semoga..!!

*Wakil Ketua II Bidang Kaderisasi PW IPNU Jawa Timur

Sambut Era TV Digital, IPNU Jatim Gelar Diklat Jurnalis TV

10868012_708740599233461_2689622109348336273_nIPNU Jatim, Jombang- Tahun depan, masyarakat Indonesia memasuki era TV digital, dimana semua orang mempunyai beragam pilihan dalam mengakses informasi melalui jaringan televisi. Melihat realita tersebut, maka Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menggelar diklat jurnalis TV pada hari rabu sampai kamis (24-25/12/2014) di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang,

Nampak hadir dalam acara tersebut antara lain, KH Solahudin Wahid (Pengasung Ponpes Tebuireng) Hj. Munjidah Wahab (Wakil Bupati Kab. Jombang) serta H. Nur Hidayat (PWNU Jatim). Dalam sambutannya, Gus Solah (sapaan akrab KH Solahudin Wahid) memaparkan bahwa dunia televisi merupakan media yang paling efektif dalam mensosialisasikan gagasan dan informasi. Namun, adik dari Gus Dur ini juga mewanti-wanti agar tidak menyalahgunakan media ketika menjadi seorang jurnalis televisi. Hal ini setidaknya pernah dialami beliau saat perkataannya dipelintir oleh salah satu media massa.

Acara Diklat Jurnalis TV ini, diselenggarakan atas kerjasama IPNU Jatim dengan BBS TV sebagai tindak lanjut diklat jurnalis dasar yang diselenggarakan sebelumnya. Dalam pelatihan tersebut, IPNU Jatim berhasil mengundang para narasumber antara lain dari; Mustika (Net), M. Amir (Metro TV), Ali Mudrik (BBS TV) dan Muh. Mufit (NetTV)

Pada kesempatan tersebut, juga nampak hadir Idy Muzayyad selaku Wakil Ketua KPI Pusat. Dalam acara itu, pria yang pernah menjadi Ketum PP IPNU 2006-2009 menjadi narasumber tunggal dalam Stadium General yang menjadi rangkaian acara diklat Jurnalis TV tersebut. Dalam pemaparannya, Idy menjelaskan bahwa sebagai seorang yang berpendidikan, para kader IPNU-IPPNU harus mampu mengarahkan keinginannya dalam melihat acara televisi yang lebih edukatif dan positif.

“Para kader NU jangan hanya menjadi penikmat TV, tapi juga harus mampu menjadi pengamat dan pembuat acara TV yang lebih baik” paparnya di Aula Gedung Yusuf Hasyim, Rabu (24/12)

Selain diklat televisi, dalam acara yang diselenggarakan selama dua hari tersebut juga digelar sosialisasi Anugerah IPNU Jatim serta sosialisasi Peraturan CBP hasil Rakernas 2014. Imam Fadlli selaku ketua PW IPNU Jatim menegaskan bahwa, acara yang diselenggarakannya ini dalam rangka mengoptimalkan program kerja secara efisien. Pria asal Paciran, Lamongan tersebut juga menambahkan, bahwa acara ini sengaja dilakukan bersama agar para kader disemua sektor IPNU se-Jatim dapat bersilaturahim sekaligus mengasah kemampuan berorganisasinya secara kolektif. (Eka)

IPNU Jatim Cetak Pelatih Handal di Pulau Garam

DSC06886Madura- Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur terus berkomitmen untuk melahirkan kader-kader militan. Salah satunya dengan melaksanaan Latihan Pelatih (LATPEL) pada tanggal 13 s/d 16 November 2014 kemarin. Pelatihan yang dilaksanakan di pulau Madura ini, merupakan tahap ke-5 dari rangkaian LATPEL yang diselenggarakan IPNU Jatim secara berkala dari beberapa kordinator daerah (korda) di seluruh Jawa Timur. Kali ini, pelatihan dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Abror, Larangan Pamekasan. Tempat ini dipilih karena tepat berada ditengah sehiga tak menyulitkan peserta pelatihan untut turut hadir.

Kegiatan yang mengambil tema “Mengembalikan Ruh Pengkaderan, Sebagai Turbin Perubahan” ini, dihadiri peserta yang berasal dari seluruh kabupaten di pulau madura. Antara lain; Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pelatihan inipun bertambah luarbiasa karena di hadiri oleh Cak Muhith Efendi yang dikenal sebagai pialang pelatih Nasional. Dalam kesempatan itu, Cak Muhith memberikan materi antara lain; falsafah dan prinsip pelatihan, metode dan media pelatihan, psikologi pelatihan, metodologi pelatihan serta tak ketinggalan materi analisis sosial.

Imam fadlli selaku ketua IPNU Jatim mengungkapkan kegembiraannya saat dilokasi, ia merasa bangga karena pelatihan yang menjadi ujung tombak kaderisasi di Jatim ini berjalan dengan lancar dan sukses. “syukur Alhamdulillah, latpel ini sudah mencapai tahap ke-5, kaderisasi ini perlu kita laksanakan terus agar melahirkan pelatih-pelatih handal di seluruh jawa timur tak terkecuali pulau Madura” terangnya.

Pada kesempatan lain, Haikal AZ yang menjadi ketua team pelatih IPNU Jatim menerangkan bahwa, pelatihan ini diselenggarakan guna memenuhi kebutuhan tenaga pelatih dan fasilitator di Madura. Ia mempunyai harapan agar setelah pelatihan ini dilaksanakan, kaderisasi di daerah ini semakin menggeliat dan bergerak untuk eksistensi generasi IPNU di masa depan. Acara yang diselenggarakan di pulau garam ini, memberikan pengalaman yang positif dari peserta pelatihan. Diantaranya yang telah diungkapkanoleh Wasil Abror asal Sumenep, ia mengungkapkan bahwa banyak hal-hal baru yang didapatkan dalam pelatihan kali ini. Ia juga mengharapakan agar peserta alumni pelatihan ini, bisa berkiprah di daerahnya masing-masing. (Ek)

Nuansa Politis Kelahiran IPNU; Sebuah Tinjauan Historis

-W Eka Wahyudi-

Menelisik perjalanan IPNU, tak bisa dilepaskan dari organisasi induknya, yakni Nahdlatul Ulama. Pada bulan November 1943, NU turut membidani lahirnya Masyumi yang merupakan “perserikatan organisasi” dari beberapa ormas islam di Nusantara. Pun juga pada tahun 1949 ketika Masyumi bermetamorfosis menjadi partai politik, NU sangat berperan besar didalamnnya “akibat ajakan” pemerintah yang akan menerapkan pemerintahan demokratis multi-partai. Namun, andil NU yang begitu besar dalam mendirikan Masyumi tak diimbangi dengan keberperananya dalam organisasi tersebut akibat dari termarginalkannya posisi kader NU dalam organisasi tersebut. Buktinya, tidak satupun anggota NU yang menempati jabatan eksekutif sebagai penentu kebijakan strategis organisasi ini. Bahkan, KH Masjkur dan dua orang kader NU lainnya hanya duduk sebagai kepala urusan Hizbullah dan Sabilillah. Posisi para elit NU yang “terpinggirkan” terlihat jelas manakala KH Hasyim Asy’ari menjabat sebagai President Badan Musyawarah (Majlis Syuro) Masyumi, KH Wahid Hasyim sebagai wakil presiden dan KH Wahab Hasbullah sebagai anggota. Padahal, faktanya posisi Majlis Syuro tidak menentukan dalam kepengurusan Masyumi. Puncaknya seteleh dua tahun kepengurusan Masyumi, kedudukan Majlis Syuro diganti –untuk tidak menyebutkan diturunkan- sebagai penasehat yang kedudukan dan kewenangannya tak lagi setara dengan eksekutif. Bahkan, dari 17 anggota ekskutif, hanya dua orang yang mewakili NU.

Melihat kian benderangnya kepengurusan Masyumi yang tak proporsional, berimplikasi munculnya distabilitas internal pengurus. Walhasil, konflik antarfaksipun menyeruak. Puncaknya, terjadi kritik tajam pihak Muhamadiyah yang dilontarkan kepada Kiai Wahid Hasyim mengenai penyelenggaraan transportasi jamaa’ah haji, hingga berakibat Kiai Wahid mengundurkan diri menjadi Menteri Agama.

Merasakan semakin memanasnya antar kubu di internal kepengurusan, maka NU berketetapan untuk keluar dari Masyumi para tanggal 8 April 1952.  Keluarnya NU dari Masyumi tersebut, diperkuat dengan keputusan Muktamar yang diselenggarakan di Palembang kala itu. Beberapa bulan kemudian NU menjelma menjadi partai politik.

Melihat pola ini, banyak yang beranggapan bahwa IPNU yang kelahirannya pada tanggal 24 Februari 1954 merupakan strategi Partai Nahdlatul Ulama (PNU) dalam meraup  suara dari kalangan muda yang dipersiapkan dalam pemenangan pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955. Selesih satu tahun antara kelahiran IPNU dengan pemilu inilah yang bagi sementara kalangan menyebut bahwa IPNU kelahirannya syarat dengan nuansa politis. Asumsi ini semakin kuat, saat IPNU menyelenggarakan Kongres I pada tanggal 28 Februari 1955 di Malang yang dihadiri oleh sejumlah elit politik. Misalnya, kehadiran Ir. Soekarno yang selain sebagai Presiden RI juga menjabat sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), KH. Dahlan ketua Partai Nahdlatul Ulama (PNU) dan Mbah Wahab Hasbullah (Rois Amm PBNU, yang juga memegang peran sentral dalam PNU).

Menguatnya anggapan negatif ini, terdengar kencang sampai ke telinga Tolchah Mansoer (Malang), selaku penggagas berdirinya IPNU bersama rekan-rekannya, antara lain; Abdul Ghani Farida (Semarang), A.Mustahal (Solo) dan Sufyan Kholil (Yogjakarta). Kala itu Kiai Tolchah Melakukan klarifikasi dengan mangatakan:

“Mungkin orang menganggap kita ini berpolitik. Tetapi orang tidak tahu pada bagian apa Nahdlatul Ulama itu jang berpolitik. Dalam hal ini perlulah dimengerti hubungan IPNU adalah dengan Ma’arif (bagian pengadjaran) dan IPNU tidak akan berbitjara dalam hal politik. Itu urusan tanfidziyah Nadlatul Ulama. Ya, IPNU adalah anak Nahdlatul Ulama. Jang harus diketahui: IPNU mempunjai hak atas dirinja sepenuh-penuhnja”

Komitmen keterpelajaran ini, sejak berdirinya sampai sekarang tetap dijadikan “hal pokok” bagi kepengurusan IPNU, terutama pengurus harian. Contoh konkrit dalam hal ini, tatkala pada pemilu 1955 PNU menjadi pemenang tiga besar, salah satu pengurus PWNU Jatim, Rekan Tamjid berhasil masuk menjadi anggota DPRD utusan golongan. Sehingga IPNU member penawaran untuk tetap menjadi anggota IPNU atau menjadi anggota dewan, maka rekan Tamjid ini lebih memilih menjadi pengurus PW IPNU Jatim. Selain itu, pada tahun 2000 s/d 2003, rekan Abdullah Azwar Anas (Ketua Umum PP IPNU, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Banyuwangi) terpilih menjadi Wasekjend PKB pada tahun 2002,  maka secara etika organisasi Rekan Anas mengundurkan diri –untuk tidak menyebut “digulingkan”- dalam posisinya sebagai Ketua Umum PP IPNU kala itu. Serta masih banyak lagi contoh yang lain.

Jadi, bagi para kader ketika menyelenggarakan pelatihan, baik pada jenjeng Makesta, Lakmud, Lakut sampai Latpel ada fasilitator/ narasumber yang menjelaskan bahwa salah satu faktor berdirinya IPNU adalah faktor politik, disamping faktor ideology, sosial dan paedagogi, maka faktor yang disebut pertama di atas tidak benar adanya. Karena secara fakta sejarah, Tolchah Mansoer telah melakukan klarifikasi serta penerapan komitmen keterpelajaran dalam perkembangan perjalannya IPNU selama ini. Selain itu, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui muktamar LP Ma’arif, beberapa bulan kemudian tepatnya pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954 IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa dinamakan segi lima, karena pada saat itu yang turut hadir sebagai kelompok assabiqunal awwalun dari pendirian IPNU adalah dari Jombang, Yogjakarta, Solo,Semarang dan Kediri. Konferensi segi lima ini berhasil melahirkan keputusan yang tak satupun mengandung nilai politis yang antara lain; menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi serta menetapkan tujuan organisasi yakni turut andil dalam meninggikan pendidikan dan ajaran islam, mengokohkan ajaran islam sekaligus mengemban risalah dinniyah (penyebarluasan ajaran) dan yang tak kalah penting adalah menghimpun seluruh potensi kader di seluruh Indonesia yang terhimpun dalam tiga kelompok sasaran, yakni pelajar, santri dan mahasiswa.

Selamatkan IPNU dari racun Politik.

Ranting Grogol : Bangun Silaturahim dengan Bersolawat

Jombang, PASTI Membangun kebersamaan dan kekompakkan merupakan hal penting yang wajib dilakukan dalam sebuah organisasi. Langkah awal pembangunan itu, dapat diawali dengan pembangunan emosional antara anggota serta masyarakat. Merasakan akan pentingnya hal itu, maka IPNU-IPPNU Ranting Grogol Mengawali pembangunan dengan alunan nada cinta Rasul yang tergemakan di kerumunan Warga Desa Grogol Diwek Jombang. Tepatnya kemarin (15/9/14) di Masjid Baiturrohman Grogol Diwek Jombang, para pengururs Ranting IPNU-IPPNU setempat menyelenggarakan kegiatan yang dikemas dengan tajuk Grogol Bersholawat (GBS), tak pelak kegiatan inipun mendapat disambutan baik danantusias warga sekitar yang turut hadir.

Sebanyak 250 orang yang terdiri atas santri TPQ, pengurus Fatayat, pengurus Muslimat dan anggota IPNU-IPPNU Ranting Grogol menyatu padu pada malam perdana penyelenggaraan GBS tersebut.

Acara ini bagus dan perlu dilestarikan, mungkin nanti bisa mengisi kegiatan Tahun Baru Hijriyah”, ungkap Umi (62) selaku pengurus Muslimat Ranting Grogol.

Kegiatan ini, diawali dengan shalat Magrib berjama’ah oleh pengurus IPNU-IPPNU yang setelah itu berlanjut dengan melantunkan sholawat bersama-sama dengan diringi rampak rebana yang kian menjadi semarak acara GBS tersebut. Kegiatan semacam ini oleh para pengurus dinilai mampu merekatkan kebersamaan.

Kegiatan yang di terinspirasi dari konsep Seribu Rebana di Kabupaten Jombang ini, telah diagendakan setiap bulan dengan pola bergilir sesuai dengan dusun setempat yang menjadi kelompoknya. Para pengurus mengharapkan agar acara semacam ini mampu menumbuhkan rasa cinta sholawat bagi para pemuda, memperkuat komunikasi pengurus dan anggota IPNU-IPPNU serta mempererat tali silaturrahim antar pengurus badan otonom NU di lingkungan Ranting Grogol Diwek Jombang.

Semoga acara ini selalu berjalan dengan baik, Istiqomah dan mendapat barakah”, harap Pajriska (23), ketua IPNU Grogol, yang selalu termotivasi dengan sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri NU dan PP. Tebuireng Jombang.

Rangkaian acara GBS pun berakhir dengan adanya Sosialisasi Posyandu Remaja oleh Bidan Desa (Puskesdes) Grogol, Millah, tentang kesehatan Remaja sekaligus permintaan kerja sama antara Puskesdes dengan IPNU-IPPNU Ranting Grogol dalam bidang kesehatan desa. (Fatimah/ek)

IPNU Jatim Cetak Puluhan Jurnalis Santri

LamongDSC05480an, PASTI – kesadaran akan pentingnya pembinaan kader multidisipliner keilmuan, merupakan tonggak penting dalam merawat eksistensi organisasi. Termasuk dalam hal ini adalah membekali kemampuan jurnalistik bagi para kader-kadernya. Pimpinan Wilayah IPNU Jatim baru-baru ini menyelenggarakan diklat jurnalistik bekerjasama dengan KOMPAS yang penyelenggaraannya dipusatkan di Pondok Pesantren.

