Panduan Pendaftaran Database IPNU

PW IPNU Jatim telah meluncurkan program pengelolaan database anggota yang dinamakan dengan PASTI (Program Aplikasi SisTem Informasi). Program database online ini menyajikan manajemen informasi tentang data di lingkungan internal Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Aplikasi disajikan dalam bentuk web based yang interaktif serta berisi sistem data dan informasi manajemen IPNU, sehingga mempermudah input dan analisa data untuk kepentingan IPNU di semua tingkatan.

Melalui ketersediaan data dan informasi anggota diharapkan bisa menjadi pendukung bagi Pimpinan Ranting sampai Pimpinan Wilayah dalam meningkatkan komitmen untuk membangun pola kerja berbasis data dan informasi di level masing-masing, sehingga bisa meningkatkan kapasitas Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dalam membangun Pelajar yang berkarakter.

 

Pada halaman ini kami akan menjelaskan tentang langkah-langkah pendaftaran bagi anggota IPNU Jawa Timur.

A. PANDUAN PENDAFTARAN

  1. Sebelum mendaftar siapkan alat yang terkoneksi dengan internet (Komputer, Tablet, HP), Foto Profile minimal resolusi 200×200 dengan besar file maksimal 1 Mb serta alat pendukung lainnya (KTP/KartaNU/KK, Sertifikat DIKLATAMA, MAKESTA, LAKMUD, LAKUT, LATPEL, LATFAS, dsb.);
  2. Silahkan mengunjungi halaman website PASTI IPNU JATIM : http://pasti.ipnujatim.or.id/
  3. Setelah terbuka pilih menu pendaftaran seperti gambar dibawah ini

  1. Silahkan melengkapi form isian sesuai data diri yang sebenarnya dan sesuai identitas resmi dan alat pendukung yang ada. Panduan Pengisian kami sertakan dibawah.
  2. Centang pernyataan “Saya menyatakan bahwa data yang saya kirim adalah benar, apabila ada kesalahan maka admin diperbolehkan untuk mengubah atau menghapus data.
  3. Klik daftar
  4. Setelah berhasil maka akan muncul tampilan seperti dibawah. Silahkan pilih file foto (Choose File) yang sudah disiapkan.

  1. Klik Upload file.
  2. Sampai disini proses pendaftaran telah selesai dan rekan tinggal menunggu verifikasi dari admin PASTI.

 

B. PANDUAN PENGISIAN FORMULIR

  • Data Diri

  1. Tulis nama lengkap tanpa gelar. Contoh : Mufarrihul Hazin
  2. Tulis Tempat lahir. Contoh : Palembang
  3. Pilih tanggal lahir lewat menu dropdown.
  4. Tuliskan pendidikan terakhir yang telah diselesaikan. Contoh : S3 Manajemen Pendidikan UNESA
  5. Tuliskan Alamat Lengkap. Contoh : Dusun Nglarangan Desa Selosari Kec. Kandat
  6. Pilih Kabupaten dengan memilih menu dropdown
  7. Isikan Nomor Telp./Hp yang terus aktif tanpa spasi. Contoh : 08155555754
  8. Tulis Alamat e Mail aktif yang telah didaftarkan. Contoh : mufarrihulhazin@gmail.com
  • Pelatihan

  1. Pilih Lokasi/Penyelenggara Makesta yang pernah anda ikuti.(ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri) tunggu sampai muncul.
    10. Pilih Lokasi/Penyelenggara LAKMUD yang pernah anda ikuti. (ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri) tunggu sampai muncul.
    11. Pilih Lokasi/Penyelenggara LAKUT yang pernah anda ikuti. (ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri)
    12. Pilih Lokasi/Penyelenggara LATFAS/LATPEL yang pernah anda ikuti. (ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri)
    13. Pilih Lokasi/Penyelenggara Pelatihan Profesi yang pernah anda ikuti. (ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri)
    14. Tulikan Pelatihan yang tidak termasuk pada pilihan nomor 9-13 dengan dipisah dengan koma jika lebih dari satu pelatihan. Contoh : Diklat Jurnalistik, Diklat Kewirausahaan
  • Keanggotaan dan Jabatan

  1. Pilih Tahun masuk IPNU melalui menu dropdown (Samakan dengan Sertifikat Tahun MAKESTA Jika lupa)
    16. Pilih AKTIF jika masih aktif atau pilih ALUMNI jika sudah tidak aktif lagi di IPNU.
    17. Jika sedang menjabat sebagai salah satu pengurus di Pimpinan Ranting, Anak Cabang atau Pimpinan Cabang. Jika Menjabat dalam dua kepengurusan pilih jabatan di tingkat yang lebih tinggi.(
    (ketik nama tempat sebagian dan nanti akan muncul sendiri) tunggu sampai muncul sendiri
    18. Pilih jabatan sesuai pada tingkatan yang dipilih pada nomor 17.
    19. Isikan Keterangan lain tentang keanggotaan dan jabatan di IPNU.
  • Informasi Akun

  1. Tuliskan username untuk digunakan login anggota. Username harus berupa huruf dan angka {Tidak boleh ada spasi atau kode (!@#$%^&*)} dan belum digunakan oleh user/anggota yang lain.
  2. Tuliskan Password untuk digunakan login anggota.
  3. Tulliskan ulang Password sama persis dengan nomor 21.
  4. CENTANG DAN DAFTAR

 

Note:

  1. Penulisan kata/kalimat menggunakan Capital Each Word (Huruf besar setiap awal kata).
  2. Jika ada permasalahan atau pertanyaan silahkan tinggalkan komentar atau hubungi Admin PASTI.

 

IPNU-IPPNU UNSURI Gelar Extreme Motivation

Sidoarjo, ipnujatim.or.id. Kader NU zaman now harus tampil dalam setiap bidang, terutama dalam bidang pendidikan di perguruan tinggi. maka IPNU-IPPNU harus tampil di kampus dengan berbagai kegiatan yang memiliki sumbangsih besar terhadap kemajuan pendidikan dan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pagi itu, (21/1) dikala banyak mahasiswa pada berlibur ria, namun apadaya kader muda NU, IPNU-IPPNU Universitas Sunan Giri Surabaya, menggelar acara pelantikan dan juga seminar motivasi dengan tema membangun semangat kader untuk menjadi akademis dan aktivis.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua PC IPNU Sidoarjo, perwakilan kampus dan juga Rekan Dr. Mufarrihul Hazin yang juga menjadi narasumber tunggal dalam seminar tersebut. “Ada 3 kata kunci untuk menjadi kader akademis dan aktivis yaitu fokus, serius dan tulus”, Ungkap Wakil Sekretaris PW IPNU Jatim tersebut. Selain itu Farih yang baru disematkan menjadi doktor termuda itu mengungkapkan kader IPNU-IPPNU harus belajar dari pensil.

Pensil itu minimal ada 3 hal yang bisa diambil. Pertama, pensil itu bisa digunakan kalau sudah diraut dengan orotan. hal ini menunjukan bahwa kader IPNU-IPPNU harus siap berjuang dan bersakit-sakit dahulu agar nantinya mampu menghasilkan karya yang besar. Kedua, pensil itu selama masih bisa digunakan untuk menulis, maka akan selalu berkarya, dan karya itu tidak akan pernah hilang, walaupun pensil sudah habis. artinya kader IPNU-IPPNU harus dan terus berkarya, sehingga walaupun jasad sudah dibalik papan, namun karyanya tidak akan pernah lenyap. Ketiga, Pensil itu yang terpenting adalah isinya. artinya kader IPNU-IPPNU itu yang terpenting adalah hati dan akhlaknya. Dengan demikian, kader IPNU-IPPNU harus memiliki semangat perjuangan untuk trus berkarya serta tetap beretika” Ungkap Motivator Muda itu.

“Semangat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa itulah yang menjadikan Rekan Farih mampu mewujudkan mimpinya, menjadi akademis dan aktivis, semoga kita bisa menirunya.” Tutur salah seorang Peserta.

Mufarrihul Hazin, Wasek IPNU Jatim Raih Gelar Doktor

Terlihat wajah yang berseri-seri, pagi itu (14/12) dengan gaya khasnya pakai kopyah ala NU, pengurus IPNU Jatim itu melangkah menuju mimbar ujian terbuka promosi doktor bidang Manajemen Pedidikan di Universitas Negeri Surabaya. Dengan gayanya seorang aktifis NU, dia mulai membuka dan memaparkan presentasinya sangat baik, bahkan mampu menjawab pertanyaan dari penguji dengan sempurna.

Dalam disertasinya, Wakil Sekretaris IPNU  Jatim ini menjelaskan pentingnya pendidikan karakter pada perguruan tinggi. selama ini pendidikan karakter hanya terfokus di pendidikan dasar dan menengah, sedangkan di kampus terlupakan. “mahasiswa itu bukan hanya sekedar agen intektual, namun juga agen perubahan sosial, mereka setelah lulus akan memulai dunia baru dengan pekerjaanya dan kembali kemasyarakat, maka mereka harus dibekali dengan karakter yang kuat” ujar trainer dan konsultan pendidikan ini

Perguruan tinggi harus mampu memformulasikan sebuah kebijakan pengembangan pendidikan karakter dan bagimana implementasinya yang dijadikan naskah akademik di perguruan tinggi. selai itu harus ada satu lembaga/ unit di perguruan tinggi yang bertanggungjawab dan mengembngka karakter mahasiswa. “ini adalah hal yang penting membuat naskah akdemik pengembangan pendidikan karakter dan unit/ pusat yang bertanggungjawab didalamnya” Menurut dosen STAIN Kediri ini

Perjalanan panjang dan berliku telah dilewati oleh Wasek IPNU Jatim ini, mulai jualan Koran, jaga toko sampai menjadi trainer pendidikan. Semuanya telah berbuah manis pada akhirnya. “Bagi saya ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang, selama kita punya cita-cita dan harapan yang besar, maka Allah yang akan menunjukan jalan. Percayalah Itu…” Ujar Santri KH. Hasyim Muzadi itu

Dengan dirainya gelar doktor di usia 26 tahun ini, dengan studi cuman 2 tahun, Farih berharap kepada seluruh kader IPNU-IPPNU agar mampu menseimbangkan antara kegiatan organisasi dengan akademik. IPNU-IPPNU ujung tombak pengkaderan di NU, maka harus mampu memberikan sumbangsih yang besar untuk masa depan NU, bangsa dan Agama.

IPNU Jatim bentuk Intruktur Visioner

Kaderisasi merupakan roh organisasi, apalagi IPNU yang merupakan garda terdepan kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU). sebagaimana pernyataan Abah Hasyim Muzadi “IPNU-IPPNU merupakan organisasi kader, bukan organisasi masa. Maka kegiatan yang dilakukan harus 60% berorientasi pada kaderisasi”.

IPNU Jatim sadar betul akan pentingnya kaderisasi dalam IPNU, maka agar dapat melakukan kaderisasi dengan baik, dibutuhkan tim instruktur visioner yang diharapkan mampu untuk mengawal kaderisasi IPNU kedepan menjadi lebih baik, intruktur yang mampu memetakan dan menentukan arah kaderisasi yang berbasis kebutuhan, bukan keinginan. Dengan demikian IPNU Jawa Timur membuat pelatihan yang disebut LATIN (Latihan Instruktur) Jawa Timur.
LATIN ini merupakan Latin pada zona II, yang terdiri dari 3 korda, yaitu metropolis, Madura dan pantura. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari, mulai tanggal 11 sampai 14 Juli 2017 di SMK Wachid Hasjim Maduran Lamongan Jatim. Latihan ini mendatangkan pemateri kelas Nasional, untuk materi ideology disampaikan oleh Kiayi Ma’ruf Khozin. selain itu, hadir penulis buku kaderisasi IPNU, Samanhudi, dan mantan ketua PP IPNU sekaligus Intruktur Nasional Muchit Efendi.

Dalam Latihan Intruktur ini, peserta bukan hanya diajari teoritik, namun juga praktik, bandingannya adalah 40% teori, dan 60% praktik. Hal ini diharapkan para peserta setelah mengikuti pelatihan ini akan mendapatkan ketrampilan langsung bagimana memanagement pelatihan mulai darai pra, pelaksanaan dan pasca pelatihan. Selain itu, para peserta juga dibekali, materi keinstrukturan, falsafat dan prinsip pelatihan, metode dan media pelatihan, psikologi pelatihan dan juga metodologi evaluasi pelatihan.

Menurut Sekretaris Kaderisasi IPNU Jatim, Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi penggerak untuk perubahan dan eksistensi para pelajar, khususnya pelajar NU. sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “membentuk intruktur visioner, demi eksistensi kader”. Maka mereka, setelah ini akan kita control trus, bahkan kita mewajibkan kepada para peserta pasca pelatihan untuk melakukan PANCADHARMA Instrukur.” Ungkap Mufarrihul Hazin.

IPNU Jatim: 79,5% Pelajar Tolak Full Day School

Surabaya – Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk menerapkan sekolah lima hari dan 8 jam sehari atau Full Day School (FDS) menuai pro-kontra. Tak terkecuali kalangan pelajar. Hasil survei terbaru, sebanyak 79,5 % pelajar menyatakan tidak setuju.

Hal itu berdasarkan hasil survei terbaru oleh Student Research Center (SRC) Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur. Survei dilakukan via whatsapp yang disebar di seluruh grup pelajar di Jawa Timur mulai SMP/SMA sederajat. Dengan cara menulis nama, sekolah, kabupaten/kota lalu jawaban dikirim melalui nomer whatsapp yang tercantum hingga pukul 23.59 WIB per tanggal 19 Juni 2017.

“Alhamdulillah para pelajar merespon begitu cepat dan antusias. Dalam waktu sehari semalam kita menyebar poling melalui grup whatsapp pelajar, sebanyak 420 responde mengirikan jawabannya,” kata Direktur SRC Jatim, Ahmad Ainun Najib, saat ditemui di kantor PW IPNU Jatim, Rabu malam, 21 Juni 2017.

Dari 420 responden, 79.05% menjawab tidak setuju dengan sistem penerapan full day school. Sedangkan 20.95% setuju. Alasan penolakan full day school oleh pelajar adalah menguras tenaga dan pikiran sebanyak 38.25%. Tidak bisa membantu orang tua 16.87% dan bikin capek dan bosen dalam kelas sebanyak 15.06%.

Selebihnya para pelajar menjawab tidak bisa belajar ilmu agama di madrasah diniyah, tidak bisa berorganisasi dan keterbatasan waktu untuk bersosial masyarakat. “Poling ini kami lakukan untuk menyerap aspirasi dari kalangan pelajar. Kami berharap riset ini bisa menjadi data bagi pemangku kebijakan, bahwa pelajar tidak setuju dengan penerapan sistem full day school,” terang remaja yang juga pengurus IPNU Jatim ini.

Sekitar 85 pelajar berasumsi dengan adanya full day school, bisa meningkatkan pendidikan di Indonesia. “Pelajar Indonesia harus terus belajar dan tidak terlalu banyak bermain, dengan full day school waktu bermain mereka secara otomatis berkurang,” kata Fera Febriana pelajar SMKN 1 Banyuwangi ini.

“Poling melalui akun media sosial akan terus dilakukan. Ke depan akan kami lakukan poling melalui twitter, facebook dan instagram, karena akun media sosial tersebut sudah akrab di kalangan pelajar,” pungkas Ainun Najib.

IPNU-IPPNU Pasuruan Gelar Training Motivasi Pelajar

PASURUAN– Jika umumnya menjelang Ujian Nasional Lembaga-lembaga atau organisasi kepemudaan maupun organisasi pelajar “hanya” menggelar Istighosah dan Do’a Bersama, menyiapkan ruhaniyah para pelajar yang akan menghadapi UN. Kali ini, PC. IPNU-IPPNU Kab. Pasuruan mampu mengemas acara yang berbeda dari biasanya. Selain Istighosah dan Do’a bersama, acara kali ini juga dilengkapi dengan Training Motivasi. Memotivasi para pelajar, bagaimana agar tetap semangat dalam proses belajar.  Cara belajar yang baik. Dan bagaimana menggapai mimpi-mimpinya.

 

Kamis (06/04) kemarin, ribuan pelajar se-Kabupaten pasuruan memadati Aula KH. Achmad Djufri, Graha NU Kabupaten Pasuruan. Acara yang bertema “Pelajar sebagai Lingkar Sabda Peradaban Nusantara” ini diawali dengan Istighosah dan Do’a bersama, di Pimpin oleh Wakil Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan, KH. Ma’shum Hasyim. Setelah itu, dilanjut dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon. Selain Wakil Rois Syuriah, Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Pasuruan, KH. Imron Mutamakkin, Sekretaris PC. LP Maarif NU Kab. Pasuruan juga hadir dan memberikan sambutan dalam acara yang juga dalam rangka Memeriahkan HARLAH KE-94 NU tersebut . Tak hanya itu, Bupati Pasuruan, HM. Irsyad Yusuf, juga hadir dan turut memotivasi para pelajar agar semangat dalam menghadapi UN dengan berusaha dan berdo’a.564as564as

Tepat pukul 11.30, Rekan Mufarrihul Hazin, sang Trainer Pendidikan Nasional mampu memukau ribuan pelajar dan dewan guru yang mengikuti sesi terakhir dalam rangkaian acara. Acara puncak yang ditunggu-tunggu ini begitu dinikmati oleh hadirin. Pelajar, Dewan Guru, Pengurus PC, dan beberapa tamu undangan terpukau dengan apa yang disampaikan Pria yang saat ini menjabat di PW IPNU JATIM dan PP IPNU tersebut. Semua yang hadir seakan “tersihir” dengan apa yang dibawakan Pria asal Sumatera Selatan itu.

Tepat pukul 13.30 semua sesi acara berakhir, dan Panitia yang semula “pesimistis” dengan konsep acara yang berbeda dari biasanya dan mepetnya waktu penyelenggaraan akhirnya bisa bernafas lega. Dengan berbagai kendala, berkat dukungan berbagai pihak, acara berjalan sukses dan meriah. “Alhamdulillah, dengan kekompakan Pengurus PC, solidnya Panitia, dan dukungan dari berbagai Pihak, acara siang ini berjalan sukses. Dan semoga dengan ini, para pelajar di Pasuruan semakin “Kenal” dengan IPNU dan IPPNU” pungkas Rekan Hadi, Ketua Panitia (ZF)

Continue reading “IPNU-IPPNU Pasuruan Gelar Training Motivasi Pelajar”

IPNU Jatim Miliki Tim Instruktur Nasionalis-Religius

Jember — Memanasnya suhu politik dewasa ini berimbas pada semakin terancamnya sendi-sendi kebangsaan dan kebhenekaan. Fenonema ironis ini, diperparah dengan kian merebaknya ujaran kebencian yang menggunakan sentimen keagamaan dan latar belakang kebudayaan.

Melihat fenomena ini, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur menyelenggarakan Latihan Instruktur (LATIN) di PP Darul Arifin, Jember, (21-24/4).

Menurut Winarto Eka Wahyudi selaku ketua kaderisasi PW IPNU Jatim, kegiatan dilaksanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan tim instruktur di sejumlah daerah di satu sisi, sekaligus membentuk tenaga instruktur yang berjiwa nasionalis-religius di sisi lain.
“Untuk itulah, selama pergantian materi pelatihan para peserta kami wajibkan menyanyikan lagu Yaa Ahlal Wathan gubahan KH Abdul Wahab Chasbullah untuk memompa semangat nasioanlisme yang dilandasi spirit keagamaan,” terang Eka, Ahad (23/4).

Pria yang juga menjadi dosen di Universitas Islam Lamongan ini menjelaskan bahwa, IPNU yang merupakan organisasi pengkaderan harus responsif terhadap dinamika dan tantangan zaman. Salah satunya adalah dengan mencetak tim instruktur yang punya jiwa nasionalisme tinggi.

Di sisi lain, Haikal AZ selaku Ketua IPNU Jatim menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan media untuk menghidupkan kaderisasi di internal IPNU. Agar mereka nantinya tersebar ke sejumlah daerah, serta menjadi SDM yang mampu menjadi aset bangsa Indonesia kedepan.
“IPNU akan menyiapkan sumber daya manusia yang siap ditempatkan pada posisi-posisi strategis dalam rangka mengabdikan diri pada bangsa dan agama” kata Haikal.

Kegiatan tersebut merupakan amanah dari Rapat Kerja Wilayah dan diikuti 15 kabupaten serta kota yang meliputi wilayah Banyuwangi, Jember, Situbondo, Kencong, Bondowoso, Kraksaan, Probolinggo, Lumajang, Malang, Pasuruan dan Bangil.
Sedangkan pemateri yang terlibat adalah KH Abdullah Syamsul Arifin yang juga Ketua PCNU Jember), instruktur nasional Muhith Efendi dan penulis buku kaderisasi IPNU tahun 2004, Saman Hudi. (Eka/s@if).

PW IPNU Jatim buat Ngaji Riset

IPNU Jatim Cetak 37 Periset

Ngaji Riset PW IPNU Jatim bersama dua periset Universitas Brawijaya Malang di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Minggu (4/9). Pelatihan diikuti 37 anggota IPNU dari 25 kabupaten /kota se-Jatim dan beberapa perguruan tinggi. (Antara Jatim/Edy M Yakub)

Kami berharap periset yang lahir dari pelatihan kali ini akan mendorong NU dapat menghadapi problem sosial dengan data, bukan sekadar wacana. Wacana tanpa data itu hoax

Surabaya – PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur mencetak 37 periset melalui “Ngaji Riset: Pelatihan Metodologi Penelitian Sosial” yang bekerja sama dengan FISIP Universitas Brawijaya Malang di Surabaya, Minggu.

“Pada Maret lalu, kami sudah meluncurkan Student Research Center (SRC) untuk meneguhkan kembali kiprah akademik IPNU sebagai organisasi dengan segmen pelajar, santri, dan mahasiswa,” kata Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami.

Untuk menguatkan peran SRC itu, pihaknya bekerja sama dengan UB mengadakan pelatihan metodologi riset sosial bertajuk “Ngaji Riset” yang diikuti 37 peserta dari 25 PC IPNU se-Jatim serta perwakilan komisariat perguruan tinggi (PKPT).

“Mereka dibimbing dua periset FISIP UB yakni Taufik Akbar dan Faqih Alfian. Kami berharap periset yang lahir dari pelatihan kali ini akan mendorong NU dapat menghadapi problem sosial dengan data, bukan sekadar wacana. Wacana tanpa data itu hoax,” katanya.

Menurut dia, periset dari pelatihan yang pertama kali diadakan SRC IPNU Jatim bersama UB itu akan dihimpun dalam tim periset IPNU di tingkat koordinator daerah (korda) atau karesidenan.

“Kalau sukses akan dikembangkan ke kabupaten/kota,” kata Haikal yang juga seorang peneliti di bidang otonomi daerah itu.

Dalam kesempatan itu, periset UB Taufik Akbar menilai pelatihan metodologi penelitian sosial merupakan langkah maju kader-kader NU yang selama ini hanya main klaim menjadi kader yang berbasis data yang valid.

“Validitas data itu penting, karena Majalah PASTI IPNU Jatim sudah pernah melakukan survei terkait penggunaan ‘smartphone’ di kalangan pelajar dari SD hingga SMA, namun validitas data-nya masih perlu dikritisi,” katanya.

Dalam survei itu, sampel datanya yang dipakai SRC IPNU terlalu sedikit, padahal validitas data itu bisa menggunakan data hingga sampel mencapai 80 persen dari sasaran riset.

“Selain validitas sampel, hal yang juga penting adalah mencari ‘funding’ (penyandang dana) yang mau ‘membeli’ riset itu, sehingga biaya riset tidak sulit lagi, karena riset memang membutuhkan dana tidak sedikit,” katanya. (*)

IPNU Ponorogo gelar Extreme Motivation Pelajar

IPNUJATIM.OR.ID

Ponorogo- Pimpinan Cabang IPNU Ponorogo setelah 2 tahun terlewati, kini mengadakan agenda rutin dua tahunan yaitu konferensi cabang (Konfercab) yang bertujuan untuk memilih ketua baru, perencanaan program kedepan dan evaluasi kinerja pengurus. Konfercab ini dilaksanakan di MA-MTs Maarif Balong Ponorogo.

Sabtu, 27 Februari 16, terlihat sangat ramai sekali dilokasi konfercab, hal ini terliah banyak berdatangan para pelajar ketempat tersebut untuk mengikuti rangkaian acara, yaitu Extreme Motivation Training. Pada kesemptan tersebut mendatangkan Mufarrihul Hazin, S.Pd.I, M.Pd, M.Ht., M.NLP, CI, seorang master Trainer dan motivator bidang pendidikan kelas nasional.

IMG_5495

Pada acara yang dihadiri oleh pelajar se-ponorogo tersebut, Farih yang juga menjadi Wasek PW IPNU Jatim mengatakan ” Jadilah pelajar extreme, pelajar yang bisa mengabungkan antara prestasi akademis dan aktif dalam organisatoris. Pelajar hari ini tidak cukup pandai secara intlektual semata, namun harus mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan, dituntuk harus bisa aktif dalam organisasi seperti IPNU dan IPPNU”

Kegiatan itu di tutup oleh , dengan Muhasabah untuk selalu intripeksi dan ingat kepada Allah SWT. kemudian mahasiswa Doktorol Unesa ini juga menyimpulkan kesuksesan bukanlah suatu kebetulan, namun kesuksesan akan dapat diraih dengan usaha dan doa. Doa dan Restu orang tua adalah segalanya.

IMG_5582

Dalam kesempatan tersebut, ketua PC IPNU, Dardiry berharap agar para pelajar khusunya di ponorogo, bisa menjadi pelajar yang aktif dalam kegiatan IPNU-IPPNU, karena IPNU-IPPNU adalah organisasi pelajar. selain itu juga harapan peserta, menginginkan kegiatan seprti ini bisa dilakukan setiap tahun.

IPNU itu memBERKAHi, namun juga bisa meLAKNATi

Malam itu tahun 2010, saya dicari oleh salah seorang santri di Al-Hikam, beliau ngomong “Far,,, Bisa mijeti ta?” saya jawab “mijeti siapa”, dia ngomong ” Mbah Muhith Muzadi(Alm)” seketika itu juga saya terbangun dan bilang “Siap Bisa”. karena waktu itu sya sangat mendambakan untuk bertanya tentang banyak hal. Akhirnya langsung bergegas ke Rumah ustdz. Nafi’ dan Mbah muhith Muzadi sudah ada disana.

Pijetan demi pijetan, mulai saya bertanya tentang Khittoh NU, kemudian waktu itu karena pasca muktamar dimakasar, beliau cerita tentang peristiwa muktamar, dan lain sebagainya, bahkan sya tanya juga asal usul pramuka atau kepanduan dan tak lupa waktu itu sya tanya tentang IPNU.

Setelah lebih dari 2 jam tak terasa, banyak cerita tentang NU dan IPNU. kemudian belia berpesan di penghujungnya ” Kowe saaiki kan nang IPNU, IPNU iku kader enome NU. Yo seng bener lek berjuang di IPNU itu, gak usah neko-neko. sebab IPNU iku yo barokai, tapi yo iso malati”

Kata kata itu yang hingga kini selalu terniang-niang ditelingaku. Saya sangat berhati dalam ber-IPNU. Karena IPNU bukan sekedar organisasi biasa. IPNU organiasi yang didirikan oleh para pelajar yang tulus hatinya. IPNU sebagai Gerbang pengkaderan NU. IPNU didiran dengan tujuan mulia, ayo muliakan IPNU dengan Ilmu dan Akhlak.
Bahkan dua kali ikut kongres saya selalu menangis meneteskan air mata tanpa sadar. kenapa??? bersambung edisi 5….

Saat Muktamar, Konsep Kaderisasi di NU Harus Dipertegas

SURABAYA – Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggelar buka bersama PC IPNU se-Jatim. Acara dihelat di ruang Kertorahajo Gedung PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur no 9 Surabaya (5/7/2015).

Banyak masukan dari acara yang dikemas dengan dialog interaktif bertemakan Reorientasi IPNU Basis Kaderisasi NU di Sekolah, Pesantren, dan Perguruan Tinggi tersebut. Sejumlah masukan disampaikan sejumlah kalangan demi kemajuan PW IPNU Jawa Timur.

Dialog menghadirkan Ketua Majelis Alumni IPNU Jatim, H Muzammil Syafii, SH, MSi dan Edi Ya’kub dari unsur media. Abah Muzammil, sapaan akrabnya mengatakan reorientasi artinya meninjau kembali kaderisasi di tubuh NU. “IPNU adalah organisasi yang memiliki potensi besar bagi kaderisasi di NU. Untuk itu, sudah saatnya NU di semua tingkatan memproritaskan kader IPNU duduk di struktur NU,” katanya.

Dulu awal berdirinya IPNU, istilah pelajar itu dulu hanya sebatas pada tingkatan SMA/SMK atau MA, tidak sampai kepada mahasiswa yang maksimal usianya 29 tahun. Demikianlah yang ada pada aturan di IPNU. “Usia 30 tahun itu, usianya bisa S2 atau S3” jelas Abah Muzammil.

Dari batasan usia itu, IPNU harus memperjelas di dalam aturannya bahwa ada tiga hal yang menjadi garapan IPNU ke depan, yaitu santri, siswa dan mahasiswa,” tegasnya.

Untuk itu, unsur perguruan tinggi harus masuk dalam aturan NU. Pada saat ini, Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU sudah mencapai 35 se Indonesia. “Mungkin ini menjadi modal awal untuk memasukkan mahasiswa sebagai basis kaderisasi IPNU,” jelas Imam Fadli, mantan Ketua PW IPNU Jatim.

Dalam pandangan M Fadli, keberadaan ini harus dikawal oleh IPNU pada Muktamar nanti. IPNU harus meminta bantuan kepada PCNU setempat untuk menyampaikan masukan dari IPNU salah satunya legalitas perguruan tinggi. “Karena yang punya suara penuh adalah PCNU,” tegas Fadlli.

Sedangkan dalam penilaian Edi Ya’kub, proses kaderisasi di NU tidak jalan. NU banyak memasukkan pengurus dari luar, bukan dari badan otonom seperti IPNU dan Ansor. “Inilah yang harus dilakukan IPNU pada muktamar nanti, mempertegas konsep kaderisasi di tubuh NU,” kata Cak Edi, sapaan akrabnya.

Haikal Atiq Zamzamy, sebagai Ketua PW IPNU Jatim priode 2015-2018 mengatakan bahwa pelantikan kepengurusannya akan digelar akhir Agustus atau awal September mendatang. (Rofii/s@if)

New Chicago school budget relies on state pension

Hundreds of schoolchildren in the southern Philippines have fallen sick after eating durian-flavoured sweets, the provincial governor said Saturday.

[stm_post_info css=”.vc_custom_1437111129257{margin-bottom: 0px !important;}”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elites. Nulla convallis egestas rhoncusa. Donec lorem facilisis fermentum sem, ac viverra ante luctus vel. Donec vel mauris quam Proin vestibulum leo eget erat congue interdum. Suspendisse nunc ligula, suscipit vehicula consequat eu.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut laboreso et dolore magna aliqua Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco

Cras condimentum a elit eget sagittis. Ut dignissim sapien feugiat purus tristique, vitae aliquet arcu tempor. Nulla facilisi. Integer maximus mi non nulla posuere consectetur. Phasellus erat lectus, ullamcorper nec erat vel, hendrerit hendrerit urna. Curabitur ut tempor lacus. Vivamus mollis, elit vitae maximus imperdiet, nisi nulla fermentum nisi, sed luctus metus dolor ac eros. Nulla cursus venenatis enim, vitae tincidunt justo vulputate a. Sed elementum elit ultrices tellus elementum, et molestie nulla pharetra.

Unordered & Ordered Lists

  • Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  • Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  • Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.
  1. Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  2. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  3. Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.

Donec porta ultricies urna, nec faucibus magna dapibus vel. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.

[stm_post_tags]
[stm_share code=”JTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZmFjZWJvb2tfbGFyZ2UlMjclMjBkaXNwbGF5VGV4dCUzRCUyNyUyNyUzRSUzQyUyRnNwYW4lM0UlMEElM0NzcGFuJTIwY2xhc3MlM0QlMjdzdF90d2l0dGVyX2xhcmdlJTI3JTIwZGlzcGxheVRleHQlM0QlMjclMjclM0UlM0MlMkZzcGFuJTNFJTBBJTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZ29vZ2xlcGx1c19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRSUwQSUzQ3NwYW4lMjBjbGFzcyUzRCUyN3N0X3NoYXJldGhpc19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRQ==”]
[stm_post_author][stm_post_comments]

Keep Body Cameras Off Public-School Educators

Some of can’t rely on stable worlds economic, so learn, learn and learn everything new, this will help you anytime, dont be upset, believe yourself even in dark times!

[stm_post_info css=”.vc_custom_1437111839615{margin-bottom: 0px !important;}”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elites. Nulla convallis egestas rhoncusa. Donec lorem facilisis fermentum sem, ac viverra ante luctus vel. Donec vel mauris quam Proin vestibulum leo eget erat congue interdum. Suspendisse nunc ligula, suscipit vehicula consequat eu.

The upcoming budget for the Chicago Public Schools will rely on $500 million

Cras condimentum a elit eget sagittis. Ut dignissim sapien feugiat purus tristique, vitae aliquet arcu tempor. Nulla facilisi. Integer maximus mi non nulla posuere consectetur. Phasellus erat lectus, ullamcorper nec erat vel, hendrerit hendrerit urna. Curabitur ut tempor lacus. Vivamus mollis, elit vitae maximus imperdiet, nisi nulla fermentum nisi, sed luctus metus dolor ac eros. Nulla cursus venenatis enim, vitae tincidunt justo vulputate a. Sed elementum elit ultrices tellus elementum, et molestie nulla pharetra.

  • Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  • Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  • Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.
  1. Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  2. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  3. Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.

Donec porta ultricies urna, nec faucibus magna dapibus vel. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.

[stm_multy_separator]
[stm_post_tags]
[stm_share code=”JTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZmFjZWJvb2tfbGFyZ2UlMjclMjBkaXNwbGF5VGV4dCUzRCUyNyUyNyUzRSUzQyUyRnNwYW4lM0UlMEElM0NzcGFuJTIwY2xhc3MlM0QlMjdzdF90d2l0dGVyX2xhcmdlJTI3JTIwZGlzcGxheVRleHQlM0QlMjclMjclM0UlM0MlMkZzcGFuJTNF”]
[stm_post_author][stm_multy_separator][stm_post_comments]

US Teens Win International Rocketry Challenge

Throughout the United States, police officers are beginning to wear body cameras. Should principals in America’s public-school systems follow their example?

[stm_post_info css=”.vc_custom_1437111129257{margin-bottom: 0px !important;}”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elites. Nulla convallis egestas rhoncusa. Donec lorem facilisis fermentum sem, ac viverra ante luctus vel. Donec vel mauris quam Proin vestibulum leo eget erat congue interdum. Suspendisse nunc ligula, suscipit vehicula consequat eu.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut laboreso et dolore magna aliqua Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco

Cras condimentum a elit eget sagittis. Ut dignissim sapien feugiat purus tristique, vitae aliquet arcu tempor. Nulla facilisi. Integer maximus mi non nulla posuere consectetur. Phasellus erat lectus, ullamcorper nec erat vel, hendrerit hendrerit urna. Curabitur ut tempor lacus. Vivamus mollis, elit vitae maximus imperdiet, nisi nulla fermentum nisi, sed luctus metus dolor ac eros. Nulla cursus venenatis enim, vitae tincidunt justo vulputate a. Sed elementum elit ultrices tellus elementum, et molestie nulla pharetra.

Unordered & Ordered Lists

  • Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  • Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  • Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.
  1. Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  2. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  3. Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.

Donec porta ultricies urna, nec faucibus magna dapibus vel. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.

[stm_post_tags]
[stm_share code=”JTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZmFjZWJvb2tfbGFyZ2UlMjclMjBkaXNwbGF5VGV4dCUzRCUyNyUyNyUzRSUzQyUyRnNwYW4lM0UlMEElM0NzcGFuJTIwY2xhc3MlM0QlMjdzdF90d2l0dGVyX2xhcmdlJTI3JTIwZGlzcGxheVRleHQlM0QlMjclMjclM0UlM0MlMkZzcGFuJTNFJTBBJTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZ29vZ2xlcGx1c19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRSUwQSUzQ3NwYW4lMjBjbGFzcyUzRCUyN3N0X3NoYXJldGhpc19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRQ==”]
[stm_post_author][stm_post_comments]

IPNU Jatim Siapkan Pola Pelatihan Kontra Radikalisme

NAHDLOHSurabaya,

Pimpinan Wilayah Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur akan menyiapkan pola pelatihan kontra radikalisme untuk membentengi Islam ramah yang berkembang di masyarakat Indonesia.

“Kami memiliki latihan pelatih yang selama ini untuk memperkuat kaderisasi di dalam organisasi, tapi akan kami kembangkan untuk merespon potensi radikalisme akhir-akhir ini,” kata Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzamy, di sela peringatan Harlah NU di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur 9 Surabaya, Selasa (5/5).

Haikal dipercaya memimpin PW IPNU Jatim untuk periode 2015-2018, melalui hasil Konferensi Wilayah (Konferwil) XXI IPNU Jatim di Pasuruan pada 3 Mei 2015. Dalam Konferwil itu, mantanWakil Ketua II bidang kaderisasi PW IPNU periode 2012-2015 itu terpilih setelah mendapatkan 22 suaradari 41 kabupaten/kota, sedangkan calon lainnya, Abdul Rozaq (dari Bangil) meraih 19 suara.

Haikal menjelaskan, kader merupakan motor penggerak utama di dalam IPNU. Menurut dia, IPNU adalah organisasi kader yang memiliki tiga segmen, yakni pelajar, santri, dan mahasiswa. “Tapi kami lebih fokus pada sinergi atau senyawa antara pelajar dan santri, karena kalau mahasiswa lebih mandiri dalam berorganisasi,” kata pria asal Jember ini.

Alumnus UIN SunanAmpel Surabaya ini menyatakan, kaderisasi untuk remaja dalam segmen santri, pelajar, dan mahasiswa akan dioptimalkan pada upaya membentengi segmen-segmen itu dari radikalisasi.

“Melalui latihan pelatih, kami akan menyiapkan pelatih khusus untuk terjun ke sekolah (pelajar ), pesantren (santri), perguruan tinggi (mahasiswa), dan remaja (masjid/mushalla) untuk melakukan pendekatan kultural dalam menangkal radikalisasi,” katanya.

Namun, pelatihan dilakukan untuk segmen-segmen itu akan tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan tren dari segmen-semen itu, sehingga pendekatan kepada segmen-segmen itu akan melalui instrumen analisa kebutuhan.

Selain pelatihan pelatih yang akan dikhususkan memperkuat Islam ramah itu, IPNU Jatim juga akan mengantisipasi perkembangan eksternal yang tidak kalah “sadis” dari radikalisme, yakni narkoba, pergaulan bebas, minuman keras, ketidakjujuran (korupsi), dansebagainya.

“Untuk perkembangan eksternal itu, kami juga menaruh perhatian, karena kondisi merusak segmen yang menjadi sasaran IPNU. Untuk itu, kami akan menjalin kerja sama dengan BNN, BKKBN, Disperindag, BPK, KPK, dan media massa. Dengan KPI dan KPU, kami melakukan pendidikan pemirsa televisi dan pemilih pemula yang cerdas,” pungkasnya. (Abdul Hady JM/Mahbib)

Ketua Baru, Haikal Arahkan IPNU Jatim pada Kaderisasi

Surabaya,
Konferensi Wilayah (Konferwil) XXI IPNU Jawa Timur mengamanahkan Haikal Atiq Zamzamy sebagai ketua IPNU Jatim periode 2015-2018. Pada kegiatan Jumat-Ahad (1-3/5) ini, Haikal menegaskan kaderisasi sebagai agenda utama kepengurusannya ke depan.

Menurutnya, IPNU harus menjadi organisasi yang menjunjung tinggi semangat kaderisasi. “Dengan kaderisasilah corak IPNU sebagai organisasi pelajar islam yang ramah, toleran, berwawasan dan demokratis bisa dipertahankan,” ujar pria kelahiran Jember ini di Balai latihan Kerja (BLK) Rejoso, Pasuruan.

Orientasi ini menurutnya bisa dilakukan dengan semangat desentralisasi dalam tiap program kerja yang akan dicanangkannya.

“Paradigma sentralistik sudah tidak relevan lagi jika ingin mengoptimalkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah-daerah garapan,” terangnya saat sambutan sebagai ketua terpilih.

Pada kepemimpinannya, ia bertekad mempertahankan program-program yang sudah dirintis dengan baik pada periode sebelumnya, serta tetap mencari terobosan-terobosan baru agar organisasi ini tetap relevan dan menarik di tengah perkembangan zaman. (Red Alhafiz K)

South African universities trail other BRICS

South Africa has eight of the top 15 universities in Africa but its higher learning institutions are rated as the worst performing among the BRICS emerging market nations.

[stm_post_info css=”.vc_custom_1437111129257{margin-bottom: 0px !important;}”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elites. Nulla convallis egestas rhoncusa. Donec lorem facilisis fermentum sem, ac viverra ante luctus vel. Donec vel mauris quam Proin vestibulum leo eget erat congue interdum. Suspendisse nunc ligula, suscipit vehicula consequat eu.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut laboreso et dolore magna aliqua Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco

Cras condimentum a elit eget sagittis. Ut dignissim sapien feugiat purus tristique, vitae aliquet arcu tempor. Nulla facilisi. Integer maximus mi non nulla posuere consectetur. Phasellus erat lectus, ullamcorper nec erat vel, hendrerit hendrerit urna. Curabitur ut tempor lacus. Vivamus mollis, elit vitae maximus imperdiet, nisi nulla fermentum nisi, sed luctus metus dolor ac eros. Nulla cursus venenatis enim, vitae tincidunt justo vulputate a. Sed elementum elit ultrices tellus elementum, et molestie nulla pharetra.

Unordered & Ordered Lists

  • Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  • Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  • Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.
  1. Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  2. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  3. Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.

Donec porta ultricies urna, nec faucibus magna dapibus vel. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.

[stm_post_tags]
[stm_share code=”JTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZmFjZWJvb2tfbGFyZ2UlMjclMjBkaXNwbGF5VGV4dCUzRCUyNyUyNyUzRSUzQyUyRnNwYW4lM0UlMEElM0NzcGFuJTIwY2xhc3MlM0QlMjdzdF90d2l0dGVyX2xhcmdlJTI3JTIwZGlzcGxheVRleHQlM0QlMjclMjclM0UlM0MlMkZzcGFuJTNFJTBBJTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZ29vZ2xlcGx1c19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRSUwQSUzQ3NwYW4lMjBjbGFzcyUzRCUyN3N0X3NoYXJldGhpc19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRQ==”]
[stm_post_author][stm_post_comments]

KONFERCAB PCNU KOTA KRAKSAAN 2015

ahad, 29 maret 2015. telah dilaksanakan konfercab PCNU kota kraksaan, acara ini dihadiri oleh ketua PWNU Jatim beserta para undangan yang lainnya. alhamdulillah acara ini dapat berjalan dengan kondusif.
dalam acara ini yang diamanatkan sebagai Rois Syuriyah adalah KH Munir KHolili dan KH Nasrullah Ahmad Suja’i sebagai ketua Tanfidiyah. semoga Kraksaan lebih maju, umumnya untuk NU dan ummat isDSCN1513lam. @jurnalis muda Kraksaan

DO’A BERSAMA MENJELANG UN 2015 BERSAMA IPNU & IPPNU KOTA KRAKSAAN

Sabtu, 28 maret 2015. pagi itu telah dilaksanakan acara do’abersama enjelang UN 2015. acara ini diadakan oleh PC IPNU & IPPNU Kota Kraksaan. acara ini bertujuan agar memberikan motivasi kepada pelajar agarsupaya bisa menghadapi ujian dengan tenang dan lulus dengan memperolehnilai yang baik. semoga bermanfaat, aamiin, salam 3B. @by Jurnalis muda Kraksaan.DSCN0471

PC IPNU & IPPNU KOTA KRAKSAAN MENGGELAR FESTIVAL BAHASA 2015

Pengurus IPNU dan IPPNU kota Kraksaan kabupaten Probolinggo menggelar festival pidato bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam memperingati harlah keduanya. Kegiatan di Kantor PCNU Kraksaan di jalan KH Abdurrahman Wahid kelurahan Sidomukti ini, dimeriahkan oleh sedikitnya 239 pelajar sebagai peserta festival.

Festival pada Ahad (22/3) ini merupakan kegiatan pra konferensi cabang PCNU Kraksaan. Festival bahasa Arab tingkat aliyah diikuti sebanyak 71 peserta. Sebanyak 69 peserta mengikuti festival bahasa Inggris tingkat MA-SMA. Untuk bahasa Arab jenjang MTs, 48 peserta berlomba satu sama lain. Sedangkan untuk bahasa Inggris, sejumlah 52 pelajar terlibat persaingan.

Ketua IPNU Kota Kraksaan Masrur Ghazali mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar pelajar tingkat SLTP maupun SLTA mampu menampilkan kemampuan yang dimiliki dalam segi keterampilan, mental, dan pengalaman dalam penyampaian pidato bahasa Arab maupun bahasa Inggris.

“Festival bahasa ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kader yang bisa diandalkan dari segi intelektual. Bukan hanya pandai bersholawat, tetapi kader IPNU-IPPNU yang bisa mengikuti perkembangan zaman dalam artian yang positif,” ungkapnya.

Sementara Ketua IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh berharap semua pelajar NU lebih mengenal kegiatan NU itu seperti apa, terlebih kepada para kader IPNU-IPPNU dan bisa mengasah bakat dan kemampuannya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menghidupkan kembali kegiatan yang bisa mengasah bakat dan kemampuan pelajar NU dalam berbahasa Arab dan Inggris yang merupakan bentuk implementasi dari hasil pembelajaran di sekolah masing-masing,” harapnya.

Festival bahasa Arab dan Inggris ini mendapatkan tanggapan yang sangat positif dari para pelajar NU. Besarnya minat dan partisipasi pelajar semakin meriah oleh para pendukung peserta dari masing-masing asal sekolah peserta.
DSCN0290

HARLAH IPNU & IPPNU. PC IPNU&IPPNU KOTA KRAKSAAN MENGGELAR LOMBA MARS

Sebanyak 10 kelompok paduan suara mengikuti lomba menyanyikan mars IPNU dan IPPNU yang diselenggarakan pengurus pelajar NU Kota Kraksaan kabupaten Probolinggo, Sabtu (21/3). Utusan komisariat dan anak cabang pelajar NU di kota Kraksaan itu, bersaing menunjukkan kepiawaiannya melantunkankan mars organisasi mereka di kantor PCNU kota Kraksaan jalan KH Abdurrahman Wahid, Sidomukti, Kraksaan.

Ketua IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh mengatakan, lomba mars ini digelar untuk mengenalkan organisasi IPNU-IPPNU di kalangan para pelajar.

“Sesuai dengan tugas kita juga sebagai wadah aspirasi dan tempat menampung segala bakat dan minat pelajar yang merupakan perwakilan PK IPNU-IPPNU. Sehinggga bisa disalurkan dalam dunia tarik suara,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam. Menurutnya, kriteria penilaian dalam lomba ini meliputi kekompakan, penghayatan, adab, dan penampilan.

“Semoga lomba mars IPNU-IPPNU ini menumbuhkan kader yang bukan hanya rohaninya tetapi juga intelektual seiring dengan berkembangnya zaman. Sehingga para pelajar NU tidak ketinggalan zaman,” harapnya.

Lomba mars IPNU-IPPNU ini disambut sangat antusias oleh para pelajar PK IPNU-IPPNU dan pengurus PAC IPNU-IPPNU sewilayah kerja IPNU-IPPNU Kota KraksaanDSCN0232

PERINGATI HARLAH IPNU-IPPNU BERSAMA SELURUH PELAJAR BONDOWOSO DALAM DO’A BERSAMA SUKSES UN 2015.

IMG_0215

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang dipijaknya masih berkobar-kobar pemuda pemudi Islam Bondowoso, dan saat ini di wujudkan oleh PC. IPNU-IPPNU dalam rangka memperingati Harlah dan Sukses Ujian Nasional 2015. Dengan tema “Tenangkan Hati dan Jiwa dengan lantunan Dzikrullah, menggapai Prestasi bersama Ridho Allah.