Pendidikan dan Pelatihan yang bertajuk “Menjadi Jurnalis Muda yang Kreatif dan Inovatif” ini, diselenggarakan selama tiga hari di Pondok Pesatren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan (22-24/8). Dalam pelatihan ini, diikuti oleh 80 lebih pelajar dan santri yang berasal dari beberapa kabupaten di Jawa Timur. Imam Fadli selaku ketua IPNU Jatim yang juga sebagai penanggung jawab acara tersebut menyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya diklat ini tak lain untuk memberikan pengetahuan kejurnalistikan kepada kalangan pelajar, memunculkan kader-kader jurnalis muda yang inovatif, menggali potensi minat dan bakat pelajar di bidang tulis menulis, serta mengembangkan kretafitas pelajar dalam dunia jurnalistik.

Kegiatan diklat ini semakin bonafit karena pembukaan acara ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, yakni KH Abdul Ghofur serta dimentoring langsung oleh team redaksi dan wartawan dari KOMPAS Jakarta, antara lain Ninuk (Wakil Direktur Harian KOMPAS) dan Muhammad Bakir (Wakil Redaktur Pelaksana Harian KOMPAS).

Materi yang diberikan dalam pelatihan inipun sangat beragam, antara lain dasar-dasar jurnalistik (DJ), kode etik jurnalistik, tehnik penulisan dan investigasi berita, penulisan features, penulisan artikel, manajemen keredaksian, tehnik perwajahan / layout, wawancara dan reportase, serta tehnik dasar fotografi.

Kegiatan ini diakhiri dengan perlombaan membuat surat kabar dari Sembilan kelompok yang dibentuk dari peserta serta penyerahan hadiah yang diberikan langsung oleh team KOMPAS kepada pemenang lomba. Pada diklat ini, berhasil membuat sembilan surat kabar yang terlahir dari hasil liputan, design dan fotografi peserta diklat. Antara lain surat kabar Suara Santri, Embun Pagi, D’tik, Kolong, Giri, NU-Santara, Lintang-9 dan Al-Qolam. (ek)

Menanamkan Ideologi Melalui Sekolah Kaderisasi

TSumenep- tepat pada hari sabtu (10/5) PC IPNU-IPPNU Kabupaten Sumenep menyelenggarakan agenda penting yang dikemas dengan sebutan sekolah kaderisasi. Hajatan ini dilaksanakan di Sekretariat DPD KNPI Sumenep dengan tajuk “Menanamkan Ideologisasi, Membangun Militansi dan Mempertegas Karakter Kader”. Maka dari itu, pelatihan ini sengaja dilakukan dalam rangka membekali para kader-kader daerah agar siap menghadapi tantangan zaman yang kian tak terbendung lagi.

Menanamkan ideologi merupakan satu langkah strategis untuk menjadikan organisasi lebih dinamis dalam menghadapi arus zaman yang deras mengalir. Karena hanya dengan kekuatan ideologi itulah, wadah organisasi IPNU-IPPNU ini akan mampu membendung paham melenceng dari haluan Ahlussunah Wal Jamaah” Ujar Rekan Ubaidillah selaku ketua PC IPNU Kab. Sumenep sewaktu pembukaan acara.

Adapun tujuan diselenggarakanya pelatihan ini adalah untuk memperkuat ideologi kader-kader NU dalam rangka membangun militansi sekaligus mencetak kader yang berkarakter. Sehingga, untuk mengoptimalkan kegiatan tersebut, para pengurus PC IPNU-IPPNU Kab. Sumenep ini mengemas sekolah kaderisasi ini layaknya sebuah karantina yang selama lima hari berturut-turut di godog dalam sebuah pelatihan yang ketat (sabtu s/d rabu).

Sementara itu, sebagai bentuk rencana tindak lanjut (follow up) dari sekolah kaderisasi tersebut, PC IPNU-IPPNU Sumenep berhasil menelurkan karya intelektual berupa panduan kaderisasi (modul) untuk pelaksanaan pelatihan pada jenjang Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan Latihan Kader Muda (Lakmud). Modul tersebut rencananya akan dijadikan sebagai panduan tetap IPNU-IPPNU Kab. Sumenep selama 5 tahun ke depan secara lokal. Selain itu, RTL tersebut juga telah membentuk tim kaderisasi yang terdiri dari  15 peserta yang ter-SK. Tim inilah yang nanatinya akan mendampingi/ mengawal proses kaderisasi yang diselenggarakan anak cabang ketika melaksanakan Makesta ataupun Lakmud.

Tim ini wajib turun ke semua PAC ketika ada acara Makesata maupun Lakmud. Semangat yang kami bangun dalam tim ini tak ada lain agar dapat melakukan proses kaderisasi maksimal di seluruh Pimpinan Anak Cabang, baik IPNU maupun IPPNU,” terang Fawaid Assyarif, Wakil Ketua I Bidang Internal PC IPNU Sumenep.     

Ketua PC IPPNU Sumenep, Rukiyah, menambahkan bahwa selain bertujuan untuk memperkuat ideologi, pembentukan tim kaderisasi tersebut sebagai langkah untuk memaksimalkan pendampingan pimpinan cabang ke seluruh PAC yang ada. Sebab, diyakini oleh mantan Sekretaris periode sebelumnya itu, organisasi akan terus berkembang jika proses kaderisasi dilakukan secara matang dan maksimal. “Membentuk tim kaderisasi ini sebetulnya sudah dilakukan pada periode sebelumnya. Tetapi kami menginginkan pimpinan cabang punya tim kaderisasi pada setiap periode. Sehingga, pendampingan pada seluruh PAC semakin maksimal,” jelasnya saat memberikan sambutan pada penutupan sekolah kaderisasi yang bertempat di Asta Tinggi. [Wasil]

  

Segera Terbit Majalah PASTI Edisi 3

10428946_822894051072887_152335793_n

Salam Redaksi

Salam berjuta rekan-rekan sekalian.

Sebentar lagi kita akan akan kedatangan tamu agung, yakni bulan suci ramadlan. Sudah siapkah kita menyambutnya? Sudah yakinkah kita menjalankannya?. Pada edisi kali ini, sengaja tim redaksi akan mengulas sisi unik bulan ramadlan yang akan bermanfaat untuk rekan-rekan di seluruh Jawa Timur. Selain itu, khusus dalam rangka memfasilitasi rekan-rekan kita setelah lulus sekolah SMA/ Aliyah, majalah PASTI edisi ke-3 ini juga menyediakan beberapa artikel untk dijadikan sebagai baham pertimbangan, apakah kita setelah lulus akan kuliah atau kerja, bahkan kita menyediakan prosfil salah satu kampus islami berkualitas di Jawa timur.

Tak ketinggalan beberapa artikel yang memuat pengetahuan dan informasi keterpelajaran kami muat disini sebagai suplemen otak kita agar semakin tahu dunia pendidikan, kesehatan, sastra dan lain sebagainya. Mari terus kita tingkatkan membaca. Karena kemampuan membaca seseorang menentukan kualitas kita di masa depan. Tetap semangat dalam belajar, berjuang dan bertaqwa.

Wassalam,

IPNU Jatim Gelar Do’a Bersama Ujian Nasional

IPNU-2_02042014212136

Surabaya– Rabu (2/4) Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur mengadakan kegiatan yang cukup bergengsi. Kegiatan tersebut bertajuk “Do’a Bersama Sukses Ujian Nasional” yang dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh penjuru Jawa Timur. Dari absensi peserta, terlihat para siswa-siswi yang turut hadir pada acara tersebut antara lain dari Ponorogo, Banyuwangi, Malang, Jombang, Kediri, dsb. Antusiasme para peserta ini tak lain karena mereka membutuhkan ketenangan batin dan kesiapan mental dalam menghadapi ujian Nasional yang dilaksanakan pada bulan ini.

Nampak hadir dalam acara tersebut antara lain; Gus Ipul (Wakil Gubernur Jawa Timur), KH Miftahul Akhyar (Rois Syuriah PWNU Jatim), KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim), Pak Mahfudz Shodar (Ka Kanwil Kemenag Jatim) dan beberapa tokoh lainnya.

Pada sambutannya, Gus Ipul memotivasi para peserta doa bersama dengan mengatakan, “Nek didelok potongane, ketok e sampean kabeh iki bakal lulus Ujian Nasional,” sontak para siswa siswi menyambut dengan semarak tepuk tangan. Wakil gubernur dua periode ini juga berpesan pada para peserta agar tetap memacu semangat dalam belajar dan meneruskan pendidikan yang lebih tinggi.

Imam Fadlli selaku ketua PW IPNU Jatim mengatakan bahwa kegiatan ini sudah menjadi tradisi Pengurus Wilayah dari tahun kemarin. “Acara ini  diselenggarakan bekerjasama dengan Diknas Provinsi Jawa Timur dan beberapa stasiun televis swasta” ujarnya saat dimintai keterangan.

Semarak doa bersama ini, merupakan puncak rangkaian acara harlah IPNU yang diselenggarakan oleh PW IPNU Jatim. Sebelumnya, juga diselenggarakan seminar anti Korupsi untuk pelajar, sosialisasi data base dan Try Out Akbar yang diikuti oleh sekolah-sekolah di banyak kabupaten di Jawa Timur. Sehingga, dalam acara yang di selenggarakan di Masjid Al-Akbar, Surabaya ini, juga diselingi dengan pembagian hadiah piala dan tabungan pendidikan bagi peserta try out yang berhasil memperoleh nilai tertinggi. Pembagian hadiah diserahkan langsung oleh Gus Ipul, Kiai Mutawakkil dan Pak Mahfud Sodar.(Eka)

Polemik UU Keormasan (ternyata) Masih ada

Organisasi Kemasyarakatan sangat berperan besar dalam membentuk tatanan masyarakat yang lebih dewasa dan berperadaban. Sejarah telah merekam, bahwa andil ormas dalam merebut dan mengisi kemerdekaan tak bisa dipungkiri lagi. Kemajuan pendidikan, kebudayaan, ekonomi dan (politik?) juga tak lepas dari peran aktif ormas, namun apa jadinya ketika ormas kini telah diatur pemerintah melalui UU No. 17 Tahun 2013? 

Tidak lama ini,  tanggal (21/5) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan seminar yang dikemas dengan Forum Komunikasi dan Konsultasi bagi Fungsionaris Ormas/ LSM se-Provinsi Jawa Timur. Acara yang diselenggarakan di Hotel Satelit Surabaya ini, mengundang perwakilan ormas diseluruh provinsi yang terletak dipaling timur pulau jawa ini, tak terkecuali PW IPNU Jawa Timur. Dalam hal ini, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama mengutus rekan Imam Maliki selaku bendahara untuk menghadiri acara tersebut.

Dalam acara ini, membahas beberapa isu-isu penting terkait eksistensi UU ke-ormas-an. Dengan moderator Tjahyo Widodo, pertemuan pada hari rabu tersebut diawali dengan pemaparan oleh Malik Ibrahim selaku Ditjen Kesbangpol Kemendagri mengenai sosialisasi Undang-Undang No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Pada kesempatan itu, Ibrahim memaparkan kenapa UU ini perlu di sahkan, antara lain karena peningkatan ormas yang begitu pesat dalam berbagai bentuk, sektor dan aktor serta terjadinya pergesan ormas yang tidak lagi sebagai sukarelawan (voulenter) dan sosial keswadayaan, tapi lebih mengarah pada hal yang lebih bersifat ekonomi dan kepentingan. Sehingga, dengan tidak adanya aturan yang jelas, maka pihak-pihak tertentu bisa saja mengancam keberadaan Negara, termasuk donator asing yang membuat kegiatan intelegen dengan bungkus organisasi kemasyarakatan. Dalam pemaparannya, Ibrahim juga mengakui bahwa keberadaan UU ini belum sepenuhnya disetujui oleh beberapa ormas tua di Indonesia, antara lain NU, Muhammdiyah, Persis, dll.

Seperti diketahui sebelumnya, memang NU “menerima secara kritis” keberadaan UU tersebut. Hal ini terjadi karena NU menganggap bahwa belum ada definisi yang jelas baik secara budaya, sejarah dan fungsinya antara ormas, yayasan, perkumpulan dan LSM. NU juga menegaskan bahwa ormas “harus” berasaskan Pancasila, namun di UU tersebut hanya dituliskan bahwa asas ormas “tidak bertentangan dengan Pancasila”. Selain itu, menurut beberapa pakar, keberadaan UU ini terkesan bahwa pemerintah mencurigai aktifitas ormas yang ada di Indonesia. Tak ayal bahwa keberadaan NU, Muhammadiyah, dll yang notabene lebih tua dari bangsa Indonesia merasa keberatan akan aturan-aturan yang sebenarnya perlu diuji kembali itu.

Selanjutnya, acara yang diselenggarakan oleh Bakaesbangpol Jatim ini, membahas mengenai Kedudukan Yayasan dan Perkumpulan pasca disahkannya UU Ormas oleh Kepala devisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Ninik Hariawati. Beliau lebih menekankan mengenai kedudukannya secara perundang-undangan antara perkumpulan dan yayasan. Beda halnya dengan Dr. Siti Aminah, seorang akademisi Unair, yang pada kesempatan kali ini memaparkan secara kontekstual dan historisitas mengenai Partisipasi Politik Masyarakat dalam Kehidupan Demokrasi. Dosen Unair ini menyadari bahwa dibuatnya aturan ini memang tak lepas dari adanya pelanggaran, hal ini lumrah adanya sebagai sebuah warga Negara yang menganut sistem demokrasi. Dan menurutnya, hal ini sangat baik, mengingat beliau ketika menjadi mahasiswa pernah berurusan dengan KODAM brawijaya karena hanya menuntut kebijakan pemerintahan pada tahun 1992 yang pada saat itu sistem kenegaraan di Indonesia sangat otoriter.

Adapun BINMAS Polda Jatim, pada kesempatan ini diwakili oleh Bpk. Supriadi membahas mengenai Penegakkan Hukum Dalam Perspektif Polri. Beliau mengingatkan kepada seluruh yang hadir pada acara tersebut untuk taat aturan dan menjadikan polisi sebagai mitra kerja, beliau mewanti-wanti jangan sampai berurusan dengan kepolisian, karena urusan yang tadinya mudah, bisa jadi sangat sulit.

Kegiatan yang di inisiasi oleh Bakesbangpol ini memang dalam rangka mensosialisasikan agar UU No. 17 tahun 2013 ini lebih diterima oleh kalangan masyarakat Jawa Timur terutama pelaku ormas/ LSM, mengingat keberadaan di Jatim sudah mencapai 7300 ormas/ LSM. Walaupun pengesahan UU inipun masih menuai pro-kontra, mengingat saat disahkannya oleh persidangan paripurna di DPR melalui voting karena tidak ada kemufakatan pada tanggal 2 Juli 2013 lalu, namun eksistensi UU ini sangat baik agar terjalin lebih erat hubungan pemerintah dan ormas.

disosialisasikannya UU ini tak lain untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap organisasi kemasyarakatan, serta menjalin kemitraan antara pemerintah dengan ormas/ LSM guna menciptakan suasana kondusif di Jawa Timur” terang Kepala Bakesbangpol saat memberi sambutan. (eka)

Risalah Tentang Pentingnya Mengikuti Madzhab Empat Karya Hadlratusysyaikh KH.Hasyim Asy’ari (1287H-1366H)

اِعْلَمْ أَنَّ فِي الْأَخْذِ بِهَذِهِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ مَصْلَحَةً عَظِيْمَةً وَفِي الْإِعْرَاضِ عَنْهَا كُلِّهَا مَفْسَدَةً كَبِيْرَةً
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mengikuti madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) mengandung kemaslahatan yang besar, dan meninggalkan seluruhnya membawa resiko kerusakan yang fatal.
وَنَحْنُ نُبَيِّنُ ذَلِكَ بِوُجُوْهٍ
Kami akan menjelaskan persoalan diatas dari beberapa aspek:
أَحَدُهَا أَنَّ الْأُمَّةَ اِجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَعْتَمِدُوْا عَلَى السَّلَفِ فِيْ مَعْرِفَةِ الشَّرِيْعَةِ
Pertama, bahwa umat Islam telah sepakat bulat untuk mengacu dan menjadikan ulama salaf sebagai pedoman dalam mengetahui, memahami, dan mengamalkan syariat Islam secara benar.
فَالتَّابِعُوْنَ اِعْتَمَدُوْا فِيْ ذَلِكَ عَلَى الصَّحَابَةِ وَتُبَّعُ التَّابِعِيْنَ اِعْتَمَدُوْا عَلَى التَّابِعِيْنَ وَهَكَذَا فِيْ كُلِّ طَبَقَةٍ اِعْتَمَدَ الْعُلَمَاءُ عَلَى مَنْ قَبْلَهُمْ
Dalam hal ini, para tabi’in mengikuit jejak para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu para pengikut tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para tabi’in. Demikianlah seterusnya, pada setiap generasi, para ulama pasti mengacu dan merujuk kepada orang-orang dari generasi sebelumnya.
وَالْعَقْلُ يَدُلُّ عَلَى حُسْنِ ذَلِكَ لِأَنَّ الشَّرِيْعَةَ لَا تُعْرَفُ إِلَّا بِالنَّقْلِ وَالْإِسْتِنْبَاطِ
Akal yang sehat menunjukkan betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang seperti itu. Sebab syariat Islam tidak dapat diketahui kecuali dengan cara naql (mengambill dari generasi sebelumnya) dan istinbath (mengeluarkan dari sumbernya, Al Quran dan al Hadits, melalui ijtihad untuk menetapkan hukum).
وَالنَّقْلُ لَا يَسْتَقِيْمُ إِلَّا بِأَنْ تَأْخُذَ كُلُّ طَبَقَةٍ عَمَّنْ قَبْلَهَا بِالْإِتِّصَالِ
Naql tidak mungkin dilakukan dengan benar kecuali dengan cara setiap generasi mengambil langsung dari generasi sebelumnya secara berkesinambungan.
وَلَا بُدَّ فِي الْإِسْتِنْبَاطِ أَنْ يَعْرِفَ مَذَاهِبَ الْمُتَقَدِّمِيْنَ لِئَلَّا يَخْرُجَ عَنْ أَقْوَالِهِمْ فَيَخْرِقُ الْإِجْمَاعَ وَيَبْنِيْ عَلَيْهَا وَيَسْتَعِيْنُ فِيْ ذَلِكَ بِمَنْ سَبَقَهُ
Sedangkan untuk istinbath, disyaratkan harus mengetahui madzhab-madzhab ulama generasi terdahulu agar tidak menyimpang dari pendapat-pendapat mereka yang bisa
berakibat menyalahi kesepakatan mereka (ijma’). Dan melanjutkan madzhab-madzhab tersebut dengan ditunjang madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya
لِأَنَّ جَمِيْعَ الصِّنَاعَاتِ كَالصَّرْفِ وَالنَّحْوِ وَالطِّبِّ وَالشِّعْرِ وَالْحِدَادَةِ وَالتِّجَارَةِ وَالصِّيَاغَةِ لَمْ تَتَيَسَّرْ لِأَحَدٍ إِلَّا بِمُلَازَمَةِ أَهْلِهَا وَغَيْرُ ذَلِكَ نَادِرٌ بَعِيْدٌ لَمْ يَقَعْ وَإِنْ كَانَ جَائِزًا فِي الْعَقْلِ
Sebab, semua pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki seseorang, misalnya dibidang shorof, nahwu, kedokteran, kesusastraan, pandai besi, perdagangan dan keahlian logam mulia, tidak mungkin begitu saja mudah dipelajari oleh seseorang kecuali dengan terus menerus belajar kepada ahlinya. Diluar cara itu, sungguh sangat langka dan jauh dari kemungkinan, bahkan nyaris tidak pernah terjadi, kendatipun secara akal boleh saja terjadi.
وَإِذَا تَعَيَّنَ الْإِعْتِمَادُ عَلَى أَقَاوِيْلِ السَّلَفِ فَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ أَقْوَالُهُمْ اَلَّتِيْ يُعْتَمَدُ عَلَيْهَا مَرْوِيَّةً بِالْإِسْنَادِ الصَّحِيْحِ أَوْ مُدَوَّنَةً فِيْ كُتُبٍ مَشْهُوْرَةٍ
Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi keniscayaan untuk dijadikan pedoman, maka pendapat-pendapat mereka yang dijadikan pedoman itu haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata-rantai) yang benar dan bisa dipercaya, atau dituliskan dalam kitab-kitab yang masyhur
وَأَنْ تَكُوْنَ مَخْدُوْمَةً بِأَنْ يُبَيَّنَ الرَّاجِحُ مِنْ مُحْتَمَلَاتِهَا وَيُخَصَّصَ عُمُوْمُهَا فِيْ بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَيُقَيَّدَ مُطْلَقُهَا فِيْ بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَيُجْمَعَ الْمُخْتَلَفُ مِنْهَا وَيُبَيَّنَ عِلَلُ أَحْكَامِهَا وَإِلَّا لَمْ يَصِحَّ الْاِعْتِمَادُ عَلَيْهَا
dan telah diolah (dikomentari) dengan menjelaskan pendapat yang unggul dari pendapat lain yang serupa, menyendirikan persoalan yang khusus (takhshish) dari yang umum, membatasi yang muthlaq dalam konteks tertentu, menghimpun dan menjabarkan pendapat yang berbeda dalam persoalan yang masih diperselisihkan serta menjelaskan alasan timbulnya hukum yang demikian. Karena itu, apabila pendapat-pendapat ulama tadi tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan seperti diatas, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan pedoman.
وَلَيْسَ مَذْهَبٌ فِيْ هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ بِهَذِهِ الصِّفَةِ إِلَّا هَذِهِ الْمَذَاهِبُ الْأَرْبَعَةُ اَللَّهُمَّ إِلَّا مَذْهَبَ الْإِمَامِيَّةِ وَالزَّيْدِيَّةِ وَهُمْ أَهْلُ الْبِدْعَةِ لَا يَجُوْزُ الْاِعْتِمَادُ عَلَى أَقَاوِيْلِهِمْ
Tidak ada satu madzhabpun di zaman akhir ini yang memenuhi syarat dan sifat seperti diatas selain madzhab empat ini. Memang ada juga madzhab yang mendekati syarat dan sifat diatas, yaitu madzhab Imamiyah (Syi’ah) dan Zaydiyah (golongan Syi’ah). Namun keduanya adalah golongan ahlu bid’ah, sehingga keduanya tidak boleh dijadikan pegangan.
وَثَانِيْهَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ
وَلَمَّا انْدَرَسَتْ اَلْمَذَاهِبُ الْحِقَّةُ إِلَّا هَذِهِ الْأَرْبَعَةَ كَانَ اتِّبَاعُهَا اِتِّبَاعًا لِلسَّوَادِ الْأَعْظَمِ وَالْخُرُوْجُ عَنْهَا خُرُوْجًا عَنِ السَّوَادِ الْأَعْظَمِ
Kedua, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Ikutilah golongan terbesar (as-Sawad al-A’zham)!”.
Ketika beberapa madzhab yang tergolong benar telah hilang dan yang tersisa hanya tinggal empat madzhab ini, maka nyatalah bahwa mengikuti empat madzhab berarti mengikuti as-Sawad al-A’zham, dan keluar dari sana berarti telah keluar dari as-Sawad al-A’zham.
وَثَالِثُهَا أَنَّ الزَّمَانَ لَمَّا طَالَ وَبَعُدَ الْعَهْدُ وَضُيِّعَتِ الْأَمَانَاتُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْتَمَدَ عَلَى أَقْوَالِ عُلَمَاءِ السُّوْءِ مِنَ الْقُضَاةِ الْجَوَرَةِ وَالْمُفْتِيْنَ التَّابِعِيْنَ لِأَهْوَائِهِمْ حَتَّى يَنْسِبُوْا مَا يَقُوْلُوْنَ إِلَى بَعْضِ مَنْ اِشْتَهَرَ مِنَ السَّلَفِ بِالصِّدْقِ وَالدِّيَانَةِ وَالْأَمَانَةِ إِمَّا صَرِيْحًا أَوْ دَلَالَةً وَحِفْظِ قَوْلِهِ فِيْ ذَلِكَ وَلَا عَلَى قَوْلِ مَنْ لَا نَدْرِيْ هَلْ جَمَعَ شُرُوْطَ الْإِجْتِهَادِ أَوْ لَا
Ketiga, pada saat zaman sudah begitu lama berputar, makin jauh (dari masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam), dan amanat menjadi begitu mudah disia-siakan, maka tidak boleh berpegang pada pendapat-pendapat oknum-oknum ulama yang buruk, baik dari kalangan hakim-hakim yang menyeleweng maupun mufti-mufti yang hanya mengikuti hawa nafsunya, meskipun mereka mengaku bahwa pendapatnya itu sesuai dengan pendapat ulama salaf yang masyhur integritas pribadinya, loyalitas agamanya dan amanah moralnya, baik secara eksplisit maupun secara implisit, serta memelihara pendapatnya secara bertanggung jawab. Kitapun tidak boleh mengikuti pendapat orang yang kita belum mengetahui persis apakah yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan ijtihad atau belum.
فَإِذَا رَأَيْنَا الْعُلَمَاءَ الْمُحَقِّقَيْنَ فِيْ مَذَاهِبِ السَّلَفِ عَسَى أَنْ يَصْدُقُوْا فِيْ تَخْرِيْجَاتِهِمْ عَلَى أَقْوَالِهِمْ وَاسْتِنْبَاطِهِمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَأَمَّا إِذَا لَمْ نَرَ مِنْهُمْ ذَلِكَ فَهَيْهَاتَ
Apabila kita melihat para ulama ahli tahqiq (penelitian) yang menekuni madzhab-madzhab para ulama salaf, maka ada harapan bahwa mereka akan memperoleh kebenaran dalam usahanya merumuskan pendapat dan penggalian ketentuan-ketentuan hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebaliknya, apabila kita tidak melihat hal itu kepada mereka, maka sungguh jauh dari kemungkinan memperoleh kebenaran yang diharapkan.
وَهَذَا الْمَعْنَى الَّذِيْ أَشَارَ إِلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَيْثُ قَالَ يَهْدِمُ الْإِسْلَامَ جِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ حَيْثُ قَالَ مَنْ كَانَ مُتَّبِعًا فَلْيَتَّبِعْ مَنْ مَضَى
Inilah pengertian yang secara tidak langsung ditunjukkan oleh Khalifah ‘Umar bin Khatthab radhiyallaahu ‘anhu melalui perkataannya: “Islam akan hancur akibat kelihaian orang-orang munafik dalam berdebat dengan menggunakan al-Qur’an.”
Dan juga sahabat Ibnu Mas’ud berpesan: “Barangsiapa menjadi pengikut (yang baik) maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya.”
فَمَا ذَهَبَ اِلَيْهِ ابْنُ حَزْمٍ حَيْثُ قَالَ اَلتَّقْلِيْدُ حَرَامٌ إِلَى آخِرِهْ إنَّمَا يَتِمُّ فِيْمَنْ لَهُ ضَرْبٌ مِنَ الْاِجْتِهَادِ وَلَوْ فِيْ مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ
Dengan demikan gagasan yang pernah dilontarkan Ibnu Hazm bahwa taqlid itu hukumnya haram, sesungguhnya hanya ditujukan kepada orang yang memiliki kemampuan berijtihad meskipun hanya dalam satu permasalahan,
وَفِيْمَنْ ظَهَرَ عَلَيْهِ ظُهُوْرًا بَيِّنًا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَذَا وَنَهَى عَنْ كَذَا وَأَنَّهُ لَيْسَ بِمَنْسُوْخٍ إِمَّا بِأَنْ يَتَتَبَّعَ الْأَحَادِيْثَ وَأَقْوَالَ الْمُخَالِفِ وَالْمُوَافِقِ فِي الْمَسْأَلَةِ فَلَا يَجِدُ لَهَا نَسْخًا
serta buat orang yang konkrit meyakini bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ini atau melarang itu, sedang perintah atau larangan itu belum dihapuskan.
Keyakinan mungkin dapat diperoleh dengan meneliti banyak Hadits dan pendapat para ulama yang menentang maupun yang setuju, lalu jelas bahwa ketentuannya belum terhapuskan
أَوْ بِأَنْ يَرَى جَمًّا غَفِيْرًا مِنَ الْمُتَبَحِّرِيْنَ فِي الْعِلْمِ يَذْهَبُوْنَ إِلَيْهِ وَيَرَى الْمُخَالِفَ لَهُ لَا يَحْتَجُّ اِلَّا بِقِيَاسٍ أَوْ اِسْتِنْبَاطٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
Atau mungkin dengan melihat mayoritas terbesar dari golongan ulama yang mendalami ilmunya ternyata sependapat dalam ketentuan tersebut, sementara golongan yang menentangnya tidak mampu mengajukan dalil kecuali hanya berupa qiyas atau istinbath atau yang sejenisnya (bukan berupa dalil nash).
فَحِيْنَئِذٍ لَا سَبَبَ لِمُخَالَفَةِ حَدِيْثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا نِفَاقٌ خَفِيٌّ
أَوْ حُمْقٌ جَلِيٌّ
Jika demikian maka tidak ada dalih untuk menyalahi Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam selain kemunafikan yang terselubung atau kebodohan yang nyata.
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ لِلْمُكَلَّفِ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِ الْمُطْلَقِ مِنْ اِلْتِزَامِ التَّقْلِيْدِ لِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَذَاهِبِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَلَا يَجُوْزُ لَهُ الْاِسْتِدْلَالُ بِالْآيَاتِ وَالْأَحَادِيْثِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنَ مِنْهُمْ
Dan ketahuilah, bahwa setiap orang yang sudah mukallaf (aqil baligh) yang tidak mampu
berijtihad secara mutlak, harus mengikuti salah satu dari empat madzhab dan tidak boleh baginya untuk ber-istidlal (mengambil dalil secara langsung) dari al-Qur’an atau Hadits.
Ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala (yang artinya kurang lebih): “Dan seandainya menyerahkan (urusan itu) kepada Rasul dan ulil amri (yang menguasai pada bidangnya) diantara mereka, niscayalah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).”.
وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنَهُ هُمُ الَّذِيْنَ تَأَهَّلُوْا لِلْاِجْتِهَادِ دُوْنَ غَيْرِهِمْ كَمَا هُوَ مَبْسُوْطٌ فِيْ مَحَلِّهِ
Dan telah dimaklumi, bahwa mereka yang dapat ber-istinbath (mengambil dalil langsung dari al-Qur’an dan Hadits) adalah orang-orang yang telah memiliki cukup keahlian dan kemampuan berijtihad, bukan orang lain, sebagaimana keterangan yang diuraikan dalam bab ijtihad di berbagai kitab.
أَمَّا الْمُجْتَهِدُ فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّقْلِيْدُ فِيْمَا هُوَ مُجْتَهِدٌ فِيْهِ لِتَمَكُّنِهِ مِنَ الْاِجْتِهَادِ الَّذِيْ هُوَ أَصْلُ التَّقْلِيْدِ لَكِنِ الْمُجْتَهِدُ الْمُسْتَقِلُّ بِوُجُوْدِ الشَّرَائِطِ الَّتِيْ ذَكَرَهَا الْأَصْحَابُ فِيْ أَوَائِلِ الْقَضَاءِ مَفْقُوْدٌ مِنْ نَحْوِ سِتِّمِائَةِ سَنَةٍ كَمَا قَالَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Adapun orang yang dapat menyandang status mujtahid, maka haram baginya untuk bertaqlid dalam persoalan yang ia sendiri mampu berijtihad, karena kemampuannya berijtihad justru menjadi acuan bagi mereka yang taqlid.
Namun demikian, mujtahid mustaqill (mujtahid yang mampu menggali hukum langsung dari sumbernya, al-Qur’an dan Hadits) dengan memenuhi segala persyaratnnya sebagimana yang telah dijelaskan oleh para pengikutnya dalam permulaan bab qodlo’, ternyata sudah tidak ditemukan lagi sejak kira-kira enam ratus tahun yang silam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Shalah rahimahullaau ta’ala
حَتَّى قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنَّ النَّاسَ لَا إِثْمَ عَلَيْهِمْ اَلْآنَ بِتَعْطِيْلِ هَذَا الْفَرْضِ أَيْ بُلُوْغِ دَرَجَةِ الْاِجْتِهَادِ الْمُطْلَقِ لِأَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ بُلَدَاءُ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهَا وَفَرْضُ الْكِفَايَةِ فِيْ طَلَبِ الْعُلُوْمِ لَا يُتَوَجَّهُ إِلَى الْبَلِيْدِ
Bahkan tidak sekedar satu orang yang menyatakan manusia sekarang tidak berdosa seandainya meninggalkan kewajiban berijtihad ini, karena manusia zaman sekarang ini terlalu bodoh untuk mencapai derajat ijtihad. Padahal fardlu kifayah dalam hal mencari ilmu tidak mungkin ditujukan kepada orang-orang yang bodoh.
وَلَيْسَتِ الْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مُنْحَصِرَةٌ فِي الْأَرْبَعَةِ بَلْ لِجَمَاعَةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَذَاهِبُ مَتْبُوْعَةٌ أَيْضًا كَالسُّفْيَانَيْنِ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ وَدَاوُدَ اَلظَّاهِرِيِّ وَالْأَوْزَاعِيِّ
Sebenarnya madzhab-madzhab yang boleh diikuti tidak hanya terbatas hanya kepada empat madzhab saja, bahkan ada golongan ulama dari madzhab yang bisa diikuti, seperti madzhab Sufyan Tsawri dan Sufyan bin ‘Uyaynah, Ishaq bin Rahawayh, madzhab Dawud ad-Zhahiri dan madzhab al-Awza’i.
وَمَعَ ذَلِكَ فَقَدْ صَرَّحَ جَمْعٌ مِنْ أَصْحَابِنَا بِأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ ، وَعَلَّلُوْا ذَلِكَ بِعَدَمِ الثِّقَةِ بِنِسْبَتِهَا إِلَى أَرْبَابِهَا لِعَدَمِ الْأَسَانِيْدِ الْمَانِعَةِ مِنَ التَّحْرِيْفِ وَالتَبْدِيْلِ
Meskipun demikian para ulama pengikut madzhab Syafi’i menjelaskan bahwa mengikuti selain empat madzhab adalah tidak boleh, karena tidak ada jaminan kebenaran atas hubungan madzhab itu dengan para imam yang bersangkutan, sebab tidak adanya sanad (mata-rantai) yang dapat menjamin daari beberapa kekeliruan dan perubahan
بِخِلَافِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ فَإِنَّ أَئِمَّتَهَا بَذَلُوْا أَنْفُسَهُمْ فِيْ تَحْرِيْرِ الْأَقْوَالِ وَبَيَانِ مَا ثَبَتَ عَنْ قَائِلِهِ وَمَالَمْ يَثْبُتْ فَأَمِنَ أَهْلُهَا مِنْ كُلِّ تَغْيِيْرٍ وَتَحْرِيْفٍ وَعَلِمُوا الصَّحِيْحَ مِنَ الضَّعِيْفِ ،
Berbeda dengan madzhab empat, karena para pemimpinnya telah mencurahkan jerih payahnya dalam mengkodifikasi (menghimpun) pendapat-pendapat serta menjelaskan hal-hal yang telah ditetapkan atau yang tidak ditetapkan oleh pendiri madzhab. Dengan begitu, maka para pengikutnya menjadi aman dari segala perubahan dan kekeliruan, serta bisa mengetahui mana pendapat yang benar dan yang lemah.
وَلِذَا قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ فِي الْإِمَامِ زَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ إِنَّهُ إِمَامٌ جَلِيْلُ الْقَدْرِ عَالِي الذِّكْرِ وَ إِنَّمَا ارْتَفَعَتْ اَلثِّقَةُ بِمَذْهَبِهِ لِعَدَمِ اعْتِنَاءِ أَصْحَابِهِ بِالْأَسَانِيْدِ فَلَمْ يُؤْمَنْ عَلَى مَذْهَبِهِ التَّحْرِيْفُ وَالتَّبْدِيْلُ وَنِسْبَةُ مَالَمْ يَقُلْهُ إِلَيْهِ ، فَالْمَذَاهِبُ الْأَرْبَعَةُ هِيَ الْمَشْهُوْرَةُ الْآنَ الْمُتَّبَعَةُ ، وَقَدْ صَارَ إِمَامُ كُلٍّ مِنْهُمْ لِطَائِفَةٍ مِنْ طَوَائِفِ الْإِسْلَامِ عَرِيْفًا بِحَيْثُ لَا يَحْتَاجُ السَّائِلُ عَنْ ذَلِكَ تَعْرِيْفًا
Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang memberi komentar terhadap Imam Zayd bin ‘Ali. Beliau adalah seorang imam yang agung kedudukannya dan tinggi reputasinya, akan tetapi kepercayaan terhadap madzhabnya menjadi hilang karena para murid-muridnya kurang dalam memberikan perhatian pada pentingnya sanad yang menjamin kesinambungan suatu madzhab.
فَالْمَذَاهِبُ الْأَرْبَعَةُ هِيَ الْمَشْهُوْرَةُ الْآنَ الْمُتَّبَعَةُ ، وَقَدْ صَارَ إِمَامُ كُلٍّ مِنْهُمْ لِطَائِفَةٍ مِنْ طَوَائِفِ الْإِسْلَامٍ عَرِيْفًا بِحَيْثُ لَا يَحْتَاجُ السَّائِلُ عَنْ ذَلِكَ تَعْرِيْفًا