The Beauty of the Childhood

After years of watching Vancouver housing prices climb, driven in part by Chinese investment, Eveline Xia came to a painful realization: Despite having a Master’s degree and solid career prospects.

[stm_post_info css=”.vc_custom_1437111129257{margin-bottom: 0px !important;}”]

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elites. Nulla convallis egestas rhoncusa. Donec lorem facilisis fermentum sem, ac viverra ante luctus vel. Donec vel mauris quam Proin vestibulum leo eget erat congue interdum. Suspendisse nunc ligula, suscipit vehicula consequat eu.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut laboreso et dolore magna aliqua Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco

Cras condimentum a elit eget sagittis. Ut dignissim sapien feugiat purus tristique, vitae aliquet arcu tempor. Nulla facilisi. Integer maximus mi non nulla posuere consectetur. Phasellus erat lectus, ullamcorper nec erat vel, hendrerit hendrerit urna. Curabitur ut tempor lacus. Vivamus mollis, elit vitae maximus imperdiet, nisi nulla fermentum nisi, sed luctus metus dolor ac eros. Nulla cursus venenatis enim, vitae tincidunt justo vulputate a. Sed elementum elit ultrices tellus elementum, et molestie nulla pharetra.

Unordered & Ordered Lists

  • Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  • Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  • Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.
  1. Donec porta ultricies urna, faucibus magna dapibus.
  2. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.
  3. Folutpat tempor tur duis mattis dapibus, felis amet.

Donec porta ultricies urna, nec faucibus magna dapibus vel. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Etiam varius tortor ut ligula facilisis varius in a leo.

[stm_post_tags]
[stm_share code=”JTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZmFjZWJvb2tfbGFyZ2UlMjclMjBkaXNwbGF5VGV4dCUzRCUyNyUyNyUzRSUzQyUyRnNwYW4lM0UlMEElM0NzcGFuJTIwY2xhc3MlM0QlMjdzdF90d2l0dGVyX2xhcmdlJTI3JTIwZGlzcGxheVRleHQlM0QlMjclMjclM0UlM0MlMkZzcGFuJTNFJTBBJTNDc3BhbiUyMGNsYXNzJTNEJTI3c3RfZ29vZ2xlcGx1c19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRSUwQSUzQ3NwYW4lMjBjbGFzcyUzRCUyN3N0X3NoYXJldGhpc19sYXJnZSUyNyUyMGRpc3BsYXlUZXh0JTNEJTI3JTI3JTNFJTNDJTJGc3BhbiUzRQ==”]
[stm_post_author][stm_post_comments]

Peringati Harlah, IPNU-IPPNU Kota Surabaya Dialog Dengan Alumni

DSC_0073
Surabaya, LPJP
Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Surabaya memperingati harlah ke-61 IPNU dan ke-60 IPPNU dengan mengadakan Tasyakuran dan dialog interaktif dengan Majelis Alumni pada Ahad, 8/3/2015.
Kegiatan yang bertema “Memantpkan Peran, Peluang dan Parameter IPNU-IPPNU Sebagai Organisasi Kader” dilaksanakan di Aula PCNU Kota Surabaya. Dalam sambutannya, ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan mengungkapkan peringatan harlah sebagai momentum untuk menegaskan kembali IPNU-IPPNU sebagai Organisasi Kader.
Diskusi itu dihadiri para pengurus IPNU-IPPNU dari semua level mulai Ranting, komisariat, PAC dan Pimpinan Cabang . Turut hadir pula para Rekan-Rekan Majelis Alumni dari berbagai periode, Rekan Abdul Kholiq mantan ketua tahun 1973, Ahmad Kholiq mantan ketua tahun 1999-2001, HM. Faridz Afif mantan ketua tahun 2008-2010, Abdul Holil 2010-2012, dan M. Mundir 2012-2014. Hadir juga KH. Sholahudin Azmi mewakili pengurus PCNU Kota Surabaya
Dalam sambutannya KH. Sholahuddin Azmi yang akrab dipanggil Gus Udin mengatakan, IPNU-IPPNU sebagai garda terdepan pengakderan Nahdlatul Ulama’ harus tetap memelihara kultur yang selama ini sudah menjadi trade mark NU. Beliau juga meminta seluruh kader maupun pengurus untuk tidak sungkan-sungkan bertanya kepada pengurus NU jika ada permasalahan-permasalahan yang perlu pemecahan.
Disela-sela acara juga ada pembagian hadiah dan piala pemenang Turnamen Futsal IPNU antar Remaja Masjid dan Pondok Pesantren Se-Kota Surabaya.
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng tasyakuran dan seluruh peserta yang hadir makan bersama sebagai wujud kebersamaan antara kader, pengrus dan alumni.
Muh. Sholeh Anas

Momentum Harlah IPNU Ke-61: Mengikis Kesadaran Magic berorganisasi menuju Kesadaran Kritis Kolektif

harlah
Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala (Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer (Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta)

24 Februari 2015, IPNU menapaki tahun ke-61. Para founding fathers-nya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya dibawah naungan LP.Ma’arif dan kemudian menjadi underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan, pelajar, dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.
Deskripsi dan usulan perubahan dari penulis mudah-mudahan mampu memaksa kita untuk mere-institusional-isasi dirinya. Jika tidak, mudah-mudahan selalu muncul gagasan alternatif dari kader-kader lain yang bisa menjadi common platform bagi institutional building yang memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan terkini dengan diferensiasi karakteristik yang khas. Jika tidak ada sama sekali agenda berupa gagasan dan langkah konkrit dalam mereorganisasi maka secara automatically eksistensi dan peran IPNU akan terus memudar.

Membaca Masa Kini
Adapun bagi IPNU yang telah menginjak usia 61 tahun, jika diumpamakan dengan usia manusia, IPNU sekarang adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia. Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memang kurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi IPNU saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki IPNU yang mengabaikan mandat institusi.
Beruntung PP IPNU masih belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader, sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan pada cabang-cabang, anak cabang, dan ranting, karena sebagian kecil pengurus-pengurus IPNU di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi IPNU di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konferwil, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala IPNU yang masih terus mentradisi. Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.
Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan pada daerah? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi IPNU Sebagian besar hanya menjadikan IPNU sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post – IPNU dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Di luar kondisi internal, IPNU sudah dihadapkan dengan beberapa tantangan baru.
Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.
Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala pelajar – mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh resources yang expert dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

IPNU sebagai organisasi kader
Berulang kali disampaikan di berbagai ruang pengkaderan bahwa organisasi hampir selalu didikotomikan ke dalam organisasi massa atau kader, organisasi profesional atau voluntarian, dan organisasi tradisional atau modern. Prinsip-prinsip dasar antara bentuk, isi, dan sifat tersebut nyaris tidak bisa disatukan. Meskipun bisa, akan selalu memunculkan kontradiksi di dalamnya. IPNU harus berani memilih tipologi atau karakteristik yang jelas karena sesungguhnya berada di grayscale area seperti saat ini tidak selalu nyaman dan baik. Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat dua ciri yang khas melekat di dalam organisasi kader: disiplin terhadap nilai dan disiplin terhadap institusi kepemimpinan (struktur). Dua bentuk kedisiplinan ini tidak bisa ditawar. Menegasikan salah satunya hanya akan membuat institusi menjadi pincang, menciptakan ketidakteraturan (disorder), dan menimbulkan kerapuhan. Di manapun ada institusi kader maka kedua kedisiplinan ini selalu melekat.
Jika kita ingin melongok sedikit ke dalam ritus, maka institusi kader yang efektif bisa terefleksi di dalam sholat berjama’ah. Di dalam sholat berjama’ah, seseorang bisa menjadi imam karena memiiliki syarat khusus (special conditions) yang berbeda dengan syarat yang juga dimiliki oleh bilal, muadzin, makmum, bahkan pemukul beduk. Oleh karena syarat ini terbatas dipenuhi dalam sebuah situasi yang demikian maka tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama memainkan peran yang dilakoni dalam sebuah momentum sholat berjama’ah.
Maksud dari analogi di atas adalah bahwa setiap anggota terdiferensiasi dalam kapasitas yang berbeda. Untuk mencapai kapasitas tertentu tiap anggota harus melakukan upgrading level. Dalam proses ini, institusi berkewajiban memberikan kesempatan dan tahapan proses yang sama bagi semua anggota untuk dapat melakukannya. Itulah yang dinamakan kaderisasi. Seorang imam akan terus dipatuhi perintahnya selama memiliki kesesuaian dengan tata cara dan aturan sholat. Bila melenceng dari tata cara dan aturan sholat maka barisan (makmum) dapat memberikan kritik secara terbatas dan teratur. Oleh karena imam seorang manusia, maka keimaman seseorang dapat batal dan digantikan oleh makmum yang memiliki kapasitas yang mendekati kapasitas imam.
Barisan yang berada tepat dibelakang imam, terutama yang berada persis di belakang imam, adalah juga orang yang telah siap menjadi seorang imam manakala kondisi yang tidak diharapkan mendera sang imam, termasuk intervensi secara kasar dari luar. Ada keberlanjutan untuk tetap mengokohkan dan mempertahankan kondisi tersebut untuk tetap berusaha sampai pada tujuan bersama.
Di dalam organisasi kader, kepentingan individu telah termanifestasi menjadi kepentingan institusi. Munculnya ruang konflik yang mengakibatkan disintegrasi institusi terjadi karena interpretasi atas nilai dan perilaku elite atau pengurus organisasi dalam hal ini tetap dimungkinkan. Namun, kemungkinan tadi menjadi sangat kecil jika saja kepemimpinan sebagai sebuah faktor krusial di dalam organisasi dapat berjalan secara baik. Pada dasarnya pemimpin memiliki otoritas untuk memilih berbagai opsi strategi. Strategi dan taktik yang digunakan dapat dinilai baik manakala output-nya sesuai dengan tujuan organisasi.

Sudahkan IPNU Menjadi Organisasi Kader ?
Sebelum sampai kepada pilihan tadi, mari kita mencoba menengok realitas yang ada di IPNU sehingga mudah-mudahan terdapat sedikit kesamaan persepsi atau bahkan konklusi. Meskipun, dari situ saja akan memunculkan kemungkinan opsi perubahan yang berbeda di benak kepala kader. Di berbagai kesempatan ketika berinteraksi dalam kegiatan kaderisasi formal maupun non formal di Surabaya maupun di daerah lain, kita akan dikejutkan dengan realitas yang cukup “membingungkan”. Kebingungan tersebut bermula dari lontaran sebuah pertanyaan bagi kita bersama: “ apakah tujuan IPNU berdasarkan dari apa yang tercantum di Anggaran Dasar?” Mayoritas dari mereka yang ditanya umumnya tidak mampu menyebutkan tujuan IPNU. Belum lagi kalau ditanyakan apakah ideology IPNU, mayoritas mengalami kebingungan apakah ideology IPNU adalah Pancasila atau Aswaja, kedua-duanya atau salah satunya. Atau bahkan, bukan keduanya.
Di lain kesempatan, kita yang ada dalam kepengurusan ini mungkin akan bertanya, “apakah kita sudah menjadi organisasi kader ?”. Dipastikan seluruhnya menjawab bahwa IPNU merupakan organisasi kader. Mereka berargumentasi ada proses kaderisasi formal yang dilakukan oleh institusi. Hanya sebatas itu. Kalau mau jujur, berdasarkan pengamatan menghadiri banyak kegiatan kaderisasi formal, kegiatan kaderisasi formal benar-benar hanya merupakan formalitas. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pendapat tersebut. Pertama, kegiatan kaderisasi formal masih baru dilihat sebagai prosedur teknis belaka yang ditujukan untuk memenuhi keabsahan pengurus di mata PD/PRT. Untuk hal ini, tidak aneh jika terjadi penyimpangan terhadap standar materi atau kurikulum maupun format kaderisasi yang seharusnya dijadikan acuan. Kedua, kegiatan kaderisasi formal masih diproyeksikan untuk meningkatkan prestise pengurus semata dengan indikator jika secara kuantitas diikuti oleh banyak peserta tanpa mempetimbangkan kualitas pengetahuan dan proses yang sudah dilalui peserta sebelum kegiatan. Walhasil, ketika materi kaderisasi disampaikan, akibat disparitas pengetahuan dan proses, praktis hanya dalam persentase yang cukup kecil yang dapat mengikuti alur materi secara baik. Ketiga, bagi peserta kegiatan kaderisasi formal, keikutsertaan dan sertifikat kelulusan menjadi prioritas agar dapat digunakan sebagai syarat untuk berkarir dalam jenjang berikutnya. Dari beberapa alasan tadi, maka sangat wajar kemudian banyak pengurus, untuk ini saya sangat yakin, tidak mengetahui tujuan IPNU, (mungkin juga termasuk saya), serta strategi untuk mencapainya. Hal ini juga masih ditambah pada minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi pilar untuk bergerak.
Untuk menjadi institusi kader yang efektif maka perlu memiliki disiplin terhadap kepemimpinan. Aturan main yang sudah jelas harus dapat dipatuhi. Kepemimpinan bukan penghias hasil konferensi tetapi juga dilihat sebagai mandat organisasi. Sejauh sang pemimpin masih berjalan sesuai koridor dan menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan organisasi maka ia harus ditaati. Sanksi organisasi bukan hanya pelengkap peraturan organisasi. Sanksi diberlakukan bagi mereka yang mengabaikan kebijakan organisasi atau dalam hal ini direpresentasikan oleh pemimpin.
Dari pengamatan selama ini, selain kepemimpinan juga ada format struktur yang harus dibenahi. Format PP, PW, dan PC yang ada saat ini tidak memungkinkan organisasi kita menjadi organisasi kader. Untuk mencapainya, format yang memungkinkan harus ditunjang dengan kerangka operasional berupa tugas pokok dan fungsi yang sistematik dan jelas. PP masih menjadi organisasi yang terlalu besar (periode 2012 – 2015 terdiri dari 120-an personel) di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi. Walhasil, terlalu banyak tumpang tindih fungsi sehingga malah kerap kali menyebabkan disfungsi. PC pun juga demikian, di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi.
Jika kaderisasi telah berjalan secara baik di mana tujuan organisasi telah tercapai maka operasionalisasi konsepsi kader dapat di perluas. Rencana dan kebijakan strategis jangka panjang di dalam ruang yang lebih besar baik di masyarakat dan negara dapat dilakukan di level institusi alumni. Istilah kader pun kemudian dapat dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pengabdi, pejuang, dan pelayan dalam spektrum apapun yang menjalani tindakannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di IPNU meskipun sudah tidak lagi mempunyai ikatan institusional dengan IPNU.
(Alm) KH.Tolchah Mansoer dan para founding fathers IPNU mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite”. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik. Kini, IPNU sudah diambang pintu untuk tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh KH.Tolchah Mansoer, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat, setidaknya masyarakat pelajar, oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini.
Kini, 61 tahun sudah IPNU berkhidmad untuk Indonesia. Catatan di atas hanya merupakan upaya melakukan debunking (penelanjangan atau pembongkaran) agar ada upaya koreksi dan perbaikan bersama dari semua unsur di IPNU dalam momentum Hari Lahirnya yang ke 61 hari ini.
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariq

*Cakra Pramudhita (Penulis adalah pengurus PC IPNU Kota Surabaya)

HAPPY VALENTINE DAY-14 February 2015 “Lawan Segala Bentuk Kekerasan di Hari Kasih Sayang Galang Persatuan-Ciptakan Perdamaian”

857530_498044303574892_330161049_o
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahkan dinas pendidikan pun mengeluarkan fatwa haram atau peraturan yang bernada mengharamkan merayakan hari kasih sayang, tiap 14 Februari. Peringatan ini dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Beberapa kelompok Islam kemudian mengeluarkan seruan boikot hingga aksi penolakan. Sayang, tak ada yang baru dan mencerdaskan pada polemik haram dan halal itu, sebab mereka gagal menghubungkannya dengan kapital dan pasar. Bagi pasar, tak soal apakah Hari Valentine itu halal ataupun haram, yang penting jadilah konsumen yang baik. Sampaikan kasih sayangmu melalui hadiah, dan teruslah berbelanja. Itu sebenarnya pesan tahunan perayaan hari kasih sayang sedunia itu.
Keterkaitan Valentine’s Day dengan kapitalisme memang bukanlah hal baru. Justru banyak kalangan yang menganggap ritus-ritus dalam Valentine’s Day ‘dibekingi’ kepentingan modal dalam reproduksi atau romantisasi ‘imagi’ cinta demi menciptakan pasar. Kini, kita tak perlu terlalu picik ‘mengharamkan’ tradisi perayaan Valentine’s Day sebagai budaya hedonis-kapitalis atau budaya asing yang ‘kafir’. Namun, kita juga tidak usah terhanyut dalam romantisasi hari Valentine yang hanya bergumul pada manifestasi ‘cinta sempit’ menurut ukuran penguasa kapital.
Yang perlu kita lakukan adalah menggali substansi yang ada pada perayaan hari Valentine dan menarik korelasinya dengan situasi terkini, ketika kepongahan kekuasaan negara yang ‘berselingkuh’ dengan modal telah menghancurkan ‘cinta’ yang paling hakiki, yakni keadilan dan kesejahteraan bagi kaum papa. Seperti halnya Saint Valentine yang rela berkorban demi melawan kekuasaan yang memperbudak rakyat, seperti itu pula kiranya kita. Demikianlah selayaknya Valentine’s Day kita maknai.
Situasi Terkini
Ditengah situasi krisis global yang semakin tajam, penderitaan rakyat atas jeratan ekonomi dan berbagai kesenjangan lainnya dalam Masyarakat terus diwarnai dengan berbagai tindak kekersan terhadap rakyat diseluruh dunia. Berbagai sektor tidak terlepas dari dampak krisis global yang terus digencarkan oleh Imperialis dengan melibatkan seluruh negara yang berada dibawah dominasinya untuk ikut bertanggungjawab dalam upaya penyelesaian krisis tersebut. Situasi tersebut pun telah menciptakan kegelapan bagi kehidupan dan masa depan rakyat diseluruh dunia. Kemiskinan masih menjadi masalah utama rakyat di dunia, sementara kekayaan dan kemakmuran hanya terkosentrasi di sedikit negara saja. Kekerasan dalam berbagai bentuknya, peperangan dan penghilangan bagi hak-hak politik rakyat. Berbagai upaya rakyat diseluruh dunia dalam memperjuangkan haknya terus dihadapi dengan berbagai tindak kekerasan bahkan dalam beberapa waktu terakhir kenyataan atas berbagai tindak kekerasan tersebut menunjukkan peningkatan yang significant baik di Eropa, timur tengah hingga ke wilyah Asia dan tak terkecuali di Indonesia.
Di Indonesia sendiri, rakyat terus dihadapkan dengan berbagai tindak kekerasan dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus ataupun persoalan-persoalannya. Gerakan buruh yang selain dihadapkan dengan pemotongan upah juga tidak terhindar dari tindak kekerasan sebagai upaya pemerintah untuk memberangus gerakan buruh, pun demikian dengan buruh migrant dan, pastinya rakyat pekerja disektor lainnya juga dihadapkan dengan persoalan yang sama. Disektor Pertanian Justeru kenyataan tersebut lebih massif dilakukan baik oleh perusahaan swasta maupun pemerintah melalui Aparat polisi dan TNI yang sebagai alat kuasanya. Masih teringat jelas kasus kekerasan di Rembang antara ibu-ibu petani dengan aparat yang menjadi beking Semen Indonesia, kemudian kekerasan pada petani di Wongsorejo, Banyuwangi, serta yang paling terbaru adalah intimidasi oleh oknum aparat terhadap para pegawai KPK dan berbagai kasus kekerasan di berbagai daerah lainnya.
Momentum peringatan hari kasih sayang (Vakentine’s Day), selayaknya jangan hanya dianggap sebuah peringatan yang terbatas pada ungkapan perasaan terhadap pasangan. Namun secara labih luas, peringatan ini memiliki makna bagi kita untuk memberikan kasih sayang terhadap sesama manusia, tanpa adanya batasan suku, agama, ras maupun golongan. Momentum ini merupakan sebuah momentum yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan kampanye melawan berbagai kekerasan yang terjadi belakangan ini.
Valentine’s Day kali ini juga harus didasarkan kepada keharmonisan sosial, bukan hanya didasarkan kepada ritual keagamaan atau kenikmatan cinta sempit dari masing-masing individu. Agar dialektika antarsesama bisa berjalan sesuai dengan prinsip masing-masing keyakinan. Juga harus ada saling terbuka terhadap apa sebenarnya yang mereka rayakan agar kecurigaan dari yang tidak suka tidak menimbulkan konflik yang diskriminatif.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita mempu menerjemahkan pesan dan nilai pluralis-humanistik di balik perayaan Valentine kali ini. Baik yang merayakan ataupun tidak. Ketika kita tidak mampu memaknai substansi dari perayaan yang berlangsung, akan menghambat kepada indahnya kebersamaan, perdamaian dan hakikat dari perbedaan. Karena bagaimanapun secara makna universal bangsa Indonesia heterogenitas kesukuan dan kebudayaan pengaruhnya sangat kuat menjalar terhadap ekstremisme agama dan keyakinan. Maka dari itu, perayaan Valentine’s Day harus menjadi aspirasi dan inspirasi kebangsaan agar falsafah hidup bersama yang tertanam dalam Bhinneka Tunggal Ika akan tetap terjaga, sebagaimana yang dicita-citakan Gus Dur. Bukan sebatas hura-hura tanpa makna.
Press Release PC IPNU Kota Surabaya

Sarasehan &Musikalisasi Puisi oleh PC IPNU & IPPNU Kraksaan

selasa, 10 februari 2015.
pada hari ini PC IPNU & IPPNU menggelar acara sarasehan dan musikalisasi, yang dikemas dengan apresiasi penampilan oleh SASTRA KALIMALANG Bekasi Jakarta & dilanjut dengan dialog. Acara ini dihadri oleh Ketua PCNU Kota Kraksaan Oleh KH Nasrullah Ahmad Suja’i. beserta steakholder dan undangan OKP diantaranya,PC IPNU & IPPNU , PMII, HMI & BEM se kab.Prob beserta Anggota PAC ,PR dan komisariat.
ketua PC IPNU Kraksaan yaitu rekan Masrur Ghazali ketika kami wawancarai, harapan dari beliau dengan diadakannya acara ini yaitu sebagai stimulus kepada generasi Muda NU untuk selalu berkarya khususnya di bidang seni dan budaya & akan lahirnya tokoh sastrawan yang dari kota kraksaan. By JUrnalismuda@ HUjjah.Kraksaansastraa

Gerak Cepat, IPNU Surabaya Susun Program Kerja

CSC_0041
IPNU Surabaya,
Untuk mempercepat gerak langkah kepengurusan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) Kota Surabaya selenggarakan Rapat Kerja I. Bertempat di gedung bersejarah milik Nahdlatul Ulama’, Kantor PCNU Kota Surabaya, sabtu (7/2).
Pembukaan raker dihadir Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya KH. Ahmad Syaiful Chalim AR. Dalam sambutannya beliau mengingatkan bahwa biasanya pengurus yang merasa bisa atau sudah pintar dalam perjalanan kepengurusan malah akan jalan ditempat, dan biasanya pengurus yang kurang pintar dengan semangat yang menggebu malah akan lebih cepat lepas landas menuntaskan program kerjanya. Beliau juga sharing perjalanan hidup semasa kecilnya hingga kini menjadi ketua PCNU Surabaya.
Rapat Kerja Cabang I dihadiri seluruh pengurus PC IPNU Kota Surabaya yang nantinya akan menyusun program-program kerja strategis selama satu tahun kedepan. Rapat Kerja yang biasanya dilakukan sekali selama kepengurusan ditingkat Pimpinan Cabang, Oleh kepengurusan yang baru di buat dua gelombang. Hal ini dimaksudkan untuk memfokuskan program dan tingkat ketercapain program yang akan diususun nantinya. Dengan begitu tahun ditahun kedua akan diadakan rapat kerja serupa, yakni Rapat Kerja Cabang II.
Program kerja tahun pertama ini pengurus akan memfokuskan diri di pengkaderan dengan mengaktifkan kembali anak cabang, ranting, dan komisariat yang selama ini mati suri.
Muh Sholeh Anas

Kunjungan Bapak Tosari Wijaya (mantan Ketua IPNU Pusat & Dubes Besar Maroko ) di PC IPNU Kraksaan

Pada hari ini PC IPNU Kraksaan kedatangan tamu istimewa, beliau adalah Bapak Tosari Wijaya. Beliau adalah kader IPNU dari Kraksaan yang sudah pernah menjabat ketua Pusat IPNU. aktivitas beliau adalah menjadi DUBES MAROKO. Alhamdulillah beliau sempat berkunjung ke PC IPNU Kraksaan untuk melihat perkembangan kader-kadernya. semoga hadirnya beliau bisa memberikan berkah kepada kita semua, aamiin. By: Masrur ghazali. Jurnalismuda.@kraksaan.bapak tosari dan IPNU Kraksaan

Walikota Tri Rismaharini Bakar Semangat IPNU-IPPNU Kota Surabaya

Surabaya, IPNU JATIM
Walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini bakar semangat pengurus baru Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama’ (IPNU-IPPNU) Kota Surabaya (18/1) siang. Acara yang bertajuk pelantikan dan seminar ini digelar di gedung Self Access Center (SAC) UIN Sunan Ampel Surabaya.
Sesuai dengan tema yang diangkat “meneguhkan eksistensi dan peran pelajar Indonesia di era pasar bebas dan penjajahan ekonomi baru”, Risma sapaan akrab Tri Rismaharini memberikan motivasi kepada pengurus IPNU-IPPNU dan peserta yang hadir untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas dengan sikap kemandirian dan meningkatkan kualitas diri sebagai pelajar. “Kita tidak boleh bergantung pada orang lain, buatlah orang lain bergantung pada kita” ungkap walikota terbaik dunia ini.
Beliau juga membagikan pengalaman bagaimana beliau memimpin Kota Surabaya yang dulu tidak dikenal dunia menjadi Surabaya yang sekarang diakui oleh dunia internasional. Semua dilalui dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, terus mengembangkan diri dan belajar kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. “Sekarang kalian bisa lihat seperti apa Surabaya sekarang?” Ucap wanita yang mengaku tidak pernah ingin menjadi walikota, disambut dengan riuh tepuk tangan.
Hadir dalam acara tersebut Staff Kemenpora bidang pengarusatamaan pemuda Dra. Adiati Noerdin, MM dan Ketua Lembaga Kajian Pesantren dan Demokrasi Tebuireng Gus Roy Murtadho. Keduanya mengupas habis tentang peran pelajar dalam menghadapi pasar bebas atau Masayarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Acara yang dihadiri pengurus IPNU-IPPNU dari tingkat komisariat, ranting dan anak cabang. Perwakilan organisasi pemuda lintas agama dan pelajar SMA/SMK/MA Se Kota Surabaya ini berakhir pukul 13.30 WIB. (Muh. Sholeh Anas)
DSC_0462

CBP IPNU Bojonegoro bantu temukan Curanmor.

IMG_20150112_131455
Bojonegoro,Sabtu 3 Januari 2015 lalu salah satu Rekan Anggota IPNU Bojonegoro (Rekan Arif) menjadi korban Curanmor, yakni sepeda Motor miliknya di Curi pelaku Curanmor yang sangat meresahkan warga,Awalnya Rekan AR sehabis melakukan kegiatan Alam di salah satu tebing yang ada di tuban hingga larut malam dan pada waktu itu hujan sangat lebat ketika pulang rekan AR kehujanan sehingga merasa kecapek’an dan pada akhirnya ketika sampai di Bojonegoro rekan AR mampir di salah satu kantor Lembaga Swadaya Masyarakat untuk beristirahat sejenak karna pada waktu itu kondisi hujan kantor sepi tidak ada orang sehingga rekan AR Langsung tertidur lelap di sofa ruang tamu depan dan ketika tersadar dari tidurnya rekan AR sadar bahwa motor yang di parkir di depan kantor sudah tidak ada ditempat.
Keesokan harinya setelah kejadian itu rekan AR meluncur ke kantor PC.IPNU Bojonegoro JL.A.Yani dan di situ ada rekan rekan CBP sedang berkumpul akhirnya rekan AR menceritakan kejadian tersebut. dengan rasa solidaritas yang tinggi akhirnya rekan rekan CBP bojonegoro merundingkan strategi pencarian motor Rekan AR yang hilang, kurang lebih tiga minggu pencarian rekan-rekan CBP Bojonegoro berhasil menguap kasus Curanmor tersebut.
Pada senin 12 Januari 2015 Motor Rekan AR di temukan di salah satu penadah onderdil motor bekas yang ada di Bojonegoro. (Sams)

Untitled (puisi kesadaran)

unnamed

(Untitled)
Lihat, kawan, bermodelan rupa-rupa manusia

Kita lihat bersama
Bagaimana orang-orang tergila-gila
Akan produk zaman yang paling mutakhir

Telah kita lihat
Bagaimana orang bersandiwara membungkam mulut
Demi basa-basi sok etis

Omong kosong peradaban!

Sungguh lelah dengan kepayahan kepribadian ini
Sungguh muak dengan ketamakan akan nama dan muka ini
Apa perlu kita bikin panggung kecil-kecillan, kawan
Buat mementaskan lakon dari drama manusia yang rupa-rupa

Rupa-rupa keinginannya
Rupa-rupa maunya
Rupa-rupa idenya
Rupa-rupa kisahnya, pilunya
Rupa-rupa pula muslihatnya, kepalsuannya

Keewuhan kehidupan!
[Ahlam Rahma]

Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Asing Syabana Selenggarakan “MAKESTA”

IMG_20150106_181235
Bojonegoro, Sabtu 3 Januari 2015 Salah Satu Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Asing Syabana Semanding Bojonegoro Melaksanakan kegiatan penutupan Paket Bimbingan pendalaman Bahasa Selama Liburan semester genap kemarin, selain penutupan acara tersebut sekaligus dirangkai dengan penanaman idiologi ke NU an dengan Merangkainya kegiatan MAKESTA IPNU-IPPNU kedalam acara tersebut, acara tersebut berlangsung selama dua hari berturut turut dan sangat meriah karna diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari berbagai sekolah yang ada di Bojonegoro tidak hannya sekolah swasta atau sekolah yang berasal dari Lembaga Ma’arif NU saja namun peserta dari sekolah Negeri Bojonegoro pun banyak yang antusias mengikuti kegiatan tersebut salah satunya dari SMPN 2,MAN1,MAN2 dan masih banyak lagi yang Lainnya.
Selain itu Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Asing Syabana juga satu satu nya yang mempunyai Komisariat IPNU-IPPNU di Bojonegoro,Heri Ketua Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Asing Syabana memaparkan bahwa pihaknya ingin mengenalkan NU secara luas di kalangan masyarakat sekitar khususnya bagi pelajar-pelajar yang berada di sekolah-sekolah Pemerintah, dengan berdirinya Pimpinan Komisariat Syabana maka IPNU-IPPNU juga bisa lebih leluasa untuk mengenalkan dan menciptakan kader-kader yang militan dari kalangan umum yang lebih Luas.
Dalam Acara tersebut Rekan M.Masluhan Ketua PC.IPNU Bojonegoro juga Hadir di tengah kader-kader Pimpinan Komisariat Syabana untuk memberikan antusias dukungan PC.IPNU Bojonegoro kepada PK.SYABANA.
“Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas peserta Holiday di PK.Syabana sangat tepat untuk mengadakan dan mengikuti MAKESTA sehingga hasil yang dicapai sangat berasa,yakni menjadi lebih semangat dalam mengikuti pelajaran di madrasah/sekolah, Semoga Program pendirian Komisariat Lembaga Bimbingan Belajar Bahasa Asing Syabana ini bisa menjadi motor penggerak untuk mendirikan Komisariat-komisariat yang lain”.(Sams)

PC.MA’ARIF Bojonegoro Berangkatkan 2 Regu untuk ikuti PERGAMANAS 1 di Cirebon Jawa Barat

IMG_20150106_141741
Bojonegoro, Senin 5 Januari 2015 Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Nu Bojonegoro mengadakan upacara pelepasan 2 Regu kontingen Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif untuk mengikuti PERGAMANS 1 di Cirebon Jawa Barat.
Acara pelepasan kontingen Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Bojonegoro ini dilaksanakan di halaman Pc.NU Bojonegoro dengan sangat hikmat, tepat jam 14.00 WIB kontingen di berangkatkan dari Bojonegoro menuju Bumi Perkemahan, kegiatan ini akan berlangsung hingga senin 12 Jnuari 2015 mendatang. (Sams)

Surat Doa

Arah dari sekian arah
Kala senja mengadu dalam buai pelukNya
Mega bersanjung dalam lintas pertemuan ufuk ketenggelaman
Menampar para daging bernyawa
Menyambuk penuh cinta
Membisik dengan santunnya
Torehkan ulasan memoriam
Ingatkah kamu….
Dalam detik sela pesuaan dalam lintas tuhan
Lihatlah… dua batu yang bertengger abadi diatas daging yang tengah tertimbun
Tenang…dan takk kan pernah kembali jiwanya
Ruhnya terperangkap dalam takdir Tuhan
Tetap berharap seluet cahaya mantra bak kucuran doa
Ingatkah…sayyidul ayyam yang kan datang
Kan mengeruk dosa pun permohonan
Sudahkah kamu… yang masih bisa melihat kala terpejam
Titipkan surat berisikan doa pada mereka?
Pada pos waktu yang kan berjalan sepanjang detak jam sebelum dunia berhenti berputar.
Sudahkah itu???

Oleh Siti Fatimatuz Zahroh
PC IPPNU Jombang

Tahun Baru Masehi, Sejarah dan Hukum Merayakannya

ipnu jatimTAK terasa waktu terus berlalu dan kita sampai di penghujung tahun. Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2014 akan segera berganti, dan tahun 2015 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi beberapa pekan yang lalu.

Malam pergantian tahun baru masehi sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Tidak saja dibelahan bumi lain seperti di Eropa dan Amerika, masyarakat kita juga sibuk dan sangat menanti-nantikan malam pergantian tahun tersebut.

Berbeda halnya dengan pergantian tahun baru hijriah, banyak masyarakat yang tidak merayakannya, bahkan sekadar tahu saja mereka mungkin tidak.Memang perayaan tahun baru hijriah tidak dituntut untuk merayakannya dengan menyalakan kembang api, meniup terompet, ataupun kumpul di pusat kota dengan tujuan yang tidak jelas. Tetapi lebih kepada bagaimana memaknainya.

Melihat fenomena tersebut, penulis merasa tergugah untuk sedikit mengupas sejarah dan pandangan Islam terhadap tahun baru masehi.

Sejarah Tahun Masehi

Dewa Janus

Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.

Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli).

Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.

Perayaan Tahun Baru

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristiani. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.Bagi orang Kristiani yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Pandangan Islam

Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur” (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah). Menurut Ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130). Jelas dari pada ayat ini Allah melarang kaum muslimin menghadiri perayaan kaum muyrikin.

Hadis Sahih al-Bukhari dan Muslim berikut ini, sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita”. Oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan). (Fathul Bari, 3/371).

Dalam adat masyarakat Aceh yang identik dengan nilai-nilai Islam, dulu hanya merayakan peringatan hari besar Islam saja seperti perayaan maulid dan tahun baru hijriah yang malamnya dihiasi dan dihidupkan dengan dalail khairat di balee dan meunasah.
Melihat sejarah, pandangan Islam serta adat Islami dalam masyarakat Aceh, tidak ada celah sedikit pun bagi umat Islam untuk ikut merayakan atau sekadar untuk mengucapkan “happy new years”.

Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “haram” untuk dilewatkan.

Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru”. Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
Shahabat Abdullah bin ’Amr RA memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234:

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Bagi orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Jika tidak tradisi Islam akan tergerus tanpa ada yang peduli. Sementara beberapa waktu yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.

Sumber: ATJEHCYBER – http://www.atjehcyber.net/2012/12/tahun-baru-masehi-sejarah-dan-hukum.html#ixzz3Ngf6rttz

PC IPNU Kraksaan Bersholawat dalam Maulid Nabi Muhammad SAW di Studio SBS

pada malam 12 robiul awwal ini, PC IPNU Kraksaan bersholawatan bersama seluruh pengurus PC IPNU Kraksaan di studio Suara Bintang Sembilan (SBS) milik PCNU Kota Kraksaan. Acara ini diikuti seluruh pengurus PC IPNU Kraksaan serta Perwakilan dari seluruh PAC IPNU di bawah naungan PC IPNU Kraksaan. acara ini sebagai bentuk penghormatan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, semoga kita mendapatkan Syafaatnya Aamiin ya rabb.
By: Masrur Ghazali@kraksaan.jurnalis BBS TV 2014. Salam 3B.tulisan

PC.IPNU Bojonegoro Canangkan Program Pendirian 100 Komisariat

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sabtu (22/11) yang Lalu, di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

Salah satu pengurus LP Ma’arif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Ma’arif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Ma’arif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Ma’arif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Sekretaris PC LP Ma’arif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. (Rekan Samsul)

PC IPNU Kraksaan Nonton Bareng Film Soekarno

soekarnopada malam Jum’at yang penuh Barokah ini, pengurus PC IPNU Kraksaan mengadakan nonton Film terbaru Soekarno. acara ini bertujuan sebagai konsolidasi pengurus serta pengenalan dan penguatan terhadap jiwa Nasionalisme pengurus PC IPNU Kraksaan. acara ini dikemas Nonton Bareng dan Manggang Ikan Bakar,,semoga acara ini bermanfaat<<selamat belajar berjuang bertaqwa,,,,MKRI..Harga mati,,pancasila ,,,JAYA….Indonesia ,,Merdeka,,,.
By:Masrur Ghazali @ kraksaan. Alumni Jurnalis BBS TV 2014.

Penyerahan Jabatan Ketua Demisioner kepada Ketua terpilih dan terlantik PC IPNU Kraksaan 2014-2016

Dalam acara pelantikan tersebut, dikemas pula dengan agenda penyerahan jabatan yaitu rekan mukhlisun selaku ketua demisioner memberikan Jas IPNU kepada rekan Masrur Ghazali selaku ketua terpilih dan terlantik, sebagai simbolis penyerahan jabatan. semoga PC IPNU kraksaan 2014-2016 dapat menjalankan roda organisasi dengan amanah dan lebih baik,,aamiin ,,selamat belajar, berjuang, bertaqwa..
By:Masrur Ghazali. Alumni Jurnalis BBS TV 2014.penyerahan jabatan

Pelantikan dan Temu Cabang Se-Tapal Kuda Oleh PC IPNU Kraksaan 2014-2016

PC IPNU Kraksaan telah melaksanakan Pelantikan yang dikemas dengan temu Ketua Cabang Se Tapal Kuda, yang dihadiri oleh ketua Cabang PC IPNU Kab. Probolinggo, Kota Probolinggo, Situbondo, Kencong , Lumajang , Jember, Bondowoso dan Banyuwangi. acara temu cabang ini guna sebagai tali silatur rohim antar cabang se Tapal Kuda dan sebagai Konsolidasi Korda Tapal Kuda. acara ini dipelopori Oleh rekan Khoirul Imam Seklaku Ketua Satu PC IPNU Kraksaan. harapan dari kegiatan ini yaitu sebagai wadah awal untuk konsolidasi IPNU Khususnya Korda Tapal Kuda,,,selamat belajar Berjuang, bertaqwa,,,,,Tapal Kuda..Hidup.
Oleh: Masrur Ghazali Kraksaan

Belajar, Berjuang, Bertaqwa
PC IPNU Kraksaan(Masrur Ghazali)
.Alumni Jurnalis BBS TV 2014.

PC IPNU Kraksaan Menggelar Lomba Sholawatan dalam menyambut Tahun Baru 2015 dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

PC IPNU Kraksaan
Foto Bareng dengan mantan ketua PP IPNU tahun 2006-2009 yaitu rekan Idy Muzayyad,, semoga bisa silatur rohim ke depannya.aamiin.

Bareng PC IPNU Kraksaan
Bareng PC IPNU Kraksaan

By: Masrur Ghazali..Alumni Jurnalis TV BBS 2014

Perkuat Kaderisasi, IPNU-IPPNU Tambaksari Gelar Makesta

10904218_1050373214980073_1266994145_n (1)

Surabaya, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ Kecamatan Tambaksari Surabaya menggelar Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) bertempat di Gedung MWC NU Porong Sidoarjo, Jum’at (26/12).

Makesta sebagai gerbang awal bagi pelajar NU yang ingin bergabung dengan IPNU. Sebagai level pertama dalam proses pengkaderan IPNU, Makesta diharapkan mampu memberikan pengetahuan dasar tentang ke-aswaja-an dn ke-NU-an bagi pelajar NU.

Hadir dalam acara tersebut Ketua baru PC IPNU-IPPNU Kota Surabaya hasil konferensi kemarin, Rekan Agus setiawan dan Rekanita Arumy Maulida. Keduanya hadir memberikan semangat bagi kader-kader IPNU-IPPNU Tambaksari untuk terus berkarya bersama menjadi pelajar yang memgang teguh islam rahmatan lil ‘alamin ala ahlussunnah wal jama`ah.

“Makesta IPNU-IPPNU Tambaksari digelar sebagai langkah awal pengkaderan pelajar NU di wilayah kecamatan Tambaksari, untuk menggagas lahirnya kader NU yang bertanggung jawab” Ungkap Achnaf al-Asbahani FR ketua PAC IPNU Tambaksari.

Kegiatan yang diikuti 20 anggota IPNU dan 15 anggota IPPNU ini berakhir hari minggu (28/12) setelah menerima banyak materi tentang ke-IPNU-IPPNU-an, kepemimpinan, dinamika kelompok, problem solving dan materi makesta yang lain. (AnakSehat)

Kajian Tentang Hukum Nyanyian dan Alat Musik

Kajian Tentang Hukum Nyanyian dan Alat Musik

Al-Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali telah membincangkan permasalahan hukum nyanyian dan musik dengan panjang lebar dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin dalam juz yang kedelapan pasal Al-Adat. Al-Ghazali di dalam perbincangannya telah membahaskan hukum musik dan alatnya daripada pelbagai sudut sebelum mengeluarkan pandangannya. Beliau tidak hanya berpegang dengan zahir nash malah coba menggali di sebalik nas, sebab dan ‘illah diharamkan beberapa alat musik sebagaimana yang disabdakan oleh junjungan besar Nabi Muhammad SAW dalam hadith-hadith Baginda. Ini bertitik tolak daripada pegangan beliau bahwa nyanyian dan musik adalah kelezatan-kelezatan dunia yang asalnya adalah halal dan harus. Sebab itulah beliau memasukkan perbincangan beliau tentang hukum nyanyian dan musik dalam pasal adat (rub’ul adat). Adat-adat sebagaimana dimaklumi hukum asalnya adalah harus dan halal. (Al-Aslul fil Adat Al-Ibahah – asal di dalam adat adalah harus).
Al-Ghazali menyatakan bahawa irama boleh dihasilkan melalui alatan seumpama serunai, kecapi dan gendang atau melalui kerongkong haiwan atau manusia. Alatan musik yang direka cipta pada asalnya adalah meniru makhluk-makhluk Allah SWT. Seruling yang direka adalah meniru suara yang dikeluarkan oleh kerongkong hewan. Seandainya mendengar irama-irama merdu yang dikeluarkan oleh hewan atau manusia diharuskan maka mendengar irama alat-alat musik tiada berbeda hukumnya yaitu harus dan halal. Patut dikiaskan suara (irama) yang dihasilkan oleh alat seumpama gendang, rebana, seruling dengan suara hewan dan manusia karena semuanya adalah suara atau bunyi.
Al-Ghazali menegaskan sebab pengharaman alat yang dipetik dan ditiup (seperti seruling) sebagaimana yang disebut dalam hadith Nabi SAW bukan karena alat tersebut menimbulkan kelezatan kepada pendengar. Sekiranya demikian sudah tentulah diharamkan semua jenis suara atau irama yang membangkitkan kelazatan kepada pendengar, gendang, rebana kecil (duf) dan binatang-binatang seperti burung mempunyai potensi untuk menghasilkan irama-irama merdu yang mampu membangkitkan kelezatan di dalam sudut hati pendengar. Walau bagaimanapun Islam tidak mengharamkan suara-suara tersebut. Oleh itu Al-Ghazali menyatakan sebab pengharaman alat yang disebut di dalam hadith-hadith Nabi SAW adalah karena alat-alat tersebut biasa digunakan oleh ahli-ahli fasiq, maksiat dan peminum-peminum arak dan menjadi syiar mereka.
Al-Ghazali seterusnya menguraikan sebab tersebut di dalam pernyataan – pernyataan di bawah:
  1. Irama alat tersebut mengajak pendengar kepada arak karena kelezatan iramanya disempurnakan dengan meminum arak. Hal ini ada persamaannya dengan pengharaman meminum sedikit arak walaupun ia tidak memabukkan karena dapat membawa kepada meminum kadar arak yang memabukkan.
  2. Kepada orang yang baru kenal dengan arak, bunyi-bunyi alat tersebut dapat mengingatkannya kepada tempat-tempat maksiat. Perlakuan “mengingat” ini boleh membawa kepada perlakuan meminum arak.
  3. Alat-alat tersebut adalah syiar ahli fasiq dan maksiat. Mereka menggunakan alat tersebut untuk bersuka ria di dalam majlis-majlis mereka. Berdasarkan kepada sebab ini, dianjurkan meninggalkan perkara-perkara sunnah yang menjadi syiar ahli bid’ah untuk mengelakkan menyerupai mereka. Pengharaman al-kubah adalah karena ia biasa digunakan oleh lelaki-lelaki pondan. Sekiranya tidak sudah tentu tiada beda antaranya dengan gendang haji, gendang perang dan seumpamanya.
Begitulah pandangan Imam Al-Ghazali tentang hukum penggunaan alat-alat musik. Beliau melihat di sana wujudnya sebab diharamkan alat-alat yang disebut pengharamannya melalui lisan Nabi SAW. Sekiranya hilang (gugur) sebab tersebut sudah tentulah gugur hukum pengharamannya. Bagi beliau semua perkara yang baik (At-Thayyibat) adalah halal melainkan perkara-perkara yang boleh membawa kepada kerosakan.
Firman Allah SWT:

“Katakanlah wahai Muhammad, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hambaNya dan mengharamkan rezeki yang halal.” (Surah Al-A’raaf : 3)

Justru itu suara dan irama yang dihasilkan melalui alat-alat musik, tidak haram ain atau zatnya tetapi ia menjadi haram hukumnya disebabkan unsur-unsur luaran sebagaimana diterangkan di atas.
PENDAPAT ULAMA-ULAMA
 
Para ulama menyatakan dufuf boleh digunakan dalam semua keadaan dan boleh dipukul oleh kaum lelaki dan wanita.
Golongan yang lain pula ialah ulama-ulama masa kini yang mengharuskan penggunaan duf dan gendang sahaja bersandarkan kepada pendapat-pendapat ulama terdahulu .
Seterusnya ada ulama-ulama masa kini yang mengharuskan penggunaan seluruh alat muzik tanpa ada pengecualian tetapi mereka meletakkan syarat-syarat dan batas-batas penggunaan alat tersebut agar tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT. Mereka yang berpendapat demikian antaranya ialah:
  1. Dr. Yusuf Al-Qardhawi di dalam kitabnya Malamih Al-Mujtama’ Al-Muslim.
  2. Dr. Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Al-Mufassal fi Ahkam Al-Mar’ah wa Baitil Muslim juzuk 4 bab 8 iaitu Babul Lahwi wal La’ab.
  3. Dr. Mohammad Imarah di dalam bukunya Al-Islam wal Funun Al-Jamilah.
  4. Dr. Kaukab ‘Amir dalam bukunya As-Simaa’ ‘Inda As-Sufiyyah.
Pendapat mereka sama dengan pandangan beberapa ulamak terdahulu seperti Ibnu Hazm Al-Andalusi, Ibn Tahir Al-Qaisarani, Abdul Ghani An-Nablusi, Al-Kamal Jaafar Al-Idfawi Asy-Syafie dan Al-Imam Mohd. Asy-Syazili At-Tunisi.
Sebagian daripada mereka seperti Al-Qardhawi berpendapat demikian kerana hadith-hadith yang mengharamkan alat-alat musik pada pandangan beliau sama ada sahih ghair sarih (sahih tetapi tidak nyata) ataupun sarih ghair sahih (nyata tetapi tidak sahih). Nas-nas yang seumpama ini tidak mampu untuk memutuskan hukum karena hukum mestilah diputuskan dengan nas yang sahih wa sarih (sahih dan nyata).
Sebahagian yang lain pula seperti Dr. Abdul Karim Zaidan dan Dr. Kaukab mempunyai pandangan yang sama dengan Al-Ghazali. Mereka menyatakan pengharaman alat-alat yang disebut di dalam nas-nas hadith adalah kerana ia merupakan syiar ahli fasiq dan maksiat. Pada pandangan mereka musik tidak haram dari sudut irama atau bunyinya. Tetapi yang menjadikannya haram ialah unsur-unsur eksternal yang lain yaitu ia adalah alat yang biasa digunakan di dalam majlis-majlis dan tujuan-tujuan yang bertentangan dengan batas syara’. Justru itu alat-alat tersebut tunduk kepada perubahan tempat dan masa. Penggunaan alat-alat ini juga seharusnya disesuaikan dengan lingkungan yang dibenarkan oleh syara’ yaitu:
  1. Niat penggunaan alat-alat tersebut dan pendengar iramanya hendaklah betul berdasarkan kaedah Al-umur Bimaqasidiha.
  2. Tujuan dan suasana digunakan alat-alat tersebut ialah tujuan dan suasana yang baik, mulia dan tidak bertentangan dengan batas-batas syara’.
Dr. Kaukab ‘Amir menyatakan:

“Pada hakikatnya majlis-majlis maksiat pada hari ini seperti klab-klab malam menggunakan seluruh alat musik yang ada sekarang. Majlis-majlis tersebut tidak lagi menggunakan alat-alat tertentu (seperti zaman dahulu) malah keseluruhan alat digunakan. Oleh itu tidak mungkin untuk kita menghalalkan sebahagian alat (seperti duf dan gendang) dan mengharamkan sebahagian yang lain. Bahkan diharuskan kepada individu muslim mendengar irama alat-alat tersebut tetapi hendaklah menjaga adab-adab Islam serta tidak cuba meniru kelakuan dan perbuatan ahli-ahli fasiq dan maksiat.”