Maka madzhab empat inilah madzhab yang sekarang masyhur dan diikuti. Para imam dari masing-masing empat madzhab ini begitu dikenal, sehingga orang yang bertanya tidak perlu lagi diberikan pengenalan kepada mereka, karena begitu nama mereka disebut, dengan sendirinya orang bertanya pasti mengenalnya.

Mbah Sahal: Maestro Fiqh Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

MSOleh:

W Eka Wahyudi*

Tepat tanggal (24/1/2014) kaum muslimin, khususnya warga NU tengah dirundung duka atas wafatnya ulama besar KH Sahal Mahfudz. Doa yang lantas menyambut wafatnya ulama besar ini, berkumandang seantero nusantara dengan berbagai macam kemasan acara, mulai dari tahlil, istigotsah sampai mauidzoh hasanah ini, dilakukan demi mengenang sekaligus melepas kepergian kiai kharismatik yang menempati posisi tertinggi di jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama, yakni sebagai Rais Amm PBNU. Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana nan bersahaja, sehingga tak sedikit orang terkecoh dengan penampilan luarnya yang begitu apa adanya. Kiai yang juga mengasuh pondok pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati Jawa Tengah ini mempunyai nama lengkap Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini. Beliau  lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.

Selain itu, Mbah Sahal juga diketahui mempunyai hubungan dengan darah biru dari trah pendiri NU, hal ini bisa dilihat dari pernikahannya dengan nyai Nafisah. Ibu kandung Nyai Nafisah merupakan adik kandung dari Ibu Gus Dur (Nyai Solihah). Adapun Kiai Mahfudh, -ayah kandung dari mbah Sahal- adalah sepupu Kiai Bisri Syamsuri, kakek Gus Dur. Mbah Bisri (KH Bisri Syamsuri) menikah dengan Nyai Chodidjah -adik pendiri NU KH Wahab Hasbullah- yang kelak melahirkan enam anak. Yaitu Ahmad Bisri, Muassomah (nenek Menakertrans Muhaimin Iskandar), Solihah (ibu kandung Gus Dur), Musyarofah (ibu kandung Nafisah,istri mbah Sahal), Abdul Aziz Bisri dan Sohib Bisri.

Sang Maestro Fiqh Sosial

Karena kecerdasan dan keahliannya di bidang Ushul Fiqh, mbah Sahal lebih dikenal sebagai ulama yang getol menyuarakan fiqh bernuansa sosial sesuai dengan kondisi islam Indonesia. Bagi mbah Sahal, fiqh merupakan produk hukum islam yang bersifat fleksibel, sesuai dengan konteks zamannya. Pola transformasi dari qoul madzhab (tekstual) kepada manhaji (metodologis) pada upaya aktualisasi fiqh sangat ditekankan bagi Mbah sahal. Cara manhaji yang disebut terakhir ini lebih menekankan aspek maslahat dalam bidang aplikasi hukum Islam kekinian. Teori maslahat, yang jauh sebelumnya sunter disuarakan oleh ulama pendahulu, yakni Imam Syatibi dan Najmudin At-Thufi menjadi perhatian tersendiri bagi Mbah sahal dalam mengaplikasikan hukum islam (baca: fiqh) yang relevan  bagi Umat Islam Indonesia. Sebagai bukti atas kuatnya komitmen Mbah Sahal akan pentingnya Fiqh Sosial, beliau menuangkannya pemikirannya itu melalui beberapa tulisan yang kini bisa kita nikmati keberadaaanya, diantaranya adalah buku Nusansa Fiqh Sosial, Wajah Baru Fiqh Pesantren, Telaah Fiqh Sosial, Pesantren Mencari Makna, Dialog Dengan Mbah sahal, Dialog Problematika Umat dan sebagainya

Karya tulis Mbah Sahal yang berjudul “Dialog Problematika Umat” yang diterbitkan LTN PBNU dan beberapa karya tulis lainya memberikan sinyalemen nyata bahwa konstruk nalar fiqh mbah Sahal sangat memperhatikan kemaslahatan sosial (maslahah ‘amm) bagi keberlangsungan beribadah kaum muslimin tanah air, terutama kalangan islam tradisional. Gagasan mbah Sahal tentang fiqh sosial ini, juga berhasil memecah kebekuan kalangan pesantren yang bagi sebagian orang “dituduh” sebagai sarang kejumudan dan kemunduran gairah intelektual islam. Kemampuan berijtihad Mbah Sahal ini, hemat penulis, diperolehnya melalui pengalamannya selama menjadi santri  kelana yang “hobi” berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya guna mencari kekayaan keilmuan islam dari berbagai sumber yang variatif. Intensifitas dialektika intelektual dengan para kiai di Pare Kediri dan Kiai Bisri Syamsuri di Jombang, mampu memberikan modal dasar yang kelak dibutuhkan dalam memecahkan problematika keummatan kontemporer, yang belakangan digaungkan mbah Sahal melalui fiqh sosialnya. Jika Gus Dur dikenal dengan Bapak Pluralisme, maka tak berlebihan jika Mbah Sahal kita perkenalkan sebagi bapak Fiqh Sosial.

Pemberdayaan Masyarakat berbasis Fiqh

Gagasan Mbah Sahal tentang Fiqh Sosial lebih banyak dilatarbelaknangi karena melihat kondosi sosial yang jauh dari realisasi fiqh sesuai konteks zamannya, realitas semacam ini menimbulkan kegelisahan sekaligus  tantangan tersendiri dalam mengkontektualisikan produk hukum islam dalam dinamika kehidupan dan kebutuhan ummat islam dewasa ini. Dari sini kemudian muncul usaha-usaha beliau dalam memperdayakan masyarakat melalui gerakan fiqh-isasi kehidupan umat islam.

 

Pertama, dibidang zakat Mbah sahal bukan sekedar menganjurkan zakat sebagai tanggungjawab agama, namun juga sebagai tanggungjawab sosial. Karena didalam makna zakat terkandung spirit pemberdayaan bagi fakir miskin yang sedang merasakan kesusahan hidup. sehingga, zakat menurut Mbah Sahal menjadi jembatan penghubung “bridges/ wasilah” agar kaum miskin diberbagai pelosok desa dapat terentaskan kesulitan hidupnya, bahkan entitas zakat -menurutnya- mampu menjadi penopang utama perekonomian nasional. Melihat celah inilah, Mbah sahal kemudian berinisiatif mendirikan BPPM (Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat). Kemudian dari eksistensi BPPM inilah mbah  Sahal juga membentuk semacam NGO (non Govermental Organization) yang dikemas dalam wadah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang diafiliasikan dengan pemerintah dan lembaga swasta. Selain itu dalam bidang peningkatan kesehatan masyarakat, mbah Sahal membangun sebuah rumah sakit Islam dan BPR Artha Huda Abadi yang melayani simpan pinjam bagi masyarakat kecil. Program-program seperti inilah yang secara konkrit direalisasikan Mbah sahal sebagai wujud komitmennya dalam mengusung gagasan fiqh sosial ditengah kondisi riil masyarakat.

 

Kedua, Fiqh sosial yang digagas oleh Mbah Sahal juga termanifestasikan melalui pelestarian lingkungan. Beliau juga menggagas konsep hukum islam yang memperhatikan secara khusus mengenai kondisi lingkungan sekitar yang diistilahkannya dengan fiqh al-biah (fiqh lingkungan) yang belakangan mampu memberikan injeksi spirit pesantren dalam mengkampanyekan penyelamatan bumi dan lingkungan. Ide cemerlang mbah Sahal ini sekaligus mendobrak stigma bahwa teks fiqh (dalam kitab kuning) belum dibenturkan secara optimal dengan berbagai problem sosial lingkungan, seperti tanah longsor, tsunami, banjir, gempa bumi, dan yang sedang sunter digaungkan yaitu  pemasanan global (global warming). Isu-isu sensitif ini, dicarikan alternative solusinya melalui usaha strategis mbah Sahal dalam formulasi pemikiran nalar fiqh-nya, sehingga perjuangan beliau secara otomatis mampu menganulir bahwa para ulama tidak boleh kikuk dalam menjawab krisis sosial dan lingkungan yang terus menggelayut pada kehidupan masyarakat. Selamat jalan Mbah Sahal, jasamu takkan pernah kami lupakan.

* Sekretaris II Bidang Kaderisasi PW IPNU Jawa Timur

Fajrul Falakh : Putra Tolchah Mansoer Meninggal Dunia

JAKARTA- InFFnalillahi wa inna ilaihi rojiun. Indonesia kembali kehilangan tokoh bangsanya. Mantan anggota Komisi Hukum Nasional yang juga pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Fajrul Falaakh telah meninggal dunia pada hari rabu tepatnya tanggal  12 Pebruari kemarin.

Awalnya berita meninggalnya Fajrul Falaakh berasal dari pesan berantai di Blackberry yang diterima ROL pada Rabu (12/2) siang. Pesan tersebut mengklaim dikirim dari Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuzi yang merupakan adik dari Fajrul.

Dalam pesan tersebut, Fajrul disebutkan meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita. Jenazah akan disemayamkan di Jalan Dato Tonggara Nomor 8, Kramat Jati, Jakarta Timur. Informasi ini pun dikonfirmasikan oleh salah satu aktivis anti korupsi, Erwin Natosmal Oemar.

“Benar, di RS Harapan Kita tadi siang pukul 13.00 WIB,” kata Erwin kepada ROL, Rabu (12/2).

Fajrul Falaakh merupakan tokoh NU yang juga pakar hukum tata negara dari Universitas Gajah Mada (UGM). Fajrul adalah putra tokoh NU yang juga dosen Fakultas Hukum UGM, KH Dr Tolchah Mansoer SH (alm).

Ibunya juga aktivis, salah satu pendiri Fatayat NU, pernah menjabat Ketua DPW PPP DIY dan pernah menjadi anggota DPR RI, yaitu Dra Hj Umroh Machfudzoh. Adiknya, Romahurmuzi, saat ini menjabat Sekjen DPP PPP. Selain menjadi dosen di Fakultas Hukum UGM, Fajrul pernah menjadi anggota Komisi Hukum Nasional (KHN).

Bagaimana Menjadi Komunikator Yang Baik?

 Kemampuan Komunikasi Yang Efektif

komunikasi1

1. Berikan kesan bahwa anda antusias berbicara dengan mereka – Beri mereka kesan bahwa anda lebih suka berbicara dengan mereka daripada orang lain di muka bumi ini. Ketika anda memberi mereka kesan bahwa anda sangat antusias berbicara dengan mereka dan bahwa anda peduli kepada mereka, anda membuat perasaan mereka lebih positif dan percaya diri. Mereka akan lebih terbuka kepada anda dan sangat mungkin memiliki percakapan yang mendalam dengan anda.

2. Ajukan pertanyaan tentang minat mereka – Ajukan pertanyaan terbuka yang akan membuat mereka berbicara tentang minat dan kehidupan mereka. Galilah sedetail mungkin sehingga akan membantu mereka memperoleh perspektif baru tentang diri mereka sendiri dan tujuan hidup mereka.