Jumhur ulama menghalalkan mendengar nyanyian, tetapi berubah menjadi haram dalam kondisi berikut:
  1. Jika disertai kemungkaran, seperti sambil minum khomr, berjudi dll.
  2. Jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita atau sebaliknya.
  3. Jika menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dll.
Madzhab Maliki, asy-Syafi’i dan sebagian Hambali berpendapat bahwa mendengar nyanyian adalah makruh. Jika mendengarnya dari wanita asing maka semakin makruh. Menurut Maliki bahwa mendengar nyanyian merusak muru’ah. Adapun menurut asy-Syafi’i karena mengandung lahwu. Dan Ahmad mengomentari dengan ungkapannya: “Saya tidak menyukai nyanyian karena melahirkan kemunafikan dalam hati”.
Adapun ulama yang menghalalkan nyanyian, diantaranya: Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu’bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal, Abu Bakar Abdul Aziz, Al-Gazali dll. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa para ulama menghalalkan bagi umat Islam mendengarkan nyanyian yang baik-baik jika terbebas dari segala macam yang diharamkan sebagaimana disebutkan diatas.
Adapun ulama yang menghalalkan musik sebagaimana diantaranya diungkapkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar adalah sbb: Ulama Madinah dan lainnya, seperti ulama Dzahiri dan jama’ah ahlu Sufi memberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola.” Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi’i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja’far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya’bi.
Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar. Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata disampingnya ada gitar , Ibnu Umar berkata:? Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata:”Ini mizan Syami( alat musik) dari Syam”. Berkata Ibnu Zubair: “Dengan ini akal seseorang bisa seimbang”.
Dan diriwayatkan dari Ar-Rowayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.
Demikianlah pendapat ulama tentang mendengarkan alat musik. Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta’akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap waro(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul dimasanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiin menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.
Oleh karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan nyanyian dan musik harus memperhatikan faktor-faktor berikut:
Pertama: Lirik Lagu yang Dilantunkan.
Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara’, maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara’, maka dilarang.
Kedua: Alat Musik yang Digunakan.
Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.
Ketiga: Cara Penampilan.
Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara’ seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.
Keempat: Akibat yang Ditimbulkan.
Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi’ (menutup pintu kemaksiatan) .
Kelima: Aspek Tasyabuh.
Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Keenam: Orang yang menyanyikan.
Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

Artinya:”Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”(QS Al-Ahzaab 32)

Sumber: Note KITAB FATHUL MU’IN

Gus Mus Sang Kiyai Pembelajar

gm-besurban

Kiayi, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.

KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.

Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya, jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.

Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.

KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.

Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.

Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.

Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.

Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.

Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul Berdzikir Bersama Inul. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu.

Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius, kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.

Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan, kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.

 

Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisgus musri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.

Namun adalah Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.

Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.

Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).

Tentang kepenyairan Gus Mus, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan, kata Sutardji.

Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.

Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).

Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, Doaku untuk Indonesia? dan Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya panas jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.

Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.

Enggan Ketua PB NU
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.

Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah berpasangan dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama kontroversial.

Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.

Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah, kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.

Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Marafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.

Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak, ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon.

CV Beliu

Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : Mustofa Bisri
Ibu : Marafah Cholil

 

Pendidikan :
– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Karya Tulis Buku:
– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)

Organisasi:
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004

IPNU-IPPNU Kota Malang Adakan Forum Pelajar Antikorupsi

Para peserta aktif dalam forum diskusi dipandu oleh fasilitator, Sabtu (01/11)IPNU Jatim  – Mengambil tema “Korupsi Besar Berawal dari Kecurangan Kecil”, sebuah forum pendidikan yang didedikasikan untuk pelajar terkait edukasi tentang berbagai hal mengenai korupsi digelar oleh PC IPNU-IPPNU Kota Malang bersama MCW (Malang Corruption Watch) Kota Malang, Sabtu (01/11/2014).

Para peserta aktif dalam forum diskusi dipandu oleh fasilitator, Sabtu (01/11)

“Ayo siapa yang mendapat kertas warna biru, silahkan berkumpul dengan masing-masing peserta yang mendapat kertas warna biru,” seru seorang pemateri, Didit dari MCW (Malang Corruption Watch).

Para peserta dengan riuh ramai mulai beranjak mencari-cari kelompoknya masing-masing. Setelah berkumpul dengan kelompoknya, para peserta diminta untuk saling berkenalan dengan peserta lainnya dalam masing-masing kelompoknya. Itulah salah satu cara yang digunakan Didit untuk mengajak masing-masing peserta agar suasana cair dan saling mengenal sebelum memulai materi pada Forum Pelajar Anti Korupsi, Sabtu (01/11).

Acara yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB menjadi waktu yang terlalu singkat untuk diikuti. Semua peserta nampaknya begitu semangat mengikuti materi dalam Forum Pelajar Anti Korupsi.

Tema acara tersebut memang cukup relevan untuk membentengi para pelajar agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran besar mafia korupsi. Ya, berbagai macam materi disampaikan secara aplikatif dan membuat semua peserta terlibat aktif. Hingga kemudian para peserta mulai menyadari bahwasanya mereka sangat dekat sekali dengan segala tindak pidana yang termasuk dalam kategori korupsi atau bahkan tanpa sadar pernah terlibat langsung.

Dalam Sambutannya, Ketua PC IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Kota Malang menyampaikan bahwa sangat diperlukan pengenalan sejak dini mengenai korupsi agar ke depan, para pelajar serta pemuda yang ada saat ini tidak sampai terlibat ke dalamnya ketika sudah menjadi dewasa. Acara ini diadakan oleh PC IPNU-IPPNU Kota Malang bekerjasama dengan MCW Kota Malang.

Tanpa menghilangkan substansi penyampaian gagasan dan partisipasi setiap peserta, forum yang terdiri atas pelajar dari berbagai tingkatan ini, mulai setingkat SMP, SMA, maupun perguruan tinggi, itu berlangsung dengan sangat aktif dan kondusif. Panitia mengajak semua peserta mampu mengerti, memahami, dan melakukan langkah preventif untuk mencegah korupsi.

“Masing-masing peserta mengerjakan sebuah project dengan mencari sebuah masalah nyata yang terjadi di masyarakat sekitar mengenai korupsi, mendeskripsikan jenis korupsi tersebut, memetakan akibatnya, serta mencari langkah yang tepat untuk memberantasnya,” Ungkap rekan Didit selaku fasilitator dalam acara kali ini.

Kesan sarasehan yang biasanya nampak membosankan dengan berbagai macam materi seolah sirna melalui serangkaian metode kreatif yang diformat oleh panitia. Semua terlibat aktif dalam setiap materi yang disampaikan, dan hasilnya luar biasa, panitia mendapat banyak ide-ide kreatif dari tiap-tiap peserta yang ikut bergabung dalam forum tersebut.

Selain itu, dalam acara tersebut juga dihadirkan Drama Teatrikal dari Teater HAMPA Universitas Negeri Malang (UM) serta penampilan Musikalisasi Puisi dan Akustik dari rekan-rekanita Pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Malang sehingga membuat para peserta tidak bosan. (yus/dmb)

– See more at: http://nukotamalang.or.id/pc-ipnu-ippnu-kota-malang-bersama-mcw-adakan-forum-pelajar-antikorupsi/#sthash.9yT07siQ.dpuf

KH Said Aqil Sirodj- Ketua PBNU 2010-Sekarang

Prof Dr KH Said Aqil Sirodj,Sosok laki laki religius ini biasa dipanggil dengan panggilan Siradj, kelahiran Cirebon 03 Juli 1953 dengan latar belakang Agama yang kuat,dan selalu ingin memperjuangkan Islam di berbagai aspek. Siradj juga mempunyai latar belakang akademis yang luas dalam ilmu Islam. Alumni S3 University of Umm Al-qura dengan jurusan Aqidah / Firasat islam ini lulus pada tahun 1994 yang sebelumnya mengambil S2 di Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987 dan S1 di Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982.Dengan latar belakang ilmu pendidikan Agama yang kuat dijadikan modal Siradj dalam dakwah dan memperjuangkan Islam di era baru ini.

Nahdlatul Ulama ( NU ) adalah Organisasi Muslim besar Indonesia yang paling berpengaruh di dunia Islam dan saat ini di Pimpin oleh Said Aqil Siradj. Terpilihnya Siradj dalam memimpin organisasi Nahdlatul Ulama merupakan buah dari usaha Siradj dan pendukungnya dalam pemilihan Partai besar tersebut. Dalam pemilihan tersebut, Siradj mengalahkan Slamet Effendi Yusuf.294 Suara yang dikumpulkan Siradj,sedangkan Slamet Effendi Yusuf  hanya mendapatkan 201 suara. Berlanjut ke putaran dua akhirnya Siradj sebagai pemenang dengan suara terunggul sebanyak 178 Suara yang tentunya sudah memenuhi tata tertib Mukhtamar yang mengharuskan seorang calon mengumpulkan poin 99 Suara.
Nahdlatul Ulama merupakan organisasi dengan basis keanggotaan yang kebanyakan dari pedesaan dan ciri khas tradisional ini yang membedakan Nahdlatul Ulama dengan organisasi lainnya.Point utama organisasi ini adalah penekanan pada pendidikan dan keterlibatan politik berlandaskan prinsip Islam yang mana sesuai dengan visi misi Siradj. Prof Dr KH Said Aqil Siradj menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 2010 – 2015.

Riset dan analisa oleh Eko Setiawan

PENDIDIKAN
  • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
  • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
  • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994
KARIR
  • Tim ahli Bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
  • Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995 – 1997)
  • Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995 – sekarang)
  • Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997 – 1999)
  • MKDU Penasehat Fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998 – sekarang)
  • Wakil Ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
  • Komisi Member (1998 – 1999)
  • Dosen Luar Biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
  • MPR anggota fraksi yang mewakili NU (1999 – 2004)
  • Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001 – sekarang)
  • Dosen Pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003 – sekarang)
  • UNU Dosen Lulusan Universitas NU Solo (2003 – sekarang)
  • Ketua Umum Pengurus Nahdatul Ulama (PBNU) (2010 – 2015)

MASJID KESEPIAN*

Oleh: AF Raziqi

 edisi-4-18

Langit masih mendung. Tapi tak setetes pun gerimis yang jatuh. Burung-burung juga masih bersliweran di bawah gumpalan mendung. Mungkin mereka memanggil-manggil hujan. Aku tak tahu nama-nama jenis burung itu. Tampaknya mereka bahagia. Tak punya beban seperti manusia. Yang mereka tahu mungkin hanya makan, terbang mencari nafkah untuk keluarga mereka, tidur, dan bernyanyi. Dalam kamus hidup mereka tak ada urusan utang-piutang, politik, perceraian, sakit hati, demo, dan lain sebagainya. Tak seperti manusia. Kadang sepintas aku berpikir lebih enak jadi burung saja. Sedih dan bahagia, ssusah dan gampang, semua sama saja. Tapi, sejatinya aku harus bersyukur diciptakan Tuhan sebagai manusia. Kautahu kenapa, Kawan? Karena dengan begitu aku dapat mengenal Tuhan.

Adakah yang lebih agung dan sakral dibanding mengenal Zat yang mencipatakan alam semesta? Zat yang menciptakan burung-burung itu? Tidak! Lebih dari itu, aku dapat merasakan kehadiran-Nya; merasakan sentuhan rahmat dan kasih sayang- Nya yang tak berhingga; dan, merasakan kerinduan untuk bersisian di hadirat-Nya?

Sudah lima kali maghrib berturut-turut aku shalat di masjid kesepian ini. Dan, sore ini, ketika langit mendung ini, adalah kali keenam aku di sini. Tak ada yang berbeda. Masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Sepi. Termasuk kemarin, tak ada shalat Jumat dilaksanakan di rumah Allah ini. Penasaranku semakin menjadi. Masjid ini benar-benar penuh misteri.

Seperti biasa, begitu sampai, aku langsung duduk di teras masjid, menatapi langit yang kelabu sambil meratapi masjid besar yang kesepian ini. Tampak beberapa orang keluar naik motor dari rumah-rumah yang tadi kulalui. Kelihatannya, umur mereka tak jauh beda denganku. Ah, anak muda zaman sekarang, batinku!

Kali ini aku berencana menanyakan perihal orang-orang di sekitar masjid ini kepada muadzin tua yang biasa kujumpai sejak lima hari lalu.

Kulihat ia tengah menuju kemari. Mengenakan baju koko warna putih dengan motif ukiran bunga-bunga pada bagian depan dan sarung kotak- kotak hijau tua. Kopiahnya tetap yang kemarin, hitam layu. Dinyalakannya mesin pengeras, lalu ia raih mikrofon, dan adzan. Lagu yang khas. Tak berirama, namu bertenaga. Demikian nikmat didengar. Mungkin karena dia adzan benar-benar dari hati nurani. Tidak seperti kebanyakan muadzin yang sekadar memuntahkan suara dengan irama yang diukir sebegitu rupa, tapi terdengar hambar, dangkal, tak bertenaga.

Muadzin tua itu lalu keluar dari ruang pengeras suara. Tersenyum padaku, aku pun tersenyum padanya.

“Maaf, Pak, imam masjid di sini siapa, ya?” tanyaku mencegat langkahnya yang hendak turun dari masjid.
“Kamu orang baru di sini, ya?”
“Iya, begitulah!” kusertai senyum.
“Kita ngobrol di situ saja.”

Kami menuju salah satu pilar, lalu duduk berhadapan.

“Em.., kamu tinggal di mana?” dia membuka kembali pembicaraan.
“Saya tinggal di dekat sini, pak. Ngontrak,” jawabku.
“Ow, kuliah?”
“Iya.., di UNSI, Pak”

Di langit senja mulai memburam.

“Orang-orang di sekitar sini sudah tak mau lagi ke masjid sini, Nak. Mereka lebih disibukkan pekerjaan. Masjid bukan lagi tempat baku untuk shalat. Kata mereka, shalat bisa dikerjakan di mana saja. Bumu dihamparkan sebagai masjid, kata mereka,”ia mulai ceritanya.

Sesekali ditatapnya rumah- rumah berdinding keramik yang berderet di sisi masjid. Aku mulai paham. Inilah kota. “Bahkan, banyak penduduk asli sini yang sudah tak lagi peduli dengan agama asal mereka, Islam. Dulu, di sini mayoritas penduduk beragama Islam. Masjid ini tidak pernah sepi. Selalu ramai, baik untuk shalat berjamaah maupun untuk selamatan. Bahkan, tak sedikit yang hadir mengikuti khataman al-Qur’an setiap setengah bulan sekali.” Kami bertatapan.

Kulihat di matanya ada semangat untuk menumpahkan segala hal tentang masyarakat daerah ini. Juga tentang masjid yang kesepian ini. Aku mengangguk-angguk saja.
“Aku tidak mengerti kenapa mereka jadi begini. Hati mereka sudah membatu. Tak hanya satu dua kali aku mencoba mengingatkan mereka. Berbagai cara juga sudah kucoba lakukan untuk mengembalikan mereka ke jalan Allah. Tapi hasilnya nihil. Sia-sia!” Kali ini mudzin itu menatap langit yang mulai gelap. Seakan meratapi situasi yang tengah terjadi. “Sudah terlalu sering aku mengundang ulama untuk memberi pencerahan kepada mereka. Tapi nyatanya, mereka hanya datang untuk
menyerbu makan gratis. Hanya lima sampai sepuluh orang yang benar- benar serius mengikuti pengajian. Selebihnya hanya menunggu ceramah usai, lalu berebut makan.” Kutatap mata sang muadzin. Ada rona kekesalan dan keputusasaan. “Sejak itulah aku jera mengadakan acara-acara seperti itu. Tak ada gunanya.”

Kalimat terakhirnya ditekan sedemikian kuat. Aku hanya mengangguk- angguk. Muadzin tua itu tersenyum menatapku.

###

Itu lima tahun yang lalu.

Sore ini aku kembali duduk di teras masjid ini. Masih seperti dulu; kutatap langit yang kelabu menjelang Maghrib.

Tapi, pemandangan di masjid sungguh sudah berbeda. Beberapa jemaah tampak datang lebih awal. Lima menit sebelum adzan dikumandangkan. Mereka mengenakan pakaian serba putih: jubah putih dan peci putih. Atau bercelana; sebagian berpeci, sebagian tidak. Raut wajah mereka terlihat asing bagiku: berjenggot tebal. Kutebarkan pandangan pada sosok-sosok yang terus berdatangan. Kalau tak salah hitung sudah lima belas orang yang masuk ke dalam masjid, menunggu adzan Maghrib yang tinggal beberapa detik lagi. Tapi, sosok yang kucari tak kutemukan di antara mereka. Kemana gerangan muadzin tua itu? Apakah sudah meninggal? Kucari ia di tempat mesin pengeras suara. Juga tidak ada. Adzan pun lalu berkumandang. Suaranya bukan lagi suara muadzin tua. Juga bukan lagu polos dan lugu seperti dulu.
Muadzin kali ini bersuara emas. Terdengar lebih merdu dan lantang. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang kutahu, itu hanya dimiliki muadzin tua itu. Yaitu, vibrasi kekhusyukan yang tulus dan sakral. Begitu adzan usai, tak kudengar kumandang zikir atau pujian-pujian.

Ritual menuju shalat Maghrib berjalan cepat. Tanpa nuansa, tanpa sensasi. Seolan berjalan secara otomatis. Dingin dan tak peduli. Orang- orang bergegas menuju shaf awal. Merapat hingga penuh. Lalu diikuti shaf kedua yang hanya berisi lima orang. Terlihat tertib dan rapi. Tak ada jemaah yang bersarung, selain aku. Semua berjubah putih atau bercelana panjang. Ada yang berkopiah putih, ada yang tak berkopiah. Tak ada yang berkopiah hitam, kecuali aku. Aku terjepit di tengah-tengah mereka; di tengahtengah suasana yang dingin dan tak peduli. Usai shalat tak ada wiridan bersama. Masing-masing melantunkan zikir dan doa sendiri-sendiri. Lirih, nyaris tak tertangkap telinga. Aku benar-benar merasa asing berada di tengah-tengah mereka.

“Apakah jemaah shalat ini penduduk sini, Pak?” aku bertanya kepada lelaki paruh baya begitu kulihat ia hendak beranjak. Dia menatapku.
“Sebagian besar pendatang. Yang pakai jubah itu semua pendatang.”
“Terus yang bercelana itu?”
“Ada musafir. Ada juga penduduk sini, empat atau lima orang.”
“Bapak sendiri?”
“Oh, saya dari desa di kota sebelah. Tapi dulu, waktu masih kuliah dan bekerja di kota ini, saya biasa shalat Maghrib di sini sepulang kerja dari kota.”

Aku duduk di teras. Maghrib beranjak makin jauh. Langit tampak gelap kemerahan, seolah terbakar mega-mega yang bergelantungan. Kutatap rumah-rumah di sekitar masjid yang makin rapat. Aku merasa semakin terasing, baik dengan rumah- rumah itu maupun dengan masjid yang dulu kesepian dan kini sudah hidup ini.

Mestinya aku bangga masjid ini terlihat semarak. Tapi, seperti banyak hal yang terasa hilang. Bukan hanya muadzin tua itu. Tapi, juga tradisi dan nilai lokal. Ada nuansa dan sensai yang seolah berlalu. Ada keping-keping budaya yang terasa tercerabut dari bumi leluhur ini. Bumi yang dari masa lalu dapat kucium keluhuran yang sama dengan yang mengalir dalam darahku. Entah kenapa, pada senja yang semakin temaram ini semua itu begitu kurindu. Ya, begitu kurindu!

Ketapang Sampang, 2012

* Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Khidmah MWC. NU Pragaan Sumenep

BAHAGIA, BUKAN SEBATAS KEPUASAN NAFSU BELAKA

Oleh: AF Raziqi

Kesehatan bukanlah ketiadaan dari penyakit,

melainkan kebahagiaan di dalam diri kita.

Amanda Gore

Ungkapan di atas cukup menggelitik nalar kita untuk berfikir lebih jauh tentang kebahagiaan, yang bisa kita dikenal dengan happiness. Secara logika, ketika kita sakit, maka tentu kita tidak sehat. Memang benar. Namun, tidak selamanya ketiadaan penyakit dalam tubuh kita bisa dikatakan sehat yang benar-benar sehat. Kebahagiaan, merupakan hal yang cukup primer dalam hidup. Bahkan, lebih primer daripada kesehatan. Kesehatan gampang saja untuk dibeli dengan uang, sedangkan kebahagiaan belum tentu demikian.

Manusia sangatlah berbeda dengan fenomena hidup makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Ia sangat dinamis, interpretabel, dan sekaligus menyimpan sejuta rahasia. Ada bahagia dan sengsara atau merana, suka dan duka, tangis dan tawa, tegar dan resah, dan seterusnya. Semua fenomena itu tidak ditemukan di dalam kehidupan lain, selain manusia (kita). Dan hal tersebut sangat sesuai dengan teori bahwa Tuhan telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna (al-insan al-kamil). Dan termasuk dalam konteks di atas adalah kebahagiaan yang sangat sulit untuk diprediksikan kedatangannya. Tanpa ada kebahagiaaan dalam hidup, manusia akan semakin merasa terpuruk dan tenggelam dengan masalah-masalah duniawi, yang kerap kali datang tak diundang, dan hal itu merupakan sesuatu yang pasti dialami bagi mereka – dan kita – yang masih menyandang predikat manusia.

Roni Ismail dalam bukunya Inner Happiness Building (Yogyakarta: Cupid Media Group, tt), berpendapat, bahwa kebahagiaan akan lebih berarti bila digunakan dengan pikiran-pikiran yang bahagia. Dalam menumbuhkan kebahagiaan tak segampang kita membalikkan telapak tangan. Menumbuhkan kebahagiaan, meminjam istilah Dalai Lama (2001:32), ibarat merawat kesehatan tubuh atau fisik. Kita memerlukan aneka macam kandungan makanan dan minuman, tidak hanya satu atau dua maca.

Maka, seperti memilih makanan dan minuman tersebut, dalam meraih kebahagiaan hidup, kita memerlukan beragam pendekatan dan metode untuk menyadari, menumbuhkan dan memelihara potensi kebahagiaan internal (inner happiness) yang sudah Tuhan ciptakan dalam diri kita masing-masing. Dan ibarat memerangi virus atau penyakit fisik, dalam merawat kebahagiaan ini, kita juga perlu melawan sikap mental negatif atau energi penarik negatif internal yang menghalangi kebahagiaan. Maka, kita harus berusaha mencari kebahagiaan tersebut dari dalam diri kita terlebih dahulu.

Kebahagiaan hidup, tidak bisa hanya kita ukur dengan kakayaan; berapa mobil yang kita punya; berapa jumlah tanah yang kita miliki dan sebarapa lebar tanah itu; berapa jumlah uang yang telah kita kumpulkan dan kita simpan; dengan tawa dan senyum; dan lain seterusnya. Namun, kebahagiaan hidup kita bisa ukurkan dengan ketenangan pikiran kita dalam menjalani hidup; sikap kita ketika didatangkan masalah; dan begitu seterusnya.

Howard Cutler (2001:46) menceritakan seorang temannya yang mengalami keuntungan sangat besar, jauh diluar impian dan harapannyaselama ini sebagai seorang perawat. Delapan belas bulan sebelumya, ia telah berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang perawat untuk bergabung dengan dua orang temaya yang baru mendirikan sebuah perusahaan kecil dalam perawatan kesehatan. Perusahaan tempat ia bekerja mendapatkan sukses yang sangat melambung, mengambil alih kepemilikannya dengan pembelian super besar dan luar biasa tingginya, dengan harga luar biasa besar. Sebagai perawat yang ikut bekerja dalam menyukseskan perusahaan tersebut, ia menikmati limpahan uang hasil dari penjualan tersebut. Hal itu memungkinkannya untuk pensiun dalam usia 23 tahun, usia yang masih sangat produktif.

Ketika Cutler bertemu dengannya dan bertanya padanya, “apakah Anda menikmati masa pensiun ini dengan uang yang melimpah?”. Ternyata jawabannya sangat aneh untuk didengar, “Entahlah” jawabnya. “memang enak bisa bepergian dan menerjakan apa yang saya inginkan. Akan tetapi, aneh sekali, sesudah girah yang melonjak selama beberapa saat setelah mendapatkan uang melimpah itu, segala sesuatunya seperti kembali pada keadaan semula. Maksud saya, memang ada beberapa hal yang berubah, saya sudah membeli rumah mewah yang baru, dan banyak lagi. Akan tetapi, secara keseluruhan saya tidak merasa lebih bahagia dari dulu (sewaktu memiliki pekerjaan)” terangnya.

Dari contoh di atas, kita dapat tarik kesimpulan, bahwa orang sukses dan kaya itu belum tentu bahagia, dibandingkan orang yang tiap harinya harus bekerja dan berjuang jiwa-raga untuk mendapatkan rejeki demi keberlangsungan hidupnya. Dan perlu di perhatikan, bahwa kebahagiaan itu tidak akan datang dan melekat pada diri manusia secara permanen (selamanya). Dan kita juga harus mensyukuri anugerah Tuhan yang telah menciptakan kebahagiaan dalam diri kita. Kita juga wajib percaya kepada teori yang biasa kita dengar: setiap kesusahan pasti ada kesenangan (kebahagiaan), begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, dalam mencapai kebahagiaan dalam hidup, butuh yang namanya proses dan usaha. Maka, mari hidup bahagia! Be Happy! Wallahu A’lam.

Pengumuman Nilai Tertinggi Try Out Akbar 2014

JUARA SMP

JUARA

NAMA

JUMLAH NILAI

RATA-RATA

ALAMAT

1

ILHAM BAGUS SANTOSO

35,6

8,9

BANYUWANGI

2

MUH SAMSUL ARIFIN

35,2

8,8

KAB. KEDIRI

3

M ALFIAN ZAIMUL HAKIM

35

8,75

KAB. BLITAR

4

DUWI SUKMAWATI

34,76

8,69

KAB. KEDIRI

5

JAVID AL HAQ

34,4

8,6

TULUNGAGUNG

6

SYIFA NURDA MUAFFA

34,2

8,55

KAB. BLITAR

7

NURMALA MUSHOFFY

33,56

8,39

KAB. KEDIRI

8

ALVIANO ADE IRAWAN

33,4

8,35

BANYUWANGI

9

AISYAH DERI AYU T S

33,2

8,3

JOMBANG

10

SITI KHALIMATUS S

33,2

8,3

KAB. BLITAR

JUARA SMA IPS

JUARA

NAMA

JUMLAH NILAI

RATA-RATA

ALAMAT

1

MOH FAHRUDDIN

42,9

7,15

PAMEKASAN

2

NUR AINIYAH

42

7

PAMEKASAN

3

M DIAN MUTAHAR

41,7

6,95

KAB. KEDIRI

4

HILMATUN NI’MAH

41,3

6,88

JOMBANG

5

AHMAD QOHAR

40,98

6,83

KAB. KEDIRI

6

GALANG RUDIANTO

40,56

6,76

PONOROGO

7

WARSIANTI

39,9

6,65

PONOROGO

8

MACHILATUL CHASANA

39,36

6,56

PASURUHAN

9

SUSIANI

38,76

6,46

KAB. PROBOLINGGO

10

SITI RISMAYANI

38,16

6,36

KENCONG

JUARA SMA IPA

JUARA

NAMA

JUMLAH NILAI

RATA-RATA

ALAMAT

1

NIKMATUL KHOIROH

39,18

6,53

KAB. KEDIRI

2

MASNA NAILA ADIBAH

39

6,5

KOTA BLITAR

3

YOSHINTA E A

38,7

6,45

KAB. TULUNGAGUNG

4

ASMORO

38,46

6,41

KAB. PASURUAN

5

SAIFUL RIJAL

38,34

6,39

KOTA PROBOLINGGO

6

AHMAD YAZID LATIF

38,04

6,34

KRAKSAAN

7

INDRA YOGATAMA

38,04

6,34

MALANG

8

DIAN NUHDINA K FITRI

38,04

6,34

KAB. KEDIRI

9

SELKET

37,62

6,27

SAMPANG

10

AMILATUL CHOLIFAH

36,96

6,16

BOJONEGORO

 

 

DIUMUMKAN : UNTUK PARA Pemenang (NILAI TERTINGGI) Dapat mengambil Hadiahnya bersamaan dengan DOA BERSAMA SUKSES UJIAN NASIONAL di:

Hari/Tanggal : Rabu, 2 April 2014

Waktu                : 08.00-11.00 WIB

Tempat              : Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. (Depan Kantor NU)

Juara 1-5 : PIALA, Dana Pendidikan dan sertifikat

Juara 6-10 : Piala dan Sertifikat

Hub. 081235555890-/ 085785800491 (Panitia)

Kerjasama PW IPNU JAWA TIMUR dan R.LANGGA

 

IPNU-IPPNU Jombang Lantik Kepengurusan Ranting

Kepengurusan Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Ploso Geneng, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur akhirnya resmi dilantik, Jumat (7/3).

Kegiatan dilaksanakan di Dusun Ploso Wedi, Desa Ploso Geneng, Kecamatan Tembelang dan disaksikan sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa alumni.

Ketua PC IPNU Jombang Abdul Rosyid mengaku bangga dengan semangat yang ditunjukkan kepengurusan baru ini. Ia yang hadir bersama pengurus harian yang lain sangat berharap agar usai dilantik, para pengurus baru dapat terus beraktifitas dengan mereaslisasikan program kerja yang dicanangkan.

Prosesi pelantikan diisi dengan pembacaan surat pengesahan dan ikrar pengurus. Dalam kesempatan itu Rosyid meminta dukungan, bimbingan, dan doa dari para kiai, pejabat, dan undangan yang hadir.

“Hal ini penting demi kesuksesan kinerja kepengurusan baru,” katanya. Ia juga berharap kader IPNU dan IPPNU untuk lebih tertib khususnya dalam keadministrasian. “Karena pengurus IPNU dan IPPNU PLoso Geneng ini masih dalam proses belajar,” ujar Rosyid .

Kegiatan ini juga dihadiri Ketua PAC IPNU Ploso dan Mojoagung serta Ketua PC IPPNU Jombang. Acara juga dimeriahkan grup banjari milik IPNU setempat. (Syaifullah/Mahbib)

IPNU Probolinggo Resmi Dilantik

Probolinggo,
Pengurus Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur periode 2013-2015 resmi dilantik oleh Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Wilayah IPNU Provinsi Jawa Timur, Setuaji, di Pesantren Al Khoiriyah Desa Kerpangan Kecamatan Leces, Ahad (2/3).

Sesuai hasil Konferensi Cabang (Konferensi) IPNU Kabupaten Probolinggo yang digelar di Pesantren Miftahul Ulum Desa Kropak Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo, Eko Cahyono dipercaya sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo menggantikan Rodi Nabillah.

Pelantikan tersebut dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Masrur Nashor, Ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Probolinggo Sholehuddin, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Leces Faisol Zaini dan keluarga besar Pesantren Al Khoiriyah.

“Saya berharap agar pengurus IPNU dan IPPNU di Kabupaten Probolinggo bisa terus berjuang demi masa depan pelajar di Kabupaten Probolinggo. Pesan saya, jangan pernah berputus asa untuk melakukan pengkaderan. Sebab kader-kader IPNU dan IPPNU inilah yang nantinya akan meneruskan perjuangan di NU pada masa yang akan datang,” ungkap Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Masrur Nashor.

Sementara Wakil Sekretaris Jenderal PW IPNU Provinsi Jawa Timur Setuaji berharap agar pengurus IPNU yang baru dilantik mampu membina watak generasi muda melalui inovasi dan terobosan untuk kemajuan kaum pelajar di masa mendatang.

“Buatlah program kerja yang bermanfaat bagi pelajar di Kabupaten Probolinggo. Hal ini penting agar IPNU maupun IPPNU mampu melakukan pengkaderan dengan baik demi keberlangsungan organisasi NU di masa yang akan datang,” ujarnya.

Sedangkan Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Eko Cahyono menegaskan bahwa dirinya bersama segenap pengurus akan berupaya untuk menjalankan amanah berdasarkan hasil konfercab IPNU Kabupaten Probolinggo dengan sebaik-baiknya. “Mohon dukungan semua pihak agar program kerja IPNU ke depan benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat bagi kaum pelajar,” tegasnya.

Terkait dipilihnya pesantren sebagai tempat pelantikan, Eko menegaskan bahwa hal itu dilakukan untuk mempertahankan tradisi IPNU yang lahir dari dunia pesantren. “IPNU itu lahir dari dan di pesantren. Karenanya kami memilih pelantikan ini di pesantren. Intinya, IPNU tidak bisa dipisahkan dari pesantren,” jelasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Pengumuman Para Juara Pekan Pelajar Anti Korupsi 2013

345
1. LOMBA CIPTA PUISI ANTI KORUPSI

JUARA

NAMA

ALAMAT

JUDUL PUISI

I

Siti Zulaikah

Tuban

Kredit Saja Hukum Negara Ini

II

M. Azharun Niam

Banyuwangi

Korupsi Tenaga Pemuda

III

Moh. Luqman

Ngawi

Pelajar Anti Korupsi

 

2. LOMBA ARTIKEL ANTI KORUPSI

JUARA

NAMA

ALAMAT

JUDUL ARTIKEL

I

Ahmad Wasil

Sumenep

Pendidikan dan Korupsi; Moralitas yang terlupakan: Sebuah Tinjauan Ulang atas perang  yang tua dan Muda

II

M. Wahid Bagus S

Tulungagung

Pentingnya Kesadaran Pelajar tentang Korupsi

III

Nafisatul Husniah

Surabaya

Melawan Tradisi Bebas Korupsi

3. LOMBA KARIKATUR ANTI KORUPSI

JUARA

NAMA

ALAMAT

I

Humaidi

Paniton- Probolinggo

II

Linda Rosita

Ngasem-Kab. Kediri

III

Nafiar Nabtaghil

Bondowoso

4. LOMBA MENULIS SURAT KPK

JUARA

NAMA

ALAMAT

I

Anggita Putri N

Karangploso Malang

II

Linda Novi A

Ponorogo

III

Rhizky Firdaus

Wonorejo-Lumajang

Piala Dan Uang Pembinaan akan Diberikan Bersama dengan Acara

Puncak Pekan Pelajar Anti Korupsi Dan Rapimwil IPNU Jawa Timur

Hari Sabtu, 15 Februari 2013 di Surabaya.

 Pekan Pelajar Anti Korupsi dipersembahkan OLEH:

PW IPNU Jawa Timur dan Majalah PASTI

Try Out Akbar UN 2014 Serentak Se-Jawa Timur

pamflet yupStandarisasi Nasianal pendidikan sepertinya sudah tidak bisa ditawar dan dibantah lagi kehadirannya. Standar itu diperlukan untuk menyamakan derajat pendidikan di seluruh Indonesia. Mendiknas mengatakan bahwa standar nilai kelulusan Ujian Akhir Nasional akan terus dinaikkan secara bertahap, hingga sesuai dengan standar Internasional, yakni 6,0.

Ujian Nasional (UN )semakin dekat, banyak yang harus dipersiapkan oleh siswa maupun para guru. Semua berharap siswa dapat lulus semua dengan nilai yang gemilang, walaupun banyak pro dan kontra tentang urgensi pelaksanaan UN itu sendiri karena banyaknya perbedaan sudut pandang mereka tentang Urgensi Pelaksanaan UN 2014. Namun demikian, UN juga punya banyak sisi positifnya.  pelaksanaan UN tetap merupakan sebagai bahan evaluasi dan pengontrol bagi pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Untuk itu, ukuran kualitas, akseptabilitas, dan kredibilitas sangat diperlukan, karena ukuran hasil UN akan ditelaah lagi melalui evaluasi untuk mengetahui dan memahami pemetaan pendidikan di Indonesia, guna meningkatkan kualitas sekolah dan para siswa.

Mengingat pelaksanaan Ujian Nasional semakin dekat, maka sudah semestinya  bagi siswa dan guru serta orang tua, mempersiapkan siswa supaya bisa lulus dengan nilai yang gemilang. Oleh sebab itu, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulam Jawa Timur sebagai salah satu Organisasi kepemudaan yang konsen terhadap keterpelajaran. memandang perlu untuk melaksakan try out yang memberikan gambaran dan membantu siswa dalam mempersiapkan diri sebelum melaksanakan UN 2014. Sehingga setelah diadakannya Try Out siswa merasa jauh lebih siap dalam melaksanakan Ujian Nasional.

Untuk TOR (TERM OF REFERENCE ) dapat di downloud di SINI

KH. MA. Sahal Mahfudz Ulama Besar NU & Indonesia

Nama lengkap KH. MA. Sahal Mahfudz adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abdussalam al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937. Beliau adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.

Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang sederhana, orang mengira beliau sebagai orang biasa yang tidak punya pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh beberapa pesantren ini pernah bergabung dengan institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode yaitu dari tahun 1993-2003.

Kyai Sahal lahir dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abdussalam al- Hafidz (w. 1944 M) dan Hj. Badi’ah (w. 1945 M) yang sedari lahir hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren, belajar hingga ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. Saudara kandung Kyai Sahal berjumlah lima orang yaitu: 1. M. Hasyim 2. Hj. Muzayyanah (istri KH. Manshur Pengasuh PP.an-Nur Lasem) 3. Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP. Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam) 4. Hj. Fadhilah (istri KH. Radhi Shaleh Jakarta) 5. Hj. Khadijah (istri KH. Maddah, pengasuh PP.as-Sunniyyah Jember yang juga cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal). Pada tahun 1968 M (ada yang menyebut 1969) Kyai Sahal menikah dengan Dra. Hj. Nafisah binti KH. Abdul Fattah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan berputra Abdul Ghafar Razin yang sejak sekarang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kepemimpinan Kyai Sahal.

Latar Belakang Kehidupan KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan memiliki jalur nasab dengan Syaikh Ahmad Mutamakkin, namun KH. Sahal Mahfudz sangat dipengaruhi oleh kekyainan pamannya sendiri, KH. Abdullah Salam. Syaikh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih dari itu oleh pengikutnya dianggap sebagai salah seorang waliyullah. Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional.

Apalagi Kiai Mahfudz Salam (ayahandanya) seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu juga terkenal sebagai hafidz al-Quran yang wira’i dan zuhud dengan pengetahuan agama yang mendalam terutama ilmu ushul. Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat dan pengembangan ilmu fiqh tidak pernah diragukan. Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan semangat tawarru’ (bermoral luhur).

Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu: 1. Lingkungan Keluarganya Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat konsen pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam melakukan sesuatu ada nilai transendental yang diajarkan tidak hanya dilihat dari segi materi. Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka terhadap persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam juga orang yang tegas, cerdas, wira’i, muru’ah dan murah hati.

Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan. 2. Segi Intelektual Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam al-Ghazali. Dalam berbagai teori Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam al-Ghazali. Selama belajar di pesantren Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.

Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya cukup banyak. Terbukti beliau punya koleksi 1.800-an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya cukup beragam, diantaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Beliau membaca dalam artian konteks kejadian. Tidak heran kalau Kiai Sahal—meminjam istilah Gus Dur—lalu ‘menjadi jago’ sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kemampuan ampuh itu dalam forum-forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsul Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya. Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH. Mahfudz Salam, tahun 1910.

Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Pendidikan dan Guru-guru KH. Sahal Mahfudz Untuk urusan pendidikan, yang paling berperan dalam kehidupan Kyai Sahal adalah KH. Abdullah Salam yang mendidiknya akan pentingnya ilmu dan tingginya cita-cita. KH. Abdullah Salam tidak pernah mendikte seseorang. Kyai Sahal diberi kebebasan dalam menuntut ilmu dimanapun. Tujuannya agar Kyai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi dalam menuntut ilmu Kyai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam belajar.

Ketika belajar di Mathali’ul Falah Kyai Sahal berkesempatan mendalami nahwu sharaf, di Pesantren Bendo memperdalam fiqh dan tasawuf, sedangkan sewaktu di Pesantren Sarang mendalami balaghah dan ushul fiqh. Memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir. Selanjutnya tahun 1957-1960 dia belajar di pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair. Pada pertengahan tahun 1960-an, Kyai Sahal belajar ke Makkah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Faddani.

Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953). Di Bendo Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya ‘Ulumiddin, al-Mahalli, Fath al-Wahhab, Fath al-Mu’in, al-Bajuri, at-Taqrib, Sullam at-Taufiq, Safinat an-Najah, Sullam al-Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Disamping itu juga aktif mengadakan halaqah- halaqah kecil-kecilan dengan teman-teman senior. Sedangkan di Pesantren Sarang Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair tentang ushul fiqih, qawa’id fiqh dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji kitab tasawuf al-Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lainJam’ al-Jawami’,‘Uqud al-Juman, Tafsir al-Baidhawi, Lubbab an-Nuqul, Manhaj Dzawi an-Nadzar karangan Syaikh Mahfudz Termas dan lain-lain.

Tugas dan Jabatan Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang diterima beliau terkait dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Peran dalam organisasipun sangat signifikan, terbukti beliau dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010.

Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28/7/2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng, Minggu (28/11-2/12/2004), beliau pun dipilih untuk periode kedua 2004-2009 menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PBNU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30-an juta orang itu. KH. Sahal Mahfudz yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.

Selain jabatan-jabatan diatas, jabatan lain yang sekarang masih diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963-Sekarang). Sedangkan pekerjaan yang pernah beliau lakukan adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang (1958-1961), Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen (1966-1970), Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati (1974-1976), Dosen di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang (1982-1985), Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara (1989-sekarang), Kolumnis tetap di Majalah AULA (1988-1990), Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka, Semarang (1991-sekarang), Rais Aam Syuriyah PBNU (1999-2004), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000-2005), Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN, 2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syari’ah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra (2002-sekarang).

Sosok seperti Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pengakuan atas ketokohannya, beliau telah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utarna (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002). Sepak terjang KH. Sahal Mahfudz tidak hanya lingkup dalam negeri saja. Pengalaman yang telah didapatkan dari luar negeri adalah, dalam rangka studi komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina tahun 1983 atas sponsor USAID, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan tahun 1983 atas sponsor USAID, mengunjungi pusat Islam di Jepang tahun 1983, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka tahun 1984, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia tahun 1984, delegasi NU berkunjung ke Arab Saudi atas sponsor Dar al-Ifta’ Riyadh tahun 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat tahun 1992, berkunjung ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tahun 1997.

Karya-karya KH. Sahal Mahfudz Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu ushul fiqih, bahasa Arab dan ilmu kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh. Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.

Karya-karya KH. Sahal Mahfudz yang berbentuk tulisan antara lain:

  1. At-Tsamarah al-Hajainiyah tentang fiqih yang ditulis tahun I960 (Nurussalam, t.t).
  2. Al-Barakat al-Jumu’ah(berbicara tentang gramatika Arab).
  3. Thariqat al-Hushul ila Ghayat al-Ushul (Surabaya: Diantarna, 2000).
  4. Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999).
  5. Al-Bayan al-Mulamma’‘an Alfadz al-Lumd (Semarang: Thoha Putra, 1999).
  6. Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh (Semarang: Suara Merdeka, 1997).
  7. Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994).
  8. Ensiklopedi Ijma’ terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al-Ijma’(Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
  9. Intifah al-Wajadain (Risalah belum diterbitkan).
  10. Wasmah ash-Shibyan ila I’tiqad ma’da ar-Rahman (Risalah belum diterbitkan).
  11. I’danah al-Ashhab ditulis tahun 1961 (Risalah belum diterbitkan).
  12. Faid al-Hija Syarh Nail ar-Rajaditulis tahun 1961 (Risalah belum diterbitkan).
  13. Nadzm Safinat an-Najah ditulis tahun 1961 (Risalah belum diterbitkan).
  14. At-Tarjamah al-Munbalijah ‘an Qashidah al-Munfarijah (Risalah belum diterbitkan).
  15. Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  16. Al-Faraid al-Ajibah ditulis tahun 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  17. Tipologi Sumber Daya Manusia Jepara dalam Menghadapi AFTA 2003 (Workshop KKNINISNU Jepara, 29 Pebruari 2003).
  18. Strategi dan Pengembangan SDM bagi Institusi Non-Pemerintah, (Lokakarya Lakpesdam NU, Bogor, 18 April 2000).
  19. Mengubah Pemahaman atas Masyarakat: Meletakkan Paradigma Kebangsaan dalam Perspektif Sosial (Silarurahmi Pemda II Ulama dan Tokoh Masyarakat Purwodadi, 18 Maret 2000).
  20. Pokok-Pokok Pikiran tentang Militer dan Agama (Halaqah Nasional PBNU dan P3M, Malang, 18 April 2000).
  21. Prospek Sarjana Muslim Abad XXI, (Stadium General STAI al-Falah as-Sunniyyah, Jember, 12 September 1998).
  22. Keluarga Maslahah dan Kehidupan Modern, (Seminar Sehari LKKNU, Evaluasi Kemitraan NU-BKKBN, Jakarta, 3 Juni 1998).
  23. Pendidikan Agama dan Pengaruhnya terhadap Penghayatan dan Pengamalan Budi Pekerti, (Sarasehan Peningkatan Moral Warga Negara Berdasarkan Pancasila BP7 Propinsi Jawa Tengah, 19 Juni 1997).
  24. Metode Pembinaan Aliran Sempalan dalam Islam, (Semarang, 11 Desember 1996)
  25. Perpustakaan dan Peningkatan SDM Menurut Visi Islam, (Seminar LP Ma’arif, Jepara, 14 Juli 1996).
  26. Arah Pengembangan Ekonomi dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Seminar Sehari, Jember, 27 Desember 1995).
  27. Pendidikan Pesantren sebagai Suatu Alternatif Pendidikan Nasional, (Seminar Nasional tentang Peranan Lembaga Pendidikan Islam dalam Peningkatan Kualitas SDM Pasca 50 tahun Indonesia Merdeka, Surabaya, 2 Juli 1995).
  28. Peningkatan Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Berkualitas, (disampaikan dalam Diskusi Panel, Semarang, 27 Juni 1995).
  29. Pandangan Islam terhadap Wajib Belajar, (Penataran Sosialisasi Wajib belajar 9 Tahun, Semarang 10 Oktober 1994).
  30. Perspektif dan Prospek Madrasah Diniyah, (Surabaya, 16 Mei 1994).
  31. Fiqh Sosial sebagai Alternatif Pemahaman Beragama Masyarakat, (disampaikan dalam kuliah umum IKAHA, Jombang, 28 Desember 1994).
  32. Reorientasi Pemahaman Fiqh, Menyikapi Pergeseran Perilaku Masyarakat, (disampaikan pada Diskusi Dosen Institut Hasyim Asy’ari, Jombang, 27 Desember 1994).
  33. Sebuah Refleksi tentang Pesantren, (Pati, 21 Agustus 1993).
  34. Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi dari Sudut Kajian Politis, (Forum Silaturahmi PP Jateng, Semarang, 5 September 1992).
  35. Kepemimpinan Politik yang Berkeadilan dalam Islam, (Halaqah Fiqh Imaniyah, Yogyakarta, 3-5 Nopember 1992).
  36. Peran Ulama dan Pesantren dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Umat, (Sarasehan Opening RSU Sultan Agung, Semarang, 26 Agustus 1992).
  37. Pandangan Islam Terhadap AIDS, (Seminar, Surabaya,1 Desember 1992) Kata Pengantar dalam buku Quo Vadis NU karya Kacung Marijan, (Pati, 13 Pebruari 1992).
  38. Peranan Agama dalam Pembinaan Gizi dan Kesehatan Keluarga, Pandangan dari Segi Posisi Tokoh Agama, Muallim, dan Pranata Agama, (Mudzakarah Nasional, Bogor, 2 Desember 1991).
  39. Mempersiapkan Generasi Muda Islam Potensial, (Siaran Mimbar Agama Islam TVRI, Jakarta, 24 Oktober 1991).
  40. Moral dan Etika dalam Pembangunan, (Seminar Kodam IV, Semarang, 18-19 September 1991).
  41. Pluralitas Gerakan Islam dan Tantangan Indonesia Masa Depan, Perpsketif Sosial Ekonomi, (Seminar di Yogyakarta, 10 Maret 1991).
  42. Islam dan Politik, (Seminar, Kendal, 4 Maret 1989).
  43. Filosofi dan Strategi Pengembangan Masyarakat di Lingkungan NU, (disampaikan dalam Temu Wicara LSM, Kudus, 10 September 1989).
  44. Disiplin dan Ketahanan Nasional, Sebuah Tinjauan dari Ajaran Islam, (Forum MUIII, Kendal, 8 Oktober 1988).
  45. Relevansi Ulumuddiyanah di Pesantren dan Tantangan Masyarakat, (Mudzakarah, P3M, Mranggen, 19-21 September 1988).
  46. Prospek Pesantren dalam Pengembangan Science, (Refreshing Course KPM, Tambak Beras, Jombang 19 Januari 1988).
  47. Ajaran Aswaja dan Kaitannya dengan Sistem Masyarakat, (LKL GP Anshor dan Fatayat, Jepara 12-17 Februari 1988).
  48. AIDS dan Prostisusi dari Dimensi Agama Islam, (Seminar AIDS dan Prostitusi YAASKI, Yogyakarta, 21 Juni 1987).
  49. Sumbangan Wawasan tentang Madrasah dan Ma’arif, (Raker LP Ma’arif, Pati, 21 Desember 1986).
  50. Program KB dan Ulama, (Pati, 27 Oktober 1986).
  51. Hismawati dan Taman Gizi, (Sarasehan gizi antar santriwati, Administrasi Pembukuan Keuangan Menurut Pandangan Islam, (Latihan Administrasi Pembukuan dan Keuangan bagi TPM, Pan, 8 April 1986).
  52. Pendekatan Pola Pesantren sebagai Salah Satu Alternatif membudayakan NKKBS, (Rapat Konsultasi Nasional Bidang, KB, Jakarta, 23-27 Januari 1984).
  53. Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Lokakarya Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Jakarta, 6-8 Januari 1983).
  54. Tanggapan atas Pokok-Pokok Pikiran Pembaharuan Pendidikan Nasional, (27 Nopember 1979).
  55. Peningkatan Sosial Amaliah Islam, (Pekan Orientasi Ulama Khotib, Pati, 21-23 Pebruari 1977).
  56. Dan lain-lain.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 28 Januari 2014

Seminar ASWAJA, Pelajar Kadur Perkuat Paham Aswaja

seminar aswajaPagi itu, 25/12/13 di Sebuah Aula Sekolah terlihat sangat ramai sekali. Ternyata bertepatan di AULA SMP Islam Darul Falah Kadur Pamekasan  sedang berlangsung pelantikan Pimpinan Anak Cabang Kadur.  Bukan hanya itu, setelah pelantikan juga diadakan SEMINAR ASWAJA dengan tema “Tantangan Paham Aswaja dalam Pendidikan Modern”.

Seminar Aswaja ini diikuti oleh sekitar 200 kader IPNU-IPPNU se-kec. Kadur. Selain itu hadir pula pengurus MWC NU dan Pejabat Kecamatan. Dalam sambutan, MWC-NU berpesan agar IPNU-IPPNU tetap menjaga paham ahlussunah waljamaah, karena akhir-akhir ini banyak aliran yang tidak jelas beredar di Indonesia. IPNU-IPPNU juga harus terus berdakwah kepada teman sejawatnya dan saling mengingatkan untuk selalu mengamalkan islam ASWAJA.

SEMINAR ASWAJA ini disampaikan oleh Pengurus PW Aswaja NU Center Jawa Timur, Mufarrihul Hazin. Dalam kesempatan tersebut beliu menjelaskan banyak aliran yang merongrong dan ingin menghacurkan islam ahlussunah waljamaah, seperti Hizbut Tahrir, Wahabi, Syiah, dan lain sebgainya. Selain itu beliu juga menyampaikan Trik-Trik membentengi diri dari Aliran Non Aswaja serta Tantangan untuk kader IPNU-IPPNU dalam pendidikan Modern. “IPNU-IPPNU Punya peran yang sangat Besar untuk menangkal Islam baik yang Garis Kanan Atau Islam yang Kiri” Ungkap PW IPNU Jatim Tersebut.

Seminar Aswaja yang sangat mengena dengan metode penyampaian yang menyenangkan sesuai kebutuhan pelajar membuat para peserta sangat antusias. Mereka berebut bertanya dan tak terasa seminar itu berlangsung 3 jam lebih. “ini seminar yang sangat menarik, walaupun pembahasan aswaja namun penyampaian yang diiring dengan gambar, video dan praktek simulasi menjadi lebih hidup. Salam Aswaja. Selamat Belajar Berjuang dan Bertaqwa” Ubaid Peserta Seminar.

IPNU IPPNU Gelar Motivatoin Training “Sukses ala Mahasiswa”

BERITA UNISLAMinimnya semangat belajar yang terjadi di kalangan mahasiswa unisla akhir-akhir ini menggugah semangat PKPT IPNU IPPNU UNISLA untuk mengadakan motivation training &hypnoterapi pada (9/12/’13) di aula gedung utama Lt.1 UNISLA kemarin. Acara ini sebagai bukti bahwa PKPT IPNU IPPNU UNISLA peduli terhadap para mahasiswa. “dari acara ini diharapkan bisa mengembalikan semangat belajar para mahasiswa peserta Motivation training & hypnotherapy yang sempat kendor” ujar rekan sahron selaku ketua PKPT IPNU UNISLA.

Dengan mengusung tema “sukses ala mahasiswa”, acara ini di mulai pukul 13:00 di awali dengan pembacaan do’a bersama untuk almarhum bpk rektor UNISLA bpk KH. Ahmad Muhdlor dan di lanjut pembukaan dan materi, pemateri dalam acara ini adalah Motivator muda NU, dan Direktur Nusantara Educenter rekan Mufarrihul Hazin,S.Pd.I.,CH.,C.Ht.,C.Ps.,CNLP. Yang menarik pada acara ini adalah ketika pemotivator menunjukkan kekuatan otak kanan kita dengan sebuah aksi menginjak pecahan kaca (beling) tanpa alas kaki dan di lanjutkan oleh peserta yang mencoba. “tadi sempet ragu, tapi pas waktu mencoba tenyata benar kekuatan otak kanan itu nyata, buktinya kaki saya tidak apa-apa” ujar rekan Jumadi salah satu peserta yang mencoba.

 Acara Motivation training & hypnotherapy ini di ikuti kurang lebih sekitar 99 peserta selain dari anggota PKPT sendiri juga terdiri dari beberapa delegasi antara lain BEM Universitas, DPM Universitas , BEM fakultas se UNISLA ,DPM fakultas dan IKM serta UKM Se UNISLA.

sedikit kesan dari ketua IPNU dan IPPNU unisla “Alhamdulillah acaranya berjalan sukses semoga bisa bermanfaat bagi pesertanya dan semoga di lain waktu bisa mengadakan acara serupa kembali”. Dv/bl/ta

NOBAR Nobar “Sang Kiai” ramaikan Makesta IPNU IPPNU Universitas Jember

NOBAR

 Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU Universitas Jember, menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), acara yang di ikuti lebih dari 60 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember seperti dari Universitas Jember sendiri, Politeknik Jember, STAIN Jember, dll ini di adakan di Kantor PCNU Kab. Jember selama 3 hari mulai dari Jum’at (6/12) sampai Ahad (8/12).

 Gelaran yang juga merupakan perekrutan anggota baru PKPT IPNU IPPNU UNEJ ini selain di isi oleh materi-materi wajib di antaranya Keaswajaan, KeNUan, Kepemimpinan, Organisasi, dan IPNU IPPNU, juga di isi dengan diskusi kebangsaan yang mengusung tema NU dan Pancasila, selain itu pada sabtu malamnya, di adakan motivasi berprestasi bersama alumni IPNU IPPNU yang juga calon doktor sekaligus pengurus PCI NU Australia, Rekan Honest dan Rekanita Erwin. Beliau berjanji akan memfasilitasi kader NU yang memiliki kemauan serta memenuhi kriteria untuk studi ke luar negeri, untuk memotivasi peserta juga di isi oleh ketua PKPT IPNU UNEJ, Rekan Najib yang baru saja selesai pertukaran pengajar ke Thailand, setelah itu acara di lanjutkan dengan nonton bareng film “Sang Kiai” yang di dahului dengan pembacaan maulid al barzanji.

 Peserta begitu antusias mengikuti setiap rentetan acara, saat materi keaswajaan yang di pimpin oleh ustad Abdul Haris yang juga anggota LBM NU Jember, banyak sekali pertanyaan yang di utarakan oleh para peserta, hal ini juga di dorong oleh pengetahuan mereka di dalam kampus dimana banyak sekali aliran-aliran di luar ahlus sunnah wal jama’ah.

 Di sela-sela acara, juga di adakan pemotretan kartanu bagi para calon anggota maupun pengurus. Kartanu yang merupakan identitas resmi anggota Nahdlatul Ulama ini, yang sekaligus menjadi database resmi jumlah anggota Nahdlatul Ulama begitu diminati oleh para peserta, tercatat semua peserta yang hadir membuat kartanu yang di fasilitasi oleh tim kartanu PCNU Jember ini.

 Acara di akhiri dengan pembaiatan yang dilakukan oleh ketua cabang IPNU IPPNU Kab. Jember, Rekan Andrik Irawan, di harapkan para anggota baru ini bisa menjadi kader yang paham dengan situasi dan kondisi Nahdlatul Ulama saat ini, baik dari segi keislaman, masyarakat, dan keorganisasian, sesuai dengan tema yang di usung, berawal dari pembiasaan menuju sebuah kefahaman.

IPNU-IPPNU Sumenep Dilantik

Sumenep, 
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep A. Pandji Taufiq menilai pelajar sangat menentukan masa depan NU. Ketika mereka tidak “digarap” dengan baik, NU akan suram. Oleh karenanya, NU harus mengintensifkan pengkaderan di tingkat pelajar.

Ia menegaskan hal itu pada Pelantikan dan Orasi Kebangsaan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumenep masa khidmat 2013-2015, di gedung PCNU Sumenep, Ahad (3/11).

Tantangan IPNU-IPPNU, saat ini tidak sedikit pesantren yang tidak tahu organisasi pelajar NU. “Yang kurang IPNU di sektor pesantren,” ujarnya. Anehnya, lanjut dia, ada pesantren yang pengasuhnya pengurus NU tapi di lembaganya tidak ada IPNU. Hanya ada OSIS. “Amat janggal kiai berfatwa sementara di sekolahnya hanya ada OSIS,” jelasnya.

Ketika pesantren dan sekolah berbasis pesantren lebih memilih OSIS yang dibentuk penguasa Orde Baru ketimbang IPNU-IPPNU yang diprakarsai para ulama. Hal itu pengkhianatan kepada NU.

“Bagi para pengasuh dan kepada madrasah wajib di sekolah ada komisiariat IPNU-IPPNU. Ketika tidak maka khianat pada NU, karena NU didirikan oleh pengasuh pesantren,” jelasnya.

Ia meminta pengasuh pesantren dan pengelola pendidikan untuk membentuk komisariat IPNU-IPPNU di lembaganya masing-masing. “Wajib semua pesantren mendirikan IPNU-IPPNU,” tegasnya.

Ketua PW IPNU Jawa Timur Imam Fadli menambahkan, di sekolah-sekolah Muhammadiyah sudah tak ada lagi OSIS. Semuanya diganti Organisasi Pemuda Muhammadiyah (OPM). “Semoga di NU dimulai dari IPNU-IPPNU Sumenep,” harapnya.

Sementara Ketua PC ISNU Moh. Husnan A. Nafi menantang PCNU mengeluarkan surat edaran pendirian komisariat IPNU-IPPNU kepada pengasuh pesantren dan sekolah berbasis pesantren. “Saya menantang PCNU membuat surat edaran,” katanya saat memberikan orasi di depan Ketua PCNU A. Pandji Taufiq.

Ketua PC IPNU Ubaidillah berjanji pada kepengurusannya akan konsen kepada pengkaderan dan pembentukan ranting. Di kabupaten ujung timur Pulau Seribu Pesantren, saat ini terdapat 10 PAC, 7 ranting dan 20 komisariat. “Pada periode ini akan ditambah. Pada tahun ini juga akan dibentuk PKPT (pengurus koordinator perguran tinggi),” janjinya. (Kamil Akhyari/Abdullah Alawi)

Pengumuman Penerima Beasiswa Kursus Bahasa Inggris Gel. 1

Keputusan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur tentang Penerimaan Beasiswa Kursus Bahasa Inggris.

Hasil Seleksi penerima beasiswa kursus bahasa Inggris Gelombang 1:

1. Binti Musyarafoh (Ponorogo)

2. Firdausin Noviatun Nafiah (Tulungagung)

3. Anggita (Malang)

4. Vivi Octaviani (Nganjuk)

5. Habibah (Bawean)

6. Julia Tri Khumairotin (Mojokerto)

7. Munawar (Bojonegoro)

8. Ayu Wulandari ( Madiun)

9. Purnawa Z (Blitar)

 

Pendidikan akan dilaksanakan tanggal 24 Januari 2014 –  24 Februari 2014

Godok Dai Muda, Tulung Agung Gelar Pelatihan Dai Muda

Pelatihan dai mudaTantatangan yang dihadapi IPNU-IPPNU semakin hari semakin bertambah. Ini harus mendapatkan perhatian khusus oleh kader IPNU-IPPNU. Dari sinilah Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Tulung Agung menggelar Pelatihan Dai Muda. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 – 3 Nov 2013 di Pondok Pesantren Ma’dinul Ulum Kec. Campurdarat Tulung Agung

Kegitan yang diikuti Oleh seluruh Pimpinan Anak Cabang Pimpinan Ranting dan Komisariat se kab. Tulung agung dengan pserta + 76 Kader IPNU IPPNU. Kegiatan ini bertema “mewujudkan pelajar NU yang mampu berdakwah di Era Globalisasi”. Harapannya “Pelajar NU di era Globalisasi dan Moderni sasi yang serba menggunakan IT, mampu untuk berdakwah islam ahlussunah waljamaah dengan berbagai media, baik cetak maupun elektronik, FB, Blog, Twitter atau yang lainnya” Ungkap Slamet, Ketua PC IPNU Kab. Tulungagung

Materi yang disampaikan meliputi, Tantangan Ajaran Islam Aswaja oleh Soim, M.Pd (LDNU), Metodologi Dakwah Kontemporer K.H. Muhson Hamdani (Khatib Syuriah), dan Dakwah di Era Multimedia oleh khoirul anam (KSTV). Serta ada Motivasi Untuk dakwah Oleh Motivator Muda PW IPNU Jawa  Timur. Selain beberapa materi yang ada, tidak lupa peserta juga diajak langsung  Prakter Berdakwah bersama Drs, Muhroji (LTMNU).

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini  berjalan dengan sukses dan membuat peserta ketagihan untuk ditindaklanjuti “Harapan saya PC IPNU-IPPNU Tulungagung membuat Komunitas Dai Muda Tulungagung yang siap diterjunkan kemasyarakat terutama kalangan pelajar dan santri” Wahyu peserta pelatihan dai Muda. Pelatihan ini didukung dan disiarkan oleh Madu TV dan Madu FM.

 

Seuai Raker, IPNU Jatim Gelar Ziarah ke Makam Wali

ziarah sunan drajadPACIRAN- Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II PW. IPNU Jawa Timur yang diselenggarakan selama tiga hari di PP Maslakul Huda 24 s.d 27 Oktober 213 akhirnya dapat berakhir dengan sukses. Selanjutnya, sebagai acara pamungkas para peserta diajak berziarah ke makam para auliya yang ada di Paciran dan sekitarnya, Sabtu (27/10/13).

“Setelah berikhtiar secara lahir dan menghasilkan program-program strategis dalam Rakerwil, kini saatnya kita melakukan ikhtiar batin. Salah satunya adalah dengan berziarah ke makam-makam auliya yang ada di Paciran dan sekitarnya” kata Fadlli, ketua PW. IPNU Jawa Timur.

Tujuan pertama, rombongan peserta Rakerwil diajak berziarah ke makam Sunan Sendang yang terletak di Desa Sendang Agung, Paciran dan dipimpin oleh KH. Syatibi Sayuti pengasuh Pondok Pesantren Al-Abror pamekasan, Madura.

Selanjutnya, romobongan beralih ke Makam Sunan Drajat (Sunan Drajat), disini para peserta juga nampak khusyuk melafalkan doa-doa tahlil dan bermunajah kepada Allah SWT agar apa yang dihasilkan pada saat Rakerwil adalah hasil terbaik dan jalankan dengan sempurna. Continue reading “Seuai Raker, IPNU Jatim Gelar Ziarah ke Makam Wali”

PW IPNU Launching Majalah PASTI

MAJALAH PASTILamongan– Majalah PASTI (Pelajar Santri Berprestasi) merupakan majalah yang diterbitkan oleh Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur dan resmi dilauncing bersamaan dengan pembukaan Rakerwil II PW. IPNU Jawa Timur di Pondok Pesntren Maslakul Huda Desa Dengok, Paciran, Lamongan.  Majalah yang sengaja dibuat khusus bagi pelajar di seantero Jawa Timur ini sukses dikenalkan dihadapan peserta Rakerwil termasuk wakil Gubernur Jatim Drs.Saifullah Yusuf serta perwakilan PWNU Jawa Timur, Nur Hidayat.

Majalah yang diterbitkan secara perdana pada bulan oktober ini, akan hadir dikalangan pembaca selama dua bulan sekali. Contentnya pun juga beragam, mulai dari profil tokoh dan madrasah, suara pelajar, pertanyaan seputar agama, humor, liputan khusus kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan IPNU di daerah sampai artikel khas remaja masa kini.

“Ini merupakan Ikhtiar kami untuk memberikan informasi kepada kader dan para pelajar serta  menumbuh kembangkan bakat menulis kader, santri dan pelajar yang ada di Jawa Timur” kata Farih, pimpinan redaksi majalah PASTI.

Tak hanya mengundang perhatian kader IPNU, penerbitan majalah PASTI juga mendapatkan tanggapan dari Wakil Gubernur, Drs. Syaifullah Yusuf.

“Majalah ini merupakan bukti ketrampilan yang sudah diwujudkan PW IPNU Jawa Timur, ini merupakan syarat yang sudah terpenuhi untuk menjadikan IPNU sebagai organisasi yang diminati masyarakat, khususnya kalangan muda” pujinya (eka/mun)

IPNU menggugah semangat Nasionalisme melalui “Politik”

kaebangsaanLamongan- Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL) II yang di selenggarakan PW IPNU Jatim dimeriahkan dengan berbagai macam agenda kegiatan. Salah satunya adalah seminar kebangsaan dengan menggandeng Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, Jum’at (25/10/13).

Perhelatan yang jamak dilakukan dikalangan perguruan tinggi ini sengaja diadakan oleh IPNU Jawa Timur dalam rangka turut serta meramaikan rangkaian Rakerwil sekaligus sebagai upaya untuk menyemai bibit-bibit nasionalisme kepada para kader IPNU se-jawa Timur yang menghadiri acara tersebut.

Dalam sambutannya, perwakilan dari Bakesbangpol, Budi mengatakan bahwa IPNU Jatim merupakan partner Kesbang yang setia. Ia juga menyontohkan bagaimana kondisi diluar Jatim yang kantor pemerintahannya dijadikan sebagai sasaran amuk masa karena mendukung salah satu calon yang kalah/ tidak terima.

Hubungan ini sangat penting mengingat para pemuda merupakan unsur terpenting dalam menjaga stabilitas perpolitikan dan kebangsaan”. Jelasnya.

Selain dari Bangkesbangpol Jatim, seminar yang bertemakan “Implementasi Nasionalisme melalui Pendidikan Politik” ini juga dihadiri oleh para praktisi politik lainnya, seperti halnya Muslih Hasyim, sekretaris KNPI Jawa Timur. Continue reading “IPNU menggugah semangat Nasionalisme melalui “Politik””

Wakil Gubernur Buka RAKERWIL II PW IPNU Jawa Timur

wagub buka rakerwilLamongan, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW.IPNU) Jawa Timur resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) di Pondok Pesantren Maslakul Huda Desa Dengok, Paciran, Lamongan. Kamis (24/10/13).

Dalam sambutannya Gus Ipul mengatakan bahwa IPNU adalah asset NU dan masa depan bangsa dan dengan alasan tersebut, mantan ketua umum GP. Ansor ini bersedia meluangkan waktunya untuk menghadiri Rakerwil II PW. IPNU Jawa Timur sekaligus membukanya secara resmi meskipun dalam keadaan kurang sehat.

Mungkin saja diantara para peserta disini kelak akan menjadi Gubernur atau Presiden, sehingga dengan niat yang kuat saya bertekad untuk mengahadiri acara ini” candanya saat memberikan sambutan.

Selain itu, Gus Ipul juga memberikan beberapa tips kepada peserta Rakerwil agar IPNU diminati dan dilirik oleh generasi Muda, khususnya pelajar. Pertama, kader-kader IPNU harus memiliki karakter, artinya kader-kader IPNU harus memiliki mental yang kuat sehingga kelak saat dimanapun dan menjadi apapun akan mampu mengemban amanah yang diberikan kepadanya. Kedua, kader IPNU harus memiliki daya saing dan daya saing tersebut dapat dimiliki oleh kader-kader IPNU apabila memiliki ilmu yang cukup serta ketrampilan yang memadai. Ketiga, kader-kader IPNU harus inovatif, sehingga dapat menelurkan program-program yang sesuai dengan kebutuhan kader dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Continue reading “Wakil Gubernur Buka RAKERWIL II PW IPNU Jawa Timur”

Meraup Kecintaan Berorganiasi dari Abah Soleh

“Jangan dorong kawan jadi lawan, ber organisasi lah dengan penuh kesopanan, cinta kasih, lemah lembut dan penuh senyum.” Itulah petuah yang keluar dari sosok H. Soleh Hayat atau yang lebih akrab disapa Abah Soleh. Pria kelahiran 30 September 1949 ini merupakan salah satu dari deretan punggawa Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

Kecintaannya terhadap organisasi pertama kali ia salurkan dengan menjadi anggota IPNU ranting Pondok Pesantren Kebondalem, satu pondok dengan H. Masyhudi Mukhtar (mantan sekretaris PWNU Jatim dan Ketua PW IPNU Jatim). Kiprah beliau di lingkar NU sudah tak bisa diragukan lagi. Betapa tidak, ia mulai aktif di NU dengan menjadi staff sekretariat pada tahun 1970 dan sekarang menjadi salah satu wakil ketua Tanfidziyah. Sehingga, terhitung lama pengabdiannya di NU sudah mencapai usia yang boleh dibilang paling lama, yakni 43 tahun.

Motivasi yang mengakar kuat dalam sanubarinya dalam mengabdi di NU pertama kali di tanamkan oleh gurunya, yakni KH Mukhtar Faqih –putra dari salah satu pendiri NU Kyai Faqih, Maskumambang-, gurunya selalu menceritakan kepada murid-muridnya –termasuk Abah Soleh- bahwa betapa bahagianya ketika berorganisasi, rapat-rapat sekaligus berkumpul dengan para ulama. Itulah yang menjadi pemantik api semangat pria yang sempat menjadi wartawan Harian Pelita ini.

Beliau berkeyakinan bahwa ketika kita aktif di NU, hidup kita didunia akan di tata oleh Allah SWT. Beliau mengungkapkan bahwa NU merupakan organisasi yang tidak didirikan oleh sembarang orang. Organisasi ini bisa ada sampai sekarang bukan hanya karena atas inisiatif ulama, tapi juga karena ada sokongan dari para auliya’ yang tidak bisa diragukan lagi kedekatanya kepada Allah. “Jadi yakinlah, walaupun kita mati dalam keadaan mengemban amanat IPNU dan NU, maka sejatinya kita mati Syahid”, terang beliau ketika ditemui disalah satu ruang kantor PWNU tanggal 4 September kemarin.

Karir ke-IPNU-an beliau dalam konstelasi keterpelajar di Jawa Timur bisa dimasukkan dalam saksi sejarah yang kini sulit ditemukan. Setelah menuntaskan pengabdian di ranting Kebondalem tahun 1964, beliau naik ke PAC Candikan dan melanjutkan lagi di PC IPNU Cabang Surabaya sebagai wakil sekretaris. Ketulusannya dalam berorgansiasi nampak ketika ia menjabat sebagi wakil sekretaris cabang, beliau rela memanjat sendiri tiang listrik untuk memasang spanduk yang dulu terbuat dari glangsing dengan alasan, “timbangane ngongkon uwong malah mbayar, mending tak pasang dewe”(dari pada menyuruh orang malah membayar, lebih baik saya pasang snediri), terangnya ketika diwawancara rekan Eka dalam salah satu kesempatan.

Berkat kesungguhannya mengabdi, maka pada tahun 1976 beliau dinobatkan sebagai ketua PW IPNU Jawa Timur yang pada saat itu usianya tepat 21 tahun, sungguh usia yang sangat belia untuk menjabat sebagai ketua organisasi keterpelajaran se-tingkat provinsi. Salah satu kelebihan pria asli Gresik ini adalah pecinta arsip. Terbukti sampai sekarang beliau masih menyimpan sangat rapi berbagai macam arsip kuno, antara lain dokumen BUWILNU (Buletin Wilayah NU, 1978) yang saat ini dikenal dengan majalah Aula, SK ketika beliau menjadi anggota ranting (1961) sampai pengurus wilayah IPNU pun masih tersimpan apik dirumahnya.

Pria yang kini berusia 64 tahun ini, juga pernah diamanahi menjadi dosen pada mata kuliah Hukum Pers. Hal ini menjadi menarik menurut beliau, karena selama ini kemampuan beliau dalam dunia jurnalistik hanya didapat secara autodidak. “yang terpenting adalah ketelatenan dan semangat dalam belajar”, terangnya saat itu.

Abah Soleh merasa optimis bahwa PW IPNU akan menjadi lebih baik dan lebih berkembang pada periode sekarang. “saya melihat profil-profil pengurus periode ini baik-baik, sehingga saya optimis bahwa IPNU kedepan akan menjadi lebih baik”, akunya ketika diwawancarai. Dan beliau berpesan, ketika ada masalah dalam organisasi apapun itu, seyogjanya diselesaikan secara santun dan penuh kekeluargaan, diajak ngomong baik-baik dan dicarikan jalan keluarnya dengan duduk bersama. Sungguh sebuah etika berorganisasi yang kini kian langkah ditemui.(Ek)

 

Rapat Pleno PWNU, Ketua PW IPNU Paparkan RenStra(Rencana Strategis) IPNU Jawa Timur

Ketua PW IPNU Paparkan 5  Rencana Strategis PW IPNU Jawa Timur

            1. Penguatan Organisasi dan Kelembagaan

            2. Penguatan Faham Ke-NU-An

           3. Pengembangan SDM

           4. Kesejahteraan dan Keadilan

           5. Penguatan Sektor Pendidikan

 

PENGUATAN ORGANISASI DAN KELEMBAGAAN 1. Pendirian dan Pengembangan 1000  Komisariat MA/MTs/SMA/SMK
2. Pewe Award
3. Bedah POA dan PD/PRT
4. Majalah Pelajar “PASTI”
5. Media online “ipnujatim.or.id”
6. Pembuatan database pelajar
PENGUATAN FAHAM KE-NU-AN 1. Daurah Aswaja
2. Mencetak Dai Muda jatim
3. Kajian ISLAM Aswaja
4. Muhibah Pesantren
PENGEMBANGAN SDM 1. Pembentukan Team Pelatih Dan Fasilitator se-Jatim
2. Kongres/ rembug Pelajar NU
3. Olimpeade/ Porseni pelajar NU
4. Pekan Pelajar, budaya dan teater Jatim
5. Mencetak kader Tanggap Bencana
KESEJAHTERAAN DAN KEADILAN 1. Pembentukan Koprasi Pelajar
2. Diklat Kewirausahaan Pelajar
3. Penguatan dan Pendampingan pelajar (advokasi pelajar)
PENGUATAN SEKTOR PENDIDIKAN 1. Beasiswa Pelajar  “PASTI”
2. TRYout Akbar
3. Doa Sukses Unas
4. Besiswa S1,S2,S3
5. Pertukaran Pelajar
6. Duta Pelajar Jatim

 

Beasiswa Kursus B. Inggris IPNU JATIM-PI Pare Kediri

Gegam Dunia dengan Bahasa!!!

 من عرف لغة قوم سلم من مكرمهم

Barang siapa menguasai bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka”

Ayo segera daftarkan diri anda dalam Program Beasiswa Kursus B. Inggris

Program Beasiswa ini kerjasama antara Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur dengan Perth Institute Pare-Kediri. Beasiswa yang diberikan berupa Beasiswa Pendidikan selama kursus. Pelaksanaan Kursus ini selama 1 bulan dengan rincian 1 hari 6 kali bimbingan. Pada pekan kedua sudah di wajibkan English Area selama 3 minggu.

Beasiswa Kursus B. Inggris ini diberikan kepada para pelajar NU yang ada di tingkatan Ranting sampai Cabang di seluruh Jawa Timur. Persyaratan tertera di Brosur. untuk Info lebih Lanjut Hub. 031-92040456 (Kantor PW.IPNU Jatim) atau 085755556713/081235555890 (Rekan Farih).

Kirim seluruh persyaratan ke : Kantor PW IPNU JAWA TIMUR. Jl. Masjid Al-Akbar Timur 09 Surabaya Kodepos 60233

Formulir Pendaftaran dapat di Download DISINI

Petakan Program, IPNU-IPPNU Lamongan Gelar RakerCab II

Guna memetakan program-program Rakercab pertama yang hendak direalisasikan pada tahun kedua, Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lamongan mengadakan Rakercab II yang dibuka oleh ketua PCNU Lamongan, KH. Bi’in Abdussalam dan diikuti oleh 90 orang peserta dari jajaran pengurus Cabang dan utusan 24 Pimpinan Anak Cabang (PAC) serta dua Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU dan IPPNU  se-Kabupaten Lamongan dengan agenda utama mengevaluasi program kerja selama separuh periode 2012-2014 dan bertempat di Villa Damar Sewu, Pacet Mojokerto, Sabtu-Ahad (28-29/09/13)

Ketua PC IPNU Lamongan, Mauludvian Aristia A. mengatakan Rakercab II ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan organisasi dalam separuh periode, termasuk program kerja dan dinamikanya secara menyeluruh. Diantara materi bahasannya adalah pengkaderan, pengembangan santri-pelajar serta CBP-KPP. Continue reading “Petakan Program, IPNU-IPPNU Lamongan Gelar RakerCab II”

2014, UN Tetap Dilaksanakan dengan Kontribusi 40%

Seorang petugas mengawasi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) jenjang sekolah menengah pertama (SMP) melalui monitor yang tersambung dengan kamera closed-circuit television (CCTV), di SMP Negeri 2 Semarang, Jateng, Senin (23/4). Data dari Kemendiknas menyebutkan, jumlah peserta UN jenjang SMP/ sederajat di seluruh Indonesia pada tahun 2012 tercatat sebanyak 3.740.043 siswa. Foto: Investor Daily/ ANTARA/R. Rekotomo/ed/ama/12Konvensi Ujian Nasional (UNI) menyepakati evaluasi akhir tahap belajar tersebut akan tetap dilaksanakan pada tahun 2014. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim menyatakan, UN akan memiliki kontribusi 40% bagi kelulusan siswa sementara 60% disumbang nilai ujian sekolah.

“Jika negara ini ingin maju harus ada ujian yang mengukur standar nasional itu sendiri, mengukur kompetensi peserta didik di akhir masa belajar di satuan pendidikan sehingga disepakati untuk tetap melaksanakan Ujian Nasional tahun 2014,” kata Musliar saat menutup Konvensi UN yang digelar selama dua hari, di Kemdikbud, Jakarta, Jumat.

Musliar mengatakan komposisi untuk menentukan nilai akhir ini masih sama dengan penyelenggaraan UN pada tahun 2013.

Pada tahun-tahun ke depan, kata dia, baik nilai ujian sekolah maupun nilai UN keduanya menentukan kelulusan peserta didik masing-masing dengan komposisi 100%. “Saya kira ini langkah luar biasa yang bisa kita sepakati tadi malam dan tadi di pleno,” katanya.

Terkait penggandaan soal, lanjut Musliar, telah disepakati akan diserahkan ke daerah, namun masih akan dibahas apakah berbasis region atau provinsi. “Kalau itu dicetak di masing-masing daerah belum tentu ada percetakan yang mampu mencetak soal di daerah itu. Efektifitas pencetakan itu akan kita pikirkan bersama-sama,” ujarnya.

Sementara, untuk butir-butir rumusan tentang pengawasan dan pengamanan akan dimasukkan ke dalam Prosedur Operasional Standar (POS). Sebelum POS itu disahkan akan dimintakan masukan terlebih dahulu kepada dinas pendidikan provinsi.

“Misal soal pemindaian dan pengiriman rapor kalau dimasukkan ke dalam rumusan kan terlalu detil. Mungkin itu akan kita akomodasi ketika kita membuat POS,” kata Musliar.

Pelaksanaan UN yang kredibel dan reliabel menjadi tema pada konvensi UN di Jakarta, 26-27 September yang dihadiri Mantan Wapres Jusuf Kalla, Anggota Komisi X DPR RI Zulfadli, Ketua Majelis Rektor Idrus A Paturussi, dan Pakar Pendidikan Jahja Umar.

Sebelum pelaksanaan konvensi, dilakukan kegiatan prakonvensi di tiga kota, yaitu Denpasar, Makassar, dan Medan. (gor/ant)

SUMBER : http://www.investor.co.id/national/2014-un-tetap-dilaksanakan-dengan-kontribusi-40/69696

DKW CBP Jatim Bina Kader Tulungagung

Sebagai lembaga semi otonom Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Corp Brigade Pembangunan (CBP) selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi garda depan pengkaderan IPNU.

Komandan Dewan Koordinator Wilayah (DKW) Corp Brigade Pembangunan (CBP) Jawa Timur, Zainal Abidin mengatakan akan selalu siap mengawal pengkaderan IPNU, baik di tingkat Wilayah maupun Pimpinan Cabang se-Jawa Timur. Continue reading “DKW CBP Jatim Bina Kader Tulungagung”

Pererat Persatuan, IPNU-IPPNU Gelar Forum silaturrahim

Ada kegiatan rutin yang dilakukan PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Ngunut paling unik yaitu jalan-jalan dari ranting satu menuju ranting yang lainnya- dari komisariat satu menuju komisariat berikutnya. Nama kegiatan rutin ini adalah Forum Silaturrahim PAC IPNU-IPPNU Ngunut.

Hari ini, 22/09 Ranting Kromasan mendapat giliran agenda Forum Silaturrahim  PAC IPNU-IPPNU Ngunut, yang digelar di Balaidesa Kromasan Ngunut. Kegiatan yang di hadiri seluruh pelajar dan  Ranting dengan jumlah 16 dan 2 Komisariat ini sangat meriah sekali. Hadir juga pada kali ini Katib Syuriah PCNU Tulungagung, Ketua dan Sekretaris PW IPNU Jatim dan semua banom NU se-Kecamatan Ngunut.

Dalam ceramahnya PCNU Menghimbau agara pelajar NU dapat selalu istiqomah menjalankan tugas dan kewajibannya yaitu belajar dan terus belajar. “Harapan kami adalah para pelajar dan pemuda saat ini, kita yang sekarang di NU mungkin 2o thn lagi kalianlah yang menggantikan kami” tutur katib tersebut.

Perlu diketahui bahwa Forum silaturrahim ini acaranya bermacam-macam, terkadang kajian, terkadang pengajian akbar, dan ada kalanya Outbound.

Ketua PW IPNU Jatim Blusukan di Ranting dan Anak Cabang

Setelah menghadiri Diklatama PC IPNU Tulungagung, ketua IPNU Jatim, Imam Fadlli mengunjungi Forum Silaturrahim IPNU-IPPNU Ngunut yang bertempat di Kantor Balai Desa  Kromasan, Ngunut.

Dalam kesempatan tersebut Magister Kebijakan Publik  ini mengatakan bahwa pelajar adalah agent of change untuk perubahan bangsa dan negara di masa depan. Maka harus tetap semangat dalam belajar dan berkarya.

“Saya Pribadi mewakili PW IPNU Jawa Timur sangat mengapresiasi dengan adanya forum-forum semacam ini. Ternyata kader-kader yang berada di akar rumput seperti Ngunut ini tetap istiqomah untuk menjalankan roda organisasi dengan baik” katanya. Continue reading “Ketua PW IPNU Jatim Blusukan di Ranting dan Anak Cabang”

Napak Tilas Kerajaan Airlangga Bersama IPNU-IPPNU Sambeng

Lamongan, Bertepatan dengan pertemuan rutin kader-kader IPNU-IPPNU Sambeng, empat Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU di Lamongan selatan menggelar Seminar Kebudayaan di Pendopo Balai Desa Sambeng dan dihadiri oleh Camat setempat. Keempat Pimpinan Anak Cabang tersebut yakni PAC. IPNU-IPPNU Sambeng, Ngimbang, Mantup dan Bluluk, Ahad (22/9/13).

Seminar yang bertemakan “Napak Tilas Peradaban Kerajaan Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan” dengan narasumber dari Badan Arkeologi Kabupaten Lamongan ini menyoroti berbagai peninggalan kerajaan Airlangga yang dulu pernah ada di wilayah geografis Kecamatan Sambeng dan sekitarnya. Continue reading “Napak Tilas Kerajaan Airlangga Bersama IPNU-IPPNU Sambeng”

Humor: IPA, IPS, IPNU

Tokoh NU pasti menginginkan anaknya mengikuti jejaknya aktif di NU. Alkisah, seorang tokoh NU yang sakit berat, menjelang wafat, sempat berwasiat kepada istrinya. Isinya, tentang masa depan anaknya yang akrab disapa Otong.

Isi wasiat tokoh NU itu adalah supaya Otong yang baru menamatkan MTs, segera masuk IPNU.

Otong pun didaftarkan ibunya di SMA terdekat. Pada saat pendaftaran, petugas bertanya kepada ibu Otong, “Ngapunten (maaf) Bu, nanti anak ibu, masuk jurusan apa?”

“Jurusan IPNU,” jawab ibu itu tegas.

“Di sini tidak ada jurusan IPNU. Adanya cuma Jurusan IPA dan IPS. Oleh karena itu, pilih salah satu di antara dua itu, Bu!” jelas petugas pendaftaran.

“Wah…, gimana sih. Ini pesan dan amanat suami saya sebelum wafat, Pak. Beliau berpesan untuk masuk jurusan IPNU. Seharusnya di sekolah ini ada jurusan tersebut,” ibu itu mengeluh dan kesal.

Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah SMA itu datang. Mendengar keterangan petugas tentang keluhan ibu Otong, ia menjelaskan perihal IPNU.

“Maaf, Bu, IPA itu singatan dari Ilmu Pengetahuan Alam dan IPS itu juga singatan dari Ilmu Pengetahuan Sosia. Keduanya jurusan mata pelajaran di Sekolah. Kalau IPNU itu organisasi pelajar di Nahdlatul Ulama.

“O, saya kira IPNU itu singkatan Ilmu Pengetahuan Nadlatul Ulama,” jawab ibu Otong sambil senyum. (Ahmad Rosyidi)

NU dan Teori Tiga Komunitas

IPNU-IPPNU Babat Dirikan Lima Komisariat SekaligusPertanyaan penting yang sering berseliweran di kepala sebagian besar generasi muda NU kini, termasuk saya, adalah apakah 20 tahun lagi NU masih ada di Indonesia? Apakah NU masih relevan bagi masa depan Indonesia? Jangan-jangan NU akan tinggal jadi catatan buku sejarah saja.

Dengan latar belakang riset dan marketing, saya mencoba mencoba menganalisa masa depan NU. NU adalah sebuah komunitas besar dimana orang-orang di dalamnya merasa mendapatkan manfaat dari komunitas yang dia ikuti, kalau tidak yang dia akan meninggalkan komunitas itu.

Jumlah orang NU di Indonesia berdasarkan klaim atau survei di kisaran 47% dari total penduduk Indonesia, angka ini didapat berdasarkan ritual-ritual yang mereka lakukan. Jadi kalau orang itu masih tahlilan, haul, ziarah kubur maka mereka digolongkan sebagai orang NU.

Kalau dilihat sebagai jamiyah mungkin jumlah itu benar, tapi kalo di anggap jama’ah bisa jadi angka itu terlalu berlebihan. Bisa jadi mereka memang melakukan ritual-ritual NU, tapi begitu tanya apakah mereka mengidentikkan dengan NU? bisa iya bisa tidak.

NU dalam teori kekinian mungkin bisa juga disebut sebagai komunitas. Sebagai komunitas mestinya setiap orang yang merasa bagian dari komunitas NU harus memiliki purpose (tujuan), values (nilai-nilai), dan Identity (identitas) yang menunjukkan diri sebagai orang NU.

Lihatlah sekarang, banyaknya majelis-majelis habib di kota-kota besar malah justru semakin menjauhkan orang NU dari NU-nya sendiri. Mereka sudah nyaman mengikuti berbagai acara majelis-majelis itu toh dari praktek ubudiah tidak ada bedanya dengan NU. Yang lebih mengharukan adalah banyaknya keturunan NU yang bergerak di bidang professional yang tidak tersentuh dan perlahan tapi pasti sudah mulai tercerabut ke-NU-annya.

Berbicara tentang komunitas, menurut Susan Fournier, Profesor Marketing dari Boston University, ada tiga jenis kemunitas. Pertama, Pools, komunitas ini disatukan oleh shared values yang sama, atau bahasa gampangnya komunitas yang memiliki ideologi yang sama, secara demografi dan geografi kemunitas ini agak longgar dan cair. Dalam konteks partai, PDIP adalah salah satu partai dengan tipe ini, karena mereka disatukan oleh ideologi marhaenisme yang di ajarkan Bung Karno

Kedua, Web, komunitas ini disatukan oleh jejaring yang kuat, hubungan antar komunitas juga terjalin antar anggota ini cukup erat. Partai yang cocok dengan tipe komunitas ini adalah Golkar, partai ini secara organisasi dan jejajaring cocok dengan tipe komunitas ini.

Ketiga, Hub, komunitas ini disatukan oleh tokoh idola/panutan, karisma dari sang tokoh membuat orang-orang berbondong ikut dan masuk dalam komunitas ini. Partai Demokrat sangat cocok dengan tipe komunitas ini, SBY adalah sentral segalanya bagi demokrat, daya tarik SBY membuat orang-orang berbondong-bondong memilih demokrat pada pemili 2009 lalu.

Lalu bagaimana dengan NU bila di kaitkan dengan 3 tipe komunitas ini, dengan melihat kesejarahan NU maka dengan mudah kita bisa menempatkan NU sebelum era Gus Dur adalah NU dengan tipe Pool, saat itu memang faktor ketokohan memang terasa, tapi persaingan dengan Muhammadiah membuat NU sangat kental dengan ideologi Aswaja nya untuk membedakan dirinya dengan Muhammadiah.

Era Gus Dur, adalah NU dengan tipe komunitas Hub. Gus Dur Jaman itu ibarat jimat bagi NU, ketokohan Gus Dur sangat di segani dan mampu mengangkat derajat NU dalam puncak keemasan. Gus Dur mampu menjadi lawan tunggal Soeharto saat itu. Gus Dur juga menjadi magnet bagi orang-orang yang sebelumnya belum mengenal NU untuk ikut dan masuk menjadi bagian NU.

Nah, NU pasca Gus Dur semestinya adalah komunitas dengan tipe Web, kenapa demikian? Saya ingat betul bagaimana Pak Hasyim Muazadi sebagai ketua PBNU saat itu mengatakan bahwa dia ingin memperkuat organisasi dan cabang NU. Begitu juga dengan Pak Said Aqil Sirodj, salah satu program utamanya adalah kembali ke pesantren, penguatan pesantren sebagai basis masa dan jejaring ulama terbesar didunia harus lebih utamakan.

Pertanyaannya adalah apakah setiap komunitas harus memilih satu diantara tiga tipe komunitas ini? Jawabnya tidak, untuk sukses biasanya satu komunitas paling tidak punya dua tipe yang kuat dan ada satu yang dominan. Tipe komunitas hubs biasanya dipilih sebagai awal untuk membentuk komunitas, karena dengan adanya tokoh idola yang kuat maka eskalasi untuk mendapatkan “masa” komunitas akan cepat tercapai. Namun titik lemahnya komunitas yang terlalu mengandalkan pada karisma ketokohan secara jangka panjang tidak baik, begitu tokohnya hilang maka komunitas itu akan goyang dan lambat laun akan memudar.

Komunitas yang sudah mapan biasanya tipe komunitas yang dominan adalah tipe web, dimana komunitas ini sudah memiliki jejaring yang tersebar luas dan infrastruktur yang kuat. Namun tipe ini juga cenderung mulai rigit dan kaku dimana anggota komunitasnya harus memiliki komitmen yang kuat untuk membesarkan komunitas.

Komunitas pools adalah komunitas tertutup dengan basis ideologi kuat, tapi kelemahanya komunitas model ini biasanya tidak bisa besar karena rekrutmen anggota komunitas yang sangat ketat. Dilain pihak banyak kalangan berpendapat bahwa dengan adanya dunia semakin horizontal, meminjam judul buku Friedman, The World is Flat, sekat-sekat ideologi telah hilang dan dipandang sudah tidak relevan dalam konteks kekinian. Ideologi telah mati.

Kita kembali membahas NU sekarang, sebagai ormas dengan basis masa besar sekaligus memiliki spektrum yang luas segera berbenah diri menghadapi perubahan paradigma dan perilaku sosial jamaahnya.

Rasanya tidak mungkin NU kembali ke tipe komunitas hubs murni, orang sekaliber Gus Dur tidak mungkin terlahir kembali dalam rentang waktu 100 tahun lagi. Karena itu saya menawarkan kepada NU seharusnya memilih kombinasi tiga kombinasi komunitas tersebut dengan driver utamanya adalah tipe komunitas web kemudian di ikuti oleh pools dan hubs.