3. Beradaptasi dengan bahasa tubuh dan perasaan mereka – Rasakan bagaimana perasaan mereka pada saat ini dengan mengamati bahasa tubuh dan nada suara. Dari sudut pandang ini, anda dapat menyesuaikan kata-kata, bahasa tubuh, dan nada suara anda sehingga mereka akan merespon lebih positif.

4. Tunjukkan rasa persetujuan: Katakan kepada mereka apa yang anda kagumi tentang mereka dan mengapa – Salah satu cara terbaik untuk segera berhubungan dengan orang adalah dengan menjadi jujur dan memberitahu mereka mengapa anda menyukai atau mengagumi mereka. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat, cobalah dengan pernyataan tidak langsung. Kedua pendekatan tersebut bisa sama-sama efektif.

5. Dengarkan dengan penuh perhatian semua yang mereka katakan – Jangan terlalu berfokus pada apa yang akan Anda katakan selanjutnya selagi mereka berbicara. Sebaliknya, dengarkan setiap kata yang mereka katakan dan responlah serelevan mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan dan anda sepenuhnya terlibat di dalam suasana bersama dengan mereka. Juga pastikan untuk bertanya setiap kali ada sesuatu yang tidak mengerti pada hal-hal yang mereka katakan. Anda tentu saja ingin menghindari semua penyimpangan yang mungkin terjadi dalam komunikasi jika anda ingin mengembangkan hubungan yang sepenuhnya dengan orang tersebut.

6. Beri mereka kontak mata yang lama – kontak mata yang kuat mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa anda tidak hanya terpikat oleh mereka dan apa yang mereka katakan tetapi juga menunjukkan bahwa anda dapat dipercaya. Ketika dilakukan dengan tidak berlebihan, mereka juga akan menganggap anda yakin pada diri anda sendiri karena kesediaan anda untuk bertemu mereka secara langsung. Akibatnya, orang secara alami akan lebih memperhatikan anda dan apa yang anda katakan.

7. Ungkapkan diri anda sebanyak mungkin – Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan seseorang adalahdengan mengungkapkan diri seterbuka mungkin. Bercerita tentang kejadian yang menarik dari hidup anda atau hanya menggambarkan contoh lucu dari kehidupan normal sehari-hari. Ketika anda bercerita tentang diri anda, pastikan untuk tidak menyebutkan hal-hal yang menyimpang terlalu jauh dari minat mereka atau bahkan berlebihan. Anda dapat membiarkan mereka mengetahui lebih jauh tentang diri anda seiring berjalannya waktu.

8. Berikan kesan bahwa anda berdua berada di tim yang sama – Gunakan kata-kata seperti “kami, kita ” untuk segera membangun sebuah ikatan. Bila anda menggunakan kata-kata tersebut, anda membuatnya tampak seperti anda dan mereka berada di tim yang sama, sementara orang lain berada di tim yang berbeda.

9. Berikan mereka senyuman terbaik anda – Ketika anda tersenyum pada orang, anda menyampaikan pesan bahwa anda menyukai mereka dan kehadiran mereka membawa andakebahagiaan. Tersenyum pada mereka akan menyebabkan mereka sadar ingin tersenyum kembali pada anda yang secara langsung akan membangun hubungan antara anda berdua.

10. Menawarkan saran yang bermanfaat – Kenalkan tempat makan yang pernah anda kunjungi, film yang anda tonton, orang-orang baik yang mereka ingin temui, buku yang anda baca, peluang karir atau apa pun yang terpikirkan oleh anda. Jelaskan apa yang menarik dari orang-orang, tempat atau hal-hal tersebut. Jika anda memberi ide yang cukup menarik perhatian mereka, mereka akan mencari anda ketika mereka memerlukan seseorang untuk membantu membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

11. Beri mereka motivasi – Jika orang yang anda hadapi lebih muda atau dalam posisi yang lebih sulit dari anda, mereka mungkin ingin mendengar beberapa kata motivasi dari anda karena anda lebih berpengalaman atau anda tampaknya menjalani kehidupan dengan baik . Jika anda ingin memiliki hubungan yang sehat dengan orang tersebut, anda tentu saja tidak ingin tampak seperti anda memiliki semuanya sementara mereka tidak. Yakinkan mereka bahwa mereka dapat melampaui masalah dan keterbatasan mereka, sehingga mereka akan berharap menjadikan anda sebagai teman yang enak untuk diajak bicara.

12. Tampil dengan tingkat energi yang sedikit lebih tinggi dibanding orang lain – Umumnya, orang ingin berada di sekitar orang-orang yang akan mengangkat mereka, bukannya membawa mereka ke bawah. Jika anda secara konsisten memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orang lain, mereka secara alami akan menjauh dari Anda menuju seseorang yang lebih energik. Untuk mencegah hal ini terjadi, secara konsisten tunjukkan dengan suara dan bahasa tubuh anda bahwa anda memiliki tingkat energi yang sedikit lebih tinggi sehingga mereka akan merasa lebih bersemangat dan positif berada di sekitar Anda. Namun jangan juga anda terlalu berlebihan berenergik sehingga menyebabkan orang-orang tampak seperti tidak berdaya. Energi dan gairah yang tepat akan membangun antusiasme mereka.

13. Sebut nama mereka dengan cara yang menyenangkan telinga mereka – nama seseorang adalah salah satu kata yang memiliki emosional yang sangat kuat bagi mereka. Tapi hal itu belum tentu seberapa sering anda katakan nama seseorang, namun lebih pada bagaimana anda mengatakannya. Hal Ini dapat terbantu dengan cara anda berlatih mengatakan nama seseorang untuk satu atau dua menit sampai anda merasakan adanya emosional yang kuat. Ketika anda menyebutkan nama mereka lebih menyentuh dibanding orang lain yang mereka kenal, mereka akan menemukan bahwa anda lah yang paling berkesan.

 

14. Tawarkan untuk menjalani hubungan selangkah lebih maju – Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk memajukan persahabatan anda dengan seseorang: tawaran untuk makan dengan mereka, berbicara sambil minum kopi, melihat pertandingan olahraga, dll. Meskipun jika orang tersebut tidak menerima tawaran anda, mereka akan tetap tersanjung bahwa anda ingin mereka menjalani persahabatan ke tingkat yang lebih dalam. Di satu sisi, mereka akan memandang anda karena anda memiliki keberanian untuk membangun persahabatan bukan mengharapkan persahabatan yang instan.

Menjadi Seorang Komunikator yang Terampil

Jika anda dapat mengembangkan beberapa saja dari teknik ini, anda secara dramatis akan meningkatkan kemampuan anda untuk berhubungan dengan orang dari semua lapisan dalam hidup anda. Luangkan waktu untuk mengamati orang yang paling sosial dalam kehidupan anda dan anda akan melihat banyak dari metode-metode diatas yang diaplikasikan. Mereka tidak melakukan dengan cara yang kaku, mereka melakukannya secara alami dan dengan cara yang cocok dengan situasi saat itu.

Untuk hasil terbaik, santai saja dan biarkan teknik ini mengalir dari dalam diri anda secara alami. Pilih teknik-teknik yang paling cocok dengan kepribadian anda dan apa tujuan anda ketika berinteraksi dengan orang. Belajarlah untuk bisa merasakan teknik mana yang cocok ataupun tidak cocok dengan berbagai macam karakter orang dan situasi sesuai dengan kepridadian anda.

 

Ngobrol Masalah Cinta Yuk!!

bagusnyaBy : W Eka Wahyudi

Eh, rekan-rekanita yang lagi galau. Di dunia remaja, kata cinta seperti nafas yang selalu berhembus. Keberadaannya sangat akrab sekaligus membingungkan bagi kita. Kadang menyenangkan, namun seringkali juga dapat menyedihkan. Agar rekan-rekan tak salah dalam mengartikan cinta, yuk simak tulisan berikut ini.

  1. Cinta Murni
  2. Cinta Romantis

Kedua jenis cinta ini ada karakteristik atau ciri-ciri tersendiri lho. OK langsung saja.

  1.        Cinta Murni

Karakter/ ciri paling sederhana dari cinta ini adalah, mengatakan pada masing-masing pasangannya jika “Aku cinta padamu WALAU,,,,,,,,” ini adalah sebuah ungkapan komitmen yang mendalam tentang cinta yang direalisasikan dari perasaan setiap insan untuk menerima pasangan apa adanya, bukan ada apanya. Dan, cinta inilah yang hanya dimiliki oleh seorang Ibu kepada anaknya. Selain itu? no comment dech,,hehehe

2.       Cinta Romantis

Karakter paling gampang untuk cinta ini adalah jika pasangan anda mencintai anda dengan mengatakan “Aku cinta padamu KARENA,,,,,,”. Kalu sudah kata2 ini yang diucapkan, maka cinta yang terjalin tidak lain adalah berdasarkan tendensi atau kepentingan2 sesaat. Biasanya untuk senang2 aja, sering keluar bareng hanya untuk bersenang2. Tapi setelah bosen biasanya langsung dech buyar. Walau permasalahannya tidak sesederhana ini, tapi cinta jenis ini adalah cinta yang punya maksud terselubung atau bahasa gaulnya, penuh dengan modus,,,hehehe

Oh iya, dari masing-masing jenis cinta itu ada ciri2 yang setidaknya bisa kita jadikan pedoman.

  1. Cinta murni :1. Memandang dan menjalani cinta sebagai komitmen
    1. Menikmati kebebasan dalam tapal batas
    2. Berjangka panjang
    3. Tahu dan sadar bahwa cintanya belum matang, makanya selalu berusaha memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan.
    4. Aku cinta padamu WALAU/MESKIPUN,,,,,,,

2.Cinta romantis :

1. Perasaan ini mendorong para pecinta untuk memproyeksikan hasrat/kehendak meraka yang terpadu pada orang yang dicintai (artinya: menyalurkan hasrat dalam hatinya untuk pemuasaan nafsu perasaan)

2. Karena perasaan2 berfluktuasi dan proyeksi2 tidak bisa diprediksi, cinta ini hampir selalu berjangka pendek.

3. Aku cinta padamu KARENA,,,,,,,

5 RUKUN CINTA

Seperti halnya agama –karena cinta adalah anugerah fitrah dari Allah swt kepada manusia- maka cinta itu menjadi bathal jika tidak memenuhi rukun2 dibawah ini.

  1. Siap menerima
  2. Siap memperhatikan (perhatian)
  3. Siap menghargai
  4. Siap mendukung
  5. Siap memberi peluang untuk berkembang

Bagaimanakah dengan Sayang? Berkenaan dengan rasa SAYANG, merupakan bagian/ pintu masuk dari apa yang kita namakan CINTA, maka dari itu jika kita berkomitmen mencintai pasangan, maka mau tidak mau harus menyayanginya,,,dalam bentuk apa???ya kelima rukun cinta itulah intepretasi dan penerapan rasa SAYANG anda pada pasangan anda. Masih bingung ya??hehe

Saya ibaratkan gini, Cinta adalah Aku dan Sayang adalah angggota aku. Ini tanganku tapi tanganku bukan aku, ini topiku tapi topiku bukan aku,  ini rambutku tapi rambutku bukan aku. Jadi cinta itu lebih luas dan mengutuh, dan sayang adalah bagian atau anggota badan dari cinta. Terkadang sebagian dari kita salah kaprah menganggap bahwa sayang lebih utama dari cinta  padahal tidak,,cinta terlalu luas untuk diperbandingkan dengan rasa sayang dan cintapun bila tidak diaplikasikan dengan rasa sayang akan cacat. Jadi ada hubungan yang sangat erat antara cinta dan sayang….!!! Aasyeek…3x

saya  akan membuat sedikit tulisan yang mungkin bisa kita renungkan. Jadi dibacanya pas mau tidur aja biar greget-nya dapet,,,hehehe

ketahuilah, karena tak ada masalah yang terlahir kecuali sebagai proses pendewasaan diri bagi kita. Kau tahu dengan apa dendam membersihkan kesumatnya?dengan maaf. Dengan apa perasaan resah mencuci gelisahnya? Dengan prasangka baik pada pasangan.

Terkadang kita bertanya kepada Rindu, “untuk apa kau mendatangiku?”. Kita dan rindu bahkan tidak pernah kenal. Tapi anehnya Rindu pun menjawab: “Aku mendatangi diriku sendiri”

Setiap yang bernafas, setiap yang terlahir sebagai manusia pasti memiliki sisi unik yang bernama rahasia dalam hidupnya yang tidak ingin ia berikan kecuali pada seorang saja. Rahasia itu bermula pada perasaan yang tumbuh subur dalam sanubari terdalam serta dan terlahir melalui syaraf sensor motorik insaniyah yang mengantarkannya dalam bentuk “share” bernama cinta.

Jika hujan seakan bagai romantisme keakraban, dan matahari sebagai rasa resah dan gelisah. Maka kita memerlukan keduanya agar bisa menciptakan pelangi dalam perjalanan cinta kita.

 “Cinta tak perlu diteori-teorikan sebenarnya. Sejatinya ketulusan tidak berwarna, kesetiaan tak bernama. Cinta tetaplah cinta yang utuh, tanpa indikator dan atribut-atribut aksesoris, tanpa symbol dan tanpa tanda semiotic apapun. Cinta tak perlu nama dan hamburan kata-kata, sebab cinta sudah fasih berbahasa isyarat”
(Eka)

 

 

 

 

 

Berfikir Itu Apa Sich!??

confused-thinking-cartoon-biology-zainalblogspotcom
“Saya berpikir, Januari 2008 akan terjadi revolusi berdarah.”
Maksud berpikir di sini sebenarnya adalah “perkiraan”

“Saya pikir pesta ini seperti balon”
Maksud pikir di sini sebenarnya adalah “membayangkan”

Saya sedang berpikir buku apa yang mau saya pinjam.”
Maksud berpikir di sini sebenarnya adalah “mengingat”

“Saya sedang berpikir studi pilihan apa yang sebaiknya saya ambil.”
Maksud berpikir di sini sebenarnya adalah “mempertimbangkan”

“Saya pikir Hinduisme lebih canggih daripada Kristianisme.”
Maksud berpikir di sini sebenarnya adalah “membandingkan”

Berpikir adalah menalar, seperti terlihat dalam kalimat berikut: “Saya sedang mencari jawaban atas pertanyaan mengapa pesawat yang lebih berat dari udara itu bisa terbang.”

Berpikir bukan sekadar membiarkan arus ide mengalir secara spontan, dan juga bukan semata menjajarkan sekuensi, melainkan juga mencari konsekuensi gagasan menuju atau menghasilkan kesimpulan yang merupakan ide baru atas realitas (silogisme). Atau dengan kata lain, menata serpihan-serpihan menjadi utuh terkait.

Dalam hidup manusia, berpikir itu natural, seperti bernapas, dan bisa dilatih (teknik berpikir memang perlu, namun praktik berpikir itu lebih penting!).

Dalam hal ini, membaca adalah berlatih berpikir, masuk ke dalam cara berpikir sang penulis, mengikuti alur berpikirnya. Membaca bukanlah memindahkan isi buku ke dalam otak, seperti kamera obskura. Membaca adalah membangun ruang kritik yang memungkinkan pembaca menginterogasi sebuah teks; menemukan logika di balik teks, titik-titik kritis, atau bahkan ruang kosong. (Eka)

 

Kajian Tentang Bid’ah Perspektif Ahlusunnah wal Jamah

1465332_617011768363839_1713305251_n
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Benarkah hadits ini bermakna “ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak “

Simak pembahasannya di sini pakai ilmu alat.

Ditinjau dari sisi ilmu lughoh :

– I’rab nahwunya :
من : adalaha isim syart wa jazm mabniyyun ‘alas sukun fi mahalli rof’in mubtada’ wa khobaruhu aljumlatus syartiyyah ba’dahu.
احدث : Fi’il madhi mabniyyun ‘alal fathah fii mahalli jazmin fi’lu syarth wal fa’il mustatir jawazan taqdiruhu huwa.
في : Harfu jar
امرنا : majrurun bi fii wa lamatu jarrihi alkasrah, wa naa dhomirun muttashil mabnyyyun ‘alas sukun fii mahlli jarring mudhoofun ilaihi
هذا : isim isyarah mabniyyun alas sukun fi mahalli jarrin sifatun liamrin
ما : isim mabniy fii mahhli nashbin maf’ul bih
ليس : Fi’il madhi naqish yarfa’ul isma wa yanshbul khobar, wa ismuha dhomir mustatir jawazan taqdiruhu huwa
منه : min harfu jarrin wa hu dhomir muttashil mabniyyun alad dhommi wahuwa littab’iidh
فهو : al-faa jawab syart. Huwa dhomir muttashil mabniyyun alal fathah fi mahalli rof’in mubtada
رد : khobar mubtada marfuu’un wa alamatu rof’ihi dhommatun dzhoohirotun fi aakhirihi. Wa umlatul mubtada wa khobaruhu fi mahalli jazmin jawabus syarth.
Dari uraian sisi nahwunya maka bermakna :” Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam urusan kami yaitu urusan syare’at kami yang bukan termasuk darinya, tidak sesuai dengan al-Quran dan hadits, maka perkara baru itu ditolak “

Makna tsb sesuai dengan statement imam Syafi’i yang sudah masyhur :
ما أُحدِثَ وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أُحْدِثَ من الخير ولم يخالف شيئاَ من ذلك فهو البدعة المحمودة

“ Perkara baru yang menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’ atau atsan maka itu adalah bid’ah dholalah / sesat. Dan perkara baru yang baik yang tidak menyalahi dari itu semua adalah bid’ah mahmudah / baik “

– Istidlal ayatnya (Pengambilan dalil dari Qurannya) :

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)

– Istidlal haditsnya (pengambilan dalil dari haditsnya) :

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

– Balaghoh :

Dalam hadits tsb memiliki manthuq dan mafhumnya :
Manthuqnya “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang tidak bersumber dari syareat, maka dia tertolak “, misalnya sholat dengan bhsa Indonesia, mengingkari taqdir, mengakfir-kafirkan orang, bertafakkur dengan memandang wajah wanita cantik dll.

Mafhumnya : “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang bersumber dari syareat, maka itu diterima “ Contohnya sangat banhyak skali sprti pembukuan Al-Quran. Pentitikan al-Quran, mauled, tahlilan, khol, sholat gtrawikh berjama’ah dll.

Berangkat dari pemahaman ini, sahabt Umar berkata saat mengkumpulkan orang-orang ungtuk melakukan sholat terawikh berjama’ah :
نعمت البدعة هذه “ Inilah sebaik-baik bid’ah “
Dan juga berkata sahabat Abu Hurairah Ra :

فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ)

“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”.
(HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)ز

Jika semua perkara baru itu buruk, maka sahabat2 tsb tidak akan berkata demikian.

Nah sekarang kita cermati makna hadits di atas dari wahhabi salafi :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Hadits ini mereka artikan :

Pertama : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru dalam agama, maka ia tertolak “
Jika mreka mngartikan demikian, maka mereka sengaja membuang kalimat MAA LAITSA MINHU-nya (Yang bersumber darinya). Maka haditsnya menjadi : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا ُ فَهُوَ رَدٌّ

Kedua : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak “

Jika merka mngartikan seperti itu, berarti merka dengan sengaja telah merubah makna hadits MAA LAITSA MINHU-nya MENJADI MAA LAITSA MA-MUURAN BIHI (Yang tidak ada perintahnya). Maka haditsnya menjadi : مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا ليَْسَ مَأمُوْراً بهِ فَهُوَ رَدٌّ

Sungguh ini sebuah distorsi dalam makna hadits dan sebuah pengelabuan pada umat muslim.

Jika mereka menentang dan berdalih : “ Bukankah Rasul Saw telah memuthlakkan bahwa semua bid’ah adalah sesat, ini dalilnya :
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود

Maka kita jawab : Hadits tsb adalah ‘Aam Makhsus (lafadznya umum namun dibatasi) dgn bukti banyak dalil yang menjelaskannya sprti hadits 2 sahabat di atas. Maksud hadits tsb adalah setiap perkara baru yang brtentangan dgn al-quran dan hadits.

Perhatikan hadits riwayat imam Bukhori berikut :

أشار سيدنا عمر ابن الخطاب رضي الله عنه على سيدنا أبو بكر الصديق رضي الله عنه بجمع القرآن في صحف حين كثر القتل بين الصحابة في وقعة اليمامة فتوقف أبو بكر وقال:” كيف نفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟”
فقال له عمر:” هو والله خير.” فلم يزل عمر يراجعه حتى شرح الله صدره له وبعث إلى زيد ابن ثابت رضي الله عنه فكلفه بتتبع القرآن وجمعه قال زيد:” فوالله لو كلفوني نقل جبل من الجبال ما كان أثقل علي مما كلفني به من جمع القرآن.” قال زيد:” كيف تفعلون شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم.” قال:” هو والله خير” فلم يزل أبو بكر يراجعني حتى شرح الله صدري للذي شرح له صدر أبي بكر وعمر رضي الله عنهما .

“ Umar bin Khothtob member isayarat kpd Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf ktika melihat banyak sahabat penghafal quran telah gugur dalam perang yamamah. Tapi Abu Bakar diam dan berkata “ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul Saw ?” MaKA Umar menjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Beliau selalu mengulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadanya. Kmudian Abu bakar memrintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Al-Quran, maka Zaid berkata “ Demi Allah aku telah terbebani untuk memindah gunjung ke satu gunung lainnya, bagaimana aku melakukan suatu hal yang Rasul Saw tdiak melakukannya ?” maka Abu bakar mnjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Abu bakar trus mngulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadaku sbgaimana Allah telah melapangkan dada Umar dan Abu Bakar “.

Coba perhatikan ucapan Umar dan Abu Bakar “ Demi Allah ini suatu hal yang baik “, ini menunjukkan bahwasanya Nabi Saw tidak melakukan semua hal yang baik, sehingga merka mngatakan Rasul Saw tidak pernah melakukannya, namun bukan berarti itu buruk.

Jika merka mengatakan sahabat Abdullah bin Umar telah berkata :
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik “.

Maka kita jawab :

Itu memang benar, maksudnya adalah segala bid’ah tercela itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik. Contohnhya bertaqarrub pd Allah dengan mndengarkan lagu dangdutan..

Jika sahabat Abdullah bin Umar memuthlakkan bahwa semua bid’ah itu sesat tanpa trkecuali walaupun orang2 mengangaapnya baik, lalu kenapa juga beliau pernah berkata :

بدعة ونعمت البدعة “ Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah “
Saat beliau ditanya tentang sholat dhuha. Lebih lengkapnya :

عن الأعرج قال : سألت ابن عمر عن صلاة الضحى فقال:” بدعة ونعمت البدعة
“ Dari A’raj berkata “ Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang sholat dhuha, maka beliau menjawab “ Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah “.

Apakah pantas seorang sahabat sprti Abdullah bin Umar tidak konsisten dalam ucapannya alias pllin-plan ?? sungguh sangat jauh dr hal itu.

KESIMPULAN :

– Cara membedakan bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah adalah :
والتمييز بين الحسنة والسيئة بموافقة أصول الشرع وعدمها
“ Dengan sesuai atau tidaknya dengan pokok-pokok syare’at “.
– Orang yang mengartikan hadits :
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Dengan : “ Bar angsiapa yang melakuakn hal baru maka itu tertolak “ atau “ Brangsiapa yang melakukan hal baru tanpa ada perintahnya maka ia tertolak “.

Orang yang mengartikan seperti itu, berarti ia telah berbuat bid’ah dholalah / sesat, akrena tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al-Quran, hadits maupun atsarnya..Dan telah sengaja merubah makna hadits Nabi Saw tersebut..dan kita tahu apa sangksi bagi orang yang telah berdusta atas nama Nabi Saw..Naudzu billahi min dzaalik..

Semoga bermanfaat bagi yang ingin mencari kebenaran dan bagi yang ingin mencari pembenaran silakan bantah dengan ilmu. (Eka)

 

PENGUMUMAN LOMBA PEKAN PELAJAR ANTI KORUPSI

345

 

 

 

 

Tepat pukul 24.00 tanggal 23 Desember Lomba pekan Pelajar Anti Korupsi yang diselenggrakan PW IPNU Jawa Timur dengan Majalah PASTI sudah DITUTUP.

Terimaksh atas atensi serta apresiasi rekan dan rekanita daerah yang sangat luar biasa atas naskah/ karya yang sudah rekan/ ita kirimkan. Semua naskah akan kami inventarisir dan seleksi untuk menentukan yang terbaik diantara yang terbaik hasil buah tangan teman2.

Informasi pemenang akan kami umumkan paling lambat 2 pekan/ 14 hari sejak diumumkannya penutupan ini. bagi para pemenang hadiah akan kami serahkan berbarengan dengan penyelenggaraan Seminar Anti Korupsi yang akan diadakan 25 Januari 2014*.
———-
Keterangan:
1. Redaksi masih menerima naskah tulisan untuk dimuat di majalah PASTI edisi Januari 2014
2. Jadwal Penyelenggaraan seminar bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi dan teknis yang telah dikordinasikan dengan Team Panitia.

Dialektika Sunni Di Indonesia

Sejarah NU.DAT_snapshot_02.44_[2010.12.07_17.19.18]Oleh:

W Eka Wahyudi*

Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah atau yang dalam khazanah Barat disebut Sunni atau Sunnism adalah salah satu bagian dari polarisasi pemikiran Islam yang ada di Nusantara. Ia merupakan paham keagamaan, aliran pemikiran dan bahkan pada salah satu fase sejarah tertentu menjadi sebuah firqah. Kehadirannya merupakan respons atas dinamika pemikiran dan gerakan keagamaan yang diwarnai berbagai kecenderungan ekstremitas di kalangan umat Islam. Karena itu, terminologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah mengandung gagasan awal berupa konsistensi untuk menjaga otentisitas dan validitas ajaran sesuai yang dibawa oleh Nabi. Keyakinan seperti ini akhirnya memunculkan pula klaim kebenaran (truth claim) yang menyempurnakan bangunan Sunnism sebagai sebuah firqah baru dalam wacana keagamaan umat Islam.

Sepanjang sejarah, Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah  (selanjutnya juga disebut: Aliran Sunni) didukung oleh mayoritas umat Islam. Ia diakui sebagai ideologi berbagai kelompok –baik besar maupun kecil– di berbagai penjuru dunia Islam. Dewasa ini sedikitnya ada 53 negara yang mayoritas umat Islamnya berpaham Sunni, termasuk Indonesia.

Perlu ditambahkan, bahwa setiap periodisasi sejarah menampilkan Sunnism  dengan dinamikanya yang khas. Setiap kawasan dalam dunia Islam juga memiliki keunikan-keunikan khusus dalam implementasi Sunnism. Bahkan, setiap kelompok umat menampilkan karakter keberagamaannya berbeda-beda antara satu dengan yang lain, walaupun mereka tetap mengidentifikasi diri –atau diidentifikasi– sebagai kelompok Sunni. Dengan kata lain, masing-masing komunitas Sunni  memiliki karakter-karakter khusus dalam mengapresiasi dan mengaktualisasikan faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah.

Demikian halnya di Indonesia, mayoritas umat Islam di negeri ini adalah Sunni. Sebagian dari mereka secara tegas mengidentifikasi diri atau kelompoknya sebagai bagian dari  Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Akan tetapi, sebagian lainnya walaupun tidak secara eksplisit menyatakan sebagai pengikut paham  Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah,  mereka tetap keberatan  bila diidentifikasi sebagai kelompok Non-Sunni.

Kelompok pertama diwakili oleh kalangan pesantren atau yang dalam kajian sosiologis sering disebut kelompok Islam Tradisionalis. Kelompok ini antara lain dipresentasikan oleh NU  (Nahdlatul Ulama), PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Jam’iyah al-Washliyah, dan lain-lain. Sedangkan yang ke dua dipresentasikan oleh kelompok pendukung gerakan pembaruan Islam, atau yang dalam kajian sosiologis sering disebut Islam modernis. Kelompok ini mengkonsolidasikan kegiatan  mereka melalui  organisasi-organisasi  Jam`iyat al-Khayr, al-Irsyad, Muhammadiyah,  Persis (Persatuan Islam), dan lain-lain.

Representasi kalangan Islam Tradisionalis di Indonesia antara lain bisa dilihat dari eksistensi Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi sosial-keagamaan yang  didirikan pada tahun 1926 oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disebut Hasyim Asy’ari). Sejak awal organisasi ini secara manifest menegaskan diri sebagai pendukung paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Ekspresi Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah oleh NU menampilkan coraknya yang khas, berbeda dengan ekspresi paham ini di negara Muslim lainnya, bahkan dengan komunitas lainnya di Indonesia.

Di pihak modernis, Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah juga diakui –baik secara implisit maupun eksplisit— sebagai paham keagamaan yang dianut. Muhammadiyah, misalnya, secara implisit mengaku berideologi Sunni. Hal ini dapat diketahui dari salah satu keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menyatakan bahwa keputusan-keputusan tentang iman merupakan aqidah Ahl al-Haqq wa al-Sunnah. Sedangkan Ahl al-Haqq wa al-Sunnah  adalah sebutan lain dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Sementara itu, Persatuan Islam (Persis) menyatakan lebih berhak disebut Sunni karena alasan tidak bermadhhab, dan oleh karenanya kelompok seperti NU –yang bermadhhab–  tidak layak disebut Sunni.

Walaupun sama-sama mengaku sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah, kedua kelompok ini memiliki perbedaan-perbedaan yang signifikan dalam mengartikulasikan pemahaman keagamaannya. Bahkan, kedua kelompok ini tidak jarang terlibat pertentangan dalam soal visi keagamaan, konsep kebudayaan-kemasyarakatan, maupun politik.

* Wakil Sekretaris II PW IPNU Jatim, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Kemah Lintas Agama, IPNU Jatim Kirim Kader Daerah

Kemah

Mojokerto–  Dalam rangka turut andil mempertahankan persatuan dan kesatuan antar umat beragama, PW IPNU Jawa Timur mengirimkan kader yang berasal dari tiga daerah yang berbeda (Tulungagung, Lamongan dan Malang) untuk bepartisapasi dalam Kemah Pelajar Lintas Agama di Trawas, Mojokerto.