Penguatan jejaring baik yang di struktural dan kultural NU harus di perkuat, idealnya di kotomi struktural dan kultural harus di hilangkan. NU harus merangkul semua spektrum orang-orang NU di semua bidang dan pemikiran, orang NU bisa berkarya dimana saja tapi harus selalu terkoneksi dengan NU, NU harus berani membuka diri terhadap terhadap semua kelompok profesi terutama untuk wilayah perkotaan, sehingga jejaring NU akan tersebar dimanapun.

Selain itu komunitas web menuntut militansi dari anggota kadernya, karena itu penguatan kader NU merupkan keharusan selain itu demi efektifitas komando, NU juga harus mencoba menggunakan sistem organisasi yang efektif.

Penguatan Ideologis sangat penting, Aswaja harus tetap diperkuat untuk membentengi NU dari gelombang pemikiran baru islam yang datang belakangan yang penuh kebencian dan purifikasi. Yang perlu diingat penguatan ideologi ini harus bersifat ofensif. NU harus lebih sering mengkomunikasikan pandangan-pandanganya yang moderat itu tapi tentu saja harus dengan bahasa kekinian.

Hubs masih diperlukan terutama untuk wilayah pedesaan, para romo kyai di berbagai pesantren masih bisa menjadi perekat jamaah NU di pedesaan. Para kyai bisa menjadi hubs kecil di wilayahnya masing-masing dan NU harus mampu memfasilitasi konektifitas diantara hubs-hubs kecil ini.

Selain itu yang penting NU harus mampu mengelola komunitasnya. Komunitas itu seperti kita memegang pasir, kalo kita terlalu erat memegang pasir maka pasir yang kita pegang akan buyar, begitu juga kalo kita terlalu longgar memegang pasirnya maka pasir yang kita pegang juga sedikit. Karena diperlukan cara yang pas dan tepat untuk memegang komunitas tersebut.

HASANUDDIN ALI

K.H. Ridwan Abdullah: Lambang NU Diperoleh Lewat Mimpi

Pelukis berbakat alam ini, bersama Wahab Chasbullah dan Mas Abdul Aziz, adalah trio yang berjasa kepada NU. Kenapa demikian?
Malam itu Ridwan Abdullah (63 tahun) tertidur nyenyak di pembaringannya. Sebelum tidur, ia telah melaksanakan shalat istikharah, minta petunjuk Allah. Kakek sekian cucu itu terdesak waktu. Hasil karyanya ditunggu yntuk dikibarkan di forum muktamar kedua Nahdlatul Ulama (NU) di salah satu hotel di Surabaya dua hari lagi. Padahal, ia telah menyanggupi sejak dua bulan sebelumnya, ketua panitia muktamar, K.H. Wahab Chasbullah, juga telah mengingatkan dirinya. Entah kenapa ilham untuk menciptakan lambang jam’iyyah ulama yang baru didirikan oleh Hadhratusy Syaikh K. H. Hasyim Asy’ari tahun lalu itu sulit didapat.
Masalahnya, dia juga tidak mau sembarangan. Itu karena jam’iyyah ulama tersebut merupakan organisasi yang menghimpun ahli agama, sehingga lambangnya juga harus mencitrakan keberadaan, kepaduan, kesungguhan, dan cita-cita yang ingin dicapai. Keinginan yang begitu luhur itu terus didesak waktu.
Ketika malam telah larut dan Ridwan Abdullah terbuai tertidur nyenyak di keheningan malam, dia mimpi melihat gambar di langit biru. Ketika terbangun, jam dinding menunjuk angka dua. Segera diambilnya kertas dan pinsil dan ditorehkannya gambar mimpi itu dalam bentuk sketsa. Akhirnya, coretan itu pun selesai.
Pada pagi harinya, sketsa itu disempurnakan lengkap dengan tulisan NU, huruf Arab dan Latin. Hanya dalam waktu satu hari, lambang itu selesai, sempurna wujudnya seperti yang kita kenal sampai hari ini. Maklum, kiai Ridwan memang dikenal sebagai ulama yang punya keahlian melukis. Itulah sebabnya K.H. Wahab Chasbullah menugasinya membuat lambang jam’iyyah tersebut.
Namun, untuk merepresentasikannya di atsa kain, dia kesulitan mencari bahan yang pas. Saking percaya kepada mimpinya, Ridwan juga berusaha mencari warna yang tepat dengan yang dilihatnya di mimpi. Namun, tidak mudah menemukan warna seperti itu. Beberapa toko kain di Surabaya yang didatangi tidak punya persediaan kain seperti itu. Akhirnya, di Malang kain itu ditemukan. Itu pun Cuma selembar, berukuran 4 meter x 6 meter.
‘Tak apalah,” pikirnya. Maka, di atas kain warna hijau ukuran 4 x 6 itulah, lambang NU pertama kali ditorehkan oleh pelukisnya, K.H. Ridwan Abdullah. Besoknya, 9 Oktober 1927, lambang itu dipancang di pintu gerbang Hotel Paneleh, Surabaya, tempat berlangsungnya muktamar NU kedua. Hal itu memang disengaja untuk memancing perhatian warga Surabaya, baik terhadap lambangnya maupun kegiatan muktamar itu sendiri. Maklum, segalanya masih baru bagi masyarakat.
Umpan itu mengena. Pejabat yang mewakili pemerintah Hindia Belanda datang dari Jakarta. Saat mengikuti upacara pembukaan, dia dibuat terpana dan penasaran demi melihat lambang tersebut. Dia lantas bertanya kepada Bupati Surabaya yang berdiri di sampingnya. Karena sang Bupati tidak bisa menjawab, pertanyaan itu diteruskan kepada shahibul bait, H. Hasan Gipo. Ternyata yang punya gawe pun sama saja: tak tahu menahu! Dia hanya bisa mengatakan bahwa lambang itu dibuat oleh H. Ridwan Abdullah.
Selanjutnya, dituliskan dalam buku Karisma Ulama, bahwa untuk menjawab teka-teki makna lambang NU itu dibentuk mahelis khusus. Beberapa wakil dari pemerintah dan para kiai dilibatkan dalam forum tersebut, termasuk Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Di depan forum tersebut, K.H. Ridwan Abdullah memberikan presentasi untuk pertama kali.
Dalam penjelasannya, Kiai Ridwan menguraikan bahwa tali ini melambangkan agama sesuai dengan firman Allah “Berpeganglah kepada tali Allah, dan jangan bercerai berai.” (Q.s. Ali Imran: 103). Posisi tali yang melingkari bumi melambangkan ukhuwah (persatuan) kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali berjumlah 99 melambangkan asmaul husna. Bintang sembilan melambangkan Wali Sanga. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Muhammad Saw. Empat bintang kecil di samping kiri dan kanan melambangkan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Empat bintang kecil di bagian bawah melambangkan madzahibul arba’ah (madzhab yang empat).
Walhasil, seluruh peserta majelis sepakat, menerima lambang itu dan membuat rekomendasi agar muktamar kedua memutuskan lambang yang diciptakan oleh Kiai Ridwan tersebut menjadi lambang NU.
Kiai Raden Muhammad Adnan, utusan dari Solo, kemudian merumuskan uraian Kiai Ridwan tadi pada acara penutupan muktamar dengan mengatakan: “Lambang bola dunia berarti lambang persatuan kaum muslimin seluruh dunia, diikat oleh agama Allah, meneruskan perjuangan Wali Sanga yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang dibingkai dalam kerangka madzhab empat.”
Kelak, 27 tahun kemudian, pada 1954, Kiai Ridwan mengulangi presentasinya itu, namund alam bentuk utuh. Hal itu terjadi pada muktamar ke-20 NU di Surabaya. Lambang dunia, yang dibikin bulat seperti bola hingga dapat diputar, diletakkan di medan muktamar, yaitu di depan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Kiai Ridwan Abdullah lahir di Kampung Carikan Gang I, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah Belanda. Agaknya di situlah, dia mendapatkan pengetahuan teknik dasar menggambar dan melukis. Dia tergolong murid yang pintar, sehingga ada orang Belanda yang ingin mengadopsinya. Belum selesai sekolah di situ, orangtuanyan kemudian mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon. Ayah Kiai Ridwan, Abdullah, memang berasal dari Cirebon, Ridwan adalah anak bungsu.
Dari Buntet, Ridwan masih mengembara mencari ilmu ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, dan Pesantren Bangkalan, Madura, asuhan Kiai Cholil. Di Pesantren terakhir itulah, Ridwan menimba ilmu cukup lama dibanding yang di tempat lain.
Sebagai kiai, Ridwan lebih banyak bergerak di dalam kota. Dalam beberapa hal, dia tidak sependapat dengan kiai yang tinggal di pedesaan. Misalnya, sementara kiai di pedesaan mengaharamkan kepiting, ia justru menghalalkan.
Ia dapat dikategorikan sebagai kiai inteletual. Pergaulannya dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto cukup erat. Apalagi, tempat tinggal mereka tidak berjauhan dengan rumahnya, di Bubutan Gang IV/20. karena tidak punya pesantren, ia sering megadakan dakwah keliling, terutama pada malam hari, yaitu di kampung Kawatan, Tembok, dan Sawahan.
Sebelum NU berdiri, Kiai Ridwan mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan – lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1916 – dan terlibat dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918), dua lembaga yang menjadi embrio lahirnya organisasi NU. Ketika NU sudah diresmikan, ia aktif di Cabang Surabaya dan mewakilinya dalam muktamar ke-13 NU di Menes, Pandeglang, pada tanggal 15 Juni 1938.
Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Ridwan menikah dua kali. Pernikahan pertama terjadi pada tahun 1910 dengan Makiyyah. Setelah dikaruniai tiga anak, sang istri meninggal dunia. Yang kedua dengan Siti Aisyah, gadis Bangil, yang dicomblangi oleh sahabatnya, Kiai Wahab Chasbullah.
Kiai Ridwan wafat 1962, pada umur 78 tahun, dimakamkan di Pemakaman Tembok, Surabaya. Kiai Wahab Chasbullah (pendiri NU), K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (pencipta nama NU), dan K.H. Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU) dikenal sebagai “tiga serangkai NU.”

 

kEMENDIKBUD Gelar Konvensi UN

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bakal menggelar konvensi Ujian Nasional pada 26 dan 27 September 2013. »Kami ingin mencari berbagai masukan untuk perbaikan pelaksanaan UN yang akan datang,” kata Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Balitbang Kemendikbud, Bambang Indrianto, saat dihubungi, Senin, 23 September 2013.

Menurut Bambang pelaksanaan konvensi tak akan membahas apakah Ujian Nasional dihentikan atau tidak. Konvensi hanya akan mencari strategi pelaksanaan Ujian Nasional yang lebih kredibel dan bisa diterima di berbagai daerah.

Konvensi kata Bambang, juga akan membicarakan berbagai kelemahan pelaksanaan Ujian Nasional sejak diterapkan sepuluh tahun lalu. Kesemrawutan pelaksanaan Ujian Nasional pada April 2013 di 11 provinsi lalu kata Bambang juga akan jadi pembahasan. »Kami ingin mengetahui kondisi riil di masing-masing daerah dan mencari formula yang pas untuk tahun-tahun mendatang.”

Konvensi kata Bambang akan digelar di kompleks kemendikbud. Panitia akan menghadirkan perwakilan guru, kepala dinas, dewan pendidikan, pemerhati dan akademisi dari berbagai daerah. Kemendikbud juga berencana mengundang sejumlah pegiat pendidikan yang sering menyuarakan penolakan UN. »Semua akan kami undang, pokoknya dari berbagai lapisan.” Bambang membantah, konvensi hanya bersifat formalitas.

Dr. KH. A. SAHAL MAHFUDH Menjadikan Fikih Sebagai Pemikiran Sosial yang Dinamis

Kiai Sahal merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren. Pesantren sebagai bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia dengan segala subkultur dan kekhasannya, telah membentuk pribadi dan karakter Kiai Sahal. Meskipun oleh sebagian kalangan pesantren sering dikritik sebagai identik dengan kekolotan, keterbelakangan, tradisionalisme, jumud, dan seterusnya, ternyata dari sana muncul kader-kader bangsa dengan integritas moral yang tinggi, memiliki basis tradisi yang bail;, dan mampu beradaptasi dengan modernitas. Pesantren dengan segala kelebihan dan kekurangannya ternyata mempunyai kontribusi yang tidak sedikit dalam mewariskan nilai-nilai dan kearifan hidup. Bahkan, kekayaan tradisi keilmuan pesantren yang ditransformasikan secara benar, dipandang sementara kalangan sebagai modal untuk menghadapi dinamika hidup dan modernitas.

Membaca riwayat hidupnya, kita akan segera dapat menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan dan aktifitas Kiai Sahal selalu terkait dengan dunia pesantren. Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdiannya. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fikih tidak pernah diragukan. Dia bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, tapi juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Kiai Sahal bukan tipe seorang kiai yang terus berada di “singgasana” dan acuh dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Rintisan pengembangan ekonomi masyarakat (petani) di sekitar pesantrennya, bukan saja telah menyatukan pesantren dan masyarakat, tapi juga menunjukkan kepedulian yang tinggi dalam

Bidang ekonomi rakyat.

Kredibilitas keulamaan dan integritas pribadinya diakui hampirseluruh masyarakat, tidak saja di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai Rais ‘Am NU pada 1999, tapi juga di tingkat nasional terbukti dengan terpilihnya Kiai Sahal Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2000. Independensi dan keteguhan sikap dalam mempertahankan prinsip juga sisi lain dari kehidupan Kiai Sahal. Sikapnya yang moderat dalam menyikapi berbagai problem sosial� menunjukkan pribadi yang menjunjung tinggi sikap tawasuth (Moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (egaliter) dan 1411), tapi juga menunjukkan kearifan pribadinya.

Dia lahir di desa Kajen, Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937, putra KH. Mahfud Salam dan memiliki jalur nasab dengan KH. Ahmad Mutamakin. Ia memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (19431949), Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati.. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Tour di bawah asuhan Kiai Muhajir. Selanjutnya tahun 1957-x.960 d belajar di pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair.,Pada pertengahan tahun 1960-an, Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Fadani. Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).

Hampir seluruh hidup Kiai Sahal berkaitan dengan pesantren. Pada 1958-1961 Kiai Sahal sudah menjadi guru di Pesantren Sarang, Rembang;1966-1970, dia menjadi dosen pada kuliah takhassus fikih di Kajen; pada 1974-1976 dia menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati;1982-1985 menjadi dosen di Fak. Syariah LAIN Walisongo Semarang; sejak 1989 hingga sekarang menjadi Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara. Tahun 1988-1990 dia menjadi kolomnis tetap di majalah AULA, sedangkan mulai 1991 menjadi kolomnis tetap di Harian Suara Merdeka (Jateng). Meski dia memiliki kesibukan sebagai

Rais’Am NU dan Ketua Umum MUI serta sebagai Rektor UNISNU, dia tetap menjadi pengasuh pesantren Maslakul Huda di Kajen, Pati. Kiai Sahal aktif di organisasi massa keagamaan, pertama-tama di NU sebagai Katib Syuriah Partai NU Cabang Pati pada 1967-1975, sampai kemudian dia menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi ini, yakni sebagai Rais Am Syuriah PB NU untuk periode 1999-2004. Dalam waktu yang hampir bersamaan dia terpilih menjadi Ketua Umum MUI Pusat untuk periode 2000-2005. Dalam posisinya sebagai Ketua Umum MUI ini dia secara ex officio menjadi Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN), sebuah lembaga yang berfungsi memberikan fatwa, kontrol dan rekomendasi tentang produk-produk lembaga keuangan syariah dan lembaga bisnis syari’ah.

Kiai Sahal termasuk salah satu dari sedikit kiai yang rajin menulis, sebuah tradisi yang langka terutama di lingkungan kiai NU. Ratusan risalah (makalah) telah ditulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Belakangan sebagian karya-karya tersebut dikumpulkan dalam buku berjudul Nuansa Fikih Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994); Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999); Telaah Fikih Sosial, (Semarang: Suara Merdeka, 1997).

�Pengembangan Ilmu Fikih

Pemikiran KHM A Sahal Machfudz yang tertuang dalam berbagai tulisannya menunjukkan bahwa dia mempunyai perhatian luas dalam berbagai isu, mulai dari pengembangan pesantren, kesadaran pluralisme, ukhuwaah Islamiyyah, penanganan zakat, dinamika dalam NU, manajemen dakwah, sampai pada masalah pengentasan kemiskinan. Di luar itu semua, kontribusi pemikiran yang paling menonjol dari Kiai Sahal adalah tentang fikih sosial-kontekstual. Concern utamanya adalah bagaimana fikih tetap mempunyai keterkaitan dinamis dengan kondisi sosial yang terus berubah. Dalam kaitan ini, Kiai Sahal berupaya menggali fikih sosial dari pergulatan nyata antara “kebenaran agama” dan realitas sosial yang senantiasa timpang. Menurutnya, fikih selalu menjumpai konteks dan realitas yang bersifat dinamis.

Kontestan Nigeria Menangkan Gelar Miss Muslimah

Kontestan asal Nigeria menitikkan air mata sambil mengucapkan syukur dengan membaca ayat-ayat Qur’an ketika ditetapkan sebagai pemenang kontes Miss Muslimah yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu malam (18/9).

20 finalis yang mengikuti acara tersebut diwajibkan mengenakan hijab, berjalan diatas cat walk dengan pakaian bordir yang disorot lampu berkilauan.

Seluruh kontestan harus menutupi auratnya. Penilaian atas mereka didasarkan pada kemampuan mereka dalam membaca Qur’an dan pengetahuannya tentang Islam dalam dunia modern.

Setelah menampilkan diri dihadapan hadirin yang sebagian besar para pemuka agama dan Muslim yang taat, sebuah panel juri menetapkan Obabiyi Aishah Ajibola (21) dari Nigeria sebagai pemenang, seperti dilaporkan oleh AFP. 

Dia mengatakan bahwa kemenangannya atas berkah dan seizin Allah. Atas capaiannya tersebut, ia memperoleh hadiah sebesar 25 juta rupiah ($2.200) dan perjalanan ke Makkah dan India

Ajibola mengatakan kepada AFP sebelum final bahwa even ini “tidak sepenuhnya kompetisi”

“Kami hanya mencoba menunjukkan kepada dunia bahwa Islam itu indah,” katanya.

Organiser acara Eka Shanti mengatakan, kontes ini merupakan alternatif lain dari model yang dikembangkan oleh Miss World, dan menunjukkan bahwa upaya oposisi dapat dilakukan dengan cara-cara non kekerasan.

Eka Shanti, yang mendirikan kontes ini tiga tahun lalu, setelah kehilangan pekerjaannya sebagai pembaca berita TV karena menolak melepaskan hijabnya, mengatakan, ini merupakan jawaban Islam terhadap Miss World.

“Tahun ini, kami menyelenggarakan acara beberapa saat sebelum final Miss World untuk menunjukkan terdapat role model alternatif untuk wanita Muslimah,” katanya kepada AFP.

“Tetapi ini bukan sekedar Miss World. Wanita Muslimah. Terdapat kecenderungan wanita Muslimah bekerja di dunia entertainment yang menunjukkan seksualitas secara eksplisit. Ini patut menjadi perhatian.”

Kontes ini menghadirkan host Dewi Sandra, artis yang belakangan menggunakan hijab. Kontes ini menampilkan musik pop dan Islam, serta menampilkan kesopanan peserta, yang menjadi salah satu kriteria penilaian hakim.

Kontes ini juga menampilkan pakaian karya desainer Indonesia, sebuah pendekatan berbeda daripada yang dilakukan oleh para penentang dari kelompok radikal.

Sebelum mencapai final di Indonesia, lebih dari 500 kontestan berkompetisi secara online, salah satunya adalah menceritakan bagaimana mereka mulai mengenakan hijab.

Kontes ini pertama kali diselenggarakan pada 2011 dengan nama berbeda dan hanya untuk warga negara Indonesia, kata Shanti, tetapi setelah media mulai membandingkan dengan Miss World, dilakukan rebranding sebagai kontes alternatif terhadap Muslimah.

Karena popularitasnya, organiser menerima kontestan asing mulai tahun ini, dengan peserta yang mewakili Iran, Malaysia, Bangladesh, Brunei, Nigeria dan Indonesia.

Kontestan dikarantina selama 10 hari untuk melakukan berbagai aktifitas seperti membaca Qur’an, pelatihan ketrampilan IT dan belajar menggunakan make up secara benar

“Perempuan Muslimah itu sholehah, cerdas dan stylish,” kata Eka. “Mereka merupakan jawaban yang melihat Islam hanya kemiskinan dan terorisme.”

Evawani Efliza (23), merupakan peserta dari Indonesia, yang belajar Psikologi di Kanada, mengatakan, ia mengikuti kontes ini agar memiliki karakter yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah.

“Saya belajar untuk memiliki sikap yang baik di sepanjang waktu dan memberi kontribusi sebagai wanita Muslim kepada negara dan keluarga.”

Terpilihnya Obabiyi Aishah Ajibola sebagai pemenang World Muslimah 2013 dianggap oleh Sandrina Malakiano sebagai kemenangan yang layak bagi perempuan asal Nigeria tersebut. Menurut Sandrina dan tiga rekan juri lainnya, yaitu Inneke Koesherawaty, Farhana Ahmeed dari Bangladesh, dan Jameyah Sheriff dari Malaysia, karakter dan kemampuan Obabiyi layak mengantarkannya menjadi pemenang.

“Memang ada pemilihan yang jelas dari World Muslimah ini. Obabiyi ini memang memenuhi semua kriteria itu,” kata Sandrina saat ditemui Tempo usai penjurian di Balai Sarbini, Rabu, 18 September 2013. “Kami harus fair ya. Sekali pun dilakukan di Indonesia, ternyata dia bisa tampil lebih baik. Ia punya pengetahuan yang tegas dan wawasan yang luas.”

Menurut Sandrina, sejak awal penjurian keempat juri sepakat memilih Obabiyi sebagai pemenang. “Kami semua juri sepakat kalau dia yang terpilih, plus lagi ternyata semua juri vote lock sepakat ya,” dia mengatakan.

Ajang World Muslimah 2013 merupakan ajang yang menarik bagi Sandrina. Menurutnya kepercayaan World Muslimah 2013 kepada Obabiyi, serta lokasi tahun depan yang berpindah tidak lagi di Indonesia membuktikan bahwa ada perluasan dari penyelenggaraan kejuaraan ini.

Kembangkan pesantren

Ajang Miss Muslimah ini juga turut mempromosikan dibangunnya sebuah pondok pesantren bagi para muslimah mualaf.

“Pesantren Muslimah mualaf ini merupakan tempat yang dibangun untuk dapat mendidik para Muslimah mualaf agar ke depannya mereka tidak menggantungkan diri kepada orang lain,” katanya kepada Tempo.

Berdasarkan banyak pengalaman yang dapat dilihat saat ini, kondisi para mualaf di Indonesia cenderung sulit untuk mencoba bangkit dan mandiri.

“Jangan sampai para mualaf ini ke depannya hidup menggantungkan diri terhadap zakat, meskipun ada alokasi zakat untuk para mualaf,” Eka menambahkan.

Pesantren itu juga akan menyediakan program keterampilan agar para mualaf bisa mandiri secara finansial. “Dilengkapi pula dengan program creative entrepreneur boarding school, membuat program yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Ada pula pembelajaran mengenai ilmu-ilmu agama, penerapan keterampilan, agar mereka punya kemampuan yang bisa digunakan untuk menghidupi dirinya sendiri kelak,” Eka memaparkan lagi. Hingga kini pesantren muslimah mualaf masih dalam proses pembangunan di area Sentul City.

www.nu.or.id

Cerpen: Aku dan Namaku

AL-HAMDULILLAH Segala Puji Bagi Allah SWT

aku adalah seorang yang spesial dan luar biasa, karena aku diciptakan dalam keadaan sempurna. Aku adalah seorang anak yang dilahirkan oleh kedua orang tua yang sangat mencintai dan menyanyagi mereka adalah Muslihuudin (ayahku) dan siti munazah (ibundaku). Aku dilahirkan pada tanggal 09 agustus 1991 disebuah desa yang sangat indah kelumpang jaya-Nibung-sumatra selatan.

Mufarrihul Hazin adalah sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Pemberian nama tersebut bukan hanya sekedar nama tetapi memiliki sejarah yang luar biasa dan memiliki makna yang sangat dalam. Namaku berasal dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata “mufarrih” dan hazin”. Kata Mufarrih adalah beliumbil dari kata “farraha” yang berari : bahagia dan gembira. Sedangakn kata hazin berasal dari kata “hazanun” yang berarti: susah dan sedih. Kedua kata yang berlawanan tersebut kemubeliun digabungkan menjadi satu  kalimat dan menghasilkan Kata “Mufarrihul Hazin” yang berarti pembahagia orang duka dalam bahasa sekarang dikenal dengan sebutan PELAPUR DUKA”

Sebelum aku dilahirkan kedua orang tuaku (ibu) dalam keadaan gundah dan bersedih hati, karena saat itu  kedua orang tuaku adalah orang yang jauh dari sanak saudara, keluarga yang hidup dalam kesederhanaan, hidup didaerah transmingrasi palembang sum-sel. ketika mereka melihat aku dilahirkan dengan kondisi selamat dan sempurna kedua orang tuaku pun sangat bahagia mereka bisa snyum gembira. Mereka pun berharap agar kelak dalam menjalani kehidupan ini aku bisa seperti namaku. Aku bisa menjadi pambahagia orang lain dimanapun dan kapanpun.

Humor: Bandara Abdurrahman Wahid

Saat berkunjung ke Malang, Presiden Gus Dur bersama rombongan berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma. Gus Dur siap disambut oleh beberapa pasukan Banser di bandara tujuan

Mereka pun berkoordinasi satu sama lain dengan menggunakan handy talky (HT). Ketika rombongan mulai mendekati bandara Abdurrahman Saleh, Malang, seorang komandan Banser meminta laporan kepada salah satu petugas di lapangan melalui HT.

“Halo, halo, roger, mohon laporannya segera, ganti!”

Roger! Lapor komandan, rombongan presiden Abdurrahman Saleh mulai mendarat di Bandara Abdurrahman Wahid!” katanya agak gugup. (Ajie Najmuddin)

Makna Kembali ke Pesantren

Tiga puluh tahun yang lalu yakni tahun 1984 tepatnya di Situbondo, NU mencanangkan gerakan “Kembali ke Khittah 1926”. Langkah strategis itu telah membawa kemajuan yang sangat berarti bagi NU, sehingga menjadi organisasi yang besar, kuat dan disegani. Pada hakekatnya kembali ke Khittah adalah kembali pada spirit, pola pikir serta nilai luhur pesantren.

Karena itulah pada periode ini NU mencanangkan gagasan besar Kembali Ke Pesantren, sebagai realisasi mengembalikan Khittah serta jati diri NU yang lahir dan besar di Pesantren. Maka sudah selayaknya dalam usianya yang ke-90 tahun ini NU menegaskan kembali gagasan mulia tersebut.

Pesantren merupakan khazanah peradaban Nusantara yang telah ada sejak zaman Kapitayan, sebelum hadirnya agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam. Pertemuan dengan agama besar tersebut pesantren mengalamai perubahan bentuk dan isi sesuai dengan karakter masing-masing agama, tetapi misi dan risalahnya tidak pernah berubah, yaitu memberikan muatan nilai spiritual dan moral pada setiap perilaku masyarakat sehari-hari, baik dalam kegiatan sosial, ekonomi maupun kenegaraan.

Sejak awal pesantren menjadi pusat pendidikan masyarakat mulai dari bidang agama, kanuragan (bela diri), kesenian, pereonomian dan ketatanegaraan. Karena itulah para calon pimpinan agama, para pujangga bahkan para pangeran calon raja dan sultan semuanya didik dalam dunia pesantren atau padepokan. Para pandita, panembahan atau Kiai yang mengasuh para murid, cantrika atau santri dlam belajar sehari hari.

Zaman Islam terutama pada masa Walisongo, pesantren yang semula bernuansa Hindu-Budha mulai mendapatkan nuansa Islam, sejalan dengan tersebarnya agama baru ini. Dari pesantren itulah agama diajarkan secara luas di tengah masyarakat. Dan diajarkan secara mendalam, dengan mempelajari berbagai kitab babon, sehingga melahirkan ulama atau kiai besar yang menjadi penerus perjuangan para wali. Berbagai kitab yang diajarkan di pesantren saat ini, baik kurikulum, kitab dan metodenya semuanya berasal dari generasi para wali dan kiai sesudahnya. Metode itulah yang terbukti berhasil melahirkan berbagai ulama dan pujangga serta sultan yang berpengaruh dalam sejaha Islam Nusantara. Paku Buwono VI dan Panageran Sambernyowo (Mangkunegoro I) juga Pangeran Diponegoro tokoh besar yang piawai dalam politik dan lihai dalam perang, tak pernah terkalahkan dalam perang, semuanya murni hasil pendidikan politik pesantren.

Baru ketika kolonial datang dengan kebijakan Politik Etisnya tahun 1900, memperkenalkan  pendidikan sekolah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu keduniaan dengan dasar rasional semata, mulailah terjadi dualisme pendidikan Nusantara. Pendidikan yang semua terpadu mulai dipisah antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Karena pendidikan Barat tidak mengenal ilmu agama, hanya mengenal ilmu umum sementara pendidikan pesantren saat itu mengintegrasikan keduanya.

Hadirnya pendidikan kolonial yang diperkenalkan secara persuasip maupun represi itu, menjadikan sekolah menjadi pendidikan tunggal yang menggeser posisi pesantren. Ketika politik diarahkan pada paradigma Barat, sehingga belajar hukum dan politik harus ke Sekolah Barat bukan lagi ke pesantren seperti para sultan sebelumnya. Sementara pesantren yang menjalankan politik anti tasyabuh atau non kooperasi total, menolak segala bentuk budaya Belanda. Pesantren terus berjalan dengan paradigmanya sendiri, namun demikian tetap melahirkan tokoh besar yang tak terkalahkan. Hampir seluruh perlawanan terhadap penjah dilakukan oleh pimpinan pesantren. Kalaupun dilakukan oleh Kraton, tentu melibatkan para kiai dan santri dari pesantren.

Para tokoh besar Islam seperti KH Ahmad Rifai, KH Hasyim Asy’ari, adalah tokoh pergerakan nasional yang mampu menggoncangkan kekuasaan Belanda, walau tak sekejappun merasakan pendidikan sekolah Belanda. Demikian juga KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim, yang piawai dalam politik, sehingga sejak tahun 1943-an telah menjadi Pimpinan Shumubu (Menteri Agama) dan ketua Masyumi, mewakili KH Hasyim Asy’ari. Dan pada Sidang BPUPKI Menjadi anggota perumus Pancasila dasar negara dan perumus Mukadimah UUD 1945, sehingga konsep filosofis itu menjadi sangat religius ketika mendapatkan muatan nilai pesantren. Kiai Wahab sendiri yang merupakan politik ulung mitra Bung Karno, terutama dalam menghadapi persoalan kenegaraan, padahal hanyalah murni dididik di Pesantren. Justeru dengan keilmuan pesantren itulah bisa melengkapi politik Barat yang dianut oleh Bung Karno.

Ketika Konstituante mengalami jalan buntu, para kiai dari Pesantren justeru memberikan jalan keluar yang kreatif, sehingga Bung Karno dengan mudah mengeluarkan Dekrit Presiden 1959, Kembali ke UUD 1945, setelah berkonsultasi dengan NU, terutama dalam menempatkan Piagam Jakarta secara proporsional. Tidak ditetapkan secara formal, tetapi juga tidak diabaikan perannya, tetapi ditempatkan sebagai jiwa bagi UUD 1945. Walaupun politik sering dituduh anti moral, tetapi seburuk-buruk politik apapun maih membutuhkan moral, agar relasi antar pelaku bisa berjalan. NU menawarkan gagasan moral atau akhalakul karimah dalam politik, karena itu NU bisa ambil peran.

Deideologisai serta depolitisasi pesantren yang dilakukan rezim orde baru telah mengarah pada deNUnisai, kebijakan itu berakibat menjauhkan peran NU dan pesantren dalam  politik. Apalagi sejak zaman reformasi ketika gelombang globalisasi dan liberalisasi melanda seluruh dunia termasuk negari ini, maka nilai moral dalam kehidupan sosial, gotong royong semakin memudar, dalam bidang seni budaya etika telah ditinggalkan digantikan dengan estetika yang hanya mengumbar nafsu dan kemewahan dunia. Dalam bidang ekonomi terjadi persaingan bebas saling memangsa. Sementara dalam bidang politik etika atau fatsoen politik diangap sebagai doktrin lama yang harus ditinggalkan.

Makna Kembali ke Pesantren

Mengingat suasana kehidupan pasca Reformasi yang diwarnai dengan globalisasi dan liberalisasi yang melanda seluruh sektor kehidupan itu tidak ada cara lain bagi NU kecuali kembali ke pesantren, untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat sejalan dengan tradisi dan etika. Kembali kepesantren memiliki dua pengertian baik secara fisik maupun secara nilai dan tradisi, yang merupakan dua sisi yang tak terpisahkan dari satu sistem pesantren yang sudah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad.

Pertama, kembali ke pesantren dalam arti fisik berarti mengembalikan keseluruhan kegiatan NU mulai dari rapat pleno, konferensi, rapat kerja, Munas hingga Muktamar, kembali dipusatkan di pesantren yang menjadikan pesantren. Dengan segala keterbatasannya terbukti pesantren mampu menyedaikan suasana yang jauh kondusif ketimbang tempat lain sehingga  keakraban dan keseriusan serta kesederhanaan bisa tercipta. Ketika langkah kembali ke pesantren dilakukan terbukti berhasil kembali mendekatkan NU dengan tradisi pesantren norma serta moralnya, dan sekaligus memperkuat kembali institusi pesantren  sebagai pusat perubahan  pengembangan masyarakat. Peran pesantren kembali dilihat dan diperhitungkan orang.

Kedua, kembali ke pesantren dalam arti tata nilai, dalam arti pesantren selalu menekankan pada nilai kejujuran, kesederhanaan, kebersamaan dan pengabdian yang mendalam dan tanpa batas. Dari nilai-nilai tersebut tumbuh etos, rasa saling percaya, budaya gotong royong, kecintaan pada ilmu dan profesi tanpa batas, sebagi bentuk pengabdian pada Allah, yang ditasarufkan sebesar-besarnya pada kemaslahatan umat manusia. Langkah ini sebenarnya biasa saja. Tetapi karena dijalankan di tengah maraknya individualisme bahkan egoisme persaingan bebas tanpa belas kasihan, maka langkah Kembali Ke Pesantren ini terasa radikal dan kontroversial. Hal itu bisa dipahami karena ini berarti menentang arus yang sedang berjalan, yaitu individualisme, pragmatisme yang melanda dunai saat ini, yang seolah menjadi nilai kehidupan tertinggi.

Pendidikan pesantren diberikan oleh seorang ulama atau kiai yang representatif, yang dalam pengembangkan ilmunya telah mendapatkan ijazah (pengesahan) dari guru masing-masing. Dengan demikian otentisitas sanad (mata rantai) keilmuannya menjadi jelas, sehingga pemahamnnaya bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu segala ilmu dan amalan diajarkan secara bertahap dan thuluz zaman (dalam waktu yang lama). Ilmu dan amal yang dikerjakan menjadi sangat hakiki dan mendalam. Sang kiai atau sang panembahan merupakan guru pembimbing yang menjadi contoh teladan bagi santri dalam kehidupan.

Pendidikan pesantren diselenggarakan secara tertib, memakan waktu yang lama, agar memperoleh pemahaman hakekat segala sesuatu secara mendalam, sehinga memudahkan membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Dimensi kedalaman ini sangat ditekankan di pesantren mengingat firman Allah,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ 
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia menipumu, dan jangan kamu terkecoh oleh tipuan yang mengatas namakan Allah.” (QS: Al Fathir: 5)

Hal itu terbukti, sekarang ini banyak kesalehan yang ditampakkan secara lahiriah, bahkan sikap ketaatan dan kedisplinan beribdah begitu tinggi dan kesemarakan yang kompak. Tetapi pada saat yang bersamaan pelanggaran terhadap norma-norma agama terjadi pada orang yang bersangkutan. Bahklan tingkat kejahatannya melebihi orang tidak mengenal agama. Padahal semua perilaku mereka dan kelompoknya atas nama agama. Ini tidak lain karena pendidikan atau tarbiyah yang dijalankan serba instan. Hanya mengutamakan kedisiplinan fisik. Tidak diisi dengan kerohanian yang mendalam. Agama yang diajarkan secara instan dan dangkal serta sepintas, hanya menjadi kedok, mudah menjadi alat manipulasi.

Padahal perbuatan yang memamerkan amal tetapi tanpa isi seperti itu menurut Allah merupakan kedurhakaan, sebagai difirmankan,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya: “Kami akan memberi tahu kamu tentang  orang yang amalnya paling merugi; yaitu orang yang sia-sia amalnya di dunia ini, padahala mereka menyangka dirinya telah beramal baik.” (QS: Al-Kahfi 103-104)

Dalam amaliah sehari-hari termasuk dalam ibadah, terdapat perbedaan yang tipis antara yang benar dan yang salah, karena itu para ulama pesantren menjaga agar para santri berhati-hati dengan jebakan tersebut. Bimbingan seorang guru, mursyid atau kiai pada umat menjadi sangat penting untuk menghindari pengerjaan amalan yang sia-sia seperti itu. Aktivitas berkedok agama tetapi untuk tujuan duniawi semata.

Di sinilah pentingnya kembali ke pesantren untuk kembali menegakkan moralitas dan nilai-nilai yang diajarkan oleh para wali dan ulama sepanjang sejarah Nusantara. Ajaran dan hikmah yang diamalkan para ulam terdahulu itu sangat penting justeru dalam situasi globalisasi yang serba tidak menentu saat ini.

Kembali ke Pesantren, Kembali ke Budaya Nusantara

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa pesantren merupakan budaya asli Nusantara, yang mengembangkan nilai kenusantaraan lestari hingga sekarang. Antara sultan dengan wali (ulama) merupakan satu kesatuan, hal itu secara kelembagaan berarti menyatunya antara kesultanan atau keraton dengan dunia pesantren yang terjalin mulai Samudera Pasai di Aceh, Di Jawa hingga Ternate Todeore di Maluku dan Papua.

Secara berangsur hubungan itu renggang bahkan terpisah, berdiri sendiri tanpa saling mengisi, bermula sejak zaman Belanda dan berlangsung hingga zaman orde baru. Padahal mulanya mereka sekeluarga. Dalam keterpisahan itu keduanya mengalami kemerosotan. Tetapi pihak kesultananlah yang paling merasakan akibatnya. Bisa dibuktikan, sekarang ini hanya tingga dua atau tiga kesultanan yang masih hidup dan berkuasa, yang lain tinggal nama, ataupun dihidupkan kembali tetapi tidak punya rakyat, tidak punya tentara. Bayangkan dengan dunia pesantren, ketika ditindas Belanda dan direpresi orde baru, tetapi masih terus hidup. Saat ini umumnya pesantren yang jumlahnya  ribuan itu ada yang memiliki santri dua ribu hingga lima ribu orang. Bahkan organisasi kepesantrenan masih memiliki kekuatan para-militer terlatih yang jumlahnya bisa ribuan orang. Hal yang sama tidak dimiliki oleh Kraton atau kesultanan manapun di Nusantara.

Belakangan ini keraton baru menyadari kelemahan tersebut, bersamaan dengan kunjungan Para Sultan Nusantara mereka mengatakan, selama ini mereka mengalami kelumpuhan ketika para Sultan berjalan tanpa Wali, sehingga posisi mereka semakin terpuruk tidak ada yang bisa menolong. Menurut mereka walinya Republik Indonesia saat ini adalah pesantren yang dipimpin oleh NU. Karena itu mereka mulai merasa pentingnya kerjasama dengan organisasi kepesantrenan seperti NU, sebagai upaya mengembalikan wibawa kesultanan sebagaimana dahulu kala.

Sejak ditaklukkan Belanda kesultanan sebenarnya telah ditundukkan secara moral dan intelekual. Akhirnya mereka sepenuhnya berkiblat ke barat ketika berpolitik. Apalagi sejak awal mereka mendapatkan hak istimewa untuk bisa sekolah Belanda, yang menjadikan mereka semakin menjadi westernis, yang semakin menjadikan mereka terpuruk. Nilai kenusantaraan terutama nilai keagamaan semakin mereka tinggalkan, apalagi pesantren yang dulu mendampingi, membimbing dan mengarahkan mereka telah diganti dengan penasehat dari Belanda dan Eropa lainnya maka Kesultanan semakin jauh dari rakyatnya. Karena itulah masa kemerdekaan mereka dihancurkan bersama hancurnya kolonialisme. Sementara kaum santri bergabung dengan kaum Republiken yang dengan aktif mendirikan Republik ini.

Munculnya resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeliarkan KH Hasyim Asyari merupakan keterlibatan pesantren dalam mendirikan Repuiblik ini. Kalangan ulama pesantren lebih sigap dalam membaca perubahan saat itu, sementara kesultanan masih terikat oleh berbagai perjanjian dengan Belanda sehingga mereka ketingalan langkah dalam mengambil kepemimpininan di negeri ini, saat menjelang berdirinya Republik ini.

Dengan ketemunya kembali dua elemen penting Nusantara yaitu antara kesultanan dan pesantren diharapkan Indonesaia bisa menemukan jatidirinya kembali. Karena keduanya sebenarnya pemangku utama budaya Nusantara yang berpegang teguh pada nilai tradisi dan norma agama, yang ini telah tertanam dan terjalin sejak berabad yang lalu yang telah dirintis oleh para wali sejak datangnya Islam di Nusantara. Bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, kembali pada nilai-nilai Nusantara menjadi sangat mendesak saat ini, sebab apa yang dirumuskan dalam sistem politik dan ketatanegaraan kita seperti Pancasila adalah merupakan produk dari falsafah dan budaya Nusantara. Karena itu nilai kenusantaraan dan kepesantrenan perlu terus digali bersamaan dengan proses menemukan jati diri bangsa ini.

Bersamaan dengan derasnya gelombang globalisasi yang membawa arus leiberalisasi, telah melonggarkana seluruh ikatan keluarga, ikatan sosial bahkan ikatan agama. Padahal tanpa ikatan agama, tanpa ikatan keluarga dan tanpa ikatan sosial, maka norma dan moralitas sulit dijalankan. Karena pada dasarnya agama, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan persemaian berbagai norma dan etika. Kembali ke pesantren diartikan sebagai kembali pada norma kelluarga, norma sosial, karena dalam lingkungan itulah norma agama ditumbuhkan dan diinternalisasi menjadi perilaku dalam kehidupan.

Melahirkan Sosok Ideal

Setiap gagasan besar atau perkumpulan besar selalu membutuhkan tipe ideal atau sosok ideal bagimana kira-kira gagasan atau cita-cita perkumpulan tersebut dicitrakan dan diwujudkan di alam nyata dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sejarah kita munculnya tokoh yang diidealkan itu sangat lazim. Sosok ideal gagasan tentang Indonesia antara lain adalah Soekarno, Hatta dan sebagainya. Sosok Ideal NU misalnya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, di Muhammadiyah terdapat sosok yang diidolakan seperti KH. Ahmad Dahlan. Dalam Sarekat Islam terdapat HOS Tjokroaminoto. Sosok semacam itu tidak hanya memiliki daya pikat, tetapi sekaligus memiliki daya ikat, sehingga mampu menjaga kohesivitas ide yang masih abstrak atau cita-cita perkumpulan atau organisasi yang masih utopis. Di dunia sana juga sama dalam Swadesi ada Gandhi, dalam Pan Islam ada Al Afghani. Para Nabi sendiri merupakan sosok ideal dari setiap agama yang mereka bawa.

Sosok semacam itu dianggap contoh paripurna dalam sebuah idea atau perkumpulan. Seringkali mereka ditempatkan sebagai makhluk supra manusiawi, sosok yang tidak pernah salah, paling banter hanya khilaf dan itupun sangat dimaklumi dan segera dimaafkan oleh pendukungnya. Dengan demikian  mereka menjadi panutan, pemberi inspirasi, memberikan rasa bangga dan rasa percaya diri, memberi harapan dan bahkan memberikan rasa aman bagi para pendukungnya. Kelebihan mereka adalah tidak hanya bisa memberikan mauidloh hasanah (nasihat yang baik) tetapi mampu memberikan uswatun hasanah (teladan yang baik). Keteladanan itulah kunci utama bagi sosok idel tersebut.

Dalam masyarakat dan bangsa ini muncul keprihatinan yang mendalam tentang tidak hadirnya sosok ideal yang diharapkan itu. Apalagi dalam masyarakat yang percaya akan datangnya Ratu Adil, Imam Mahdi atau Mesias itu sering merasa kecewa. Setiap muncul sosok yang dianggap akan menjadi sosok ideal apakah itu dari kalangan ilmuwan, politisi, seniman dan bahkan agamawan yang menjadi panutan dan dielu-elukan, tetapi tiba-tiba sang idola terjebak berbagai kasus pelanggaran moral. Pengalaman seperti ini yang selalu membuat masyarakat frustrasi. Munculnya para aktivis terutama kalangan muda di panggung politik, yang diharapkan mampu membawa perbaikan, ternyata tidak memberikan harapan, malah terjerumus dalam praktek politik yang mengabaikan norma dan etika.

Untuk mengatasi rasa frustrasi dan memberikan kepercayaan serta harapan bagi masyarakat saat tidak hadirnya sosok ideal yang berupa manusia yang ditokohkan, maka orang harus mulai realistis dan memahami gerak zaman terjadi. Dengan tidak adanya sosok ideal masyarakat tidak perlu kehilangan arah, kehilangan tuntunan dan juga lepas kendali, karena masih ada yang bisa dijadikan pegangan bukan orang per orang melainkan berpegang pada ide, wahyu dan termasuk organisasi atau jamaah, yang kemurniannya terus dijaga oleh pendukungya.

Dalam kondisi seperti ini dimana pribadi yang seperti Nabi atau Rasul tidak ada, maka uswah atau teladan kita bukan orang, tetapi cita ideal jamaah atau organiasai yang berpegang teguh pada cita-cita dan tata nilai. Karena jamaah merupakan cerminan dari ajaran Allah dan Rasulnya sebagaimana difirmankan.
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
Apabila terjadi perselisihan, maka kembalilah kepada Allah dan rasulnya”. (QS. An-Nisa’:59)

Kita kembali ke sana karena keduanya merupakan simbol kebenaran mutlak, untuk itulah para ulama yang merupakan amna’ul ummat (kepercayaan umat) menjadi panutan karena mampu memahamkan umat dan mendekatkan pada kebenaran. Sebagai langkah untuk mewujudkan Islam ideal sebagai rahmatan lil alamin, sebagaimana tercermin dalam Al-Quran dan Hadis yang masih ijmal (umum) itu bisa terapkan maka diperlukan upaya pemahaman kreatif secara kolektif (ijma’) atau secara individual (qiyas).

Upaya pemahaman manusia terhadap realitas selain menggunakan bayan ilahi (pemahaman Ilahi) yaitu al-Quran dan Sunnah juga dilakukan dengan menggunakan bayanul aqli (pemahaman akal) yaitu ijma’ dan qiyas, maka lahirkan ilmu fikih, sehingga masyarakat mampu menjalankan agama dengan terinci dan operasional. Tentang cara menjalankan sembahyang, kapan waktunya dan bagaimana syarat rukunnya. Tata cara zakat, puasa haji dan lain sebagainya. Agar gugusan moral yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah itu dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari, dengan dirumuskannya etika dan sopan santun adab dan tatakrama. Dengan adanya ilmu fikih dan ushul fikih itu pemahaman agama menjadi dinamis. Sejalan dengan prinsip taghaiyirul ahkam bi taghyiril azman (hukum fikih selau berubah sejalan dengan perbahan zaman). Setiap zaman memerlukan rumusan hukum tersendiri.