Kegiatan yang diinisiatifi Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur ini, diadakan selama empat hari berturut-turut, yakni tanggal 19 sampai 22 November 2013 di Grand Royal Camp, Trawas,Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini sengaja diselenggarakan guna menjalin persaudaaran dan memperkuat persatuan antar elemen bangsa terutama pada kalangan pelajar lintas agama. Terbukti, yang hadir dilokasi antara lain pelajar Kristen Protestan, Kristen Katolik, Konghuchu, Hindu, Budha dan tak ketinggalan para pelajar Islam yang tak lain adalah para kader-kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

Melihat sangat krusialnya acara tersebut, maka ketua PW IPNU Jawa Timur, dalam hal ini rekan Imam Fadlli merasa perlu untuk mengantar para delegator ke lokasi perkemahan secara langsung. Menurut pria jebolan Pasca Sarjana Universitas Dr. Soetomo ini, bahwa penyelenggaraan kemah pelajar lintas Agama perlu diapresiasi secara khusus, terutama bagi pelajar NU didaerah-daerah agar lebih sadar akan pentingnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui keikut sertaan kemah ini, IPNU Jatim membuktikan eksistensinya bahwa kader-kader kita siap dalam mempererat persaudaraan lintas agama guna mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI”. Tegasnya ketika dikonfirmasi.Ek

MERETAS BENANG KUSUT PERMASALAHAN UNAS

UNAS merupakan ritus tahunan di bumi Indonesia. Keberlangsungannya tak lain dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Tak pelak argumen ini menjadi embrio lahirnya argumen turunan, bahwa UNAS adalah jalan paling efektif menggapai cita-cita luhur tersebut. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang merupakan cita-cita luhur, seakan telah tercover dalam argumen di atas. Jika mengacu pada pemahaman yang lebih mendalam atas peningkatan kualitas pendidikan nasional sebagai sebuah cita-cita luhur bangsa, maka argumen di atas pantas untuk dikatakan dangkal.
Meskipun demikian adanya, sebagai program evaluasi secara nasional dalam pelaksanaannya mempunyai landasan hukum yang kuat. Tak kurang dari 3 payung hukum menangui keberlangsungan UNAS sampai saat ini. UU no. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS khususnya pasal 35, PP NO 19 tahun 2005 pasal 63 ayat 1 dan pasal 68. Kuatnya payung hukum ini juga lah yang menyebabkan UNAS masih terus dilaksanakan kendati telah menuai kritik hingga kecaman dari masyarakat luas. Berbagai kalangan mulai dari para sisswa sendiri, orang tua, praktisi pendidikan, sampai anggota legislatif (DPR), memrotes bahkan mengecam keberlangsungan UNAS.
Para siswa merasa tertekan dan cemas yang berlebihan oleh kaerna takut tidak lulus; para orang tua merasa khawatir dengan nasib dan masa depan anaknya; para praktisi pendidikan merasakan penyelenggaran UNAS menimbulkan diskriminasi terhadap sejumlah mata pelajaran; para pengamat dan akademisi menilai UNAS tidak sesuai dengan prinsip-prinsip evaluasi pendidikan dan mengesampingkan aspek pedagogis dalam pendidikan; sedangkan sebagian anggota legislatif yang menolak menilai pelaksanaa UNAS berdasarkan PP No.19/2005 bertentangan dengan UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), dan hanya menghambur-hamburkan biaya.
Di Amerika Serikat sendiri tes sejenis UN memang pernah dilakukan. Bahkan pada tahun 1997, tercatat dunia pendidikan Amerika Serikat menghabiskan dana sebesar US$ 200.000.000 per tahun untuk tes di sekolah-sekolah negeri (public school) (Tilaar, 2006). Namun hasil dari ujian akhir tersebut hanya sekedar digunakan untuk melakukan pemetaan terhadap permasalahan pendidikan nasional dalam rangka menyusun kebijakan pendidikan nasional, bukan untuk menentukan kelulusan siswanya sebagaimana di Indonesia.
UNAS DALAM KACAMATA IPNU
Paparan di atas adalah sederet fakta yang merupakan potret kompleksnya permasalahan dalam penyelenggaraan UNAS. Namun bersikap diam dan tak mengambil peran dalam upaya mencari penyelesaiannya, akan semakin membawa permasalahan tersebut pada tingkat yang lebih kronis. IPNU sebagai organisasi pelajar yang lahir dari rahim Organsasi Masyarkat NU (Nahdlatul Ulama’), sejak mula telah ditujukan untuk dapat menjadi pusat pembelajaran sekaligus wadah pengembangan potensi dan kreativitas pelajar, santri dan juga mahasiswa. Oleh karenanya merupakan konsekuensi bagi IPNU untuk turut serta mengupayakan sistem dan kebijakan pendidikan yang kondusif bagi optimalisasi pengembangan potensi peserta didik.
Dalam permasalahan ini, UNAS akan kita teropong lebih dekat melalui teleskop organisasi. Sebagai organisasi yang bergerak di ranah pendidikan dan pengkaderan, IPNU memilih paradigma transformatif dalam merumuskan keadaan sekaligus menentukan langkah ke depan. Berangkat dari paradigma ini, IPNU menilai pelaksanaan pendidikan di Indonesia secara umum, khususnya UNAS, adalah sebuah proses Dehumanisasi (tidak meamanusiakan manusia).
Bagaimana tidak, pelajar sebagai seorang manusia yang bersifat creator, tentu mempunyai keunikan dari tiap potensi yang DiAnugerakan-Nya. Cara belajar senantiasa berbanding lurus dengan karakter individunya. Maka sudah seharusnya sistem hingga proses pembelajaran, di sekolah khususnya, harus mengedapakan hal ini sebagai landasan utama dalam pelaksanaannya. Jika tidak, maka proses pembelajaran tak ubahanya sebagai upaya pengebirian pada potensi sekaligus kreatifitas pelajar.
Tampak jelas, di dalam beragam varian soal-soal UNAS, nyaris menafikan kebebasan berpikir, kreatifitas, dan juga potensi dasar dari para siswa. Terlebih sistem yang mengaturnya berorientasi pada hasil, bukannya pada proses. Spontan, saat hasil menyatakan gagal, maka proses belajar yang telah ditempuh seorang siswa dinyatakan gagal.
Pada akhirnya, UNAS yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Upaya penyeragaman dalam bingkai standarisasi kelulusan tak lain dari proses dehumanisasi. Jelasnya, UNAS dengan segala atributnya akan lebih mengarah pada disorientasi akan subtansi sebuah proses edukasi. Dengan tanpa mengembalikan pondasi utama pada proses pembelajaran, yakni memanusiakan manusia.

HAKIKAT PENDIDIKAN
Membahas tentang UNAS sebagai sebuah permasalahan klasik dunia pendidikan Indonesia, tak lengkap tanpa menelaah lebih dalam hakikat pendidikan itu sendiri.
Nilai dasar menjadi manusia sesungguhnya adalah berfungsinya potensi dasar manusia secara optimal sehingga sanggup menjalankan aktifitas kehidupan, dan cara untuk mengoptimalisasi, tidak lain melalui rangsangan pendidikan. Manusia dapat menjadi manusia karena pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia akan menjadi manusia karena pendidikan, atau dengan kata lain bahwa pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia.
Selain daripada itu pendidikan memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas, pendidikan diartikan sebagai sebuah tindakan atau pengalaman yang mempengaruhi perkembangan jiwa, watak, ataupun kemauan fisik individu. sedangkan pada arti yang lebih sempit, pendidikan adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan ketrampilan-keterampilan dari generasi ke generasi, yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga-lembaga lain.
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, bab I pasal 1 dijelaskan bahwasanya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif guna mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan bukan sekedar mentrasfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, yakni mentransfer nilai (transfer of value). Selain itu, pendidikan juga merupakan kerja budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu mengembangkan potensi dan daya kreativitas yang dimilikinya agar tetap survive dalam hidupnya. Karena itu, daya kritis dan partisipatif harus selalu muncul dalam jiwa peserta didik.
Mengingat hal ini merupakan pondasi untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya. Dalam artian, setiap proses seharusnya mengandung berbagai bentuk pelajaran dengan muatan lokal yang signifikan dengan kebutuhan serta permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat.
Sehingga out put pendidikan- adalah manusia yang sanggup memetakan sekaligus memecahkan masalah yang sedang dihadapi masyarakat.

DAMPAK NEGATIF UNAS
Dalam sub pembahasan ini penulis akan mencoba memberikan pemetaan terhadap dampak-dampak negatif yang didatangkan UNAS pada kualitas pendidikan Indonesia umumnya dan output. Memandang sementara ini UU hingga PP telah secara gamblang memberikan deskripsi terhadap cita-cita “luhur” UNAS. Adapun dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut :

Terjadinya disorientasi pendidikan di sekolah
Mata pelajaran yang di-UN-kan tidak seluruh mata pelajaran. Pembatasan mata pelajaran yang diujikan dalam UN, berakibat pada fokus proses pembelajaran di sekolah hanya ditekankan pada penguasaan mata pelajaran tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pengabaian terhadap mata pelajaran lain.
Proses pembelajaran yang tidak bermakna
Untuk mempersiapkan para siswanya menghadapi dan mengerjakan soal-soal UN, para guru biasanya menggunakan metode pembelajaran drill. Pembelajaran seperti ini tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah, yang menjadi indikator kecerdasan sebagaimana yang diharapkan dicapai melalui pembelajaran.
Upaya-upaya yang tidak fair
Tuntutan kelulusan yang tinggi, baik terhadap persentase/jumlah siswa yang dinyatakan lulus, maupun besarnya nilai yang diperoleh para siswa, mendorong sekolah untuk melakukan berbagai upaya untuk mencapainya. Kondisi seperti ini jelas jauh dari nilai-nilai kejujuran dalam pendidikan. Bila ini berlanjut, bisa dibayangkan manusia-manusia seperti apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan (formal) kita. Manusia yang berkembang dalam suasana yang serba tidak jujur.
Hanya ranah kognitif yang terukur
UN yang menggunakan bentuk soal multiple choise hanya akan dapat mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Pengukuran ranah afektif dan psikomotorik yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran yang juga harus diukur ketercapaiannya, tidak dilakukan. Sekali lagi kondisi ini akan berakibat pada pembelajaran di sekolah hanya pada pengembangan kecerdasan intelektual, sementara kecerdasan lainnya tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Menutup akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat miskin
Di samping sebagai persyaratan untuk kelulusan, hasil UN juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain berusaha mendapatkan nilai UN yang setinggi-tingginya. Untuk mewujudkan impian itu, acap kali ditempuh dengan mencari guru privat atau mengikuti bimbingan belajar adalah pilihan yang selama ini dianggap tepat. Upaya ini tentu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mampu, karena upaya tersebut menuntut biaya yang tidak sedikit. Siswa miskin hanya bisa berusaha keras atas kemampuannya sendiri. Kondisi akhir sudah bisa ditebak mereka yang miskin akan kalah bersaing untuk dapat masuk ke sekolah berkualitas.

REFORMASI PENDIDIKAN
(UPAYA MENCIPTA KESADARAN BERPENDIDIKAN)
Dari sekelumit paparan di atas, sebuah reformasi terhadap sistem pendidikan di Indonesia nampaknya merupakan sebuah keharusan. Hal ini tentunya berangkat dari realitas yang terus bergerak. Selama ini kita hanya berkutat mencari-cari jalan dan bentuk yang pas rukakan pola pendidikan.
Berujung pada banyaknya pakar pendidikan yang bermunculan hadir untuk menawarkan “jampi-jampi” demi perbaikan kualitas pendidikan di tanah air. Bukannya justru membaik, tapi sebaliknya, makin tak karuan wajah pendidikan kita. Namun ironisnya, sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal, oleh masyarakat luas masih dijadikan semacam “dewa-dewa penolong”, atau paling tidak diposisikan sebagai jaminan masa depan yang lebih baik.
Kembali harapan itu akan menjadi semu. Upaya untuk merealisasikannya tak lain adalah dengan mengoptimalkan kembali Tri Pusat Pendidikan (ki Hajar Dewantara,). Tri pusat itu adalah Keluarga, Sekolah, dan lingkungan (luar sekolah). Keluarga sebagai salah satu elemen penting dari pembentukan karakter, haruslah mampu menanamkan kesadaran berpendidikan pada seluruh anggotanya. Tak lupa penanaman norma agama dan norma sosial juga harus disadari sebagai pondasi pembentukan karakter anak. Sekolah pun demikian, tak semestinya dengan sistem kelas yang selama ini berjalan, siswa terasingkan dari realitas lingkungannya. Sehingga output berpendidikan yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahn masyarakat tak dapat terbentuk.
Pada sisi ini, permasalahan UNAS yang telah kita jadikan fokus pembahasan, tetap harus mendapatkan perhatian khusus. Apabila UNAS adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan secara nasional, maka UNAS hendaknya tak lagi dijadikan patokan kelulusan seeorang siswa. Pendekatan yang lebih humanis sekaligus menghargai kearifan lokal (local wisdom), harus dijadikan landasan utama dalam mengemas UNAS sebagai sebuah program bersekala nasional.
Akan lebih tepat lagi jikalau hasil UNAS lebih diarahkan untuk dapat memetakan potensi dan kelemahan daerah-daerah. Kemudian hasil dari pemetaan tersebut digunakan sebagai landasan sekaligus acuan perumusan kebijakan yang lebih memihak pada kepentingan masyarakat. Sebagaimana pernah dilakukan Amerika pada kurun waktu ’97-an.
Terakhir adalah upaya menciptakan lingkungan (luar sekolah) yang kondusif untuk proses pembelajaran. Kesadaran akan tanggung jawab sosial yang juga diemban oleh siswa sekolahan (baca:pelajar), harus dapat ditanamkan sedini mungkin. Jika di dalam kelas muatan ini sangat minim diperoleh maka idealnya sekolah memberikan ruang khusus bagi para siswa untuk dapat mengembangkan potensi, kreatifitas, serta menumbuhkan kepekaan sosial. Kembali Organisasi Pelajar sebagaimana IPNU harus juga mengambil peran strategis ini.

Wonocolo, 16 februari 2012

Haikal Atiq Zamzami
di sudut remang kamar Pondok, Darul Arqom

Daftar Bacaan
Firdaus M.Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial Paulo Freire & YB. Mangun Wijaya (Jogjakarta: Logung Pustaka, 2005).
Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam (Jogjakarta: IRCiSoD, 2004)
Baharuddin dan Moh. Makin. 2009. Pendidikan Humanistik, Konsep, Teori, dan Aplikasi Praksis dalam Dunia Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media).
Drost, J.I.G.M. 1999. Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
Tilaar, H.A.R. Standarisasi Pendidikan Nasional, Suatu Tinjauan Kriti.s(Jakarta: Rineka Cipta, 2006
Salamuddin, UN Perlu Kejujuran. Pendidikan Network, 22 Mei 2005

 

Oleh :Haikal A.Z. disampaikan dalam dialog interaktif pelajar IPNU_IPPNU PAC Sambikerep-Surabaya

Jatim Terbang untuk Indonesia

Saat itu, mentari sedang tinggi-tingginya. Para punggawa nahdliyin muda berkumpul di markas wilayah NU Jawa Timur. Mereka berniat untuk menghadiri perhelatan akbar tiga tahunan, yaitu KONGRES IPNU ke XVII di Tanah Minang, Palembang. Permusyawaratan tertinggi dalam tubuh IPNU ini, dilaksanakan pada tanggal 30 November sampai 4 Desember 2012 di Asrama Haji setempat. Di kota Oku Timur tepatnya.

Bermodal semangat anti karat dan niat yang kian meningkat, pasukan dari jawa timur ini mengawali perjalanannya dengan berkumpul di Stasiun Turi Surabaya, sebelum keberangkatan, diadakan apel pemberangkatan yang di buka langsung oleh PWNU Jawa Timur, yang dalam hal ini diwakili oleh KH Soleh Hayat, yang tidak lain merupakan pembina IPNU sekaligus mantan ketua PW IPNU Jawa Timur. Dengan dorongan semangat dan sambutan yang atraktif, Pak Soleh mengatakan bahwa “IPNU Jatim harus menjadi warna dominan dalam konstelasi Kongres di Palembang nanti, karena ide-ide dari Jatimlah yang selama ini memajukan IPNU ditataran Pusat dari dulu hingga sekarang” tandasnya. Tak pelak, kata itu bak pelecut motivasi para kontingen Jawa Timur untuk membawa perubahan di Tubuh IPNU 3 tahun kedepan.

Selanjutnya, PW IPNU dan IPPNU Jawa Timur juga mendapat semacam “sangu” dari salah satu donatur dari Fraksi PKB di Jawa Timur guna memudahkan akomodasi selama perjalanan kesana. Dan serah terimapun di wakili langsung oleh rekan Imam Fadli dan Rekanita Robi’ yang masing-masing selaku ketua PW IPNU dan IPPNU Jawa Timur.

Desir suara keretapun menyambut, tanda akan segera berangkatnya kendaraan panjang ini menuju jakarta. Jarak antara Surabaya-Jakarta ditempuh selama 13 jam dan berhenti di stasiun senin. Para pesertapun transit di Jakarta dan diselingi dengan jalan-ajlan tentunya di daerah Monas. Tak ayal moment ini tak disia-siakan oleh peserta untuk berfoto ria, sekedar melepas penat selama perjalanan dari surabaya. Selanjutnya, pasukan jatim yang keberangkatanya di koordinatori oleh rekan Rif’an dan Muhdi ini melanjutkan perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta. Perjalanan pesawat ditempuh kurang lebih satu jam untuk sampai di bandara Sultan Badarrudin II Palembang.

Pemberangkatan yang dilakukan melalui 2 gelombnag ini akhirnya sampai diarena “pertandingan ide” dengan disambut oleh rentetan banner calon ketua IPNU ditiap sudut lokasi Kongres. Sungguh sebuah suasana yang menyiratkan kekayaan intepretasi…,,// Bersambung……

Laporan : W Eka Wahyudi

Lakut Kediri Disambut Antusias

Kediri, Sebanyak 30 orang peserta yang terdiri dari utusan PAC. IPNU se-Kabupaten Kediri mengikuti Latihan Kader Utama (LAKUT) yang bertempat di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan Kediri, Ahad (25/11/12).

Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Kediri, Ya’kub mengatakan kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka mencetak kader prioritas guna meneruskan tampuk kepengurusan yang handal di lingkungan pelajar Nahdliyin. Continue reading “Lakut Kediri Disambut Antusias”

Mahbub Junaidi (IPNU dan PMII dalam bingkai Pena)

Ia lahir di Jakarta, 27 juli 1933, anak pasangan dari H. Djunaidi dan Ibu
Muchsinati. Ayahnya sebagai Kepala Biro Peradilan Agama pada Kementerian
Agama yang setiap awal ramadhan dan malam idul fitri mengumumkan hasil
rukyah melalui radio. Mahbub Djunaidi, sebagaimana anak-anak Indonesia pada umumnya di zaman revolusi kemerdekaan, usia sekolahnya panjang. Dia baru duduk dikelas satu SMP menginjak usia 16 tahun, saat seharusnya
menyelesaikan sekolah pertama. Usia 16 tahun itu bersamaan dengan waktu
pemulihan kedaulatan RI dari Belanda tahun 1949.

Menginjak usia remaja, Mahbub Djunaidi bergabung ke dalam Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama (IPNU), organisasi kader partai NU (saat itu), selagi masih
duduk di SMA. Dia hadir di kongres pertama IPNU di Malang 1955 yang dibuka
oleh Presiden RI Sukarno, di saat negeri ini beberapa bulan lagi akan
menyelenggarakan pemungutan suara pemilu pertama.

Gerakan Mahasiswa dalam kandungan IPNU

PMII, yang sering kali disebut Indonesian Moslem Student Movement atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah anak cucu NU (Nahdlatul Ulama) yang terlahir dari kandungan Departemen Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang juga anak dari NU. Status anak cucu inipun diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibikin di Surabaya tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khodjijah pada tanggal 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 H dan dibalik pendirian organisasi yang mengusung pergerakan ini ada nama Mahbub Junaidi. Dia sendiri berhasil menjadi ketua umum pertama selama dua periode. Sekarang organisasi ini menjadi besar dan tumpuan mahasiswa yang berbasis nahdliyyin. Pendek kata, dimana ada cabang NU, disitu ada PMIInya, karena pernah menjadi anak kandung saat NU jadi partai politik.

Setelah aktif sebagai Ketua Umum PMII, Mahbub kemudian diminta pula membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai salah satu ketua pimpinan pusat organisasi kader NU untuk kalangan pemuda tersebut. untuk organisasi inipun, Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap di gunakan sampai sekarang.

Setelah dirasa cukup membantu pada organisasi kader muda NU, akhirnya ia di
tarik ke rahim NU-nya yaitu sebagai Wakil Sekjend PBNU (1970-1979) dan Wakil Ketua PBNU mulai tahun 1984-1989.

Setelah terjadi pasifikasi politik NU pada muktamar di Situbondo, Jawa Timur
tahun 1984 dengan jargon kembali ke khittah 1926, Mahbub pun mempunyai
penafsiran sendiri tentang hal itu. Ia memperkenalkan menggagas istilah
“khittah plus”. Menurutnya, kembali ke khittah 1926 bukanlah merupakan
perwujudan dari sebuah perjuangan. Pendek kata, Mahbub menginginkan NU
kembali berpolitik praktis sebagai wadah aspirasinya, mengingat NU –waktu
itu- selalu dipinggirkan.

Pena Sebagai Teman Karib

Selama sepuluh tahun memimpin media harian Duta Masyarakat sebagai corong partai NU -saat itu-, tulisan-tulisan Mahbub yang menggelitik mulai di kenal oleh wartawan-wartawan senior dan media-media baik cetak maupun eletronek. Lambat laun tapi pasti, ia terpilih sebagai Ketua PWI periode 1965, 1968, dan 1970 ini dikenal sebagai sosok yang prigel, luwes, dan profilik dalam
menuangkan gagasan-gagasannya lewat tulisan. Mahbub Djunaidi dikenal sebagai penulis dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, dan humoris.

Bagi dunia pers, nama Mahbub Djunaidi bukanlah nama yang asing lagi. Sebagai
seorang wartawan, Mahbub adalah wartawan pemikir yang cerdas dan “kental”,
namun juga jenaka dan penuh kejutan-kejutan dalam setiap tulisannya. Dalam
istilah sekarang, ia adalah seorang yang humanis dan moderat.

Menurut Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum harian KOMPAS yang kenal secara pribadi, mengamati Mahbub mencapai formatnya yang optimal sebagai wartawan, justru ketika ia bebas dari beban-beban menjadi pemimpin redaksi Duta Masyarakat dan sebagai aktivis partai atau keorganisasian lainnya.

Mahbub menulis untuk rubrik Asal-Usul tiap hari minggu di harian Kompas
selama 9 tahun tanpa jedah, sambil masih juga diminta penerbitan pers
lainnya menulis topik-topik tertentu seperti Tempo, Pelita dan lain-lain.
Sebagian tulisan-tulisannya, lebih dari 100 judul telah diterbitkan menjadi
buku ‘Mahbub Djunaidi Asal Usul’. Di situ dia justru menjadi besar. Sebagai
politikus, wartawan dan sastrawan, sosok pemikirannya tampil.

Sosok Mahbub Djunaidi, masih menurut Jakob, mempunyai gaya keunikan
tersendiri dalam tulisannya. Ia seakan bersaksi dalam buku “Mahbub Djunaidi,
Seniman Politik Dari Kalangan NU Modern”. Menurutnya, kalau kebanyakan
penulis adalah menganalisa suatu masalah dan baru menjelaskan ide-nya, maka
Mahbub tidaklah demikian. Baginya, suatu peristiwa, kejadian, atau sosok
orang bisa dijadikan alat untuk menjelaskan ide-idenya.

Dunia politik pun tak lepas dari hari-hari Mahbub Djunaidi. Ketika NU
berafiliasi ke PPP, Mahbub Djunaidi menduduki jabatan sebagai salah seorang
wakil ketua DPP PPP dan kemudian di Majelis Pertimbangan Partai (MPP).

Bela Wartawan

Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang
sangat baik. Tulisanya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan
benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang
dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU
dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat. Kiprahnya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional.

Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak ditiru oleh penulis Indonesia.

Terlepas dari plus-minusnya selama berinteraksi dengan koleganya semasa
hidup, Mahbub Djunaidi adalah manusia biasa. Manusia adalah makhluk yang
punyak banyak kesalahan dan kelemahan. Kita menilai mereka tidak semata-mata sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai manusia.

Yang pasti Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang
jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk tetap BELAJAR, BERJUANG dan BERTAQWA.-(WEKAW)-

IPNU menjawab Tantangan*

Anggapan sementara orang tentang lenyapnya organisasi terbesar di Indonesia (Baca: NU) tahun 2020 esok, setidaknya tidak bisa dianggap sepele. Dengan melihat berbagai macam permasalahan yang mengelilingi organisasi yang didirikan oleh Hadratusyeikh KH Hasym Asy’ari ini sangatlah kompleks. Mulai dari tantangan ekstim kiri, misal : kapitalisme,liberalisme dan ekstrim kanan seperti halnya fundamentalisme dan radikalisme yang berkonsekuensi terhadap kekerasan atas nama agama terus menerus menggerogoti tubuh organisasi yang digawangi oleh para Ulama ini.

Dua momok diatas, yakni tantangan dari arah kiri dan kanan tersebut, merupakan diagnosis awal bahwa, sekarang didalam tubuh warga Nahdlatul Ulama sedang terjangkit virus degradasi ideologis, sehingga daya imun terhadap serangan-serangan dari luar semakin mendapatkan tempatnya, yakni di “organisme” yang bernama NU ini.

Sebagai kader NU yang bergerak dalam bidang keterpelajaran dan pendidikan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sangat menyadari akan realitas semacam itu, dan akan secepatnya menciptakan formulasi-formulasi konkrit untuk mengcounter virus-virus berbahaya, sebagai bagaian dari suntikan imunitas ideologis diranah keterpelajaran, agar kebal terhadap berbagai macam serangan yang membahayakan kesehatan faham Islam rahmatan lil ‘alamien.

Dalam konteks pengkaderan, yang merupakan unjung tombak dari sebuah organisasi agar tetap dikatakan eksis. Maka, IPNU diharapkan mempunyai 3 kompetensi dasar agar dapat dikatakan sebagai penerus Nahdlatul Ulama yang ideal. Yaitu Pertama, faham ke-NU-an yang mumpuni, hal ini menjadi modal dasar bagi para kader untuk melanjutkan pola perjuangan keberagamaan NU yang ramah terhadap tradisi kebudayaan, menjaga kedaulatan NKRI, serta memegang teguh prinsip serta asas-asas ahlu sunnah wal jama’ah. Sehingga, menjadi sebuah keniscayaan bahwa para kader-kader IPNU wajib memahami ke-aswaja-an dengan segala pernak-pernik yang melingkupinya. Kedua, yaitu skill organisasi yang memadai. Kemampuan berorganisasi ini merupakan sebuah alat/ media agar keberlangsungan atas eksistensi NU beserta ruang lingkupnya ini tetap terjaga. Karena, tanpa kemampuan managemen organiasasi yang mumpuni, bukan tidak mungkin NU secara kelembagaan akan terkikis habis bersama hanyutnya para warganya. Yang ketiga, adalah akhlaqul karimah. Merupakan titik kulminasi tertinggi sebagai cerminan keberhasilan organisasi ini didirikan. Karena, secara tidak langsung, NU ini terlahir karena terinspirasi dari motivasi sang Revolusioner sejati Nabiyullah Muhammad SAW dalam testimoni nan indahnya “Innamal bu’istu li utammima makarima al-akhlaq” (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia).

Wal hasil, keluhuran akhlaq hanya bisa terwujud jika ekspresi keberagamaannya tidak keluar dari koridor ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi dan diteruskan oleh para Ulama selaku pewarisnya. Sangat lucu jika kita ngomong masalah ke-NU-an dan organisasi sampai kelangit tujuh, tapi didalam diri kita kosong akan kesolehan pribadi dan kesolehan sosial. Maka, episentrum akhlaq ini menjadi semacam entry point dalam pengaplikasian “aksesoris” keorganisasian, mulai dari pola komunikasi yang baik dan santun dengan tidak saling sindir dan menjatuhkan didalam berorganisasi, menjaga transparasi adminstrasi dengan penuh amanah dan tanggung jawab dan lain sebagainya.

Akhirnya, organisasi yang santun dan arrif dalam merawat kadernya. Tidak hanya dalam bidang organisasi tapi juga mampu mengawal dalam bidang ideologi secara baik, seakan menjadi tameng bahkan benteng kokoh untuk menepis anggapan mengenai pernyataan akan lenyapnya Nahdlatul Ulama 20 tahun lagi.-(WEKAW)-

 

*W Eka Wahyudi, Sekretaris II Bidang Kaderisasi PW IPNU Jatim

Audiensi PWNU Jatim; PW IPNU Jatim Tidak Mengusung Kandidat

Surabaya, 7 Nopember pukul 13.30 di Ruang VIP PWNU Jawa Timur berlangsung Audiensi antara PW IPNU Jawa Timur dengan PWNU Jawa Timur guna membahas Kongres dan Isu Krusial yang akan digolkan pada acara akbar tersebut. Dari pihak PW IPNU Jawa Timur dihadiri oleh pengurus-pengurus harian, dari pihak PWNU Jawa Timur dihadiri oleh jajaran pengurus harian Tanfidz termasuk didalamnya adalah H. Masyhudi Muchtar-Sekretaris PWNU Jawa TImur.
Mengawali audiensi persiapan kongres sebagai pembuka adalah Ketua PW IPNU Jawa Timur – Imam Fadlli dengan membahas isu-isu krusial yang akan dibawa pada kongres. Diantara isu terpenting yang disampaikan oleh Imam Fadlli adalah Permen Nomor 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan. Dia mengutarakan, “berdasarkan kajian dan analisa kami (PW IPNU Jawa Timur) Permen tersebut perlu kita (PW IPNU Jatim) kaji ulang secara lebih kritis, karena sama sekali tidak berpihak pada keberadaan organisasi ekstra sekolah (ORSES) karena peraturan menteri tersebut hanya menjadi payung hukum bagi eksistensi Organisasi Intra Sekolah (OSIS).” Isu krusial kedua yang dibawa oleh Imam Fadlli adalah PW IPNU Jawa Timur tidak mengusung nama yang diajukan sebagai kandidat pada konstelasi kongres besok. Hal ini sangat beralasan baginya, karena mendalami materi dan isi kongres lebih penting dari pada mengusung calon yang diajukan. Mengenai pendapat ini juga sangat disetujui oleh PWNU Jawa Timur. Masyhudi Muchtar mengatakan, “periode PW IPNU Jawa Timur saat ini adalah normalisasi, karena itu saya setuju bila kongres besok PW IPNU Jawa Timur tidak mengusung calon, masalah kandidat tidak perlu dibuat serius.” lanjutnya.

Pernyataan Masyhudi Muchtar-Sekretaris PWNU Jawa Timur juga diamini oleh Wahid Asa Pengurus Harian PWNU Jawa Timur, dia merasa senang dengan normalisasi yang diadakan oleh PW IPNU Jawa Timur, dari pada berbicara masalah kandidat lebih baik berbicara masalah pelaja

Ruh Kaderisasi Menggeliat di Ponorogo

Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Ponorogo, seakan menjadi saksi bisu dari embrio lahirnya kembali kejayaan kaderisasi IPNU di Jawa Timur. Hal ini bisa dilihat dari terealisasinya LATPEL Seluruh Kordinator Daerah (KORDA) perdana yang dilaksanakan di KORDA Madiun. Kegiatan yang bertemakan “Mengembalikan Ruh Pengkaderan, sebagai Turbin Perubahan” ini tak pelak melahirkan asa organisasi yang tahun-tahun akhir ini mengalami degradasi. Mengingat bahwa IPNU adalah suplyer kader NU era mendatang,  “maka menjadi sebuah keniscayaan, untuk melihat kejayaan dan kemajuan NU kedepan kita harus membangun dan mengkader IPNU mulai dari sekarang”, sebuah perkataan yang diungkapkan oleh Gus Afton Ilman Huda yang menjadi salah satu pelatih di event kali ini.

Kesuksesan Latihan Pelatih ini, memang tak lepas dari komitmen dua serangkai yang menjadi turbin motivasi dalam melejitkan ghiroh kaderisasi IPNU Jawa Timur untuk Masa Khidmad 2012-2015 ini. Keduanya adalah Imam Fadli dan Haikal Atiq Zamzami. Cak Imam (panggilan akrab rekan Imam Fadli) selaku ketua Umum PW IPNU Jatim  menegaskan bahwa dalam tampuk kepemimpinannya kali ini, mengatakan bahwa Kaderisasi akan dijadikan Ujung Tombak perjuangan IPNU Jawa Timur kedepan. Komitmen ketua umum yang laihir di Lamongan ini, segera diamini oleh Haikal Atiq Zamzami selaku maestro Kaderisasi IPNU Jatim dengan mengadakan LATPEL seluruh korda di Jawa Timur. Sebuah program yang ideal karena dilaksanakan secara beruntun serta berkala dengan tidak melupakan asas fleksibelitas, efisiensi, kordinasi serta partisipasi aktif dari seluruh anggota IPNU yang berdomisili di Jawa Timur.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, kenapa kaderisasi yang dioptimalkan? sebenarnya, seberapa besar andil kaderisasi dalam menjamin kemajuan IPNU ke depan?

Kita tahu dan sadar, bahwa seberapa hebat dan maju sebuah organisasi tapi jika tidak menyiapkan kader-kader handal untuk meneruskan estafet pola perjuangan dan pergerakan organisasi tersebut, maka menjadi konsekuensi logis, organisasi itu akan menunggu badai kematian menghampirinya. Sehingga, upaya penyiapan  kader-kader ideal dalam hal ini menjadi sebuah kebutuhan dasar untuk menyiapkan pula pelatih-pelatih dan konseptor-konseptor handal bidang pengkaderan. Wal hasil, pada posisi seperti inilah kenapa LATPEL perlu digalakkan kembali dalam rangka mengisi serta menumbuh kembangkan kader-kader militan diseluruh Jawa Timur. Sehingga, dengan pelatihan ini mampu melahirkan semut-semut dan rayap-rayap kecil didaerahnya masing-masing untuk memperjuangkan Islam yang ramah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang keberadaannya dewasa ini kian terancam.-(W.EKA.W)-