Kontekstualisai ajaran Islam agar membawa berkah bagi seluruh umat, maka kalangan ulama NU terus melakukan reaktualisasi pemikiran Islam. Langkah ini ditempuh dengan kerendahan, dalam menjalankan qiyas, misalnya disebut dengan ilhaq (penyamaan) atau istiqrai (survai). Sementara untuk menghindarkan istilah ijtihad yang terlalu besar digunakan istilah ijma (yang berarti ijtihad secara kolektif). Dengan menggunakan Ilmu ushul fikih (metode pengambilan hukum) itulah Al-Quran dan Sunnah bisa dipahami. Karena itu kebenaran fikih itu bersifat relatif, berbeda dengan Al-Quran dan Sunnah kebenarannya adalah mutlak, karena itu fikih bisa dikritik dan direvisi demi kemaslahatan umat. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, prinsip fikih tersebut tidak bisa diterapkan secara eksklusif, karena itu perlu ditransformasikan menjadi etika sosial agar menjadi inklusif, menjadi kesepakatan bersama, sehingga bisa diterima oleh semua pihak.

Agar kemaslahatan umat terus terjaga maka perlu dilakukan berbagai langkah konkret, sebagai masyarakat beragama yang telah memiliki berbagai instrumen agama untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah, maka instrumen keagamaan itu yang digunakan terutama yang sudah dirumuskan dalam kaidah fiqhiyah. Berbeda dengan logika Aristotelian yang bersifat abstrak dan spekulatif, logika yang dibagun ilmu fikih dalam kaidah fiqhiyah merupakan instrumen praktis sebagai sarana penyelesaian masalah. Misalnya prinsip dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang mencari kebaikan). Ini untuk mencegah terjadinya perubahan yang asal berubah, karena tidak akan membawa maslahah. Perubahan perlu direncanakan secara rapi dan terinci serta hati-hati.

Begitu pula dalam menghadapi budaya dari luar terdapat prinsip al-muhafadzatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Mengingat tujuan pengambilan dan pengembangan budaya adalah untuk perbaikan maka pengambilan tradisi lain dibolehkan asal lebih baik, sehingga diharapkan akan menjadi modal bagi pengembangan budaya yang ada. Begitu pula dalam mencapai kemaslahatan tidak boleh dengan menggunakan kemaksiatan. Sebagaimana hukum logika, penyimpangan yang dijalankan terus menerus akan melahirkan penyimpangan dalam bentuk lain yang lebih jauh, yang tidak mungkin melahirkan kebajikan.

Dalam khidmahnya selama 90 ini NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang dipimpin oleh para ulama berusaha keras untuk mewujudkan terwujudnya masyarakat ideal. Satu dasawarsa mendatang kiprah NU telah genap 100 tahun. Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila ini menurut NU adalah bentuk ideal dari sebuah negara. Hanya saja negeri ini masih dilanda berbagai krisis, baik krisis budaya termasuk krisis moral. Prinsip akhlakul karimah dalam semua aspek kehidupan perlu ditegakkan kembali agar bentuk dan dasar negara yang ideal ini menjadi semakin ideal. Diharapkan dalam usianya yang seabad itu NU memapu mewujudkan cita-cita sosial dan cita-cita kebangsaan ini secara penuh. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi toleransi dengan sendirinya peran NU ini juga memberikan manfaat sebesar-besarnya pada semua elemen bangsa yang majemuk ini, baik majemuk dari segi agama, etnis, bahasa dan budaya.

Dalam kondisi kelangkaan kepemimpinan ideal seperti yang diprihatinkan selama ini maka  menciptakan lingkungan yang ideal menjadi sangat penting. Usaha ini  ibarat mengolah lahan agar muncul pemimpin ideal sebagaiman yang dicita-citakan. Seorang pemimpin adalah produk masyarakat dan produk zamannya. Lingkungan masyarakat yang berbudaya rendah akan melahirkan pemimpin yang berkepribadian rendah. Sebaliknya lingkungan masyarakat yang berkebudayan tinggi akan melahirkan pemimpin yang berbudaya dan berintegritas tinggi. Memang seorang pemimpin tidak jatuh dari langit, melainkan diproses ditempa di tengah masyarakat. Pemimpin yang baik akan muncul di antara sekian banyak tokoh yang paling unggul di antara tokoh yang ada. Dengan langkah seperti itulah NU berusaha mengembalikan lagi spirit pesantren dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pergaulan sosial, ekonomi serta kenegaraan.

Jakarta 16 Rajab 1434/27 Mei 2013

DR. KH Said Aqil Siroj, MA. Ketua Umum PBNU

HASAN GIPO:Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama

Tokoh yang satu ini sangat terkenal, karena dialah orang yang pertama kali medampingi Kiai Hasyim Asy’ari dalam mengurus NU. Walaupun tokoh itu terkenal, tetapi sangat sedikit diketahui, sehingga kehadirannya masih sangat misterius.

Ia lahir dari lingkungan keliuarga santri yang kaya, yang bertempat tinggal di kawasan perdagangan elite di Ngampel yang bersebelahan dengan pusat perdagangan di Pabean, sebuah pelabuhan sungai yang berada di tengah kota Surabaya yang berdempetan dengan Jembatan Merah. Dinasti Gipo ini didirikan oleh Abdul Latif Sagipoddin (Tsaqifuddin) yang disingkat dengan Gipo.

Mereka ini adalah masih santri bahkan kerabat dari Sunan Ampel, karena itu keislamannya sangat mendalam, sebagai pemuda yang hidup dikawasan bisnis yang berkembang sejak zaman Majapahit itu, Sagipoddin memiliki etos kewiraswastaan yang tinggi.

Prosesi bisnisnya ditekuni mulai dari pedagang beras eceran, dengan cara itu ia memiliki kepandaian tersendiri dalam menaksir kualitas beras. Keahliannya itu semakin hari semakin tenar, sehingga para pedagang dan terutama importir beras banyak yang menggunakan jasanya sebagai konsultan kualitas beras. Dengan profesinya itu ia mulai mendapat banyak rekanan bisnis dengan modal keahlian bukan uang.

Ketika usinya sudah menjelang dewasa, ia diambil menantu oleh seorang saudagar Cina. Engan modal besar dari mertuanya itulah ia bisa melakukan impor beras sendiri dari Siam, sehingga keuntungannya semakin besar dan semakin kaya. Perjalannya ke luar negeri semakin memperbesar rekanan bisnisnya, beberapa pengusaha dari Pakistan, Arab Persia dan India digandeng, sehingga semakin memperbesar volume ekspornya.

Selain itu juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan mengimpor tekstil dari India. Karena itu ia menjadi pengusaha besar di kawasan perdagaangan Pabean, sehingga tanah-tanah di situ dikuasai.

Tetapi ketika perkembangan bisnisnya terlalu ekspansif, maka akhirnya ia kebobolan juga, karena beras yang diimpor dari Siam itu dipalsu oleh rekanan bisnisnya dari Pakistan ditukar dengan wijen, yang waktu itu harga wijin sangat rendah dibanding harga beras. Selain itu wijen tidak dibutuhkan dlam skala besar. Dengan penipuan itu bisnisnya sempat limbung selama beberapa bulan. Modal mandek, uang tidak bisa diputar karena tertimbun menjadi wijen yang tidak laku dijual, paling laku satu dua kilo untuk penyedap makanan. Sebagai anak muda yang baru bangkit, sangat terpukul dengan penipuan itu.

Namun mertuanya yang pengusaha kawakan itu tidak menyalahkan malah menyabarkan, karena kerugian merupakan risiko setiap bisnis. Ini sebuah cobaan dari Allah yang harsu diterima. Dengan sabar, syukur dan tawakkal serta usaha keras Insyaallah suatu ketika keuntungan akan diperoleh kembali, demikian nasehatnya. Sebagai seorang santri yang taat ia hanya bisa pasrah dan berdoa serta tetap berusaha.

Di tengah kelesuan bisnisnya itu tiba-tiba pemerintah Belanda membutuhkan wijen dalam jumlah besar. Tentu saja tidak ada pengusaha yang memiliki dagangan yang aneh itu, setelah dicari kesana kemari akhirnya Belanda tahu bahwa Sagipoddin memiliki segudang wijen. Belanda sangat senang dengan ketersediaan wijen yang tak terduga itu, karena itu berani membeli dengan harga mahal.

Bak pucuk dicinta ulam tiba, maka minat Belanda itu tidak disia-siakan. Karena wijen itu dulunya dibeli seharga beras, maka Sagipoddin minta sekarang dibeli dengan seharga beras. Belanda yang lagi butuh tidak keberatan dengan harga mahal yang ditentukan itu, lalu dibelilah seluruh wijen Sagipoddin, maka keuntungan yang diperoleh berlipat ganda, sehingga perdaganannya juga semakin besar.

Keuntungan itu dipergunakan untuk mempercepat ekspansi bisnisnya, dan kawasan perdagangan yang strategis mulai dibelinya, yang kemudian dijadikan pertokoan dan pergudangan. Akhirnya ia juga bisnis persewaan toko, penginapan dan pergudangan. Sebagai seorang santri taat ia banyak pergunakan hartanya untuk sedekah membangun pesantren dan masjid.

Banyak kiai besar yang diundang kerumahnya, Sagipoddin sangat senang bila kia yang berkunjung mau menginap di rumahnya, maka pulangnya mereka diberi berbagai macam sumbangan untuk pembangunan sarana pendidikan dan ibadah, sehingga dalam waktu singkat Sagipoddin sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Walaupun ia bukan ulama tetapi karena masih keturunan ulama, maka ia sangat hormat dan mencintai ulama.

Abdul Latif Sagipuddin ini menikah dengan Tasirah mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama H. Turmudzi, yang kawin dengan Darsiyah, mempunyai anak yang bernama H. Alwi, kemudian Alwi mempunyai sepuluh orang anak yang salah satunya bernama Marzuki. Dari H Marzuki itulah kemudian lahir seorang anak yang bernama Hasan, yang lahir pada 1896 di Ampel pusat kota Surabaya yang kemudian dikenal dengan Hasan Gipo. Jadi ia merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo.

Sebagai seorang yang mampu secara ekonomi Hasan Gipo juga mendapatkan pendidikan cukup memadai selain belajar di beberapa pesantren di sekitar surabaya, juga sekolah di pendidikan umum ala Belanda. Meskipun mendapatkan pendidikan model Belanda tetapi jiwa kesantriannya masih sangat kental dan semangat kewiraswastaannya sangat tinggi, sehingga kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dipegang oleh keluarga itu, hingga masa Hasan Gipo.

Karena hampir seluruh kiai Jawa Timur merasa sebagai santri dan pengikut Sunan Ampel, maka setiap saat mereka berziarah ke makam keramat di kota Surabaya itu. Kunjungan mereka itu banyak disambut oleh keluarga Gipo di Ampel. Persahabatan Hassan Gipo dengan para ulama yang telah dirintis kakeknya terus dilanjutkan, sehingga ia sangat dikenal oleh kalangan ulama, sebagai saudagar, aktivis pergerakan �dan administratur yang cerdik. Tidak sedikit pertemuan para ulama baik untuk bahsul masail maupun untuk membahas perkembangan politik yang dibeayai dan difasilitasi oleh Hasan Gipo. Sebagai sesama penerus Sunan Ampel dan sesama sudagar membuat Hasan Gipo sering bertemu dengan KH Wahab Hasbullah dalam dunia pergerakan.

Sebagai seorang pedagang dan sekaligus aktivis pergerakan yang tinggal di kawasan elite Surabaya, hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab. Dialah yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan lain sebagainya. Di situlah Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti dan masih banyak lagi. Di situlah para aktivis pergerakan nasional baik dari kalangan nasionais dan santri bertemu merencanakan kemerdekaan Indonesia.

Cerpen : Sahabat yang terbaik

Sahabat yang terbaik.
Ketika itu malam terlalu sunyi, tidak ada satu pun bintang di langit yang terlihat di jendela kamar Ratna. Ia pun menutup jendela kamarnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dan mulai memejamkan matanya.Keesokan harinya, dipagi yang kurang cerah karena tertutup oleh awan-awan hitam yang berselubung. Dengan perasaan malas dan lesu Ratna pun menyeret langkahnya untuk pergi kesekolah yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Sesampainya di sekolah, Ratna bertemu dengan teman akrabnya yaitu Neny.
“hay Nen !!” sapa Ratna kepada Neny.
“hay juga, apa kabar kamu sekarang?”
Kabarku sehat-sehat aja kok, kamu sendiri ?” Ratna balik tanya.
“ya sehatlah kalau gak mana mungkin ku sekolah.” tambah Neny menjelaskan.
“bagus deh kalau begitu”.

Disaat mereka berdua sedang asik ngobrol tiba-tiba muncul seorang cowok yang menurut mereka lumayan ganteng. Cowok itu bernama Reno.
“hay ! !” Sapa Reno.
“hay juga’ !” jawab Ratna dan Neny secara berbarengan.
“kenapa kalian berdua masih disini?”
“Emang apa urusannya sama kamu, kok kamu yang sewot, suka-suka kita berdua dong.” ucap Neny.
“bukan gitu, tapi sekarang kan udah hampir masuk.”
“oh iya, makasih atas sarannya ya! Yuk Rat kita masuk.” Neny mengajak Ratna. Tiba-tiba . . .
“Bruuuk ! !” Tanpa sengaja mereka berdua bertabrakan dengan seorang cowok.Cowok ini sangat tampan, sehingga membuat Neny dan Ratna terbengong sejenak.
“oops, sorry. . Aku nggak sengaja. Aku buru-buru banget.”
“iya, iya ga’ak apa-apa kok.” jawab Ratna dengan terbata-bata.
“emz. . Kamu murit baru ya ?” Neny menambah
“iya aku murid baru, pindahan dari jogja”.
“oh iya, kita belum kenalan, nama aku fyan”. Cowok itu menambah ucapannya.
“aku Neny dan ini temenku namanya Ratna.” Neny menjawab Ratna hanya diam dan tersenyum.

Di saat mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang seorang guru yang mengajar dikelasnya, mereka pun bergegas meninggalkan tempat dan masuk ke kelas.

Setibanya waktu istirahat, Ratna dan Neny sengaja menghampiri Fyan.
“hay Fyan ! Ke kantin yuk”, ajak Neny
“tapi . . . .”
“aku yang traktir deh.” Neny memotong.
“bukan gitu, aku lagi banyak tugas yang harus diselesaikan, ma’af ya !”
“gak apa-apa kok, ya udah kita berdua pergi dulu ya.” pergi meninggalkan Fyan.

Neny heran dengan Ratna. Semenjak pertama bertemu dengan Fyan, Ratna jadi banyak melamun dan gak mau ngomong, jangan-jangan Ratna jatuh cinta dengan Fyan. Pikir Neny !

Ternyata apa yang dipikirkan Neny benar, Ratna jatuh cinta dengan Fyan. Setelah pulang dari sekolah, tanpa sepengetahuan Neny, Ratna mendekati Fyan.
“hy Fyan, kamu pulang sama spa ?”
“eh kamu Ratna, sendiri aja kok memang kenapa ?”
Fyan menjawab sekaligus bertanya.
“hmm . . ! Kamu mau gak anterin aku ?”
“tapi . . !”
“pliiis !!, mau ya” Ratna memotong.
“ya deh gak papa, aku mau”

Mereka pun langsung menuju keparkiran dan menunggangi Sepeda motornya.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba ratna memeluk Fyan dengan keras. Fyan pun kaget dengan apa yang telah Ratna lakukan padanya.
“Fyan, aku suka sama kamu” ucap Ratna sepontan.
Fyan tambah kaget dengan ucapan Ratna.
“emm..!! Sebenernya.. Aku juga merasakan hal yang sama”

Betapa gembiranya Ratna bisa berdua dengan Fyan apa lagi Fyan jga mencintainya.

Di malam harinya, Langit cerah di penuhi dengan bintang-bintang yang indah sama dengan perasaan Ratna pada saat ini, yang di penuhi dengan bunga.
“Fyan, ku sayang kamu”
Ratna pun mulai melelapkan matanya.

Sekian dulu ya ceritanya, kapan-kapan ku sambung ! Mohon
komentarnya ya, supaya aku bisa melengkapi kekurangannya
By : mujahidin

Puisi: Semangat Pelajar

Qiroatul Qur’an Untuk Orang Mati
Judul: Semangat Pelajar
Oleh: Mujahidin
Penulis: Mujahidin

Matahari bersinar lagi
Langit biru tersenyum lebar
Hujan tak lagi turun
Angin menghembus raga sempurna

Semua mata tertuju padanya
Yang memancarkan sinar kegembiraan
Dedaunan muda yang semangat
Senyum dan tawa bersama

Pagi hari ia pergi
Siang ia pulang
Sore dan malam hari ia istirahat

Ia adalah pelajar
Ia para penerus bangsa
Berperang melawan malas
Bersemangat untuk belajar

Terus semangat pelajar
Jangan pernah kau mengenal lelah.
Jangan pernah menyerah
Terus berjuang….

Humor: Pagi yang Cerah

Gus Dur bercerita tentang seorang bupati yang menghadiri acara peresmian lumbung padi. Pak Bupati mendapatkan kesempatan untuk berpidato. Ia membaca teks yang sudah disiapkan oleh para staf ahlinya.

Pagi itu mendung cukup gelap, dan bahkan saat Bupati berpidato, hujan mulai mengguyur.

Pak Bupati mulai berpidato, dan seperti biasa, dengan tetap membaca teks: “Pada pagi yang cerah ini, marilah kita mengucapkan syukur……..” (Anam)

 

***

Saat menjabat presiden, Gus Dur dikritik karena pidatonya sering ceplas-ceplos, tidak memakai teks standar. Setelah tak lagi menjabat presiden, sebaliknya penggantinya selalu berpidato dengan teks. (red)

Pelajar Indonesia kembali Ukir Prestasi Internasional

Jakarta: Pelajar Indonesia kembali mengukir prestasi di ajang internasional dengan meraih satu medali emas dan tiga medali perak pada Olimpiade Biologi Internasional atau International Biology Olympiad (IBO) ke 24 tahun 2013 di Bern, Switzerland.

Mereka yang meraih medali terdiri empat pelajar yang tergabung dalam Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) yakni Rhogerry Deshycka siswa SMA Pribadi Bandung, berhasil meraih medali Emas.dan tiga pelajar meraih perak masing-masing Muhammad Farhan Maruli dari SMAN 78 akarta, Kezia Stevanie Tanfriana dari SMAK BPK Penabur Gading Serpong, dan Titis Setiyobudi dari SMAGBBS Gemolong, Sragen,Jawa Tengah.

“Alhamdulillah,setelah melewati rangkaian tes praktikum dan tes teori, akhirnya jerih payah dan kerja keras dari semua pihak yang mendukung Tim Olimpiade Biologi Indonesia terbayar indah,”kata Direktur Pembinaan SMA Ditjen Pendidikan Menengah Kemendikbud,Haris Iskandar kepada Media Indonesia ,Minggu sore (21/7),melalui surat elektroniknya dari Swiss.

Menurut Haris,medali emas dan tiga medali perak sebagai pencapaian ter baik di tahun ini. Secara umum, Indonesia menduduki peringkat peringkat enam bersama dengan China, Jepang, dan Taiwan dari total 64 negara peserta IBO 2013.

Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik,Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud,Suharlan yang juga tim kordinator olimpiade internasional senada ,” Ya kita bahagia tim Biologi raih medali emas tingkat dunia ,ini prestasi membanggakan bangsa Indonesia di forum internasional, dan kebanggaan sekolah dan pemerintah Provinsi. Seleksi berjenjang yang kita lakukan berjalan baik selama ini,”tegasnya.

Ketua Tim TOBI 2013 Agus Dana menjelaskan para siswa Indonesiaberhasil mengerjakan empat topik praktikum dengan baik diantaranya, Biologi sel dan molekuler dari Trypanosoma brucei, topik Ekofisiologi Tumbuhantentang penentuan kandungan glukosa dari Arabidopsis serta menentukan hubungan antarakarakteristik bunga dan jenis polinatornya, topik Etologi Evolusioner berupa perilaku agresif dari ikan cupang Afrika, dan topik Biosistematik untuk menentukan tujuh spesies Mamalia kecil berdasarkan identifikasi tengkorak.

Para juri pendamping umumnya berasal dari universitas–?universitas terkemuka di beberapa negara maju seperti University of Dresden (Jerman), Wagenigen University (Belanda), University of Aarhuis (Denmark), NTU dan NUS (Singapora), University of Tsukuba (Jepang), dan University of Purdue (USA).

Juri dari berbagai negara bekerja sama dalam mereview soal–?soal tes(praktikum dan teori) sehingga meningkatkan kualitas soal sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi modern. Seperti halnya negara peserta IBO yang lain, Tim Olimpiade Biologi Indonesia didukung sepenuhnya oleh Kemendikbud. Dijelaskan peraih medali Emas dari Indonesia Rhogerry Deshycka. telah diterima
di Departemen Biologi, Massachusetts Institute of Technology (MIT)Amerika Serikat, dan Kezia Stefania (peraih medali Perak) akan melanjutkan studi di bidang Life Sciences-di ?NUS, Singapura.(Syarief Oebaidillah)

Mbah Wahab, NU, dan Khilafah: Sebuah Koreksi

Ide tentang penegakan kembali khilafah, sebagaimana saya jelaskan dalam disertasi, disuarakan dengan sangat lantang dan nyaring oleh kelompok Islam kanan, utamanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Secara berulang-ulang kelompok ini, lewat tulisan, orasi, dan lainnya, menyuarakan pentingnya menegakkan khilafah. Khilafah menjadi mainstream perjuangan, bahkan ideologi politiknya, dengan klaim sebagai solusi atas seluruh problem manusia di dunia ini.

Kelompok ini dengan semangat militan berupaya merekrut kader sebanyak-banyaknya, tak terkecuali kader dari ormas-ormas keagamaan baik NU maupun Muhammadiyah. Dalam upaya merekrut kader dari kalangan NU, mereka menggunakan berbagai argumen yang diharapkan agar kader-kader NU yang tulus dan lugu ini tertarik menjadi pengikutnya. Nampaknya, argumen-argumen yang dikemukakan oleh aktivis HTI juga dapat memikat kader NU, terbukti beberapa kader NU menjadi anggota Hizbut Tahrir (termasuk penulis yang dulu juga pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir).

Argumen yang dijadikan pijakan oleh aktivis HTI untuk menundukkan kader dan warga NU paling tidak ada dua: pertama; argumen historis kelahiran NU. Salah seorang aktivis HTI, Irkham Fahmi dalam tulisannya, “Membongkar Proyek Demokrasi ala PBNU abad 21” menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama adalah cita-cita agung para ulama nusantara yang tertuang dalam komite khilafah Indonesia.

Selanjutnya Irkham Fahmi menegaskan bahwa KH. Sholahuddin Wahid mengakui keabsahan sejarah ini, sekalipun Gus Sholah menolak relevansi khilafah dengan Indonesia. Masih banyak lagi tulisan-tulisan sejenis apabila kita berselancar di internet seperti judul, “KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tokoh NU & Inisiator Konferensi Khilafah 1926,” atau judul, “NU, NKRI dan Khilafah,” demikian pula judul, “Warga NU Rindu Syariah dan Khilafah,” judul lain, “Respon NU atas Runtuhnya Khilafah,” bahkan tidak hanya mencatut NU, tapi juga ormas Islam lain seperti judul, “Generasi Awal Muhammadiyah & NU Ternyata Pendukung Khilafah.” Basis argumen dari semua judul di atas adalah masalah komite khilafah.

Untuk menjawab argumen di atas, secara historis memang pernah terbentuk apa yang disebut komite khilafah atau CCC (Central Comite Chilafah). Namun yang perlu diklarifikasi adalah, komite ini bukan dibentuk Mbah Wahab, tapi bentukan berbagai kelompok Islam (SI, Muhammadiyah, al-Irsyad, PUI, dll) yang pada waktu itu mempunyai suara mayoritas. Sekalipun bisa jadi Mbah Wahab dan ulama lain dari kalangan pesantren pernah diajak untuk masuk komite ini. Bukti bahwa komite khilafah bukan bentukan Mbah Wahab dan para ulama pesantren adalah pada kongres-kongres selanjutnya para ulama ini tidak mengikutinya.

Justru yang perlu ditegaskan, selain ada komite khilafah, terdapat komite Hijaz yang memang genuine atau asli bentukan para ulama pesantren yang nantinya bergabung dengan NU. Komite Hijaz ini lahir, selain tidak sepahamnya Mbah Wahab dengan misi komite khilafah, juga karena kurang aspiratifnya komite ini, juga semangat memperjuangkan tradisi ala ulama seperti ziarah kubur, merayakan maulid Nabi, berislam dengan cara bermazhab agar tidak diberangus oleh kelompok al-Saud atau Wahhabi yang saat itu sampai sekarang berkuasa di Hijaz dan sekitarnya.

Komite Hijaz inilah salah satu cikal bakal kelahiran NU. Akhirnya menjadi tidak benar kalau cikal bakal kelahiran NU adalah dari komite khilafah yang berusaha melakukan pertemuan internasional untuk membahas runtuhnya Turki Utsmani.

Argumen kedua diambilkan dari teks-teks khilafah dalam kitab kuning. Para aktivis HTI memahami bahwa ulama dan kader NU sangat mencintai kitab kuning yang ini dibuktikan dengan diajarkannya kitab-kitab tersebut di pesantren-pesantren NU, sekaligus kitab-kitab ini menjadi rujukan dalam bahtsul masail NU ketika menghadapi suatu masalah baru dalam keagamaan. Salah seorang penulis dan aktivis HTI, Musthafa A. Murtadlo menulis sebuah buku saku untuk memperkuat argumentasi khilafah dengan mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama salaf tentang hal tersebut. Inti dari buku saku tersebut adalah semua ulama salaf dalam kitab kuning yang menjadi rujukan NU mendukung ide khilafah. Lihat Musthafa A. Murtadlo, Aqwal Para Ulama’ Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah).

Argumen kedua ini kalau tidak dicermati secara jeli, maka para kader NU yang tulus dan bergelut dengan kitab kuning akan sangat mempercayainya kemudian mengapresiasi atau bahkan ikut HTI. Namun yang perlu diketahui bahwa konsep atau pemikiran tentang kepemimpinan umat Islam dari para ulama salaf tersebut tidak sama persis dengan yang ditelorkan oleh Hizbut Tahrir.

Selain itu, dalam kitab-kitab klasik tersebut hampir semua tema besarnya menyebut kata al-imamah atau al-imam al-a’zhom. Penyebutan khilafah lebih jarang, hal ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang lebih sering menyebut khilafah sebagai jargón perjuangannya. Bisa diambil contoh dalam kitab-kitab klasik mazhab al-Syafi’i seperti kitab al-Umm juz 1/188 karya al-Syafi’i, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hal. 5 karya al-Mawardi, Rawdhat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Muttaqin juz 10/42 karya al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin juz 1/292 karya al-Nawawi, Asna al-Mathalib juz 19/352 karya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab juz 2/187 karya Zakariya al-Anshari, Minhaj al-Thullab juz 1/157 karya Zakariya al-Anshari, Tuhfat al-Muhtaj juz 9/74 karya Ibn Hajar a-Haytami, Mughni al-Muhtaj juz 5/409 karya Ahmad al-Khathib al-Syarbini, Nihayat al-Muhtaj juz 7/409 karya al-Ramli.

Terakhir dan yang terpenting, untuk menjawab argumen yang kedua sekaligus memperkuat bantahan untuk argumen yang pertama. Kalau para kader NU yang hidup sekarang ini ketika memahami teks-teks kitab kuning tentang imamah atau imam a’zhom tidak melewati model pemahaman sekaligus “bertawassul” lewat Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah), maka akan mudah tertarik untuk ikut memperjuangkan khilafah ala HTI.

Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah” mengatakan,

“Saudara2, dalam hukum Islam jang pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom di seluruh dunia Islam itu hanja satu. Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari semendjak 700 tahun sampai sekarang…. Kemudian dalam keterangan dalam bab jang kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah Walijjul Amri.”

Pidato Mbah Wahab di atas setidaknya dapat ditarik tiga pemahaman: pertama, bahwa mengangkat kepemimpinan tunggal dalam dunia Islam baik yang disebut dengan imamah maupun khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak menurut Mbah Wahab sudah tidak ada lagi semenjak 700 tahun sampai sekarang. Kedua, dari pidato tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa presiden Indonesia berikut NKRI adalah sah secara hukum Islam. Ketiga, pidato ini sekaligus menafikan pendapat bahwa Mbah Wahab bercita-cita menegakkan kembali khilafah dengan membentuk komite khilafah, karena terbukti Mbah Wahab menjelaskan bahwa sudah 700 tahun tidak ada orang yang setingkat mujtahid untuk menduduki kursi sebagai Imam atau khalifah.

Lantas, apa ratio legis Mbah Wahab dengan mengajukan argumen bahwa khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi sejak 700 tahun. Kalau kita membuka lembaran kitab kuning semisal al-Ahkam al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi, di situ dijelaskan bahwa ahlul imamah (orang yang berkualifikasi menjadi imam) harus memenuhi syarat adil, berilmu yang mampu untuk berijtihad, selamatnya pancaindera dan fisik dari kekurangan, wawasan kepemimpinan yang luas, keberanian dan nasab Quraisy. Poin tentang berilmu yang mampu untuk berijtihad inilah nampaknya yang dijadikan pijakan Mbah Wahab.

Menarikanya lagi, dalam pidato tersebut, Mbah Wahab menjelaskan lebih lanjut bahwa karena syarat menjadi imam a’dhom (seperti dalam al-Mawardi) sudah tidak terpenuhi, maka Soekarno absah menjadi pemimpin RI dengan gelar waliyyul amri ad-daruri bissyaukah. Artinya syarat pemimpin yang ideal diturunkan menjadi syarat minimal realistis. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa Gus Dur yang mempunyai kekurangan fisik juga absah menjadi presiden, karena memang presiden tidak sama dengan imam a’dhom sehingga syarat ideal seperti dalam al-Mawardi tidak diperlukan.

Dari uraian singkat di atas, warga dan kader NU sudah tidak perlu lagi terlibat dengan ikut memperjuangkan ide khilafah. Justru yang penting adalah mengisi NKRI supaya bersih dari korupsi dan menjadi negara yang adil dan sejahtera.  Di luar itu, soal kepemimpinan akhir zaman yang mengglobal, kita serahkan saja kepada a waited savior yang dipercaya oleh semua agama dengan berbagai sebutannya: al-Mahdi (Islam), Christos/Christ (Kristen), Ha-Mashiah (Yahudi), Buddha Maytreya (Budha), Kalki Avatar (Hindu), atau Shousyant (Majusi/Zoroaster). Terlebih hadis yang menjelaskan tentang Imam Mahdi ini mutawatir tidak seperti hadis tentang khilafah (Lihat kitab Nazhmul Mutanatsir minal Haditsil Mutawatir karya Syekh Muhammad bin Ja’far Al- Kattani, dan Asy-Syaukani yang berjudul At-Taudhih Fi Tawaturi Maa Ja-a Fil Mahdil Muntazhor wad-Dajjal wal-Masih). Dengan cara demikian, rakyat Indonesia tidak akan terpecah pikiran dan energinya untuk membongkar NKRI, tapi justru membangunnya demi keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian untuk semua warga bangsa. Wallahu a’lam.

 

 

*Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya; pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur; penulis buku Membongkar Proyek Khilafah ala HTI di Indonesia.

Komisariat IAIN Sunan Ampel Perkuat Ideologi Mahasiswa

Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) IAIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan kajian intelektualitas yang bertempat di Serambi Masjid kampus setempat, Selasa (17/9/13). Continue reading “Komisariat IAIN Sunan Ampel Perkuat Ideologi Mahasiswa”

KH WAHID HASYIM – Dari Pesantren untuk Bangsa

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.
t;
Kesepuluh putra KH. Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, A. Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah dan Ya’kub.

Mondok Hanya Beberapa Hari
Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi ia di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Abdul Wahid hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Menerapkan Sistem Madrasah ke Dalam Sistem Pesantren
Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Berangkat ke Mekkah
Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirim ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.

Menikah
Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar (dokter lulusan UI), Khadijah dan Hasyim.

Empat Tahun Sebelum Masuk Organisasi
Jangan ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritisnya. Pada umumnya orang yang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikuti jejak kakek, ayah, atau keluarga lain, karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang masuk NU karena keturunan; ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Abdul Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulang dari Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Abdul Wahid Hasyim aktif dihimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tidak satupun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Abdul Wahid Hasyim, sehingga ia tidak kenal secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam satu perkumpulan itu? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Abdul Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Abdul Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Abdul Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

”di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Abdul Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang bergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslim Indonesia.

Setelah beberapa lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya menjatuhkan pilihannya ke NU. Meskipun belum sesuai dengan keinginannya, tapi dianggap NU memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selama ini organisasi-organisasi dalam waktu yang pendek tidak mampu untuk menyebar keseluruh daerah. Berbeda dengan NU dalam waktu yang cukup singkat sudah menyebar hingga 60% di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang dianggap oleh Wahid Hasyim kelebihan yang dimiliki oleh NU.

Pokok Pemikirannya
Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

* Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
* Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
* Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya.

Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum.

Dalam metode pengajaran, sekembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi. Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.

Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.

Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan Kenegaraan
Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca.

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemmudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini karirnya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Pada tanggal 20 Desember 1949 KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam kabinet Hatta. Sebelumnya, yaitu sebelum penyerahan kedaulatan, ia menjadi Menteri Negara. Pada periode kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, KH. A Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: [1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; [2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; [3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan [4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah KH. A Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Sebagai Ketua Umum PBNU
Ketika Muktamar ke 19 di Palembang mencalonkannya sebagai Ketua Umum, ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan KH. A Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. A Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam. Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, puteranya.

Tokoh Muda BPUPKI
Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.

Sebagai anggota BPKI yang berpengaruh, ia terpilih sebagai seorang dari sembilan anggota sub-komite BPKI yang bertugas merumuskan rancangan preambule UUD negara Republik Indonesia yang akan segera diproklamasikan.

Musibah di Cimindi
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahhid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, dengan ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Ditetapkan Sebagai Pahlawan
Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.

Qiroatul Qur’an Untuk Orang Mati

 Dalam membahas masalah ini, memang ada perselisihan dalam madzhab Syafi’i yang mana ada dua qaul (pendapat) yang seolah-olah bertentangan, namun kalau dirincikan maka akan nampak tidak ada bedanya. Sedangkan Imam Tiga (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal) [1] berpendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada orang mati. Apa yang telah dituturkan oleh para Imam syafi’iyah yakni berupa petunjuk-petunjuk atau aturan dalam permasalahan ini telah benar-benar diamalkan dengan baik dalam kegiatan tahlilan.

Perlu diketahui, bahwa seandainya pun ada perselisihan dikalangan syafi’iyah dalam masalah seperti ini, maka itu hanyalah hal biasa yang sering terjadi ketika mengistinbath sebuah hukum diantara para mujtahid dan bukanlah sarana untuk berpecah belah sesama kaum Muslimin, dan tidak pula pengikut syafi’iyah berpecah belah hanya karena hal itu, tidak ada kamus yang demikian sekalipun ‘ulama berbeda pendapat, semua harus disikapi dengan bijak. Akan tetapi, sebagian pengingkar tahlilan selalu menggembar-gemborkan adanya perselisihan ini (masalah furu’), mereka mempermasalahkan yang tidak terlalu dipermasalahkan oleh syafi’iyah dan mereka mencoba memecah belah persatuan umat Islam terutama Syafi’iyah, dan ini tindakan yang terlarang (haram) dalam syariat Islam. Mereka juga telah menebar permusuhan dan melemparkan banyak tuduhan-tuduhan bathil terhadap sesama muslim, seolah-olah itu telah menjadi “amal dan dzikir” mereka sehari-hari, tiada hari tanpa menyakiti umat Islam. Na’udzubillah min dzalik. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sangat benci terhadap mereka yang suka menyakiti sesama muslimin. Berikut diantara qaul-qaul didalam madzhab Syafi’iyah yang sering dipermasalahkan : Imam an-Nawawi menyebut didalam al-Minhaj syarah Shahih Muslim :

والمشهور في مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله ثوابها ، وقال جماعة من أصحابنا : يصله ثوابها ، وبه قال أحمد بن حنبل

“Dan yang masyhur didalam madzhab kami (syafi’iyah) bahwa bacaan al-Qur’an pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan jama’ah dari ulama kami (Syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai, dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat”. [2]

Dihalaman lainnya beliau juga menyebutkan :

وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفى صحيح البخارى فى باب من مات وعليه نذر أن بن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلى عنها وحكى صاحب الحاوى عن عطاء بن أبى رباح واسحاق بن راهويه أنهما قالا بجواز الصلاة عن الميت وقال الشيخ أبو سعد عبد الله بن محمد بن هبة الله بن أبى عصرون من أصحابنا المتأخرين فى كتابه الانتصار إلى اختيار هذا، وقال الامام أبو محمد البغوى من أصحابنا فى كتابه التهذيب لا يبعد أن يطعم عن كل صلاة مد من طعام طعام وكل هذه إذنه كمال ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل بالاجماع

“Adapun pembacaan al-Qur’an, yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian ashabusy syafi’i (‘ulama syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai kepada mayyit, dan pendapat kelompok-kelompok ulama juga mengatakan sampainya pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, pembacaan al-Qur’an dan selain yang demikian, didalam kitab Shahih al-Bukhari pada bab orang yang meninggal yang memiliki tanggungan nadzar, sesungguhnya Ibnu ‘Umar memerintahkan kepada seseorang yang ibunya wafat sedangkan masih memiliki tanggungan shalat supaya melakukan shalat atas ibunya, dan diceritakan oleh pengarang kitab al-Hawi dari ‘Atha’ bin Abu Ribah dan Ishaq bin Ruwaihah bahwa keduanya mengatakan kebolehan shalat dari mayyit (pahalanya untuk mayyit). Asy-Syaikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad Hibbatullah bin Abu ‘Ishrun dari kalangan syafi’iyyah mutaakhhirin (pada masa Imam an-Nawawi) didalam kitabnya al-Intishar ilaa ikhtiyar adalah seperti pembahasan ini. Imam al-Mufassir Muhammad al-Baghawiy dari anshabus syafi’i didalam kitab at-Tahdzib berkata ;  tidak jauh (tidaklah melenceng) agar memberikan makanan dari setiap shalat sebanyak satu mud, dan setiap hal ini izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah qiyas atas do’a, shadaqah dan haji, sesungguhnya itu sampai berdasarkan ijma’.” [3]

Juga dalam al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab :

واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يصل. وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل، والمختار أن يقول بعد القراءة: اللهم أوصل ثواب ما قرأته، والله أعلم اه

“’Ulama’ berikhtilaf (berselisih pendapat) terkait sampainya pahala bacaan al-Qur’an, maka yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i dan sekelompok ulama syafi’i berpendapat tidak sampai, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal, sekelompok ‘ulama serta sebagian sahabat sy-Syafi’i berpendapat sampai. Dan yang dipilih agar berdo’a setelah pembacaan al-Qur’an : “ya Allah sampaikan (kepada Fulan) pahala apa yang telah aku baca”, wallahu a’lam”.[4]

Imam Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini didalam Mughni :

تنبيه: كلام المصنف قد يفهم أنه لا ينفعه ثواب غير ذلك كالصلاة عنه قضاء أو غيرها، وقراءة القرآن، وها هو المشهور عندنا، ونقله المصنف في شرح مسلم والفتاوى عن الشافعي – رضي الله عنه – والأكثرين، واستثنى صاحب التلخيص من الصلاة ركعتي الطواف

“Tahbihun : perkataan mushannif sungguh telah dipahami bahwa tidak bermanfaat pahala selain itu (shadaqah) seperti shalat yang di qadha’ untuknya atau yang lainnya, pembacaan al-Qur’an, dan yang demikian itu adalah qaul masyhur disisi kami (syafi’iyah), mushannif telah menuqilnya didalam Syarhu Muslim dan al-Fatawa dari Imam asy-Syafi’i –radliyallahu ‘anh- dan kebanyak ulama, pengecualian shahiu Talkhis seperti shalat ketika thawaf ”.[5]

Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafi’i didalam penjelasan tafsir QS. An-Najm ayat 39 juga menyebutkan pendapat Imam asy-Syafi’i :

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛

“Dan dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah beristinbath (melakukan penggalian hukum), demikian juga orang yang mengikutinya bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai menghadiahkan pahalanya kepada mayyit”. [6]

Dari beberapa kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam Madzhab Syafi’i ada dua pendapat yang seolah-olah berseberangan, yakni ;

Pendapat yang menyatakan pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai, ini pendapat Imam asy-Syafi’i, sebagian pengikutnya ; kemudian ini di istilahkan oleh Imam an-Nawawi (dan ‘ulama lainnya) sebagai pendapat masyhur (qaul masyhur).

Pendapat yang menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an, ini pendapat ba’dlu ashhabis Syafi’i (sebagian ‘ulama Syafi’iyah) ; kemudian ini di istilahkan oleh Imam an-Nawawi (dan ulama lainnya) sebagai pendapat/qaul mukhtar (pendapat yang dipilih/ dipegang sebagai fatwa Madzhab dan lebih kuat), pendapat ini juga dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan imam-imam lainnya.

Kang Said: Miss World Lebih Besar Mudharatnya

Jakarta,
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menilai pelaksanaan Miss Word di Bali hanyalah bentuk hura-hura, foya-foya dan menghamburkan uang. Ajang internasional ini tidak banyak mendatangkan manfaat untuk Indonesia.

“Kalaupun ada manfaat itu kecil sekali. Kalau Miss World ini bisa menurunkan harga kedelai dan daging sapi, atau bisa mempekuat negara atau bisa mencicil utang Indonesia, kami akan dukung. Kami menilai Miss World ini lebih besar mudharatnya,” kata Kang Said di kantor PBNU Jakarta, Rabu (4/8).

Kang Said menyampaikan pernyataan sikap yang dikeluargan oleh NU bersama 10 ormas Islam lainnya yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Umat Islam (LPUI). LPUI telah menggelar rapat pada 29 Agustus 2013 lalu terkait rencana digelarnya event Miss World ini.

LPUI terdiri dari 11 ormas Islam yakni NU, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Islamiyah, Mathla’ul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tioghoa Indonesia (PITI), Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Azzikr, Syarekat Islam Indonesia, Al-Washliyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Menurut Kang Said yang juga Ketua LPUI, 11 ormas Islam menyatakan menolak pelaksanaan Miss World di Indonesia. LPUI menilai, setiap event internasional harus dilihat sisin manfaat dan mudharatnya. Sementara Miss World dinilai lebih besar musharatnya dibanding manfaatnya.

Selain itu, LPUI menolak event ini karena tidak sesuai dengan adat ketimuran. “LPUI menolak adanya Miss World dengan alasan tidak sesuai dengan moral dan budaya bangsa serta bertentangan dengan Pancasila,” demikian dalam pernyataan LPUI.

Dalam surat pernyataan itu juga ditegaskan, LPUI menolak pelaksanaan Miss World namun tetap menentang segala bentuk kekerasan terkait penolakan tersebut. LPUI tidak akan melakukan aksi pengerahan massa atau tindakan apapun terkait penolakan ini.

“Kami hanya menyampaikan suara umat Islam. Minimal warga kita tahu sikap kita,” kata Kang Said didampingi para pimpinan ormas Islam yang tergabung dalam LPUI. (A. Khoirul Anam)

Revitalisasi Peran Pelajar dalam Membangun Indonesia

Berbagai kemajuan zaman tentu menuntut suatu perlakuan baru atas cara dan langkah yang akan ditempuh dalam menjalani kehidupan di masa sekarang. Seperti halnya pelajar masa kini yang tentu memiliki karakter dan tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Misalkan saja di era sekarang yang serba mengalami digitalisasi, merupakan sebuah dunia yang mempersempit jarak dan waktu. Generasi muda dalam hal ini pelajar terhanyut dalam lautan dunia maya. Sudah menjadi pemandangan biasa, bahwa anak muda sekarang lebih suka menggunakan sosial media seperti facebook, twitter, wechat, dan lainnya dibanding dengan berkumpul langsung untuk melakukan suatu proses sosial secara nyata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa era sekarang adalah seperti itu, tak mungkin dibendung, tapi lebih dalam taraf bagaimana mengelola potensi tersebut.

Peran sebuah organisasi yang riil secara sosial memang dalam keadaan menurun. Media digital telah menjadi salah satu kekuatan besar dalam membangun gerakan maupun mempengaruhi publik terhadap suatu gagasan. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang berawal dari ide melalui internet seperti Kasus Koin Prita, #SaveKPK dan lain-lain lebih menggunakan media sosial online, sebagai suatu cara untuk menggerakkan banyak orang.

Di sinilah awal dari bagaimana potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka me-revitalisasi-kan kembali peranan generasi muda khususnya pelajar NU. Dalam kerangka memberikan kesadaran tentang bagaimana untuk merencanakan masa depan dirinya sekaligus mengembangkan pemikiran dan idenya dalam proses peranannya sebagai elemen masyarakat.

Revitalisasi Peran Kader IPNU-IPPNU

Salah satu organisasi yang berada di ranah pemberdayaan generasi muda ini yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Organisasi yang fokus dalam upaya untuk membina pelajar, santri dan mahasiswa yang notebene adalah generasi muda NU.

Generasi muda yang memiliki kapasitas intelektualitas yang dari proses mengenyam pendidikan tentu bermuara pada suatu upaya taktis untuk menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan.

IPNU-IPPNU yang merupakan organisasi yang bersifat “mengurus” pelajar, aspek pengkaderan sesuai dengan khittah (visi dan misi) dan kultur keaswajaan yang meliputi bagaimana kader-kader yang dihasilkan memiliki paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah yang mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak.

Tuntutan dari perubahan yang cepat selalu menimbulkan suatu paradigma yang berbeda di kalangan kaum muda NU. Sikap moderat yang menjadi patokan menjadi tumbuan dalam menghadapi perubahan dunyawiyah.

Estafet organisasi sebagai salah satu tumpuan melakukan proses pendewasaan baik secara mental maupun sosial melalui peranan generasi muda di IPNU-IPPNU.

Peranan generasi muda yang kini mulai dilirik menjadi sinyal positif atas berlakunya suatu hukum organisasi sebagai suatu pemegang peranan penting. Hal yang penting ketika melihat peranan kader-kader IPNU-IPPNU di kancah nasional. Melalui berbagai bidang yang menjadi bakat dan minatnya menjadikan pemberdayaan secara menyeluruh menjadi tumpuan bagi peranan organisasi dalam melihat peluang ini.

Bidang olahraga, ketrampilan, jurnalistik, kewirausahaan maupun yang berhubungan dengan teknologi menjadi bidang-bidang yang perlu dikembangkan agar nantinya penyaluran kader secara maksimal sesuai dengan minatnya dapat dicapai.

Rencana strategis dalam mencapai suatu tujuan awal harus diarahkan dengan jelas. Dan nantinya gerakan pengkaderan dan pemberdayaan generasi muda IPNU-IPPNU dapat terwujud. Akar dari permasalahan yang muncul memang membutuhkan suatu pola analisis secara komprehensif. Penggunaan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) adalah suatu pola analisis yang cukup memadai dan efektif untuk meneliti suatu permasalahan dan mengambil langkah terbaik dalam perencanaan selanjutnya.

Dengan melihat indeks persebaran penduduk dalam kerangka umur, menunjukkan negara ini mendapatkan suatu bonus demografi yang berhubungan dengan jumlah generasi muda. Hal ini menjadi titik tolak dari kebangkitan peran generasi muda.

Dan tentunya organisasi IPNU-IPPNU dapat berperan dalam melakukan hal ini. Peluang yang sangat banyak dalam menggairahkan kembali semangat identitas ke-IPNU-IPPNU-an. Walaupun memang secara aspek sosial pasti terdapat suatu kendala-kendala yang perlu penanganan khusus.

Garis haluan IPNU-IPPNU yang menjadi “anak” dari Nahdlatul Ulama merupakan faktor yang harus mulai dikembalikan lagi. Di samping tetap memperluas cakupan pengkaderan.

Tindak lanjutnya dapat diberikan dalam melihat peluang akan peranan intelektual muda dalam membangun bangsa melalui pengembangan soft skills dan juga penggemblengan secara organisasi. Daya tarik IPNU-IPPNU yang unik dan khas harus tetap dimunculkan seperti kultur keagamaan ala NU. Para pelajar yang terus mengalami proses belajar baik secara akademik maupun organisatoris yang akan mampu membangun suatu mental sosial secara memadai. Perjuangan segera dimulai. Bergandengan tangan untuk menunjukkan kualitas dari kader muda NU. Hingga akhirnya dapat menjadikan IPNU-IPPNU menjadi organisasi kepelajaran yang dapat menunjukkan kiprah riilnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kiai Wahab Hasbullah, Pahlawan Tanpa Gelar

KIAI HAJI WAHAB HASBULLAH adalah seorang tokoh pergerakan dari pesantren. Ia dilahirkan di Tambakberas-Jombang, tahun 1888. Sebagai seorang santri yang berjiwa aktivis, ia tidak bisa berhenti beraktivitas, apalagi melihat rakyat Indonesia yang terjajah, hidup dalam kesengsaraan, lahir dan batin.

Sepulang dari Mekkah 1914, Wahab, tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Ia tidak tega melihat kondisi bangsanya yang mengalami kemerosotan hidup yang mendalam, kurang memperoleh pendidikan, mengalami kemiskinan serta keterbelakanagan yang diakibatkan oleh penindasan dan pengisapan penjajah.

Melihat kondisi itu, pada tahun 1916 ia mendirikan organisasi pergerakan yang dinamai Nahdlatul Wathon (kebangkita negeri), tujuannya untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia.

Untuk memperkuat gerakannya itu, tahun 1918 Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Kiai Hasyim Asy’ari memimpin organisiasi ini. Sementara Kiai Wahab menjadi Sekretaris dan bendaharanya. Salah seorang anggotanya adalah Kiai Bisri Syansuri.

Mencermati perkembangan dunia yang semakin kompleks, maka pada tahun 1919, Kiai Wahab mendirikan Taswirul Afkar. Di tengah gencarnya usaha melawan penjajahan itu muncul persoalan baru di dunia Islam, yaitu terjadinya ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, Arab Pedalaman yang menguasai Hijaz tempat suci Mekah dikuasai tahun 1924 dan menaklukkan Madinah 1925.

Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di tanah Suci. Anehnya, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi.

Lantas, Kiai Wahab membuat kepanitiaan beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hejaz. Komite ini bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz.

Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisai yanag diberinama Nahdlatul Ulama, 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad dan situs-itus sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.

KIAI WAHAB HASBULLAH dengan segala aktivitasnya adalah untuk menegakkan ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah dirintis oleh walisongo dan para ulama sesudahnya.

Ia tidak hanya penerus, tetapi memiliki pertalian darah dengan para penyebar Islam di Tanah Jawa itu. Bahkan Kiai Wahab juga mengidentifikasi diri sebagai penerus perjuangan pangeran diponegoro. Karena itu ia selalu memakai sorban yang ia sebut sendiri sebagai sorban Diponegoro.

Dengan sorban itu, ia makin percaya diri. Dalam upacara keagamaan sampai dengan acara kenegaraan, Kiai Wahab selalu melingkarkan sorban tersebut, hingga pundaknya tertutup. Demikian juga dengan sarung, tidak pernah diganti dengan pantolan.

Ia telah melampaui segala protokoler kenegaraan yang ada, karena telah memiliki disiplin dan karakter keulamaan sendiri. Selain itu, ia memang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi sehingga tidak takut menghadapi musuh sesakti apapun.

Kemenonjolan peran Wahab Hasbullah ini berkat kematangannya dalam menempa dirinya sebagai seorang ulama pergerakan. Sifat keulamaannya digembleng di pesaanatren Langitan  Tuban, Pesantren Tawangsari Surabaya.

Kemudian ia melanjutkan lagi ke Pesantren Bangkalan Madura. Di pesantren asuhan Syaikh Kholil inilah, ia bertemua dengan Kiai Bisri Syansuri, ulama dari Pati yang kelak menjadi sahabat seperjuangannya, juga iparnya. Pertemanannya Kiai Wahab dengan Kiai Bisri ini memiliki pengaruh terhadap perkembangan NU. Selanjutnya, Kiai Wahab ke Pesantren  Mojosari Nganjuk dan menyempatkan diri nyantri di Tebuireng Jombang.

Setelah merasa cukup bekal dari para ulama di Jawa dan Madura, ia belajar ke Mekkah untuk belajar pada ulama terkemuka dari dunia Islam, termasuk para ulama Jawa yang ada di sana seperti Syekh Machfudz Termas dan Syekh Ahmad Khotib dari tanah Minang. Selain, belajar agama saat di Mekkah itu, ia juga mempelajari perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis dari seluruh dunia.

Selama masa pembentukan NU, Kiai Wahab selalu tampil di depan. Di manapun muktamar NU diselenggarakan sejak yang pertama kalinya yaitu di Surabaya, kemudian hingga ke Bandung, Menes Banten, Banjarmasin, kemudian Palembang hingga Medan, ia selalu hadir dan memimpin. Sehingga pengalamannya tentang organiasi ini cukup mendalam. Karena itu, Kiai Wahab selalu cermat dan tegas dalam mengambil keputusan.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam hubungannya dengan pemerintah kolonial, ia selalu mampu mengatasinya. Misalanya, ia harus berhadap dengan para residen gubernur atau menteri urusan pribumi. Kemampuan lobi dan diplomasi membuat semua urusan bisa lancar, sehingga NU mampu mengatasi berbagai macam jebakan dan hambatan kolonial.

Dan, Kiai Wahab juga memiliki keistimewaan, yang tidak banyak ada pada orang lain, yakni kemampuan melempar humor, khususnya jenis plesetan, sebagai alat diplomasi.

Suatu hari, ketika Nusantara masih dalam cengkraman Belanda, Kiai Wahab berpidato di hadapan kiai-kiai dan ratusan santri.

“Wahai Saudara-saudaraku kaum pesantren, baik yang sudah sepuh, yang disebut Kiai, ataupun yang masih muda-muda, yang dikenal dengan sebutan Santri. Jangan sekali-sekali terbersit, apalagi bercita-cita sebagai Ambtenaar (pegawai Belanda)!” Begitu suara Kiai Wahab berapi-api.

“Mengapa kiai dan santri tidak boleh jadi Ambtenaar?

Jawabannya tiada lain tiada bukan, karena Ambtenaar itu singkatan dari Antum fin Nar. Tidak usah berhujah susah-susah tentang Ambtenaar, artinya ya tadi, ‘kalian di neraka’ tititk,” jelas Kiai Wahab. Para kiai dan santri yang hadir tertawa dan tepuk tangan.

Lain waktu, semasa penjajahan Jepang, Kiai Wahab menghadapi para kiai yang belum paham cara berpolitik dengan Jepang. Para kiai itu tidak bersedia menjadi anggota Jawa Hokokai, semacam perhimpunan rakyat Jawa untuk mendukung Jepang.

“Para Kiai tidak susah-susah mencari dalil menjadi anggota Jawa Hokokai. Masuk saja dulu. Tenang saja, di dalam badan tersebut ada Bung Karno. Beliau tidak mungkin mencelakakan bangsa sendiri,” Kiai Wahab mulai merayu para kyai.

“Tapi Kiai, apa artinya Jawa Hokokai itu?” Tanya seorang kyai.
“Lho, Sampean belum tahu ya, Jawa Hokokai itu artinya Jawa Haqqu Kiai,” jelas Kiai Wahab singkat.
“Ooo… Jadi Jawa Hokokai itu artinya Jawa milik para kiai. Ya sudah, mari, jangan ragu masuk Jawa Hokokai,” ujar kiai tadi merespon.

NAMUN DEMIKIAN, salahlah kita jika hanya menilai Kiai Wahab sebagai kiai politisi saja. Salah, karena ia sesungguhnya adalah  seorang ulama tauhid dan juga fiqih yag sangat mendalam dan luas pengetahuannya. Dengan ilmunya itu, itu dengan mudah mampu menerapkan prinsip-prinsip fiqih dalam kehidupan modern secara progresif, termasuk dalam bidang fiqih siyasah.

Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jama’ah, menunjukkan kedalaman penguasanya di bidang ilmu dasar tersebut. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi perjalanan Ahlusunnah wal jamaah di lingkungan NU.

Dalam tiap bahtsul masail muktamr NU, ia selalu memberikan pandangannya yang mamapu menerobos berbagai macam jalan buntu (mauquf) yang dihadapi ulama lain.

Kiai Wahab sadar betul mengenai pentingnya pendidikan masyarakat umum. Karena itu dirintis beberapa majalah dan surat kabar seperti Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Soeara Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, dan sebagainya.

Ia sendiri aktif salah seorang penyandang dananya dan sekaligus sebagai penulisnya. Propaganda di sini juga sangat diperlukan dan media ini sangat strategis dalam mepropagandakan gerakan NU dan pesantren ke publik. Gagasan itu semakin memperoleh relevansinya ketika KH Machfudz Siddiq dan KH Wahd Hasyim turut aktif dalam menggerakkan pengembangan media massa itu.

Demikian juga dalam menghadapi zaman Jepang yang sulit, terutama ketika penjajah itu itu pada tahun 1942 menangkapi para tokoh NU, maka Kiai Wahab dengan segala pikiran dan tenaganya menghadapi penjajah Jepang. Ia gigih menjadi tim pembebasan, mulai dari membebaskan KH Hasyim Asyari, KH Mahfud Shiddiq, juga ulama NU lainnya baik di Jawa Timur hingga ke Jawa Tengah tanpa kenal lelah.

Masa menjelang kemerdekaan dan dalam mempertahankan kemerdekaan aktif di medan tempur dengan memimpin organaisasi Barisan Kiai, organisasai yang secara diam-diam menopang Hisbullah dan Sabilillah.

Sepeninggal KH Hasyim Asy’ari (Ramadan, 1947), kepepimpinan NU Sepenuhnya berada di pundak Kiai Wahab.

Dalam menghadapi perjanjian dengan Belanda, baik perjanjian Renville, Linggarjati maupun KMB, yang penuh ketidakadilan itu, Kiai Wahab memimpin di depan melawan perjanjian itu. Akhirnya semua perjanjian yang tidak adil itu dibatalkana secara sepihak oleh Indonesia.

Masa paling menentukan adalah ketika NU mulai dicurangi oleh dalam Masyumi dengan tidak diberi kewenangan apapun. Usaha perbaikan oleh Kiai Wahab tidak pernah digubris oleh dewan partai, padahal NU sebagai anggota Istimewa.

Selain itu hanya diberi jatah menteri Agama, itu pun kemudian dirampasnya juga. Apalagi Masyumi mulai melakukan tindakan subversif sepert memberi simpati pada Darul Islam (DI) dan bahkan melakukan perjanjian gelap dengan Mutuasl Security Act (MSA) yang menyeret Indoonesia ke Blok Barat Amerika. NU merasa semakin tidak kerasan di Masyumi.

Ketika Kiai Wahab hendak mendirikan partai sendiri, tidak semua kalangan NU menyetujuinya, apalagi kalangan Masyumi menuduh NU berupaya memecah-belah persatuan umat Islam. NU juga diledek bahwa tidak memiliki banyak ahli politik, ekonomi, ahli hukum dan sebagainya.

Atas semua itu, dengan enteng Kiai Wahab menjawab:

“Kalau saya mau beli mobil, si penjual tidak akan bertanya apakah saudara bisa menyupir. Kalau dia bertanya juga, saya akan membuat pengumuman butuh seorang supir. Saat itu juga, para calon supir akan segera mengantri di depan rumah saya.”

Ketika kalangan ulama NU yang lain masih ragu, dengan tegas Kiai Wahab mengatakan, ”Silakan Sudara tetap di Masyumi, saya akan sendirian mendirikan Partai NU dan hanya butuh seorang sekretaris. Insya Allah NU akan menjadi partai besar.

Melihat kesungguhan itu akhirnya, semua kiai, termasuk Kiai Abdul Wahid Hasyim  sangat terharu, sehingga diputuskan untuk menjadi partai  sendiri.

Dalam Pemilu 1955, perkiraan Kiai Wahab terbukti, NU menjadi partai terbesar ketiga. Dari situ NU mendapat 45 kursi di DPR dan 91 kursi di Konstituante serta memperoleh delapan kementerian. Berkat kepemimpina Kiai Wahab itu, NU menjadi partai politik yang sangat berpengaruh.

Dalam mempimpin keseluruhan drama pilitik nasional, bagi NU, Kiai Wahab adalah pengambil keputusan yang sangat menentukan. Sebab itu, perintahnya sangat dipatuhi sejak dari pengurus pusat hingga ke daerah. Bukan Karena otoriter. Tapi karena memang sangat menguasi kewilayahan dan menguasasi strategi gerakan. Karena itu pula, para kiai kiai sering kali menyebut tokoh kita ini “panglima tinggi”.

Tiap hari, Kiai Wahab keliling daerah, bermusyawarah, menyerap dan memberi informasi, mengarahkan hingga menyemangati para ulama dari Jawa hingga Sumatera, dari Madura hingga Kalimantan. Semuanya diongkosi dengan uang sendiri.

Bila ada di Jombang, tepatnya di Tambakberas, Kiai Wahab tidak pernah absen mengajar di pesantrennya, memberikan pengajian dari kampung ke kampung, dan memberikan brifing politik ada para santri senior, para pengurus NU setempat, hingga memberikan arahan pada pamong desa setempat. Kedekatan dengan rakyat itu yang mendorong militansi Kiai Wahab dalam menyuarakan aspirasi rakyat.

Banyak yang meriwayatkan pula bahwa Kiai Wahab juga mempunyai kecenderungan hidup zuhud. Dari sekian banyak pesantren yang dikunjungi, tampaknya pengaruh Kiai Zainuddin Mojosari cukup kentara.

Pesantren Mojosari terdapat di pedalaman Nganjuk Jawa Timur. Kiai Zainuddin, pengasuh pesantren tersebut, masyhur sebagai sufi agung di tanah Jawa saat itu. Tradisi sufistik juga membuat pesantren ini menjadi sangat terbuka. Satu contoh, tiap akhir tahun para santri dibiarkan menyelenggarakan pentas seni, ludruk. Para santri main sendiri.

Untuk itu, beberapa bulan sebelum acara, para santri dengan rombongan masing-masing ada yang belajar ludruk ke Jombang, belajar Jatilan ke Tulungagung, belajar Ketoprak ke Madiun dan belajar wayang ke Solo dan sebagainya.

Wahab muda adalah salah satu di antara mereka itu. Pendidikan keagamaan yang di berikan juga sangat terbuka. Para santri dipersilakan memakai madzhab pemikiran yang disukai, juga diajarkan memecahkan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan secara lebih luwes dan toleran.

Sikap keagamaan Kiai Wahab akhirnya juga tumbuh dengan terbuka. Ia lebih maju dibanding para ulama yang lain, terutama dalam menerapkan fiqih, tampak lebih mengutamakan dalil rasional, ketimbang doktrinal.

Hal itu memungkinkan masa kepemimpinan Kiai Wahab dalam tubuh NU membuka wawasan yang luas bagi pengembangan pemikiran, kelembagaan dan ktangkasan dalam berpolitik. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan karib dan iparnya yang sekaligus menjadi wakilnya (Wakil Rais Am), yaitu KH Bisri Syansuri. Kiai Bisri adalah seorang faqih murni yang ketat dan disiplin, sehingga apapun yang berseberangan dengan prinsip yang dipegangi harus disingkirkan.

Kalau Kiai Wahab cenderung berpikiran inovasi dan kreasi, sementara Kiai Bisri berpegangan pada fiqih. Dengan latar belakang semacam itu tidak heran kalau Kiai Wahab Hasbullah denngan senang hati menerima kehadiran Lesbumi 1962, apalagi sebelumnya Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari menyetujui penggunaan alat-alat musik dalam acara-acara NU. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa tenggang rasa dan keduanya tetap saling menghormati.

Karena kharisma dan kepemimpinannya yang belum tergantikan, muktamar NU 20-25 Desember 1971 di Surabaya, Kiai Wahab terpilih lagi sebagai Rais Aam, meski telah udzur. Namun, persis empat hari setelah muktamar, Allah memanggil Kiai Wahab, tepatnya tanggal 29 Desember 1971.

Kewibawaan Kiai Wahab di hadapan pengurus NU yang lain dan pengabdiannya yang total itu menyebabkan KH Saifudin Zuhri menjulukinya sebagai “NU dalam praktek”. Seluruh sikap dan tindakannya termasuk yang kontroversial sekalipun adalah mencerminkan perilaku NU yang tidak dianggap sebagai penyimpangan. Karena seluruh sikap dan tindakannya dilandasi iman, takwa, ilmu, akhlak serta pengabdian yang tulus.

Demikianlah, selintas pengabdian seorang Kiai Haji Wahab Hasubullah, pahlwan tanpa gelar kepahlawanan. (Abd. Mun’im DZ)

Sumber: NU ONLINE

Gembleng Kader, IPNU-IPPNU Nganjuk Gelar Diklatama

Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Kepanduan Pelajar (KPP) adalah lembaga semi otonom dibawah naungan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang memiliki  tugas khusus layaknya kepanduan dan diharapkan dapat siap, sigap dan tanggap dalam mengawal semua kegiatan dan kebijakan IPNU-IPPNU. Continue reading “Gembleng Kader, IPNU-IPPNU Nganjuk Gelar Diklatama”

IPNU-IPPNU Babat Dirikan Lima Komisariat Sekaligus

Lamongan, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Babat mendirikan lima Pimpinan Komisariat sekaligus. Kelima Komisariat tersebut antara lain, Komisariat Pondok Pesantren Raudlatul Muta’alimin, MTs, SMP, MA dan SMA yang kebetulan berada dalam satu yayasan Pondok Pesantren tersebut, Sabtu (14/09/13). Continue reading “IPNU-IPPNU Babat Dirikan Lima Komisariat Sekaligus”

Segera!!! Majalah PASTI-PW IPNU Jatim

Salam BERJUTA rekan-rekan?!!

Kabar gembira buat rekan-rekan IPNU di seluruh Jawa Timur. Dari pojok Pacitan sampai Ujung Banyuwangi. Dari hilir pulau Bawean sampai hulu Kangean. Telah terbit majalah edisi perdana Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur dengan nama P.A.S.T.I. Sebuah majalah yang bakalan menjadi corong dan mercusuar gerakan keterpelajaran di Jawa Timur. Kehadiran majalah yang ada ditangan pembaca sekalian ini merupakan komitmen keterpelajaran IPNU yang tidak hanya direalisasikan melalui budaya oral (retorik) tapi juga budaya tulis.

Majalah yang bertajuk pelajar dan santri ini, merupakan bagian integral dari pola gerakan IPNU yang terus berusaha dan berkomitmen menembus tapal batas ruang dan waktu agar selalu “nyambung” dengan semangat jargon belajar, berjuang dan bertaqwa. Terbitnya majalah ini juga dalam rangka menjawab kegamangan, kegelisahan dan kecurigaan beberapa kalangan yang menganggap bahwa IPNU Jatim lebih konsen pada urusan-urusan yang berbau politis dan provit. Walaupun anggapan itu tidak benar adanya.

Content majalah ini tak lepas dari ruh kepemudaan, keterpelajaran dan kesantrian yang menjadi ciri khas dan perhatian PW IPNU Jawa Timur. Content berita, pemikiran, sastra, profil dan sosok tokoh teladan merupakan bagian dari menu yang sengaja kami hidangkan dalam majalah ini.

Pada edisi selanjutnya, kami segenap redaksi mengundang seluruh pimpinan cabang untuk turut andil dan berkonstribusi dalam memberi nuansa, warna bahkan kritikan, masukan sekaligus saran yang membangun guna menjadikan komposisi majalah ini lebih bagus lagi.

Mari membudayakan membaca, mentradisikan menulis dan membiasakan bernalar kritis sebagai usaha mewujudkan pelajar yang berkarater dan berideologis dalam mengibarkan panji-panji ajaran ahlu sunnah wal jama’ah.

Selamat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.!!!!

Untuk berlangganan Hub. Ghufron Zaki. 085785800491

Umrotul Mahfudzah- Srikandi NU

Di dunia pewayangan, dikenal seorang wanita tangguh yang bernama Srikandi. Bersama sang suami, Arjuna, keduanya berjuang bersama membela panji Pandawa. Sosok Srikandi itu, rasanya patut kita sematkan pada diri Umroh Machfudzoh, ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang pertama.

Jalan cerita Umroh bersama sang suami, KH Tolchah Mansoer, sekilas mirip kisah Arjuna-Srikandi. Hanya saja pada waktu itu, keduanya bukan membela panji Pandawa, melainkan panji pelajar putera-puteri NU (IPNU-IPPNU). Di organisasi itulah mereka bertemu, berjuang bersama, dan akhirnya meneruskan menuju ke jenjang pelaminan.

Umroh Lahir di Gresik 4 Februari 1936 M dari pasangan KH Wahib Wahab (Menteri Agama ke 7 yaitu  1958 – 1962) dan Hj Siti Channah. Beliau adalah cucu dari KH Abdul Wahab Hasbullah (pendiri NU dan Rais Aam PBNU 1946 – 1971). Sebagai cucu pendiri NU, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak Beras, Jombang, tempat kelahiran ayahnya.

Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Umroh mengawali pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun 1946 karena clash II, Umroh kemudian melanjutkan ke MI NU di Boto Putih, Surabaya. Hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan impian merantaunya terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA (Sekolah Guru Agama) Surakarta.

Ketika partai-partai politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, Umroh mulai menerjunkan diri sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) -organisasi pelajar afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh mulai berkenalan dengan organisasi-organisasi di lingkungan NU.

Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang nyantri di tempat Nyai Masyhud (Keprabon Solo) mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua Fatayat NU Cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada kesadaran akan perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun putra-putri NU.

Membidani Lahirnya IPPNU

Di mata kader IPPNU saat ini, Umroh merupakan sosok wanita inspiratif . “Beliau adalah inspirator bagi kami. Beliau adalah kebanggan kami,” kata Margaret Aliyatul, ketua IPPNU periode lalu kepada NU Online, saat wafatnya Umroh tahun 2009 lalu.

“Ini adalah hal yang luar biasa karena kondisi pada saat itu pasti lebih sulit dibandingkan saat ini, dan beliau bisa merealisasikan pendirian organisasi pelajar puteri dan kemudian berkembang menjadi organisasi nasional. Beliau adalah perintis dan kami tinggal melanjutkan saja,” lanjutnya.

Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 1954, memang tak lepas dari perjuangan Umroh dan kawan-kawan untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para pelajar putri. Gagasannya dituangkan lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

Aktivitas di IPPNU yang tidak begitu lama diisi dengan sosialisasi dan pembentukan cabang-cabang IPPNU, khususnya di Jawa. Umroh juga tampil sebagai juru kampanye partai NU pada pemilu 1955. Tidak genap setahun menjabat Ketua Dewan Harian, Umroh meninggalkan Surakarta untuk menikah dengan M. Tolchah Mansoer, Ketua Umum PP IPNU pertama.

Meskipun menetap di Yogyakarta, Umroh tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap organisasi yang ikut dia lahirkan. Kedudukan Dewan Penasehat PP IPPNU yang dipegang hingga saat ini, membuatnya tidak pernah absen dalam setiap perhelatan nasional yang diselenggarakan IPPNU.

Riwayat organisasi Umroh berlanjut pada tahun 1962 sebagai seksi Sosial PW Muslimat NU DIY. Kedudukan ini mengantarkan Umroh sebagai Ketua I Badan Musyawarah Wanita Islam Yogyakarta hingga tahun 1987.

Kesibukan keluarga tidak mengendurkan hasratnya untuk melanjutkan ke Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pendidikan S-1 diselesaikan dalam waktu enam tahun sembari aktif sebagai Wakil Ketua Pengurus Poliklinik PW Muslimat NU DIY. Sementara itu, perhatian di bidang sosial disalurkan dengan menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) yang membidangi kegiatan-kegiatan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial di wilayah Yogyakarta.

Berjuang Lewat Parpol

Jabatan Ketua PW Muslimat NU DIY diemban selama dua periode berturut-turut sejak tahun 1975. Kesibukan ini tidak menghalangi aktivitas sebagai Seksi Pendidikan Persahi (Pendidikan Wanita Persatuan Sarjana Hukum Indonesia) dan Gabungan Organisasi Wanita wilayah Yogyakarta. Naluri politik yang tersimpan selama belasan tahun ternyata tidak bisa dipendam Umroh begitu saja. Aktivitas sebagai bendahara DPW PPP mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD DIY periode 1982-1987.

Karir politiknya terus meningkat dari Wakil Ketua menjadi Pjs. Ketua DPW PPP DIY. Jabatan terakhir ini membawa Umroh ke Jakarta sebagai anggota DPR RI dari FPP selama dua periode. Umroh pernah menjabat sebagai Ketua Wanita Persatuan Pusat, organisasi wanita yang bernaung di bawah PPP. Sebagai anggota dewan, Umroh tercatat beberapa kali mengadakan kegiatan internasional diantaranya muhibah ke India, Hongaria, Perancis, Belanda, dan Jerman.

Domisili di Jakarta memudahkan Umroh melanjutkan aktivitas ke-NU-an sebagai Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat NU, berlanjut sebagai Ketua III sampai sekarang. Sempat menikmati pensiun pasca pemilu 1997, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh Pengurus Besar NU mendorong Umroh terjun kembali ke dunia politik sebagai salah satu anggota DPR RI hasil pemilu 1999.

Sesepuh pendiri Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Hj Umroh Machfudzoh meninggal dunia pada Jumat (6/11/2009) pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Almarhumah meninggal pada usia 73 tahun dan dimakamkan sekitar pukul 15.30 WIB di pemakaman dekat kediaman Komplek Pondok Pesantren Sunni Darussalam, Tempelsari, Manguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. (Ajie Najmuddin/red:Anam)

Meneguhkan Peran IPNU sebagai Peredam Anarkisme

Jika melihat dunia pendidikan, seharusnya seorang pelajar atau akademisi memiliki nilai-nilai luhur yang termanifestasikan di dalam perilaku dan sikapnya. Pelajar inilah yang kemudian membedakannya dengan kalangan atau lapisan masyarakat yang lain serta memiliki nilai prestise tersendiri.

Ditambah lagi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang religius, dengan ditandai mayoritas beragama Islam, seharusnya lebih tidak pantas lagi ketika seorang pelajar yang merupakan bagian dari masyarakat yang religius menyelesaikan masalah dengan proses perkelahian dan kekerasan. Lebih ironis lagi, kualitas pendidikan di Indonesia juga tidak meningkat secara signifikan dan masih banyaknya masalah pelajar di Indonesia selain kekerasan, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan tindak kriminal lain.

Jika demikian, berarti ada banyak pekerjaan rumah untuk dunia pendidikan di Indonesia secara khusus dan masyarakat Indonesia secara luas, yang tidak hanya melibatkan sistem pendidikan itu sendiri, tetapi juga melibatkan banyak hal, misalkan pola pengajaran, kandungan nilai dan moral, dan internalisasi nilai dan moral itu sendiri. Bisa saja ada berbagai kelemahan di dunia pendidikan di Indonesia ini terkait berbagai hal tersebut.

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religius. Kebebasan beragama dipandang sebagai Hak Asasi Manusia (HAM) dan hak asasi yang paling asasi. Hak beragama juga diatur dalam undang-undang dan hukum. Selain itu, tercatat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, yang notabene adalah agama yang damai dan menjamin keselamatan.

Begitu pula di dunia pendidikan, agama diberi kedudukan yang tinggi. Buktinya, adanya kewajiban berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan proses belajar dan mengajar, adanya organisasi kerohanian, adanya pelajaran agama yang dimasukkan ke dalam kurikulum, dan sebagainya. Bukti lain bahwa banyak sekali terdapat berbagai organisasi kepemudaan dan pelajar (OKP) di Indonesia yang merupakan perlebaran sayap dari beberapa organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini mestinya sudah cukup untuk menangkal adanya probabilitas perilaku pelajar yang merusak.

Meskipun demikian, desain pendidikan di atas akan menjadi sebuah omong kosong belaka jika tidak ditunjang dengan beberapa hal, salah satunya proses internalisasi nilai dan moral keagamaan. Semakin hari, semakin banyak pelajar yang semakin tergerus nilai keagamaannya. Di jaman yang penuh tantangan ini, banyak pelajar yang semakin memandang remeh agama dan moral. Sehingga, desain adanya pendidikan moral dan pendidikan agama di sekolah saja, tidak akan cukup untuk menangkal bahaya polusi di dunia pendidikan. Harus ada desain yang lebih efektif, yaitu dengan cara internalisasi moral dan nilai keagamaan. Banyak proses belajar mengajar yang kurang di dalam internalisasi nilai tersebut. Akibatnya, pelajaran agama dan pelajaran moral hanya sebatas kurikulum belaka, bukan sebagai proses internalisasi nilai yang seharusnya mampu mencetak pelajar yang bermoral dan berkarakter.

Peran IPNU Menghadapi Anarkisme Pendidikan

IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama) memiliki tugas dan peran besar di dalam problem solving terkait permasalahan pelajar, seperti tawuran dan kekerasan atau anarkisme tersebut. Peran IPNU adalah sebagai internalisator nilai atau penanam nilai. IPNU tentu saja memiliki nilai-nilai luhur karena lahir dari organisasi Islam Nahdlatul Ulama yang berasaskan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, dimana Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal sebagai firqah Islam yang mampu menampilkan Islam yang sebenarnya, yaitu salah satunya bersifat moderat. IPNU dapat menjalankan perannya dengan berbagai banyak kegiatan, misalkan role play kegiatan keagamaan, pendampingan keagamaan, seminar, berdakwah, mendekatkan pelajar dengan tokoh-tokoh sejarah Islam (Nabi), dan sebagainya. Ada beberpa hal yang harus diperhatikan oleh IPNU di dalam proses internalisasi nilai keagamaan.

Proses internalisasi nilai sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pelajar, apakah masih termasuk anak-anak, remaja, atau sudah dewasa. Karena di setiap fase perkembangan hidup manusia, manusia memiliki pola berpikir yang berbeda-beda yang mengakibatkan pada perbedaan internalisasi nilai ini. Bagaimana harus menginternalisasi nilai pada anak-anak, berbeda dengan bagaimana harus menginternalisasi nilai pada remaja dan dewasa.

Satu hal lagi yang juga harus diperhatikan adalah bahwa proses internalisasi nilai moral dan keagamaan ini harus berlangsung secara kontinyu dan berkesinambungan. Artinya jangan sampai terputus pada salah satu fase, atau bahkan berhenti di tempat. Karena jika berhenti di salah satu fase kehidupan manusia atau bahkan berhenti di tempat, maka proses kognisi, afeksi, dan psimotor seorang pelajar akan hampa dari nilai moral dan keagamaan ini. Selain itu, kondisi ini juga berkaitan dengan proses kondisioning atau pembiasaan dengan desain dan time schedule yang disesuaikan, sehingga jika proses kondisioning ini berhenti di tengah jalan padahal belum cukup di dalam proses pembentukan kepribadian dan internalisasi moral dan nilai keagamaan, maka hasil yang diharapkan akan tidak terjadi. Kondisi ini menuntut adanya kontinuitas dan konsistensi peran dalam IPNU sebagai penanam nilai. Artinya, peran ini tidak akan pernah selesai dijalankan oleh IPNU.

Proses internalisasi nilai juga seharusnya tidak hanya menyentuh ranah kognisi saja, tetapi juga ranah afeksi sehingga dapat termanifestasikan ke dalam ranah psikomotor dengan baik. Pada saat ini, banyak desain yang hanya menyentuh ranah kognisi atau pengetahuan saja ketika proses belajar mengajar berlangsung, terutama pelajaran moral dan keagamaan. Banyak pelajar yang bisa menyebutkan tentang akhlaq terpuji dan tercela, tetapi mereka tidak diperintahkan untuk memahami makna di balik akhlaq terpuji dan tercela tersebut. Banyak pelajar yang paham tentang kewajibannya sebagai manusia beragama, tetapi mereka tidak dituntun untuk menemukan apa makna di balik itu semua. Banyak pelajar yang paham akan rukun shalat, puasa, zakat, tetapi tidak dibimbing untuk memahami makna tentang berbagai ibadah tersebut. Pemahaman makna saja juga tidak seharusnya hanya bersifat pengetahuan saja. Misalkan, banyak siswa yang paham tentang manfaat shalat, yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar. Tetapi mereka hanya sebatas menyerap secara kognisi saja.

Desain lain yang diperlukan di dalam proses internalisasi nilai moral dan keagamaan adalah bimbingan implementasi dari pemahaman makna tentang setiap nilai moral dan keagamaan. Contoh salah satunya adalah pelajar dibimbing untuk melaksanakan shalat yang khusyu’, dibimbing di dalam kegiatan keagamaan lain, seperti pengajian, membaca Al Quran, melaksanakan zakat dan qurban. Banyak pelajar yang sampai sekarang masih melakukan kegiatan kerohanian tersebut, tetapi bisa saja bimbingan dari guru atau pengajar di dalam proses implementasi ini kurang intensif yang kemudian membuat pelajar hanya mengikutinya sebagai kegiatan rutin saja tanpa pemaknaan. Maka dari itu, IPNU harus mampu membimbing kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut dan mampu mentransfer nilai-nilai moral yang terdapat di dalam setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh pelajar tersebut. Konsekuensinya, IPNU harus mampu menemukan desain yang tepat di dalam proses internalisasi makna ibadah dan transfer nilai dan moral tersebut.

Seharusnya ada desain di setiap pengajaran dan proses internalisasi nilai sehingga pelajar dibimbing secara beruntun untuk memahami manfaat shalat, mengapa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, shalat yang bagaimana yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, bagaimana caranya di dalam mengimplementasikan shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Karena ada juga shalat yang tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Bukan soal shalatnya yang tidak dapat memberi manfaat itu, tetapi persoalan terletak pada desain di dalam melaksanakan shalat tersebut, termasuk salah satunya adalah penghayatan makna tentang shalat itu sendiri.

Contoh lain, banyak pelajar yang paham tentang kewajibannya sebagai pelajar Islam, tetapi tidak banyak dari mereka yang paham apa makna Islam itu sebenarnya, bagaimana Islam diturunkan secara damai dan menjamin keselamatan karena Islam bermakna selamat, mengapa terjadi kekerasan dan pertumpahan darah di dalam sejarah turunnya Islam yang sebenarnya bukan desain yang dirancang secara sengaja untuk menyebarkan Islam dan juga bukan solusi utama dalam proses penyebaran Islam.  Inilah peran IPNU yang lain, yaitu selain sebagai penanam nilai, tetapi juga harus mampu memberikan pemahaman nilai dan moral dalam tataran afeksi dan psikomotor, bukan hanya kognisi. Konsekuensinya adalah IPNU harus mampu merekayasa desain penanaman nilai dan moral tersebut sehingga bisa tepat sasaran, yaitu di ranah kognisi, afeksi, dan psikomotor.

Kaitannya dengan religiusitas, IPNU harus mampu mencetak pelajar yang tidak hanya memenuhi aspek religious knowledge (dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya, terutama yang ada di dalam kitab suci) saja, tetapi juga religious practice (tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, mengaji), religious feeling (perasaan-perasaan atau pengalaman yang pernah dialami dan dirasakan, misalnya merasa tawakkal, merasa Tuhan selalu melihat perbuatannya, perasaan khusyu’ ketika beribadah), religious belief (atau disebut juga dimensi keyakinan adalah tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang dogmatik dalam agamanya, misalnya kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, surga dan neraka), religious effect (sejauh mana perilaku seseorang dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan sosial, misalnya apakah ia mengunjungi tetangganya sakit, menolong orang yang kesulitan, mendermakan hartanya, dan sebagainya), dan community dimension (terlibat di dalam komunitas dan kehidupan sosial keagamaaan yaitu dengan sikap mengikuti kegiatan sosial, mengajar mengaji, mengikuti ta’mir masjid, turut serta di dalam organisasi keagamaan, dan sebagainya).

Pengaruh media juga harus dikendalikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa media seperti televisi, lagu, gaya hidup, tren, mode, dan modernisasi berpengaruh besar dan kuat terhadap perkembangan sikap pelajar. Tidak banyak pelajar yang dapat memilah dan memilih acara televisi dan media. Tidak banyak pelajar yang memahami hikmah acara televisi. Kondisi inilah yang jelas perlu dikendalikan oleh berbagai pihak. IPNU harus mampu meneguhkan perannya di dalam media. IPNU harus mampu menyadarkan kepada para pelajar tentang manfaat dan madlarat dari media tersebut. IPNU juga harus dapat mengalihkan perhatian pelajar dari media kepada hal lain yang bermanfaat, misalkan dengan mengadakan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan (seperti outbond). Selain itu, IPNU juga berperan sebagai wadah bagi para pelajar agar pelajar bersedia “menghabiskan waktunya” bersama IPNU sehingga tidak akan terpengaruh oleh media. IPNU juga dapat mengubah “standart gaul” yang salah yang banyak dipersepsi oleh para pelajar (misalkan, gaul itu kalau sering main, gaul itu kalau punya geng, gaul itu kalau berani berkelahi) dengan “standart gaul” yang baik.

Selain itu, IPNU harus melaksanakan reorientasi pelajar. Reorientasi pelajar juga perlu dipertegas kembali agar setiap pelajar benar-benar menyadari orientasinya, apakah pelajar hanya sebagai proses untuk menghasilkan manusia yang bekerja mendapatkan uang, ataukah pelajar merupakan proses untuk menghasilkan manusia cerdas tanpa nilai, ataukah pelajar merupakan proses untuk menghasilkan tidak hanya sebagai kaum terpelajar, tetapi juga manusia berkarakter dan bernilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama. IPNU tidak hanya berperan sebagai organisasi pelajar saja, tetapi lebih dari itu.

Menurut Caswiyono Rusydie Cw (2007), IPNU memiliki peran sebagai second school dan agenda pendidikan pembebasan. Artinya, IPNU dapat menjadi wadah belajar bagi pelajar selain sekolah di dalam mengembangkan keterampilannya sehingga mencetak generasi pelajar yang terampil dan akhirnya tidak berorientasi kerja sebagai “budak”, tetapi kerja secara mandiri dan bebas. Ketika seorang pelajar memahami sungguh-sungguh orientasinya sebagai pelajar adalah tidak sebagai manusia pekerja seperti budak, maka pelajar akan berusaha untuk menginternalisasikan nilai dan moralnya secara baik ke dalam kepribadiannya. Hal ini disebabkan karena pelajar akan menyadari bahwa yang dibutuhkan di dalam dunia kerja bukan hanya ilmu, tetapi juga keterampilan dan moral serta karakter karena setiap pekerjaan memerlukan itu semua. Pada akhirnya, pelajar akan menjadi manusia yang berkarakter dan bermoral yang mampu memberikan manfaat dan perannya terhadap masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

Satu hal lagi yang tidak boleh ditinggalkan adalah pengajaran dan pengukuhan kembali mengenai budaya Indonesia yang tidak mengenal kekerasan tetapi kehidupan yang harmoni serta pengajaran mengenai tata krama dan etika pergaulan dan problem solving serta decision making ketika menghadapi permasalahan, baik permasalahan pribadi maupun permasalahan dengan orang lain dan lingkungan. Proses pembinaan dan pengembangan kepribadian dalam dunia pendidikan selayaknya dilaksanakan secara terprogram dan kontinyu karena pada hakekatnya pendidikan adalah sistem yang terprogram. IPNU lahir di Indonesia, sehingga tidak hanya menganut nilai-nilai Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah saja, tetapi juga menganut nilai-nilai budaya Indonesia yang dikenal santun dan tidak mengenal kekerasan. Orientasi nilai ini perlu diteguhkan kembali oleh IPNU. IPNU juga harus mampu memberikan pengarahan terhadap implementasi nilai-nilai tersebut.

Menurut Agus Yahya (2007), keberadaan IPNU sebagai sayap Nahdlatul ‘Ulama pada kalangan pelajar, memiliki tiga peran utama. Pertama, pengembang nilai-nilai. Tradisi yang dibangun adalah mengembangkan nilai-nilai yang kemudian mentransformasikan dan memformulasikan pemikiran pada persoalan yang melingkupinya, baik pada tataran ide maupun tataran realita. IPNU yang lahir dari rahim NU memiliki banyak nilai, terutama nilai-nilai dalam prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti tawasuth, tawazun, i’tidal, tasamuh. Nilai-nilai tersebut harus dapat dikembangkan dalam ranah permasalahan apapun sehingga nilai-nilai tersebut tidak bersifat rigid.

Kedua, penerapan nilai-nilai. IPNU harus dapat menerapkan nilai-nilai yang dianutnya dalam aktivitas kerja nyata. Setelah nilai-nilai yang dianut dapat dikembangkan sehingga bersifat fleksibel di setiap permasalahan yang ada, maka IPNU masih memiliki peran sebagai penerap nilai-nilai tersebut. Bagaimana nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawasuth (jalan tengah), I’tidal (tegak lurus), dapat menyelesaikan permasalahan pelajar terkait anarkisme dan tawuran. Bagaimana seorang pelajar harus bersikap toleransi terhadap setiap orang. Bagaimana seorang pelajar harus bersikap adil dan tegak lurus dalam setiap persoalan. Bagaimana seorang pelajar harus bersikap mengambil jalan tengah dan dapat menyelesaikan permasalahannya dengan baik. Peran ini harus dapat dijalankan oleh IPNU.

Ketiga, pendukung nilai-nilai. Artinya adalah IPNU harus senantiasa berada dalam garda terdepan di dalam mendukung nilai-nilai yang dianut dan diterapkannya. Jangan sampai nilai-nilai yang sudah dianutnya dan diterapkan tersebut tidak didukung sendiri dan akhirnya punah. IPNU harus dihiasi oleh nilai-nilai yang dianutnya sendiri. IPNU hadir sebagai suri tauladan yang baik (uswatun hasanah) sehingga dapat menjadi role model di dalam setiap kehidupan pelajar, terutama kaitannya dengan proses problem solving dan decision making tanpa kekerasan dan tawuran.

IPNU lahir bukan tanpa tujuan, bukan tanpa visi, juga bukan tanpa cita-cita. IPNU lahir dengan tujuan yang pasti, visi dan misi yang terang, prinsip yang jelas, dan cita-cita yang mulia. Dengan banyaknya peran IPNU yang harus dijalankan di dalam meredam anarkisme pelajar (seperti tawuran, perkelahian, bentrokan, demonstrasi yang anarkis), maka IPNU harus memiliki jaringan yang luas demi terlaksanaknya peran tersebut. IPNU harus mampu melebarkan sayapnya selebar mungkin, sehingga IPNU ada di setiap wilayah dan daerah di Indonesia. IPNU juga harus mampu memetakan kondisi, permasalahan, potensi, dan kekurangan pelajar di setiap daerahnya sehingga mampu menyusun grand design  di dalam menjalankan perannya secara nyata. Wallâhu a’lam bish shawâb.

AHMAD SAIFUDDIN*

Santri Rencanakan Masa Depan

Sebagai seorang santri perlu kiranya merencanakan masa depan. Perencanaan itu untuk investasi 10-30 tahun yang akan datang. Ajakan itu disampaikan M. Imam Aziz saat memberikan orasi budaya pada penutupan Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) ke-10 di Pesantren Balekambang Jepara, belum lama ini.

Menurut Ketua PBNU perencanaan itu untuk pengembangan pesantren pada masa yang akan datang. Hal itu dikemukakan pria kelahiran Pati 1962 mengingat pesantren sejak dulu merupakan penggerak utama berbagai bidang semisal budaya, politik, ekonomi dan teknologi.

Peraih penghargaan sebagai tokoh multikultural dari Islamic Fair of Indonesia (IFI) tahun 2011 itu menyatakan Islam Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) yang dirumuskan oleh para ulama merupakan investasi yang sudah dirumuskan berabad-abad silam.

Warisan arsitektur kota masa silam terangnya juga tidak sembarangan. Di Aceh misalnya, arsitektur kota adalah penggabungan masjid, kerajaan dan pasar. Begitu juga dengan sistem pendidikan.

Ia melanjutkan sebelum Indonesia merdeka, pada masa penjajahan Belanda sistem pendidikan pesantren sudah dirancang. “Tentunya rintisan itu sudah dirancang para kiai berabad-abad silam tujuannya untuk diterapkan hingga saat ini,” tegasnya.

Berkenaan dengan liburan sastra pendiri LKiS Yogyakarta mengungkapkan sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Sastrawan merupakan penjaga kehidupan yang penuh kreativitas. “Sehingga anda semua adalah penggerak kebudayaan pada 10 tahun yang akan datang,”

IPNU Pamekasan Resmi di Lantik

Pamekasan– Pasca Konferensi Cabang bulan lalu, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pamekasan resmi dilantik dan bertempat di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Ahad (15/09/13).

Pelantikan yang dirangkai dengan sarasehan tersebut dihadiri langsung oleh ketua PW. IPNU Jawa Timur, Imam Fadlli serta beberapa tamu undangan dari unsur PCNU Pamekasan dan Intansi pemerintah setempat. Continue reading “IPNU Pamekasan Resmi di Lantik”

Ketua Umum PBNU 2011-2016

 Said Aqil SiradjNama Lengkap : Said Aqil Siradj
Alias : No Alias

Profesi :

Agama : Islam

Tempat Lahir : Cirebon

Tanggal Lahir : Jumat, 3 Juli 1953

Zodiac : Cancer

Hobby : Membaca, Ibadah, Silaturrahmi

Warga Negara : Indonesia

Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil
BIOGRAFI

Prof Dr KH Said Aqil Sirodj,Sosok laki laki religius ini biasa dipanggil dengan panggilan Siradj, kelahiran Cirebon 03 Juli 1953 dengan latar belakang Agama yang kuat,dan selalu ingin memperjuangkan Islam di berbagai aspek. Siradj juga mempunyai latar belakang akademis yang luas dalam ilmu Islam. Alumni S3 University of Umm Al-qura dengan jurusan Aqidah / Firasat islam ini lulus pada tahun 1994 yang sebelumnya mengambil S2 di Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987 dan S1 di Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982.Dengan latar belakang ilmu pendidikan Agama yang kuat dijadikan modal Siradj dalam dakwah dan memperjuangkan Islam di era baru ini.

Nahdlatul Ulama ( NU ) adalah Organisasi Muslim besar Indonesia yang paling berpengaruh di dunia Islam dan saat ini di Pimpin oleh Said Aqil Siradj. Terpilihnya Siradj dalam memimpin organisasi Nahdlatul Ulama merupakan buah dari usaha Siradj dan pendukungnya dalam pemilihan Partai besar tersebut. Dalam pemilihan tersebut, Siradj mengalahkan Slamet Effendi Yusuf.294 Suara yang dikumpulkan Siradj,sedangkan Slamet Effendi Yusuf  hanya mendapatkan 201 suara. Berlanjut ke putaran dua akhirnya Siradj sebagai pemenang dengan suara terunggul sebanyak 178 Suara yang tentunya sudah memenuhi tata tertib Mukhtamar yang mengharuskan seorang calon mengumpulkan poin 99 Suara.

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi dengan basis keanggotaan yang kebanyakan dari pedesaan dan ciri khas tradisional ini yang membedakan Nahdlatul Ulama dengan organisasi lainnya.Point utama organisasi ini adalah penekanan pada pendidikan dan keterlibatan politik berlandaskan prinsip Islam yang mana sesuai dengan visi misi Siradj. Prof Dr KH Said Aqil Siradj menjabat sebagai Ketua Umum PBNU periode 2010 – 2015.

Riset dan analisa oleh Eko Setiawan

PENDIDIKAN
  • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
  • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
  • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994
KARIR
  • Tim ahli Bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
  • Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995 – 1997)
  • Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995 – sekarang)
  • Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997 – 1999)
  • MKDU Penasehat Fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998 – sekarang)
  • Wakil Ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
  • Komisi Member (1998 – 1999)
  • Dosen Luar Biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
  • MPR anggota fraksi yang mewakili NU (1999 – 2004)
  • Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001 – sekarang)
  • Dosen Pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003 – sekarang)
  • UNU Dosen Lulusan Universitas NU Solo (2003 – sekarang)
  • Ketua Umum Pengurus Nahdatul Ulama (PBNU) (2010 – 2015)

Ketua IPNU Jatim Raih Magister Berkat KPU

Surabaya – Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur Imam Fadlli meraih gelar Magister Kebijakan Publik di Universitas dr Soetomo Surabaya berkat penelitiannya tentang kinerja KPU Lamongan.

“Saya meneliti kinerja KPU Kabupaten Lamo ngan, karena KPU merupakan organisasi yang pen ting dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pemilu merupakan faktor penting dalam demokrasi di Indonesia,” katanya setelah mengikuti wisuda di kampus setempat, Sabtu (7/9/13).

Putra kelahiran Lamongan yang lulusan terbaik Fisip Unisda Lamongan (S1) itu mengaku penelitian terkait kinerja KPU Kabupaten Lamongan itu didasarkan pada kepuasan karyawan, sehingga respons dan semangat karyawan itulah yang mempengaruhi efektivitas lembaga KPU.

“Dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur, wawancara mendalam, triangulasi dan observasi kepada sekretaris, Kepala Sub Bagian dan para pelaksana, saya menemukan 80 persen merasa puas terhadap sistem pe ngawasan yang dilakukan oleh pimpinan,” katanya. Continue reading “Ketua IPNU Jatim Raih Magister Berkat KPU”

IPNU Kota Probolinggo Resmi Dilantik

Probolinggo, Setelah jeda beberapa lama dari Konferensi, Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kota Probolinggo masa khidmat 2013-2015, resmi dilantik oleh Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur dan bertempat di Gedung Puri Manggala Kota Probolinggo, Sabtu (7/9/13).

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Probolinggo H. Ahmad Hudri, Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Johny Haryanto dan Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Alfi Sahri Lubis.

Dalam sambutannya, Ahmad Hudri berharap agar pengurus baru yang telah dilantik dapat terus berjuang dan mengemban amanah yang telah diberikan ini dengan baik. Continue reading “IPNU Kota Probolinggo Resmi Dilantik”

Pelajar NU Sumenep Gelar Konferensi

Sumenep, Dengan tema “Menguatkan Ideologi ASWAJA, Upaya Membangun Karakter Pelajar” Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep menggelar Konferensi Cabang XVIII di Pondok Pesantren Mambaul Hikmah, Bluto, Sumenep, Kamis-Sabtu (5-7/9/2013).

Ketua domisioner PC IPNU Sumenep, Syaiful Harir  mengungkapkan selain sebagai evaluasi kepengurusan selama dua tahun ke belakang melalui forum pembahasan LPJ, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk melakukan regenerasi kepengurusan dan kepemimpinan pelajar NU Sumenep. Continue reading “Pelajar NU Sumenep Gelar Konferensi”

PAC. IPNU-IPPNU Babat Resmi Dilantik

Lamongan, Pasca terpilihnya Muhammad dan Putri Anisah sebagai ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Babat, hari ini mereka resmi dilantik oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lamongan. Pelantikan yang dihadiri oleh ratusan kadernya ini dirangkai dengan pelaksanaan Istihlal dan ceramah agama oleh KH. Abdul Mujib dari Pondok Pesantren Langitan, Ahad (01/09/13). Continue reading “PAC. IPNU-IPPNU Babat Resmi Dilantik”

Meriahnya Halal Bihal IPNU-IPPNU Paciran

Lamongan, Momen Syawal selalu menjadi ajang kaum muslimin untuk melakukan istihlal, meskipun sebenarnya hal tersebut bisa saja dilakukan kapan saja dan dimana saja. Akan tetapi sudah menjadi adat kebiasaan di Indonesia Istihlal selalu dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri.

Menanggapi hal tersebut, ketua PAC. IPNU Paciran, Miftahuddin menjelaskan hal tersebut dilakukan untuk menjaga eksistensi kemenangan yang telah diraih umat Islam selama Ramadhan. Continue reading “Meriahnya Halal Bihal IPNU-IPPNU Paciran”

KH. A Hasyim Muzadi- Pelopor NU Dunia

Hasyim MuzadiNama Lengkap : Hasyim Muzadi

Alias : KH. Achmad Hasyim Muzadi | Achmad Hasyim Muzadi

Profesi :

Agama : Islam

Tempat Lahir : Bangilan, Tuban, Jawa Timur

Tanggal Lahir : Selasa, 8 Agustus 1944

Zodiac : Leo

Warga Negara : Indonesia

Ayah : H. Muzadi
Ibu : Hj. Rumyati
Istri : Hj. Muthomimah
BIOGRAFI

KH. Ahmad Hasyim Muzadi adalah mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, Hasyim Muzadi pernah menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur. Hasyim lahir di Tuban pada tanggal 8 Agustus 1944 dari pasangan H. Muzadi dengan istrinya Hj. Rumyati.

Hasyim menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950 dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Suami Hj. Muthomimah ini nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur. Hasyim sendiri mengawali kegiatan organisasinya dengan berpartisipasi aktif dalam organisasi kepemudaan semacam Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga akhirnya dia dia dipercaya menjadi pemimpin kedua organisasi tersebut.

Hal inilah yang menjadi struktural menjadi modal kuat Hasyim untuk terus berkiprah di NU. Nama Hasyim mulai mencuat ke publik setelah pada tahun 1992, dia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999. Setelah itu, tercatat Hasyim pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pada tahun 1999, Hasyim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri. Pada pemilihan presiden tahun 2004, Hasyim Muzadi menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi Capres Megawati Soekarnoputri Presiden RI Kelima (2001-2004) Megawati Soekarnoputri. Namun langkahnya ini gagal menuai kemenangan. Setelah itu, dalam Muktamar NU ke-31 di Donohudan, Boyolali, Jateng, Hasyim kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) setelah berhasil mengungguli secara mutlak para pesaingnya, termasuk KH Abdurrahman Wahid.

Sesuai ketentuan internal NU, seseorang hanya boleh menjabat Ketua Umum Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU dua periode berturut-turut. Sehingga dalam Muktamar NU ke-32 di Makssar, April 2010, dia digantikan Dr. KH Said Aqil Siradj, MA. Sementara Hasyim Muzadi terpilih menjabat Wakil Rais Aam PBNU (2010-2015), bersama Dr. KH A. Musthofa Bisri mendampingi Ketua Rais Aam Dr. KH. M. A. Sahal Mahfudh.

Sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal nasionalis dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan. Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam, Malang, ini dikenal sebagai sosok kiai yang cukup tulus memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia. Sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal nasionalis dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan.

Riset dan Analisa: Fathimatuz Zahroh

PENDIDIKAN
  • Madrasah lbtidaiyah Tuban-Jawa Timur 1950-1953
  • SD Tuban-Jawa Timur 1954-1955
  • SMPN I Tuban-Jawa Timur 1955-1956
  • KMI Gontor, Ponorogo-Jawa Timur 1956-1962
  • PP Senori, Tuban-Jawa Timur 1963
  • PP Lasem-Jawa Tengah 1963
  • IAIN Malang-Jawa Timur 1964-1969
KARIR
  • PII (Pelajar Islam Indonesia) 1960 – 1964
  • Ketua Ranting NU Bululawang-Malang
  • Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang-Malang 1965
  • Ketua Cabang PMII Malang 1966
  • Ketua KAMI Malang 1966
  • Ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971
  • Wakil Ketua PCNU Malang 1971-1973
  • Ketua DPC PPP Malang 1973-1977
  • Ketua PCNU Malang 1973-1977
  • Ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987
  • Ketua PP GP Ansor 1985-1987
  • Sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988
  • Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992
  • Ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999
  • Ketua Umum PBNU 1999-2004
  • Anggota DPRD Tingkat II Malang-Jawa Timur
  • Anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur 1986-1987

IPNU Ajak Para Kader Menjadi Pemilih Cerdas

Surabaya – Moment pemilihan Gubernur Jawa Timur yang dihelat baru-baru ini menjadi perhatian tersendiri bagi PW IPNU Jatim. Sehingga, event lima tahunan inipun tak disia-siakan oleh IPNU untuk berinisiasi menggandeng KPU Jatim dalam mensosialisasikan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Jawa Timur itu kepada khalayak pelajar.

Rumah gadang yang berarsitektur Joglo khas tanah Toraja yang terletak di Surabaya Selatan pun dipilih sebagai tempat digelarnya acara tersebut yang dikemas dengan Halal bi Halal. Antusiaspun menyeruak dikalangan peserta yang terdiri dari pengurus PC IPNU se-Jawa Timur yang sedari malam  menjelang acara digelar sudah hadir di kantor PWNU Jatim. Continue reading “IPNU Ajak Para Kader Menjadi Pemilih Cerdas”

IPNU Lamongan Gelar Halal Bi Halal

Lamongan, Bulan Syawal bulan silaturahim, nampaknya ungkapan tersebut dimanfaatkan betul oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lamongan untuk menggelar Halal bi Halal dan temu alumni yang dirangkai dengan Pelantikan Pimpinan Cabang IPPNU Lamongan masa khidmat 2013-2015 dan bertempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten setempat, Ahad (18/8/13).

Acara yang dihadiri oleh Pimpinan Anak Cabang, Ranting, dan Komisariat IPNU-IPPNU se-Kabupaten Lamongan ini terasa begitu spesial, sebab banyak mantan ketua IPNU-IPPNU dari masa ke masa juga turut hadir dan berbagi pengalamannya selama berproses di organisasi. Salah satunya adalah Imam Fadlli, mantan ketua IPNU Lamongan masa khidmat 2008-2010 yang juga ketua PW. IPNU Jawa Timur saat ini. Continue reading “IPNU Lamongan Gelar Halal Bi Halal”

IPNU Sidoarjo Gelar Lomba Patrol

Sidoarjo, Dalam rangka memeriahkan Ramadhan tahun ini,  Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Sidoarjo kembali menggelar lomba Patrol Ramadhan bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Cabang Garda Bangsa, salah satu Banom Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Event yang diberi tajuk Festival Musik Patrol 2013 ini  diikuti oleh 22 grup patrol dari berbagai kecamatan di Sidoarjo dan diselenggarakan di Desa Wonocolo Kecamatan Taman, Sidoarjo, Minggu (4/8/13)

“Kami harap dengan adanya even tahunan ini, selain dapat melestarikan budaya asli Sidoarjo juga dapat menggali potensi para pelajar, khususnya pelajar NU Sidoarjo dalam hal bermain musik tradisional”, jelas Rohmatulloh, ketua pelaksana kegiatan.  Continue reading “IPNU Sidoarjo Gelar Lomba Patrol”

IPNU-IPPNU Paciran Kuatkan Ideologi Keaswajaan Kader

Lamongan, Guna memperkokoh ideologi para kadernya, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Paciran menggelar Pendidikan dan Pendalaman Aswaja An-Nahdliyah bagi para kadernya di kantor MWC NU Paciran, Sabtu (3/8/13).

Ketua PAC.IPNU Paciran, Miftahuddin mengatakan IPNU sebagai salah satu badan otonom NU dengan segmen pelajar harus mampu mensosialisasikan paham Aswaja kepada para pelajar NU. Sebab, gerakan dan kelompok Islam radikal berikut paham-pahamnya belakanganan ini menurutnya cukup marak menyerang ideologi para pelajar ataupun generasi muda lainnya. Continue reading “IPNU-IPPNU Paciran Kuatkan Ideologi Keaswajaan Kader”

IPNU JATIM Gembleng Pra Calon Dai Muda NU

Jombang – Sore itu, te rik matahari tak begitu panas menyengat saat para pengurus teras PW IPNU Jawa Timur tiba di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Khoiriyah Has yim. Sebuah pondok yang didirikan Oleh KH Maksum Ali pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah yang lazim digunakan di seluruh pondok pesantren yang ada di Nusantara, terutama di Jawa Timur.

Kehadiran Pengurus PW. IPNU Jawa Timur diPondok tersebut bukanlah tanpa agenda yang jelas, melainkan di Pondok inilah calon-calon dai muda NU sengaja dipersiapkan dan digemble ng untuk menjadi ujung tombak dakwah Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah di masa mendatang.

Acara yang digelar tepat pada bulan Ramadlan ini, disambut antusias oleh seluruh Pimpinan Cabang yang ada di Jawa Timur. Tak kurang dari 30 Pimpinan Cabang, turut serta dan ambil bagian dalam kegiatan yang bertema “Stategi Dakwah Aswaja di Era Multimedia” ini, (28-29/7/13). Continue reading “IPNU JATIM Gembleng Pra Calon Dai Muda NU”

Porseni IPNU-IPPNU Paciran Dibuka Sekcam

Lamongan, Perhelatan Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Paciran dibuka oleh Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Paciran, Sukri di halaman MA Tarbiyatus Shibyan Kemantren, Paciran, Lamongan, Selasa (2/7/13).

Even dua tahunan ini akan mempertandingankan 7 cabang olah raga dan 12 cabang seni serta diikuti oleh 18 Pimpinan Ranting dan Komisariat se Anak Cabang Paciran. Continue reading “Porseni IPNU-IPPNU Paciran Dibuka Sekcam”

PW IPNU Jatim Gembleng Kader Wilayah Pantura

PW IPNU Jatim Gembleng Kader Wilayah PanturaBojonegoro – Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur (Jatim) menggembleng kader di wilayah pantura. Kegiatan empat hari mulai tanggal 1 – 4 Juli 2013, digelar di MTs Falakhiyah Desa Jampet Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Acara tersebut bertujuan mengahasilkan pelatih sebagai ujung tombak pengkaderan di daerah Jatim khususnya.

Latihan Pelatih (Latpel) PW IPNU Jatim diikuti sekitar 30 peserta dari beberapa Pimpinan Cabang (PC) IPNU Pantura, yakni Bojonegoro, Lamongan, Gresik dan juga Tuban. Selama empat hari para peserta dikarantina dan dididik sebagai pelatih.

Ketua PW IPNU Jatim Imam Fadhli mengatakan, kegiatan ini merupakan program dari PW IPNU Jatim bidang departemen pendidikan dan pengembangan kader (DPPK), yang dilaksanakan di setiap koordintor daerah (Korda). “Harapannya kader yang ikut pelatihan bisa menjadi ujung tombak pengkaderan di daerah-daerah, hingga ke tingkatan ranting (Desa),” ujarnya kepada blokBojonegoro.com.

Fakta di lapangan saat ini, pelajar Nahdlatul Ulama (NU) banyak kekurangan, termasuk kurangnya pendidikan dan pelatihan. Akibatnya berdampak pada kesenjangan organisasi, serta minimnya respon berbagai kebijakan publik yang berdampak pada pelajar, santri dan mahasiswa.

Fadhli sapaan akrabnya menambahkan, kegiatan latpel ini dilaksanakan di seluruh Korda yang membutuhkan waktu sekitar 25 bulan. Terhitung September 2012 hingga Nopember 2014. Selain itu, kegiatan Latpel ini juga menyiapkan pelatih dalam pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB).

“PW IPNU Jatim juga sudah menertibkan buku panduan bagi pengurus pimpinan cabang hingga komisariat, untuk bekal memberi materi saat MOPDB. Karena basis IPNU adalah para pelajar,” pungkasnya.

Sementara itu, ketua Korda Pantura Moh Muhtadin mengatakan kegiatan ini sangat penting bagi pengkaderan di Pantura. “Sebaiknya setiap tahun atau setiap periode kepengurusan, mengagendakan Latpel,” tuturnya.

Hal senada dikatakan salah seorang peserta Latpel, Anang Sefriandi. Menurut dia setelah latihan kader utama (Lakut), dengan adanya Latpel ini bisa memahami seutuhnya proses dan cara melaksanakan pelatihan.

Selain pemateri yang sudah kompeten dan cara penyampaiannya yang mudah dimengerti. Membuatnya nyaman mengikuti pelatihan. “Nanti setelah ini, ilmu yang saya dapatkan akan diterapkan dicabang hingga ke ranting,”

Buku Pedoman Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) Berkarakter

Pembinaan pelajar yang tepat sasaran serta tetap mengedepankan nilai-nilai etika dan estetika, merupakan landasan wajib bagi siapapun pihak yang “mengaku” bertanggung jawab atas perkembangan dan perubahan kedewasaan para peserta didik. Pendidikan yang secara lazim diartikan sebagai upaya perubahan tingkah laku (changes in behaviour) merupakan titik kulminasi yang harus dicapai oleh pemangku pendidikan dalam menjalankan proses pembelajaran.

Ajang orientasi peserta didik, merupakan step awal yang harus dilalui oleh calon pelajar disalah satu jenjang pendidik tertentu ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga, perkenalan (ta’aruf) siswa seperti ini harus di ikhtiari sebagai “moment suci” yang diharapkan mampu memberikan semacam jembatan penghubung (bridges) dari lembah pendidikan sebelumnya menuju pulau pendidikan selanjutnya. Wal hasil, dalam rangka pembangunan “jembatan” ini, harus benar-benar dikonsepsikan secara elegan dan baik, guna mencetak para pelajar-pejalar yang berkarakter luhur sekaligus tetap memegang teguh prinsip-prinsip keagamaan yang moderat dan toleran.

Kehadiran buku Pedoman Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) yang disusun oleh Pimpinan Wilayah Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU Jawa Timur) ini seakan menjadi “vitamin” ditengah kelesuhan pelajar yang dewasa ini mengalami degradasi karakter kebangsaan. Penulisan buku ini, secara lebih tegas merupakan komitmen yang kuat PW IPNU Jawa Timur dalam rangka mengawal pelajar agar tetap memegang teguh nilai-nilai religiusitas sekaligus mengajak untuk bersama-sama membangun semangat Nasionalisme. Sebuah buku yang disusun secara sistematis, mudah difahami dan kaya akan aksi. Selamat membaca!

Buku dapat di pesan di kantor PW IPNU JAWA TIMUR Telp. 031-92040456 atau Hub. Rekan Farih (Koord MOPD Berkarakter Jawa Timur) 085755556713-081235555890- sekaligus dapat  langsung mengundang untuk Sosialisasi/Bedah Buku atau Training Of  Trainer dengan ketentuan tertentu.

IPNU Sosialisasikan Buku Pedoman MOPD Bersama Kemenag Jatim

Surabaya, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur sebagai organisasi pelajar menerbitkan Buku Pedoman Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) tahun pelajaran 2013 bersama Prof. Muchlas Samani Rektor Universitas Surabaya (UNESA) dan Drs. Syamsuri dari Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur di Kantor PWNU Jawa Timur, Minggu (9/6/13).

Ketua IPNU Jawa Timur, Imam Fadlli mengatakan MOPD merupakan “jembatan” bagi peserta didik untuk mengenal berbagai karakter di jenjang pendidikan barunya, baik yang berupa lingkungan fisik, lingkungan sosial, program belajar, maupun penerapan nilai karakter pada peserta didik. Continue reading “IPNU Sosialisasikan Buku Pedoman MOPD Bersama Kemenag Jatim”

PR IPNU IPPNU di Paciran Gelar Festifal Seni Hadrah Se-Jawa Timur

Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Banjarwati, Drajat, Kranji dan Tunggul menggelar Festival Seni Hadrah Se-Jawa Timur dalam rangka Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. di Halaman MI Mambaul Ma’ari Banjarwati Paciran Lamongan, Kamis (6/6). Kegiatan ini diresmikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan DR. H. Yuhronur Effendi.
Dalam sambutannya, Yuhronur mengatakan, “Hadrah adalah media dakwah yang kini telah berkembang pesat, tak hanya di pesantren tapi telah masuk juga perkotaan,” katanya.
Karena itu, Yuhronur berharap, seni hadrah akan terus mengalami perkembangan pesat sebagai media dakwah. “Seni hadrah ini sangat bermakna bagi Warga Lamongan. Tentu, Pemerintah berharap, seni islami akan akan terus berkembang,” paparnya.
Pada kesempatan tersebut, Yuhronur juga mengatakan, bahwa dalam seni hadrah, selain bisa menjadi media dakwah Islam, juga bisa membawa dampak positif, yaitu kesehatan bagi para pemainnya.
“Untuk memainkan hadrah, tak perlu pakai alat. Hadrah ini dimainkan pakai tangan telanjang. Bermain musik seperti hadrah ini juga bisa membawa ketenangan hati. Jadi bisa bikin badan sehat,” katanya.
Festival Seni Hadrah ini diikuti 20 peserta terbaik dari berbagai daerah. Dari ferstival ini akan diambil 3 juara terbaik dan 2 juara harapan.

Komisariat IPNU-IPPNU Unsuri Cetak Kader Militan

Bertempat di Villa Durian Bukit Jubel Desa Kembang Belor, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU IPPNU UNSURI Surabaya menggelar Latihan Kader Muda (LAKMUD) yang diikuti oleh 35 orang peserta, Jum’at (17/5/13).

Tak hanya dari Unsuri, akan tetapi beberapa perwakilan komisariat dan Pimpinan Anak Cabang yang ada di Surabaya dan sekitarnya juga ikut ambil bagian dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, diantara yakni PKPT IPNU-IPPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya, PKPT IPNU-IPPNU UNEJ Jember, PK. IPNU-IPPNU Nurul Jadid dan PAC. IPNU-IPPNU Beji.

Dengan tema “ Membangun Moralitas Muda Berjiwa Pancasila  Dan Berwawasan Aswaja Menuju Indonesia Jaya” kegiatan ini berlangsung selama 3 hari mulai dari Jum’at, 17 Mei 2013 sampai dengan Ahad, 19 Mei 2013. Continue reading “Komisariat IPNU-IPPNU Unsuri Cetak Kader Militan”

AHLUL HALLI WAL AQDI

Secara harfiyah, ahlul halli wal aqdi berarti orang yang mempunyai wewenang untuk melonggarkan dan mengikat. Para ulama fiqih mendefinisikannya sebagai “orang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan dan menentukan sesuatu atas nama umat (warga Negara)”. Dengan kata lain, ahlul halli wal aqdi adalah :”Orang-orang yang berwenang merumuskan dan menetapkan suatu kebijaksanaan dalam pemerintahan yang didasarkan pada prinsip musyawarah”.

Di antara para ulama ada yang menyebut ahlul halli wal aqdi sebagai ahlul ikhtiyar, karena di antara tugas pokoknya adalah memilih dan menetapkan khalifah (kepala Negara) sebagai pemerintah. Sebagian lainnya menyebutnya dengan “ahlus syura” atau “ahlul ijtima”  dan ada juga yang menyebutnya sebagai “ahlul ijtihad”. Namun semuanya mengacu pada pengertian ahlul halli wal qadi sebagai :”Sekelompok anggota masyarakat yang mewakili umat (rakyat) dalam menentukan arah dan kebijakan pemerintah demi terciptanya kemaslahatan hidup mereka”

Pembentukan lembaga ahlul halli wal aqdi dalam pemerintahan Islam sangat penting, mengingat banyaknya permasalahan kenegaraan yang harus diputuskan secara bijak sehingga mampu menciptakan kemaslahatan umat. Para ulama fiqih menyebutkan beberapa alasan pentingnya pelembagaan majelis ini, antara lain :

  • Rakyat secara keseluruhan tidak mungkin dilibatkan untuk dimintai pendapatnya tentang masalah kenegaraan dan pembentukan undang-undang
  • Rakyat secara perorangan (individual) tidak mungkin dikumpulkan dalam satu tempat untuk melakukan musyawarah, apalagi secara kodrati kemampuan mereka pasti berbeda-beda
  • Musyawarah hanya dapat dilakukan apabila jumlah pesertanya terbatas, sehingga jika seluruh rakyat dikumpulkan akan sulit melakukannya
  • Amar makruf nahi munkar akan dapat dilaksanakan apabila ada lembaga yang berperan untuk menjaga kemaslahatan antara pemerintah dan rakyat
  • Kewajiban taat kepada ulil amri baru mengikat apabila telah ditetapkan oleh lembaga musyawarah
  • Agama Islam menetapkan bahwa segala urusan kemasyarakatan dan kenegaraan harus di tegakkan berdasarkan prinsip musyawarah

Pada masa modern sekarang ini, lembaga ahlul halli wal aqdi juga ikut berkembangan selaras dengan perkembangan zaman. Para ulama berpendapat pentingnya membentuk lembaga Perwakilan Rakyat melalui proses Pemilihan Umum.

SYARAT-SYARAT MENJADI ANGGOTA MAJELIS SYURA

Seperti dijlelaskan dalam pembahasan sebelumnya bahwa majelis syura merupakan sendi pokok dalam sistem pemerintahan Islam. Lembaga ini memiliki fungsi sebagai badan kontrol terhadap perkembangan sosial, politik, ekonomi dan merumuskan berbagai kebijakan pemerintahan.

Karena kedudukannya sebagai wakil rakyat dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan maka keanggotaan majelis syura biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugasnya. Imam Nawawi menyebutnya sebagai para pemimpin dan tokoh masyarakat yang berusaha mewujudkan kemaslahatan umat. Selain itu, para ulama fiqih menetapkan beberapa persyaratan untuk menjadi anggota majelis syura, antara lain :

  1. Memiliki kepribadian yang jujur, adil dan penuh tanggung jawab
  2. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas sesuai dengan bidang keahliannya dan bertakwa kepada Allah SWT
  3. Memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta teguh dalam pendirian meskipun resikonya besar
  4. Merakyat, sehingga senantiasa peka dan peduli terhadap kepentingan mereka
  5. Berjiwa ikhlas, dinamis dan kreatif
  6. Dipilih oleh rakyat melalui proses pemilihan yang jujur dan adil

Mengenai mekanisme pemilihan anggota majelis syura, sepanjang sejarah ditemukan beberapa cara antara lain :

  1. Pemilihan umum yang dilaksanakan secara terbuka, sehingga semua warga Negara yang sudah memenuhi persyaratan dapat memilih anggota majelis syura sesuai dengan pilihannya
  2. Pemilihan melalui seleksi dalam masyarakat
  3. Diangkat oleh khalifah

Dari ketiganya,  cara prertamalah yang sangat kecil kelemahannya karena mencerminkan kehendak rakyat secera bebas. Sedangkan cara yang kedua sangat subyektif sehingga bisa menimbulkan penyimpangan. Sementara cara yang ketiga tidak akan menghasilkan anggota majelis syura yang kritis terhadap penguasa, karena ia diangkat oleh khalifah (kepala Negara).

HAK DAN KEWAJIBAN MAJELIS SYURA

Adapun hak dan kewajiban Majelis Syura sebagai lembaga tertinggi Negara yaitu :

  1. Memililih, mengangkat dan memberhentikan khalifah
  2. Mewakili rakyat dalam bermusyawarah dengan khalifah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dan berbagai kepentingan rakyat
  3. Membuat undang-undang bersama khalifah demi memantapkan pelaksanaan syariat Islam
  4. Menetapkan garis-garis program Negara yang akan dilaksanakan  khalifah
  5. Menetapkan anggaran belanja Negara
  6. Merumuskan gagasan dan strategi untuk mempercepat tercapainya tujuan Negara
  7. Menghadiri sidang majelis setiap saat persidangan

sumber: SKI XII (PWLP Maarif NU Jawa Timur: 2006

IPNU-IPPNU Bluluk Gelar Pelatihan 4 Bahasa

Bila dibandingkan dengan Pimpinan Anak Cabang lainnya di Kabupaten Lamongan, PAC. IPNU-IPPNU Bluluk mungkin masih seumur jagung. Meski begitu, bukanlah menjadi suatu kendala untuk terus mengembangkan organisasi ke arah yang lebih baik.

Terbukti, meski masih seumur jagung PAC ini tidak pernah sepi dengan aneka ragam kegiatan. Mulai dari proses pengkaderan yang selalu terlaksana secara sistematis, pembentukan jama’ah sholawat di masing-masing ranting, penyelenggaraan Festival Anak Sholeh, Majlis Diba’ serta yang baru-baru ini terlaksana adalah Pelatihan 4 Bahasa (Korea, Arab, Inggris dan Mandarin) untuk SD, SMP dan SMA, Ahad (28/4/13). Continue reading “IPNU-IPPNU Bluluk Gelar Pelatihan 4 Bahasa”

Pertemuan Rutin, Ajang Pembinaan dan Silaturahim PR/PK Se-Ancab Paciran

IPNU-IPPNU sebagai salah satu organisasi pelajar terbesar di Indonesia harus selalu dapat menjaga eksistensinya sebagai penerus bangsa dan para ulama. Untuk itulah, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Paciran selalu mengagendakan pertemuan rutin bagi para kader yang ada di Ranting dan Komisariat setiap satu bulan sekali, Jum’at (19/4/13).

Ketua PAC. IPNU Paciran, Miftahuddin mengatakan pertemuan ini bukan hanya sekedar ajang kumpul-kumpul semata. Akan tetapi lebih dari itu pertemuan ini dapat dijadikan sarana silaturahim antar kader-kader  IPNU-IPPNU yang ada di semua tingkatan, mulai dari Pimpinan Anak Cabang, Ranting, Anak Ranting serta Komisariat yang ada di Paciran serta mendiskusikan beberapa hal yang dirasa perlu disampaikan dan dibahas guna keberlangsungan organisasi yang lebih baik. Continue reading “Pertemuan Rutin, Ajang Pembinaan dan Silaturahim PR/PK Se-Ancab Paciran”

PAC. IPNU-IPPNU Paciran Gelar Raker II di Mangrove Center Tuban

Guna memudahkan pengelolaan sebuah organisasi, program kerja merupakan sesuatu yang mutlak ada. Sebab, tanpa adanya program kerja yang jelas maka sebuah organisasi hanyalah sebuah nama tanpa ada kegiatan. Hal tersebut disadari betul oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Paciran dengan menggelar Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) II yang dilaksanakan di Taman Wisata Mangrove Center Tuban dan diikuti oleh seluruh pengurus Anak Cabang dan beberapa perwakilan dari pengurus Ranting dan Komisariat se-Anak Cabang Paciran, Jum’at (19/4/13).

Dalam Rakercab tersebut banyak sekali agenda kegiatan yang telah berhasil dicanangkan, diantaranya yakni Pekan Olahraga dan Seni (Porseni), Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Pelatihan Administrasi bagi seluruh kader IPNU-IPPNU yang ada di Ranting maupun Komisariat.

“Jika kita renungkan, adanya Rakerancab memang sangat penting dalam sebuah organisasi. Karena hanya dalam Rakerancab semua program dapat dicanangkan secara sistematis dan teroganisir” terang Miftahuddin, Ketua PAC. IPNU Paciran.

“Tak hanya itu, mengingat cakupan kerja PAC IPNU IPPNU Paciran juga mencangkup semua Ranting dan Komisariat, maka penyusunan program harus diketahui oleh mereka. Maka dari itu, dalam pelaksanakan Rakerancab kali ini kami juga melibatkan perwakilan pengurus dari seluruh Ranting dan Komisariat yang ada” imbuhnya.

Ribuan Pelajar Jatim Ikuti Doa Bersama Sukses Ujian Nasional

Surabaya, Ribuan pelajar tingkat SMP dan SMA dari Surabaya dan sekitarnya mengikuti “Doa Bersama Sukses UN 2013” yang digelar Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Sabtu (

Dalam acara tersebut para peserta mendapat banyak motivasi dari berbagai kalangan, diantaranya yakni Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Syaifullah Yusuf, Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, H. A. Sudjak,M.Ag, serta ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. Mutawakkil Alallah.

“Doa itu penting, karena itu apa yang dilakukan PW. IPNU Jatim  sudah tepat. Sebab para pelajar sudah melakukan serangkaian persiapan belajar, termasuk try out, maka doa ini merupakan puncak dari ikhtiar itu,” kata Gus Ipul.

Mantan ketua PP. GP Ansor ini juga berterima kasih kepada PW. IPNU Jawa Timur yang turut membantu pemerintah melakukan pembinaan pelajar. Continue reading “Ribuan Pelajar Jatim Ikuti Doa Bersama Sukses Ujian Nasional”

IPNU-IPPNU Poncokusumo Gelar Motivation Training UN 2013

Malang, Ujian Nasional yang sering digembar-gemborkan media massa perlahan-lahan menjadi momok yang ditakuti oleh para Pelajar di Poncokusumo. Untuk menanggapi hal tersebut Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Poncokusumo  Malang mengadakan Training Motivasi dan Istighotsah Sukses UN 2013 untuk para pelajar tingkat SMP dan SMA di Aula Kantor MWC NU setempat, Ahad (31/3/13).

Kegiatan yang diawali dengan istighosah bersama ini diikuti oleh 250 orang pelajar dan dipimpin oleh Ustadz Rouf pengurus Pondok Pesantren Al-Ittihad Malang. Sementara bertindak sebagai motivator adalah Mufarrihul Hazin, trainer NU Training Centre.

Dalam kegiatan tersebut, pihak penyelenggara membaginya kedalam tiga sesi. Sesi pertama, para  peserta diajak untuk menyiapkan mental mereka terlebih dahulu dengan cara simulasi fun game yang bermakna. Selain itu, para peserta juga diyakinkan dengan kemampuannya sendiri agar lebih percaya diri dalam menghadapi Ujian Nasional. Continue reading “IPNU-IPPNU Poncokusumo Gelar Motivation Training UN 2013”

IPNU-IPPNU Bagil Gelar Motivasi Akbar Sukses UN 2013

Pasuruan,
Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Bangil menggelar kegiatan try out tingkat SMP/Sederajat se-Kabupaten Pasuruhan dan Motivasi Akbar Sukses Ujian Nasional (UN) dengan tema “Kuasai intelektual, siapkan mental, bangun spiritual sukses UN 2013” yang diikuti ratusan pelajar.

Kegiatan yang digelar di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Pancawahana Ahad (24/3) lalu  diawali dengan acara ujicoba UN 2013 yang bekerjasama dengan Bimbingan Belajar Rlangga, dilanjutkan dengan pembahasan soal selama 30 menit.

Menurut Ketua IPNU, Rozak, kegiatan ini dilaksanakan untuk membantu para pelajar dalam mengikuti UN.

Kegiatan dilanjutkan dengan acara Motivasi Akbar Sukses UN bersama dengan Mufarrihul Hazin, motivator muda NU yang sekaligus direktur NU training centre.

Farih menyampaikan, mereka yang sukses UN adalah orang yang punya niat dan tekad serta mau berbuat. Para pelajar harus berpikir positif, belajar yang sungguh-sungguh dan selalu berdoa.

Selama + 2 Jam motivator menyampaikan dengan metodenya. Ada dua bagian yaitu penggemblengan mental dan membangun spiritual. Lalu di menit-menit terakhir motivator memberikan suntikan rohani yang menggambarkan betapa besar pengorbanan orang tua terutama ibu.

Ia juga mengajak siswa melakukan renungan bahwa manusia ini tidak memiliki apapun, semuanya hanya milik Allah jangan pernah sombong dan selalu bersyukur kepada-Nya.

“Motivasi yang wow… Pertama kita di buat senang tertawa. Eh ternyata di akhir-akhirnya kita semua tanpa tersadari air mata menetes dengan sendirinya. Semoga Mas Farih tambah sukses dan kita semua Lulus 100% dengan nilai yang membaggaka,” kesan seorang peserta motivasi.

PR Drajat Gelar Pendidikan Gender & KRR

Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Drajat Paciran, Jum’at(22/3) kemarin menggelar kegiatan Pendidikan Gender dan Pelatihan kesehatan reproduksi remaja (KRR) di Aula MI Tarbiyatul Atfal Drajat Paciran.

Ketua IPNU PAC Paciran Ahmad Miftahuddin dalam sambutannya mengatakan, Pimpinan Anak Cabang sangat mendukung sekali kegiatan yang dilaksanakan oleh PR. Drajat dalam rangka memberikan advokasi kepada para remaja tentang kesehatan reproduksi remaja. “Kita sangat mendukung sekali kegiatan ini agar jangan sampai para remaja reproduksi belum saatnya di usia sekolah,”ungkapnya.
Lebih lanjut, Ahmad Miftahuddin mengatakan, para remaja yang mempunyai rasa keingintahuan yang cukup besar sangat rentan terhadap permasalahan seks bebas dan Narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Oleh karena itulah, dengan adanya kegiatan ini maka para remaja bisa mengetahui dampak buruknya pergaulan bebas dan kapan harusnya bisa bereproduksi sesuai dengan ketentuan agama dan etika di masyarakat. “Kepada para peserta setelah mendapatkan pelajaran dari kegiatan ini diharapkan bisa mengambil manfaatnya dan bisa berbagi pengetahuan dengan teman-temannya yan lain,”jelas Ketua IPNU PAC Paciran Tersebut.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Rekan Baharudin Alfi Salam dalam laporannya mengatakan, maksud dari kegiatan itu adalah untuk membantu remaja agar tegar dari resiko triad KRR dan memiliki status system reproduksi yang sehat melalui peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis dan pendidikan kecakapan hidup, serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman, sikap, dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, untuk meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang,’ungkap Bahar.
Lebih lanjut, Bahar yang juga menjabat sebagai Ketua Osis MA Tarbiyatut Tholabah mengatakan, peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 50 orang terdiri dari pelajar IPNU IPPNU se-Paciran, sedangkan narasumber terdiri dari 1 Orang dari Aliansi Perempuan Lamongan (APEL) dan 2 orang dari Rahima Jakarta . “Materi yang diberikan adalah Kesetaraan Gender dan kesehatan reproduksi remaja, Kegiatan ini dilaksanakan selama sehari penuh,”jelas Bahar.

Latpim MTs Sunan Drajat Siapkan Kader Unggulan

Selama dua hari, Sabtu-Ahad, 23-24 Maret 2013 PK. IPNU IPPNU MTs. Sunan Drajat Banjaranyar Paciran menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan (Latpim). Latpim adalah bagian dari proses kaderisasi organisasi kesiswaan di MTs. Al Islahiyah, sejumlah siswa dari pengurus Komisaria mengikuti kegitan ini.

Dalam sambutannya sebelum membuka secara resmi acara Latpim Sunan Drajat Banjaranyar Kepala Madrasah menyampaikan harapan setelah mengikuti acara ini semua pengurus Komisariat mampu menjadi Pioner atau contoh bagi siswa-siwai yang lain, sehingga mampu mengajak dan mempengaruhi siswa lain memiliki sifat dan jiwa kepemimpinan yang baik, serta pemahaman dan keterampilan yang cukup untuk meneruskan estafet organisasi kesiswaan di MTs. Sunan Drajat Banjaranyar, sehingga ke depan organisasi kesiswaan bisa menjadi semakin produktif dan dinamis.
Konsep dan keterampilan memimpin disajikan dalam bentuk teori maupun simulasi, di dalam ruangan dan di luar ruangan. Pimpinan Anak cabang IPNU IPPNU Paciran sebagai pemateri menyampaikan materi dengan disertai game-game yang menarik bagi para peserta yang tentunya memiliki nilai pelajaran kekompakan, serta kepemimpinan yang tinggi.

Lebih luas lagi melalui acara Latpim ini diharapkan pengurus Komisariat mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan baik akademik maupun non akademik serta menjadi pemimpin yang baik dan cerdas, mampu menjadi panutan baik dilingkungan kelas, sekolah, keluarga maupun masyarakat sekit

Seminar Anti Narkoba Pelajar Paciran

Maraknya kasus peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba) di kalangan remaja mengundang keprihatinan Pelajar IPNU IPPNU Paciran. Untuk itulah PR. IPNU IPPNU Kemantren bersama Banjaranyar mengadakan seminar sehari pencegahan dan penyalahgunaan narkoba, yang berlangsung di aula MA. Tarbiyatus Shibyan Kemantren, Jum’at (08/03) lalu.
Sekretaris Panitia Fahmi Anshori mengungkapkan. “Tujuan dari kegiatan seminar ini adalah untuk mencegah generasi muda agar tidak mendekati Narkoba. Karena Narkoba merupakan musuh yang nyata bagi bangsa Indonesia saat ini khususnya generasi muda, dan juga pembunuh berdarah dingin,” kata Fahmi kembali.
Pengurus IPNU Ancab Paciran ini juga mengungkapkan mayoritas narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) merupakan generasi muda yang merupakan pemakai Narkoba. “Pada umumnya generasi muda yang terjebak dalam kasus Narkoba ini diawali dengan jalan coba-coba yakni ingin rasa tahu. Karena minim pengetahuan akhirnya generasi muda ini mencoba Narkoba dan akhirnya terjebak dan berkelanjutan sehingga akhirnya menjadi pemakai,” sebut Fahmi lagi.
Selain membeberkan bahaya narkoba, Salah satu narasumber yang akrab disapa Pak Ketang juga menyinggung tentang bahaya merokok. Katanya, rokok mengandung nicotine, yang dengan dosis akumulatif tersebar di dalam darah, perokok akan merasa relapse.

Tasyakuran dan Refleksi Harlah IPNU IPPNU PAC Paciran

Dalam memperingati hari lahir IPNU ke-59 dan IPPNU Ke-59, Senin (4/3) Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Paciran mengadakan Refleksi dan Tasyakuran di Kantor MWC NU Paciran. Kegiatan yang diikuti lebih dari 150 kader muda NU itu  dikemas secara sederhana dengan rangkaian acara Istighosah & Tahlil, Pembacaan Ayat Suci Al Quran, Pembacaan Shalawat Nabi, Mars & Hymne, Refleksi Sejarah IPNU IPPNU, Sambutan-sambutan dan Mauidhotul Hasanah dari Rois Syuriah MWC NU Paciran KH. Salim Azhar.
Ketua PAC IPNU Paciran Ahmad Miftahuddin mengatakan kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan harlah NU yang diadakan sejak februari lalu. Tujuannya, sebagai rasa syukur terhadap eksistensi perjuangan IPNU IPPNU yang tetap konsisten, Istiqomah dan berkomitmen menjadi ruang dialektika kader kader pelajar, sekaligus sebagai kawah candradimuka kaderisasi generasi muda NU.
Acara tasyakuran dihadiri Rois Syuriyah MWC NU Paciran KH. Salim Azhar, Ketua Tanfidziyah MWC NU Paciran Drs. H. Khoirul Anwar, MM. Serta Pembina dan Alumni IPNU IPPNU PAC Paciran.

Harlah IPNU IPPNU : Diklat Master Of Ceremony

Untuk menggali dan mengembangkan minat serta bakat para kader, Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Paciran Lamongan mengadakan Diklat Master Of Ceremony yang diselanggarakan dalam rangka Harlah IPNU Ke-59 dan IPPNU Ke-58 pada hari Jum’at (1/3).
Kegiatan yang diikuti lebih dari 60 peserta ini bertempat di Aula MA. Ma’arif Al Muhtadi Sendangagung Kec. Paciran. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh rekan Ahmad Miftahuddin selaku Ketua PAC IPNU Paciran.

Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa IPNU-IPPNU sebagai organisasi pelajar harus bersiap-siap sejak dini guna menyambung estafet kepemimpinan di masa yang akan datang serta harus terus belajar dan belajar. “Sejak lahir hingga kini dan di masa mendatang, IPNU tetap konsisten, istiqomah dan berkomitmen menjadi ruang dialektika kader-kader pelajar, sekaligus sebagai ‘kawah candradimuka’ kaderisasi generasi masa depan NU”.

Tutur Ketua Panitia Ahmad Ainul Fahruri, Pelaksanaan diklat semacam ini diharapkan dapat mengarahkan dan menyalurkan segala potensi yang dimiliki oleh para kader IPNU dan IPPNU. Dan kali ini penyelenggaraannya mengambil momentum hari lahir IPNU ke-59 dan IPPNU ke-58. “Selain sebagai penyalur minat dan bakat kader, pelatihan ini diadakan karena masih minimnya sumber daya manusia yang tersedia di kecamatan Paciran, khususnya MC“.

Ia berharap output dari pelatihan ini dapat berperan dan menyumbangkan ilmunya ditengah-tengah masyarakat yang banyak membutuhkan jasa dari profesi ini saat menggelar acara atau hajatan.

IPNU Jatim Minta Orang Tua Temani “Valentine”

Surabaya – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur meminta kalangan orang tua untuk menemani anaknya yang merayakan “Hari Valentine” melalui pengertian tentang Hari Kasih Sayang, dan kemungkinan penyimpangan yang berdampak dalam jangka panjang.

“Tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi,” kata Ketua PW IPNU Jawa Timur Imam Fadlli di Surabaya, Rabu.

Namun, hari yang banyak dipercaya orang Barat sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang itu sudah bukan lagi hal yang tabu bagi remaja Indonesia sehingga mereka memperingati hari itu dengan memberi hadiah hingga acara yang menjurus pada kemaksiatan.

“Sebenarnya, kemeriahan valentine di Indonesia menjadi indikasi bahwa remaja Indonesia telah kehilangan identitas dan dikendalikan oleh kekuatan pasar, apalagi saat ini sudah banyak ditemui di sejumlah toko dan mal yang menjual berbagai aksesoris hari valentine,” tuturnya.

Menurut dia, para remaja hendaknya diberi pemahaman tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. “Mereka harus dapat membatasi diri mereka, sehingga tidak ‘kebablasan’ dalam meniru perilaku bebas seperti di Barat,” tukasnya.

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari remaja Indonesia, PW IPNU Jatim melakukan seruan moral kepada para orang tua dan pemerintah. Continue reading “IPNU Jatim Minta Orang Tua Temani “Valentine””

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Diklatama CBP dan KPP

Probolinggo
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo menggelar Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) di Bumi Perkemahan Bremi Desa Bremi Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo.

Diklatama ini mengambil tema “Revitalisasi Karakter Budaya Bangsa di Kalangan Pelajar Santri dan Remaja”. CBP dan KPP sendiri adalah lembaga semi otonom IPNU dan IPPNU yang bergerak dalam pengkaderan, kepanduan, kedisiplinan serta penguatan wawasan kebangsaan dalam membela negara. Continue reading “IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Diklatama CBP dan KPP”

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren

Surabaya

Rencana perbaikan program kaderisasi dan penyusunan kurikulum pengkaderan dari Pimpinan Cabang IPNU Surabaya langsung direspon dengan cepat oleh Pimpinan Anak Cabang, Ranting dan Komisariat IPNU yang ada di Surabaya.

Salah satunya adalah Pimpinan Komisariat IPNU Pondok pesantren Nyai Hj Ashfiyah yang dengan cepat merespon hal tersebut dengan melaksanakan salah satu program pendidikan anggota yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Continue reading “Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren”

Hajatan Akbar IPNU Ngawi Sukses Terlaksana

Ngawi, IPNU Jatim

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Ngawi sukses menggelar hajatan akbarnya, yakni Konferensi Cabang (Konfercab) ke-10, Ahad (20/01/13).

Terpilih sebagai ketua baru, Sulistiono dan Zulfa Munadhifah yang akan mengemban amanat Konferensi Cabang X IPNU-IPPNU Kabupaten Ngawi untuk masa kepemimpinan satu periode kedepan. Continue reading “Hajatan Akbar IPNU Ngawi Sukses Terlaksana”

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Latihan Kader Muda

Probolinggo, IPNU Jatim
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) angkatan pertama di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan Giri Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo, Ahad (20/1).

Lakmud yang diikuti oleh sedikitnya 116 pelajar MTs dan MA se Kota Probolinggo ini dibuka secara resmi oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo Maksum Subani.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Masyhuri Nurzah dan Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Khoirun Nisa’ beserta segenap pengurus. Tampak pula beberapa Ketua PAC IPNU-IPPNU se Kota Probolinggo. Continue reading “IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Latihan Kader Muda”

PKPT IPNU-IPPNU Unesa Galakkan Try Out Bagi Siswa

Surabaya, Setelah sukses mengadakan Try Out di beberapa tempat yang berbeda, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU Universitas Surabaya (Unesa) kembali mengadakan kegiatan serupa di MA Roudlotul Muta’abidin Payaman, Lamongan, Sabtu (12/01/13).

Ketua pelaksana kegiatan, Imam Ghozali mengatakan ini adalah Try Out keempat yang dilaksanakan oleh PKPT IPNU-IPPNU Unesa setalah sebelumnya sukses mengadakan Try Out di beberapa tempat yang berbeda. Di antara yakni, MA Al Hidayah Jenu, Tuban, MAN 1 Gresik serta MA Mazroatul Ulum Paciran, Lamongan.

“Ada sekitar 50 lembaga pendidikan yang rencananya akan kami gandeng dalam Try out ini dan tersebar di beberapa kota di Jawa Timur seperti Lamongan, Gresik, Tuban, Malang, Kediri, Jombang, Surabaya, dan Madura” imbuhnya.

Sementara itu salah satu peserta Try Out dari MAN 1 Gresik, Nichmatus Sholihah mengatakan try out ini sangat membantu para siswa untuk menghadapi Ujian Nasional Maret mendatang.

Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk membantu siswa-sismi kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasioanl tahun 2013 serta memberikan motivasi dan informasi kepada siswa untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi,